Selasa, 31 Mei 2016

Monumen Bajra Sandhi | Tempat foto Prewedding terkenal di Bali

Monumen Bajra Sandhi


Monumen Bajra Sandhi
Monumen Bajra Sandhi adalah monumen perjuangan rakyat Bali  yang terletak di Renon, Denpasar ,Bali Monumen ini menempati areal yang sangat luas, ada beberapa lapangan bola di sekelilingnya.

Tentang

Monumen Bajra Sandhi merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan serta merupakan lambang pesemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter. Lokasi monumen ini terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Provinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Provinsi Bali Niti Mandala Renon persisnya di Lapangan Puputan Renon. Monumen ini dikenal dengan nama “Bajra Sandhi” karena bentuknya menyerupai bajra atau genta yang digunakan oleh para Pendeta Hindu dalam mengucapkan Weda (mantra) pada saat upacara keagamaan. Monumen ini dibangun pada tahun 1987, diresmikan oleh Presiden Megawati Sukarno Putri pada tanggal 14 Juni 2003. Tujuan pembangunan monumen ini adalah untuk mengabadikan jiwa dan semangat perjuangan rakyat Bali, sekaligus menggali, memelihara, mengembangkan serta melestarikan budaya Bali untuk diwariskan kepada generasi penerus sebagai modal melangkah maju menapak dunia yang semakin sarat dengan tantangan dan hambatan.
Berikut ini contoh Foto - foto Prewedding yang saya ambil dari berbagai sumber





 Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Bajra_Sandhi
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglgF_vLCLmqqlLfd7X1gQC_Sk4LvXq3eDLJW47rYbSeYhpCYQy7yoNH2vjNy4XwDdse9c7nLict7MzNDfIzxysHMu4ErPC0l4QQH6B7fHE27iFKjBlaGMe96i7uABPCFaFqdKvmQm_Qdm-/s1600/Monumen+Bajra+Sandhi+Bali+%252810%2529.jpg ( Picture )
 http://www.pegipegi.com/attraction/T00147/5821_T00147_panduanwisata_id_files_2014_12_bajra_sandhidaritourmurah1_wordpress_com_.jpg ( Picture )
http://nationalgeographic.co.id/telisik-nusantara/media/Bajra_Sandhi_Renon_1426842773-aditya_subiyanto-510.jpg ( Picture ) http://www.lokasipreweddingdibali.com/wp-content/uploads/2014/06/01.jpg ( Picture )
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPO1toJIDRBRbjrAXdq2GiTeNjGv_fSNfuqIFg8NjtXRC6-6SFY9ZgKc5R7yLQbo_PZcgW1K3A-yZ60dts03DVmjqK8Osx0sQcy2NbTXPDXBV1e2WTRGT2T86U2wKjtMz8vDzJ72knbnQ/s1600/IMG_9787.jpg ( Picture )
http://alokabali.com/wp-content/uploads/2016/01/Pre-Wedding-di-Bajrasandhi-Bali-3.jpg ( Picture )

http://blog.kura2guide.com/wp-content/uploads/2015/05/wedding-1.jpg (  Picture )
Untuk Lokasi bisa sobat cek di google maps berikut ini :



Taman Ujung Karangasem | Tempat Prewedding Terkenal di Bali

Taman Ujung atau Taman Sukasada, adalah sebuat taman di banjar Ujung, desa Tumbu, kecamatan Karangasem, Karangasem, Bali. Taman ini terletak sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Amlapura. Pada masa Hindia Belanda tempat dikenal dengan nama Waterpaleis atau "istana air".

Sejarah

 


Taman Ujung Karangasem dibangun oleh raja Karangasem I Gusti Bagus Jelantik, yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem. Pada awalnya luasnya hampir 400 hektare, tetapi sekarang hanya tinggal sekitar 10 hektare. Kebanyakan tanah tersebut sudah dibagikan kepada masyarakat pada masa land reform. Taman ini adalah milik pribadi keluarga Puri Karangasem. Namun pengunjung umum diperbolehkan mengunjunginya. Taman Ujung dibangun tahun 1909 atas prakarsa Anak Agung Anglurah. Arsiteknya adalah seorang Belanda bernama van Den Hentz dan seorang Cina bernama Loto Ang. Pembangunan ini juga melibatkan seorang undagi (arsitek adat Bali). Taman Ujung sebenarnya adalah pengembangan dari kolam Dirah yang telah dibangun tahun 1901. Pembangunan Taman Ujung selesai tahun 1921. Tahun 1937, Taman Ujung Karangasem diresmikan dengan sebuah prasasti marmer yang ditulisi naskah dalam aksara Latin dan Bali dan dua bahasa, Melayu dan Bali.


 Berikut ini Contoh Foto Prewedding yang saya ambil dari berbagai sumber







































Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Ujung
/26411_T00040_www_papabali_com_wpcontent_uploads_2015_07_exoticeastbalitour04.jpg ( Picture )
 http://picture.triptrus.com/image/2014/05/taman-ujung.jpeg ( Picture )
https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Ujunghttp://www.pegipegi.com/travel/wp-content/uploads/2016/01/taman-ujung-bali-04.jpg ( Picture ) 
http://www.lokasipreweddingdibali.com/wp-content/uploads/2014/06/0112.jpg ( Picture )
 http://www.lokasipreweddingdibali.com/wp-content/uploads/2014/06/0710.jpg ( Picture )
http://www.apelphotography.com/wp-content/uploads/2012/12/Apel-Photography-Prewedding-Photographers-Taman-Ujung-National-Park-Engagement-Photography-Bali-Photo-Services-Wedding-Photographers-2.jpg ( Picture )
Untuk Lokasi Taman Ujung Karangasem Bali bisa sobat cek di Google Maps berikut ini :



Danau Bedugul ( Danau Bratan )

Masih segar dalam ingatan saya empat tahun yang lalu, Udara di sini cukup dingin jadi bagi sobat yang mau berwisata ke sini jangan lupa membawa jaket tebal . Sobat bisa mencoba berbagai wahana di sini  seperti memancing ikan di danau ini, Sky boat dll . Selanjutnya ini adalah review Tentang Danau bedugul atau Danau Bratan .
 Danau Bratan adalah sebuah danau yang terletak di kawasan Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Danau yang terletak paling timur di antara dua danau lainnya yaitu Danau Tamblingan dan Danau Buyan, yang merupakan gugusan danau kembar di dalam sebuah kaldera besar, Danau Bratan terbilang cukup istimewa.
Berada di jalur jalan provinsi yang menghubungkan Denpasar-Singaraja serta letaknya yang dekat dengan Kebun Raya Eka Karya menjadikan tempat ini menjadi salah satu andalan wisata pulau Bali. Disamping mudah dijangkau Danau Bratan juga menyediakan beragam pesona dan akomodasi yang memadai.
Di tengah danau terdapat sebuah pura yaitu Pura Ulun Danu, yang merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan
English 
Bedugul is a mountain lake resort area in Bali,[1] Indonesia, located in the centre-north region of the island near Lake Bratan on the road between Denpasar and Singaraja. Bedugul is located in the Tabanan Regency,[2] at 48 kilometres (30 mi) north of the city of Denpasar. Other nearby lakes are Lake Buyan, and Lake Tamblingan.
Bedugul enjoys a mild mountain weather due to its location at an altitude of about 1,500 metres (4,900 ft) above the sea level.
Major sites in Bedugul are the Pura Ulun Danu Bratan water temple and the Eka Karya Botanic Garden. The Botanic Garden, opened in 1959. With a total area of 157.5 hectares (389 acres) is the largest in Indonesia.[3]
Eka Karya Botanic Garden
The Eka Karya Botanic Garden was established under the auspices of Indonesia's first president, Sukarno, on July 15, 1959. It is located on 157.5 hectars land ranging 1,250 meters to 1,450 meters above sea level with 2,000 species of plants and 20,000 plant specimens ranging from orchids, roses and medicinal plants to palms and Cyatheas. It also has a stunning view of Buyan Lake.

The Eka Karya Botanical Garden has won the Cipta Pesona Award 2011 from the Culture and Tourism Ministry in recognition of natural tourist attractions, cultural tourist attractions and artificial tourist attractions.
Pura Ulun Danu Bratan

Geothermal fields

Exploration of the Bedugul Geothermal Field started in 1974, as part of a New Zealand bilateral aid project. Exploration was continued by Pertamina  from 1978 until 1987. In 1994 Bali Energy, a joint venture between California Energy and a local company, signed a joint operation contract with Pertamina to develop a 4x55 MW  geothermal plan In 2008, the estimated power production capacity of 175 MW corresponded to about half of the whole island's electricity needs. However the project was put on hold, after being opposed by local residents, who feared that it could damage a sacred area and affect water supplies from the nearby lakes.
Danau Bedugul ( Danau Bratan ) di lihat dari ketinggian

Sumber : 
Selamat berlibur sobat semoga menyenangkan 
Untuk Lokasi lebih jelasnya bisa sobat cek di google maps berikut ini :



Hutan Sangeh Bali

Anda mungkin pernah mendengar nama tersebut , ya ini adalah salah satu obyek wisata terkenal yang menjadi tujuan para wisatawan baikdomestik maupun mancanegara. Pengalaman empat tahun yang lalu pernah berkunjung di sini adalah ketika mau ngasih monyet - monyet kacang rebus , niatnya mau ngasih satu - satu eh tahu - tahu ada monyet yang nylonong nyrebut seplastik kacang yang saya bawa hehehe , tapi gak papa lah jadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya sendiri. Nah untuk sobat semua bila mau berkunjung di sini harap hati - hati karena monyet - monyetnya ada yang kurang ajar hehehe.

Sangeh adalah sebuah tempat pariwisata di pulau Bali  yang terletak di Desa Sangeh,Kecamatan Abiansemal,Kabupaten Badung, Bali.

Sangeh terkenal karena ini merupakan sebuah desa di mana monyet - monyet ( Beruka )  berkeliaran dengan bebas dan di keramatkan oleh penduduk setempat di sebuah hutan. Di tengah hutan ada pula sebuah pura yang bernama Pura Bukit Sari.Pura ini dibangun oleh Kerajaan Mengwi dan sekarang diserahkan ke penduduk setempat. Monyet di sini memiliki raja dan konon memiliki tiga wilayah kerajaan.

Menurut legenda,adanya Pura Bukit Sari di hutan ini diceritakan secara mitologis dalam Lontar Babad Mengwi. Diceritakan putri Ida Batara di Gunung Agung berkeinginan untuk disungsung di Kerajaan Mengwi. Atas kehendak dia maka hutan pala yang ada di Gunung Agung tempat putri Ida Batara Gunung Agung bermukim pindah secara misterius pada waktu malam.

Patung Ksatria Kumbakarna

Ketika perjalanan baru sampai di Sangeh, telanjur ada penduduk yang melihat perjalanan tersebut. Hal ini konon yang menyebabkan hutan pala tersebut tidak bisa berjalan lagi menuju Mengwi dan berhenti di Desa Sangeh sekarang. Konon putra angkat Raja Mengwi yang pertama I Gusti Agung Putu yang bergelar Cokorda Sakti Blambangan menemukan bekas bangunan pelinggih.

Putra angkat Raja Mengwi tersebut bernama Anak Agung Ketut Karangasem. Atas penemuan tersebut Cokorda Sakti Blambangan memerintahkan untuk membangun kembali pura tersebut dan diberi nama Pura Bukit Sari. Yang dipuja di pura tersebut adalah Ida Batara Gunung Agung dan Batara Melanting. Pura Besakih di lereng Gunung Agung itu tergolong Pura Purusa atau sebagai jiwa dari Pulau Bali.

Pohon lanang wadon
























Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Sangeh

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3wZcXKDi7NmIsqdRMjFTtgRSSXT6RuafAA-MTaex4UFNxh2_dc237rVUx9yHgtIaAIVcU3VjFGN2hTHpVJDjomWJz0EmM0tdFgBDpD5GFQqasVZPVzpKqtV-7HJlanFJbIt6Hwa6VbQU/s1600/Sangeh.JPG ( Picture )

http://wisatabaliutara.com/wp-content/uploads/2015/04/Sangeh.jpg ( Picture )

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiolu63-WZ69udMBYFt_J7Ox9Rm013o-F8OSrBucXjXZQDA9y7-AkaHgCepQKqDWuSVUdTQwTJIyWg2qJdwvhseJSM1K9iwyJbgWU0E7o0dhAPedCvz8D8M2to7gCArsL5a2lr0q0IxL7A/s1600/8.jpg ( picture )

http://windusaputra.com/wp-content/uploads/2015/01/selamat-datang-sangeh.jpg ( Picture )

Untuk Lokasi Lebih jelasnya bisa sobat cek di google maps berikut ini : 

Selamat berlibur bersama keluarga sobat  semoga menyenangkan 



Ikut Yuk! : Eps. 1 - Monas

Alat tempur (Camera, Tripod, Shotgun Mic, Script)
Halo semua... akhirnya program baru saya di channel YouTube Didiet15 mulai di produksi dan sudah tayang. Berawal dari ide sederhana saya ingin membuat konten video yang bermanfaat dan menghibur untuk penonton chanel YT saya dan yang pasti saya suka membuatnya. Sudah lebih dari setahun saya mencari crew untuk memproduksi acara ini, tapi Alhamdulillah akhirnya baru tahun ini kesampaian. Walaupun dengan bnayak kekurangan dan keterbatasan ngga menyurutkan niat saya untuk membuatnya tetap berkualitas. Bukan cuma alat aja, tapi ada banyak hambatan di hari pertama kami shooting. Bagaimana serunya behind the scene kali ini? simak yuk...

Di Mulai Dari Monas
Mulai merakit alat tempur
Monas adalah lokasi pertama kami memulai episode perdana. Kenapa Monas? Karena Monas adalah sebuah landmark yang sudah pasti dikenal rakyat Indonesia, dan saya juga berencana mempopulerkannya di mata dunia. Karena YT penontonnya dari internasional, maka ngga salah kalo saya pilih lokasi ini untuk tutuk awal perjalanan acara ini. 

Masih grogi, lupa terus...
Walaupun sudah melakukan riset lewat online dan tanya sana-sini, tetap aja situasi di lapangan bisa berubah sewaktu-waktu. Mulai dari penutupan jalan yang berimbas bingung mau lewat mana menuju Monas nya (iya, kami cuma pakai motor untuk menuju lokasi), satpam iseng yang banyak tanya tujuan dibuat video ini, sampai cuaca yang ngga menentu (bisa hujan kapan aja). Selain kendala lapangan, ada juga kendala demam panggung. Maklum, presenter nya dadakan. Tapi saya acungi jempol karena sudah berani dan mau belajar untuk mem-present sebuah acara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Apalagi, Wungkul (nama presenternya) adalah seorang introvert yang agak sulit ngomong di depan orang banyak, apalagi di depan kamera. Walapun sudah ditulis semua apa yang harus diucapkan, tapi tetap aja yang namanya ngomong di depan kamera akan menurunkan PEDE sekitar 30%. Ga percaya? cobain aja...


Butuh 2 Hari Shooting
Baca lagi...
Karena kendala tadi, rencananya saya menjadwalkan dapat 2 episode dalam 1 hari tapi kenyataannya 1 episode pun belum rampung sampai tengah hari. Ditambah cuaca yang tiba-tiba hujan yang mengharuskan kami menunda shooting sampai besok hari. Kalo sudah begini, jadwal yang lain pun ikut mundur. Yah, namanya juga pemula, belum punya pengalaman soal planning dan scheduling yang tepat. 

Karena presenter nya masih grogian, bukan berarti ngga ada masalah dengan saya. Sebagai scriptwriter, director, camera person dan lain-lain (iya, episode ini saya harus akrobat karena belum punya crew lain) harus pinter-pinter menguasai masalah yang ada di lapangan. Mulai dari menghindari gangguan satpam iseng, cari angle yang bagus, mengganti dialog supaya sesuai dengan situasi dan kondisi, mengatasi kendala kamera yang tiba-tiba hang karena kepanasan, sampai memutuskan lanjut atau ngga nya shooting hari itu. Syukur lah saya pernah mengalamai hal itu waktu produksi film pendek saya beberapa tahun lalu. Jadinya untuk beberapa hal saya bisa handle walaupun cukup melelahkan, tapi asik... saya suka haha..

Low angle supaya Monas nya keliatan
Ngatur angle, dan pegang boom mic sendirian :'(
Makan siang yang kesorean
Menghibur diri dengan ketawain mobil orang yang di kempesin petugas gara-gara parkir sembarangan
Nah, dengan situasi dan kondisi yang serba dadakan, Alhamdulillah kami (saya dan Wungkul) berhasil menyelesaikan episode perdana ini, yah walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi sejujurnya saya cukup puas dengan hasilnya. Jangan membandingkan produksi sebuah TV nasional yang punya banyak budget, banyak crew, tim riset dan presenter profesional karena pasti acara ini ngga ada se upil-upilnya. Tapi dengan segenap kemampuan kami, saya poles semua kekurangan dengan editing dan animasi yang cukup menarik (setidaknya menurut saya haha) untuk di tonton.

Jadi, selamat menonton episode perdana ini. Tunggu episode berikutnya ya...

Senin, 30 Mei 2016

Tanah Lot Bali

 Tanah Lot

Salah satu ikon wisata terkenal di Bali

 







Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia . Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam.
Sejarah
Sejarah Tanah Lot Bali Indonesia berdasarkan legenda, dikisahkan pada abad ke -15,Bhagwan dhyang Niartha  atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari pulau Jawa ke pulau Bali.
Pada saat itu yang berkuasa di pulau Bali adalah Raja Dalem Waturenggong. Beliau sangat menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya, sehingga penyebaran agama Hindu berhasil sampai ke pelosok – pelosok desa yang ada di pulau Bali.
Dalam sejarah Tanah Lot, dikisahkan Dang Hyang Nirartha, melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali, maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi dari sinar tersebut dan tibalah beliau di sebuah pantai di desa yang bernama desa Beraban Tabanan .
Pada saat itu desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti, menganut aliran monotheisme.
Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi diatas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo yang pada awalnya berada di daratan.
Dengan berbagai cara Bendesa Beraban ingin mengusir keberadaan Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.
Menurut sejarah Tanah Lot berdasarkan legenda Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang yang berada di tengah lautan.
Semenjak peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti mengakui kesaktian yang dimiliki Dang Hyang Nirartha dengan menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.
Dikisahkan di sejarah Tanah Lot, sebelum meninggalkan desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman.
Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali. Semenjak hal ini rutin dilakukan oleh penduduk desa Beraban, kesejahteraan penduduk sangat meningkat pesat dengan hasil panen pertanian yang melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati

.

Legenda


Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang Brahmana yang mengembara dari Jawa , yaitu  Danghyang Niartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad kahyangan  tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu, penguasa Tanah Lot yang bernama Bendesa Beraben merasa iri kepadanya karena para pengikutnya mulai pergi untuk mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben kemudian menyuruh Danghyang Nirartha meninggalkan Tanah Lot. Danghyang Nirartha menyanggupi, tetapi sebelumnya ia dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura di sana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhirnya disebutkan bahwa Bendesa Beraben menjadi pengikut Danghyang Nirartha.

Renovasi

Pura Tanah lot selama ini terganggu oleh abrasi  dan pengikisan akibat ombak dan angin. Oleh sebab itu, pemerintah Bali melalui Proyek Pengamanan Daerah Pantai Bali melakukan memasang tetrapod sebagai pemecah gelombang dan memperkuat tebing di sekeliling pura berupa karang buatan. Daerah di sekitar Tanah Lot juga ditata mengingat peran Tanah lot sebagai salah satu tujuan wisata di bali.
Renovasi pertama dilakukan sejak tahun 1987 sebagai proyek perlindungan tahap I. Pada tahap ini, pemecah gelombang (tetrapod) seberat dua ton diletakkan di depan Pura Tanah Lot. Selain itu, bantaran beton serta dinding buatan juga dibangun sebagai pelindung hantaman gelombang. Namun, peletakan tetrapod mengganggu keindahan dan keasrian alam di sekitarnya sehingga diadakan studi kelayakan dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat setempat pada tahun 1989. Desain bangunan pemecah gelombang di bawah permukaan air dan pembuatan karang buatan dibuat pada tahun 1992 dan diperbaharui lagi pada tahun 1998. Perlindungan pura mulai dilaksanakan sekitar bulan Juni 2000 dan selesai pada Februari 2003 melalui dana bantuan pinjaman Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar Rp95 miliar. Keseluruhan pekerjaan meliputi bangunan Wantilan, Pewaregan, Paebatan, Candi Bentar, penataan areal parkir, serta penataan jalan dan taman di kawasan tanah lot.

Lokasi


Seluruh tanjung Karang Bolong dan bangunan pura di ujungnya
Objek wisata tanah lot terletak di Beraban ,kediri, Tabanan , sekitar 13 kilometer di sebelah selatan Kota Tabanan .
Di sebelah utara Pura Tanah Lot, sebuah pura lain yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan Pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Pura ini disebut Pura Karang Bolong.

Hari raya


Odalan di Pura Tanah Lot
Odalan atau hari raya di Pura ini diperingati setiap 210 hari sekali, sebagaimana pura lain pada biasanya. Jatuhnya dekat dengan perayaan Galungan dan kalungan , tepatnya pada Hari Suci Buda Cemeng Langkir.

Galeri

Matahari terbenam di Pura Tanah Lot 
Pura Tanah Lot 
Pura Tanah Lot saat laut pasang 
Pemandangan pura dari jarak dekat 
Panorama seluruh tanjung Tanah Lot 
Tangga turun menuju ke pantai 
Sebuah papan peringatan bahaya tebing di Tanah Lot 
Pura Batu Bolong saat laut pasang 

Sumber : 
Untuk Lokasi Lebih jelasnya bisa anda cek di google maps berikut ini :

Pantai Dreamland

Pantai Dreamland

 Salam berlibur sobat , Kali ini saya akan sedikit mereview Pantai dreamland tepatnya di Bali Bumi Indonesia yang kita cintai , pengalaman yang tak terterlupakan bagi saya 4 Tahun yang lalu bersama teman angkatan sekolah .Sungguh betapa indah ciptaan Sang Maha Kuasa , Yang belum pernah ke sini dan berencana mau liburan ke sini Segera kuatkan Iman dan Imronnnya hehehee soalnya banyak artis - artis bule mulai dari korea sampai dari benua lain pada berjemur di sini. Berikut ini sobat ulasannya yang saya kutip dari wikipedia.


Pantai Dreamland adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak di sebelah selatan Bali di daerah bernama Pecatu. Pantai Dreamland dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi, dan dikelilingi batu karang yang lumayan besar di sekitar pantai. Lokasi pantai ini berada dalam kompleks Bali Pecatu Graha (Kuta Golf Link Resort) yaitu sekitar 30 menit dari pantai kuta.


Pantai Dreamland sendiri hampir mirip dengan pantai Kuta. Pasir putih dan celah karang yang terjal menjadi pemandangan yang begitu memikat mata untuk dipandang. Lokasi berpasir putih bersih di pantai sempit tepat di bawah dinding karang curam cocok untuk menikmati matahari tenggelam atau sekadar menyaksikan atraksi para peselancar. Ombaknya yang tinggi dan besar banyak diminati oleh para penggemar olahraga selancar air  (surfing), bahkan Dreamland sudah dijadikan semacam surfing spot baru untuk kawasan Bali.

Asal nama

Asal usul nama Dreamland dikarenakan dulu di area ini sempat terdapat sebuah proyek perumahan dan objek wisata. Namun proyek tersebut terhambat dan terbengkalai sedangkan para penduduk desa Pecatu yang dulunya hidup sebagai petani sangat berharap proyek selesai dan mereka bisa menekuni bisnis lain di bidang pariwisata. Karena itulah lahan disekitar pantai disebut dengan Dreamland (tanah impian).
Pantai Dreamland di lihat dari ketinggian yang menakjubkan


Pengembangan

Pelataran pantai indah ini semula hanya titik kecil dari areal 900 hektare milik PT Bali Pecatu Graha (BPG) yang sempat heboh pada tahun 1996. Lahan seluas itu diborong untuk disulap menjadi resor superluks "Resor Pecatu Indah".
Konon resor itu akan dipadukan dengan kawasan wisata, seraya memanfaatkan keindahan dan keaslian alam, sekaligus pelestarian lingkungan hidup. Pemilik resor tersebut,Tommy Soeharto , anak mantan Presiden Soeharto , hendak membuat "lingkungan permukiman dan wisata paling unik di seluruh Asia Tenggara . Tapi seiring Indonesia tersapu krisis moneter dan krisis kredibilitas pimpinan, megaproyek ini mulai meredup.

 Untuk Lokasi lebih jelasnya bisa anda cek di google maps berikut ini :

Minggu, 29 Mei 2016

Aku Hanya Seorang Sial yang Seringkali Beruntung (Part 2)

Sudah tiga bulan aku bekerja di Rumah Sakit "sebut saja namanya Mawar". Sudah kurasakan bagaimana jauhnya perbedaan antara dunia teori (yang sebenarnya juga tak begitu kupahami) dengan dunia kerja yang sesungguhnya. Sudah kulihat bagaimana konflik-konflik di dunia kerja, juga sudah kurasakan sakitnya bulan tua.
Sampai sekarang, aku masih belum mengerti mengapa nomor ponselku yang mereka hubungi, bukan yang lain yang sebelum berkasku mendarat di meja mereka sudah banyak berkas-berkas lain yang masuk, yang kata Arif (teman satu angkatan yang sudah kerja di sini satu bulan lebih dulu) banyak di antaranya adalah berkas teman-teman satu angkatan kami, yang nilai-nilai mereka di bangku kuliah, jauh lebih tinggi dariku.

Aku punya beberapa teori, meski ini belum teruji. Pertama, aku menyerahkan lamaran tepat di saat mereka membutuhkan, dan mereka memilih pelamar terbaru. Kata orang, momentum adalah segalanya. Tapi ini kurang terbukti, sebab perawat-perawat terdahulu yang sudah bekerja, mereka dipanggil tidak saat posisi berkas mereka berada di paling atas. Mereka dipanggil justru berbulan-bulan setelah mereka menyerahkan lamaran.
Teori kedua, karena riwayat pendidikanku yang berbasis pesantren. Orang-orang pesantren dikenal jujur (walaupun aku bukan orang jujur), sederhana, mandiri, survive, dan tidak banyak menuntut. Dan itulah kriteria yang mereka inginkan. Aku meyakini teori ini, meski sama sekali tidak ada bukti otentik, sebab para pendahuluku toh tidak ada yang pernah jadi santri.
Teori ketiga, mereka perlu tenaga S1 Ners dan laki-laki. Kebanyakan perawat di RS ini perempuan, dan hanya D3. Tenaga laki-laki dengan pendidikan S1 Ners sangat diperlukan demi meningkatkan mutu rumah sakit. Ini cukup diragukan karena selain aku, yang pendidikannya S1 Ners dan berjenis kelamin laki-laki cukup banyak yang mengajukan lamaran, dan mereka tidak dipanggil.
Teori keempat, bisa jadi, karena aku ganteng. Bagaimanapun, secara statistik, orang ganteng dan cantik seringkali memiliki nasib yang lebih baik (tolong jangan mempertanyakan kegantenganku).
Teori kelima, murni karena keberuntungan.
Entahlah, teori terakhir lebih masuk akal dan dapat diterima, dan tak bikin pusing. Itulah yang kupercaya, setidaknya hingga sekarang.

***

Selama tiga bulan itu pula, aku bekerja di Kedai Kebun Banjarbaru, sebuah kafe sederhana milik seorang teman karib, Bang Harie. Tujuan Bang Harie membangun kafe tersebut adalah memanfaatkan halaman rumahnya yang cukup luas sebagai tambahan penghasilan.
Awalnya, aku hanya numpang tinggal di rumahnya selama belum dapat gaji, dan akan pindah ngekost begitu sudah terima gaji pertama. Sebagai ucapan terimakasih karena diizinkan tinggal dan makan secara cuma-cuma, aku membantu mengurus kedai: mencuci piring dan gelas, melayani pembeli, menyapu, belanja, bikin minuman, bikin masakan. Karena kedai itu cukup ramai pengunjung (padahal lokasinya di dalam komplek) dan bartender yang awalnya bekerja di situ berhenti, maka pada bulan kedua, aku resmi sebagai karyawan kedai, mendapat upah dan fasilitas berupa kamar untuk tinggal dan makan gratis. 
Jadi, selama tidak jam dinas di rumah sakit, Kedai Kebun Banjarbaru-lah tempatku. Dua pekerjaan kudapatkan dengan mudahnya, di mana orang lain begitu mencarinya. Cukup melelahkan memang, bekerja di dua tempat sekaligus. Nyaris tidak ada waktu istirahat. Tapi karena aku masih cukup muda, itu bukan masalah berarti.

***

Sudah tiga bulan aku bekerja di rumah sakit. Lingkungan baru memberi pengalaman baru, mengenalkan pada orang-orang baru, dan bagiku, itu berarti jaringan-jaringan baru. Di sini, aku menjadi kenal dengan dr. Suwandy, mantan direktur RS. Mawar yang sekarang menjadi direktur sebuah rumah sakit swasta baru, rumah sakit dengan ukuran yang cukup besar, dengan empat lantai. Pembangunan RS tersebut saat ini sedang berada pada tahap finishing: penyediaan alat-alat, pemasangan instalasi, dan, perekrutan.
Sebagian perawat di RS Mawar yang dulunya "anak buah" beliau, beliau rekrut lagi di rumah sakit baru tersebut. Karena alasan gaji dan sistem di bawah direktur yang baru, siapa yang tidak mau pindah ke RS yang lebih menjanjikan itu? Tapi tentu saja dr. Suwandy tetap selektif memilih perawat. Hanya beberapa yang beliau percaya. Dan di antara daftar nama orang-orang beruntung itu, terselip namaku (dan Arif).
"Kamu suka bekerja di OK (kamar bedah)?" tanya beliau pagi itu, usai visite ke kamar pasien.
"Oh, iya, suka, Dok. Suka." Dan saya gembira sekali mendapat pertanyaan itu, Dok.
"Kamu mau, jadi perawat OK di RS saya?"
"Tentu saja mau, Dok." Siapa yang tidak mau?
"Ya sudah, nanti kamu sama Arif jadi perawat OK di sana, satu asisten, satu instrumen. Nanti kalian (salah satu dari kalian, yang tentu saja itu Arif, sebab dia lebih dulu kenal dengan dr. Suwandy) jadi kepala ruangan di sana. Nah, nanti kalian pelatihan dulu, mungkin di RS Ulin selama dua bulan, Juli sampai Agustus. Biaya pelatihan ditanggung RS. Jadi begitu recruitment bulan September nanti kalian langsung masuk."

***

Tidak lama setelah itu, beliau berjalan entah ke ruangan mana, lalu kembali lagi ke tempat perawat, ke hadapanku.
"Saya masih mencari perawat untuk ruang ICU. Kamu lebih suka OKA atau ICU?" tanya beliau. Santai saja.
Tapi aku tak bisa santai menjawab pertanyaan itu. Itu dua hal besar yang harus kupilih. Lalu kujawab, "ICU, Dok."
"Ya sudah, berarti pas, kamu kepala ruangan ICU, Arif kepala ruangan OKA."
Aku senang sekali. Menjadi kepala ruangan ICU! Jabatan yang begitu prestisius. Bagi perawat biasa (bukan perawat beruntung), perlu waktu puluhan tahun untuk mencapai posisi itu. Menjadi perawat ICU saja sudah sangat keren, apalagi kepala ruangannya.
Begitu dr. Suwandy beranjak, aku segera mengirim pesan pada Arif, menyuruhnya ke Kedai Kebun sore ini jika tidak ada kesibukan. Ia bertanya ada apa, tapi hanya kujawab "Ada yang mau diomongkan." Ia bertanya tentang apa. Tapi tidak kujawab.
Jam dua siang, saat aku mau pulang setelah dinas pagi, Arif datang ke RS, menanyakan langsung ada apa. 
"Ayo, kita bicarakan di kedai aja."
Hal seperti ini, tidak bisa dibicarakan sembarangan, apalagi di RS, di tengah orang-orang yang pasti akan sangat iri dengan tawaran itu.
Kami berdua bukan orang yang pintar, tapi kami orang yang beruntung, sangat-sangat beruntung. Pekerjaan bagus dan jabatan menggiurkan datang begitu saja pada kami tanpa kami susah-susah mencari. Dan sore itu, di Kedai Kebun, kami berdua tertawa bahagia. []

NB: Setelah galau tingkat dewa, berbagai pertimbangan, masukan dari teman-teman, akhirnya pada dr. Suwandy aku bilang mau di OK saja. Pengalaman di ruang operasi kupikir lebih berharga daripada pengalaman memimpin ruang ICU.



Sabtu, 28 Mei 2016

Monumen Yogya Kembali

Museum Monumen Yogya Kembali 



Museum Monumen Yogya Kembali, adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia  yang ada di kota Yogyakarta  dan dikelola oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Museum yang berada di bagian utara kota ini banyak dikunjungi oleh para pelajar dalam acara darmawisata.

Rana di pintu masuk museum
Museum Monumen dengan bentuk kerucut ini terdiri dari 3 lantai dan dilengkapi dengan ruang perpustakaan serta ruang serbaguna. Pada rana pintu masuk dituliskan sejumlah 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Dalam 4 ruang museum di lantai 1 terdapat benda-benda koleksi: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum dalam suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Tandu dan dokar (kereta kuda) yang pernah dipergunakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman juga disimpan di sini (di ruang museum nomor 2).

Sejarah


Relief dari tulisan tangan Bung Karno yang ada di dinding luar museum

Salah satu diorama (miniatur/replika) di dalam museum ini yang menggambarkan suasana Gedung Agung  (istana Kepresidenan RI di Yogyakarta) pada saat itu (yang duduk dari kanan: M. Hatta, Soekarno, Jendral Soedirman, TB Simatupang, Soeharto).
Monumen Yogya Kembali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX  dan Sri Paduka Pakualam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh kolonel Soegiarto, selaku walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983. Nama Yogya Kembali dipilih dengan maksud sebagai tetenger (peringatan) dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibukota RI Yogyakarta pada waktu itu, tanggal 29 Juni 1949. Hal ini merupakan tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintahan Belanda.

Pembangunan monumen ini dilakukan dengan memperhitungkan beberapa faktor penting. Titik pusat bangunan ini merupakan sebuah titik yang secara imajiner menghubungkan beberapa titik penting di Yogyakarta yaitu Kraton Jogja, Tugu Yogyakarta, Gunung Merapi, Parang Tritis dan juga Panggung Krapyak. Titik ini sendiri disebut sebagai Sumbu Besar Kehidupan dan penanda dari titik imajiner ini sendiri berada pada lantai 3 bangunan monumen ini.

Referensi

  • Buku petunjuk singkat kunjungan Museum Monumen Yogya Kembali: Nuansa Wisata Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia 1945-1949.
Sumber :
 https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Monumen_Yogya_Kembalihttp://3.bp.blogspot.com/-JfoH7AS9yuE/Vmop2u-lS5I/AAAAAAAAAdY/FKYIHXGFA6Y/s1600/Monumen-Yogya-Kembali-View.jpg ( Picture )
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbNW9sqKtyQI1sepPQPeOrCobP9CZe5FXa4nsWDGkpaZp_ZDrTi-KeJHVmbD81rtkzX6x34DLBGV3w3FK0q_QUCNppnD20dxX4ghn5c549JyTo22xeMS1AzjJOp-UryuBMnuiHBMoc2iA/s1600/dio1.jpg ( Picture )
http://static.panoramio.com/photos/large/61855480.jpg ( Picture )
Untuk Lokasi bisa sobat cek di google maps berikut ini :