Sabtu, 20 Februari 2016

The Peanuts Movie (2015)

Senang sekali rasanya karena akhirnya saya bisa nonton film ini karena teasernya sudah menggoda saya sejak setahun sebelumnya. Mungkin anak sekarang ngga akan ada yang mengenal tokoh bernama Charlie Brown dan anjing setianya, Snoopy. Saya pun ngga familiar dengan tokoh dalam The Peanuts karya Charles M. Schulz ini. Ya memang karena ini adalah sebuah komik strip yang ada dari tahun 1950an dan hanya orang-orang tertentu yang tahu The Peanuts ini eksis. Beruntunglah saya sempat melihat dan membaca salah satu komiknya yang berbahasa Inggris saat sekolah dulu. Walaupun belum begitu paham saat itu tapi karakter Snoopy dan sahabatnya si burung kenari (saya baru tau namanya setelah Googling, yaitu Woodstock) selalu teringat di kepala saya.

Ada banyak karakter unik disini, sebut saja Charlie Brown yang agak minder tapi baik hati, lalu Sally Brown adik perempuan Charlie yang lucu dan sangat sayang abangnya, Lucy yang selalu merasa lebih hebat daripada teman-temannya, Peppermint Patty dan Marcie yang selalu bersama dan masih banyak karakter lain seperti Linus, Pigpen, Shroeder dan masih banyak lagi (cek google aja ya). Dan disini juga diceritakan awal mula Charlie bertemu dengan Red Haired-Girl. Dan salah satu kegemarannya yang sulit terlaksana yaitu menerbangkan layangan. Dan di film ini saya juga makin kenal dengan karakter Snoopy yang sangat menyayangi majikannya walaupun seringnya isengin majikannya, dan dsiitulah yang menjadikan karakter ini menarik. Malah suara orang dewasa yang berubah menjadi suara trombone menjadikan cara unik untuk menghilangkan tokoh orang dewasa di film ini.

Gambar animasi yang dibuat seolah stop-motion ini (karena gerakannya ngga halus) dan goresan pensil untuk karakter wajah mengingatkan kita seolah sedang membaca komiknya. Suara dubber yang sungguhan anak-anak dan ngga membuat ceritanya berlebihan membuat film ini bisa diterima dengan akal sehat (dibaca bisa dinikmati semua umur). Ngga harus kenal komiknya terlebih dahulu untuk bisa menikmati film ini, karena dari awal sudah dikenalkan nama dan kebiasaan karakternya masing-masing. Untuk itu saya beri nilai  7,5/10 (Cocok untuk koleksi).

Bridge Of Spies (2015)

Aktor favorit saya kembali bermain di film serius di akhir tahun ini. Setelah di film sebelumnya Captain Phillips telah membuat saya terkagum-kagum atas aktingnya yang top markotop. Dan tak salah OSCAR menjadikannya sebagai salah satu nominasi di kategori Film Terbaik di tahun 2016 ini.

Untuk yang ngga terlalu suka film serius mungkin ini terkesan membosankan. Jujur aja saya juga sebenernya ngga suka film yang mengharuskan penontonnya mengerutkan dahi (dibaca : mikir serius) waktu nonton, tapi untunglah di film ini dahi saya ngga sampai berkerut unutk menikmatinya. Didasari sejarah perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet (sekarang jadi Russia) dan berdasarkan kejadian nyata. Untunglah saya cukup menyukai sejarah modern jadinya saya bisa menimati setting film  berdasarkan keadaan di tahun 1960an. Detail yang cukup meyakinkan
(walaupun saya juga ngga tau apakah di tahun 60an keadaannya seperti itu) dan bukan cuma menggambarkan kondisi di New York, tapi juga sedikit bagian di negara Uni Soviet dan Jerman (yang saat itu terpisah menjadi Jerman Barat dan Timur). Namanya perang dingin, jadi ngga akan ada tembak-tembakan perang seperti film perang lainnya walaupun di beberapa scene terdapat tembakan senjata dan roket pada saat... (ooops, spoiler). 

Sutradaranya juga kelas wahid, siapa lagi kalau bukan Steven Spielberg. Sineas andalan Hollywood ini memang ahli di penggambaran situasi dan jeli membuat situasi makin dramatis. Cinematography nya juga "cantik" sekali. Banyak angle-angle yang di baut sedemikian rupa dan membuat film menjadi tambah menawan. Jangan lupakan juga di sisi soundtrack, musik yang indah menjadikan drama di film ini makin terasa. Untuk segi teknik ngga ada yang perlu di kritik, semua sempurna. 

Untuk menonton film ini pastika kita dalam keadaan yang fresh dan fokus karena beberapa kejadian akan saling berkaitan di akhir cerita. Dan pastikan jangan mengajak nonton bersama teman yang ngga sabaran, karena akan mengganggu kalo dia banyak tanya sepanjang film yang akhirnya kita juga ngga konsen nontonnya haha... Dengan ini saya memberi nilai 8/10 (Rekomended).

Senin, 15 Februari 2016

Goa Liang Bangkai, Mentewe, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

Sebenarnya, perjalananku ke Batulicin tidak ada niat buat jalan-jalan, melainkan karena suatu urusan.

Minggu, 7 Februari 2016. 
Aku berangkat dengan naik taksi (mini bus/L300) dari terminal Km. 6 setelah sebelumnya motor aku titipkan di rumah teman yang tidak jauh dari terminal. Ongkos taksi 85 ribu, dan berangkat ketika jumlah penumpang sudah 11 orang. Jumlah 11 orang itu cukup nyaman, karena artinya di baris belakang hanya ada 3 penumpang untuk setiap barisnya. Tidak sesak.

taksi l300 jurusan batulicin
Perjalanan ke Batulicin kali ini ditemani 'Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya'
dan tetes-tetes hujan yang mengembun di jendela.

Berangkat pukul 9.30, dan sampai di terminal Batulicin tepat ketika jarum jam menunjuk angka 4. Saat aku sampai di terminal, temanku Tri yang rencananya akan menjemput, saat itu masih ada kesibukan, dan baru bisa menjemput beberapa jam lagi. Nah, ketika di terminal inilah aku menangkap pembicaraan orang lain tentang Hari Imlek. Ah, aku baru sadar, bahwa besok adalah Hari Imlek, yang artinya libur nasional, yang berarti kantor-kantor akan tutup.
Sambil menunggu Tri, aku naik ojek ke Taman Education, taman yang baru selesai dibangun (Tukang ojek tidak familiar dengan nama Taman Edukasi, mereka menyebutnya Taman Pasar Minggu). Taman tersebut cukup ramai, dan semakin sore semakin banyak orang yang nongkrong di taman ini. Aku kurang mengerti di mana letak 'education'-nya, kupikir di sini terdapat taman bacaan, poster-poster berisi ilmu pengetahuan, benda-benda fisika, atau sebagainya. Ternyata hanya ada huruf-huruf berukuran besar.
taman edukasi - education park - taman pasar minggu - batulicin tanah bumbu
Tanah Bumbu Education Park / Taman Pasar Minggu, Batulicin

Ketika Tri datang menjemput, kami ke rumahnya yang ada di Desa Bulurejo, Kecamatan Mentewe. Perjalanan menuju rumah Tri didominasi oleh kebun sawit di kiri-kanan jalan. Kutebak, separo lebih dari Tanah Bumbu isinya adalah kebun sawit! Selain kebun sawit, mataku juga menangkap hal unik, yaitu rumah-rumah warga Hindu dengan ciri khas di pekarangan setiap rumah terdapat bangunan semacam sesembahan dengan bentuk unik. Ini pertama kalinya aku melihat yang seperti ini. Kata Tri, ini adalah perkampungan orang-orang Bali. Sedangkan kata Google, bangunan suci di pekarangan tersebut namanya pelinggih.
Sampai rumah Tri, aku lebih memilih tidur dan istirahat setelah sebelumnya berkenalan dengan kedua orangtua Tri. Perjalanan yang cukup melelahkan.

Senin, 8 Februari 2016.
Karena 'suatu urusan' yang kurencanakan harus ditunda hingga besok, hari ini kami jalan-jalan ke Goa Liang Bangkai (namanya memang cukup menyeramkan). Dari rumah Tri, letak goa ini tidak begitu jauh, masih di kecamatan yang sama. Banyak belokan dan persimpangan yang harus dilewati untuk sampai ke goa ini, tapi kita tidak akan kesulitan untuk menemukannya karena di setiap persimpangan terdapat papan penunjuk.
papan penunjuk arah ke Goa Liang Bangkai
Papan penunjuk arah ke Goa Liang Bangkai

Mendekati goa, kita akan menyaksikan deretan pegunungan dan perbukitan yang seolah seperti dinding raksasa. Goa itu sendiri adalah kaki dari bukit kapur.

perjalanan menuju goa liang bangkai
Perbukitan Kapur yang menghiasi jalan menuju Goa Liang Bangkai

Pintu masuk menuju Goa Liang Bangkai
Pintu masuk menuju Goa Liang Bangkai
meski ada semacam loket, tapi masuknya gratis kok...

Tidak banyak orang ketika kami tiba. Hanya penjaga warung dan beberapa pemandu untuk ke puncak bukit. Kami masuk ke mulut goa, dan beginilah suasana di dalamnya...





Karena saat ini musim hujan, terdapat genangan air yang membuat kami mau tak mau harus menyingsingkan celana agar bisa meneruskan masuk ke dalam goa.
"Kalau tidak musim hujan tidak begini," jelas Tri.
Bagian tengah goa cukup luas, namun sayangnya, seperti kebanyakan goa-goa lainnya yang ada di Kalsel, kondisi dalam goa sangat gelap karena tidak adanya penerangan. Berbeda jauh dengan goa-goa di pulau Jawa yang dikemas lebih baik oleh pemerintah daerahnya.
Di tengah goa juga tampak sebuah lubang yang menghubungkan dengan goa bagian bawah. Sayangnya goa di bagian bawah tersebut sedang tergenang air. Padahal, kata Tri, di bawah sana cukup luas.
"Seperti kerajaan," katanya. Entahlah.
Lubang menuju goa bagian bawah
Lubang menuju goa bagian bawah
Hanya yang bernyali tinggi yang berani masuk

Dan inilah ujung goa, yaitu bagian belakang dari bukit tadi.


Selesai foto-foto, kami keluar. Minum dan menyantap mie instan di warung. Pada anak laki-laki penjaga warung, Tri bertanya rute ke puncak bukit tersebut. Si anak laki-laki menjelaskan, dan mengatakan bersedia mengantarkan kami ke puncak kalau mau.
Maka usai makan dan minum, kami berangkat ke puncak.
Bagian pertama dari rute pendakian adalah tebing yang sangat-sangat curam, dengan kemiringan 90 derajat! (Ini bukan miring lagi namanya) Meskipun ada tali tambang untuk melewati tebing tersebut, aku tetap ragu. Tapi akhirnya kupegang juga tali tambang itu, dan mulai mendaki. Masa aku kalah dengan anak SMP?
Rute ke puncak diwarnai dengan batu cadas, tebing curam, dahan-dahan pohon, akar, dan goa (namanya Goa Kayangan, kalau tidak salah). Goa itu sendiri bercabang-cabang, jadi jika tidak ada pemandu jangan coba-coba mendaki, kalau tidak ingin tersesat.
Si anak SMP yang memandu kami tampak sangat lincah mendaki tanjakan, berbeda jauh denganku yang setiap langkah diiringi keragu-raguan.

Langit tampak mendung sejak kami tiba di sini, dan saat kami hampir sampai puncak, tetes-tetes hujan mulai berjatuhan satu persatu. Kami berhenti. Tidak ada tempat berteduh di tempat kami berhenti, hanya ada pohon-pohon kecil yang tidak akan mempan menghalau guyuran air hujan. Kami sempat memutuskan untuk turun saat itu, namun berubah keputusan dan melanjutkan pendakian. Sialnya, semakin ke atas, rute semakin mengerikan. Sangat curam, dan nyaris tidak ada pijakan. Jika jatuh dari tempat setinggi ini, aku tidak yakin apakah nyawaku masih betah tinggal di tubuh. Ditambah dengan hujan, membuat pijakan menjadi licin dan pandangan tidak begitu jelas. Sepertinya, ke puncak bukit ini benar-benar bukan ide yang baik.

Tapi, dengan perlahan-lahan, serta semangat yang dipaksa-paksakan, akhirnya kami sampai di puncak. Beberapa foto sempat kami ambil dengan terburu-buru, sebelum kemudian hujan menjadi sangat deras, dan HP segera kami sembunyikan agar tidak terlalu basah.


Ada sensasi aneh ketika berada di puncak. Sensasi yang sama setiap kali berada di puncak manapun, yaitu sensasi ingin foto-foto narsis.
Beberapa menit duduk di puncak, berlindung dari serbuan hujan di bawah pohon kecil yang sama sekali tidak membantu, serta dengan kondisi hujan yang tidak ada sedikit pun tanda-tanda akan berhenti dalam waktu singkat, kami pun turun. Perjalanan turun ternyata jauh lebih mengerikan ketimbang saat naik.
Di dalam goa, kami berhenti sejenak untuk mengistirahatkan lutut yang kelelahan. Lalu kembali turun, dengan rute yang berbeda dengan rute saat naik. Kata si pemandu, rute tersebut kalau untuk turun lebih enak, meski lebih jauh.
Sampai di bawah, kami memberi uang pada si anak SMP yang memandu kami, lalu kami pulang. Dan langit masih saja menumpahkan hujan.
Jalan-jalan kali ini, lebih banyak bahayanya, sebenarnya, daripada senangnya.

Selasa, 9 Februari 2016
Kami menyelesaikan urusan kami hari ini. Saat pulang ke rumah Tri, kami mampir di sebuah Pura dan foto-foto di sana. Seorang teman mengira aku sedang di Bali saat foto ini kujadikan pic BBM.
pura di kecamatan mentewe, tanah bumbu
Pura di kecamatan Mentewe, Tanah Bumbu

pura di kecamatan mentewe, tanah bumbu

Janur kuning tampak menghias di setiap depan rumah warga Hindu. Kata warga sekitar, besok adalah Hari Galungan, makanya meriah. Aku menyimpulkan umat Hindu adalah orang-orang kreatif yang memiliki cita rasa seni yang tinggi.
Perjalananku ke Batulicin kali ini sepertinya memberikan cukup banyak pengalaman baru.

Sabtu, 13 Februari 2016

The Good Dinosaur (2015)

Setiap tahun saya selalu menunggu hasil karya garapan Disney - Pixar. Dan di tahun ini film The Good Dinosaur menutup tahun 2015 ini denan sangat baik. Bukan Disney namanya kalau ngga bisa membawa pesan moral di setiap filmnya tanpa menggurui. Di sini dikisahkan sebuah keluarga Donosaurus (saya baca di laman wikipedia jenis dinosaurus ini namanya Apatosaurus) yang tinggal di dekat gunung (saya lupa namanya). Sebuah gambaran kehidupan dekat gunung yang terasa sangat damai dan asri. Grafis yang sungguh mendekati real membuat film ini mendapat nilai tabah. Ditambah visual fx dan musik yang mendukung membuat saya betah menontonnya hingga vredit title.

Karakter yang digambarkan sangatlah "American Family" yang mana diantara ke-3 saudara ini ada seorang yang nakal dan biasanya salah satunya ada yang berada di pihak yang paling lemah.
Adalah Arlo (si good dinosaur-nya) yang harus menghadapi petualangan yang menantang dan cukup mengerikan untuk seorang anak yang kurang berdaya. Saya suka film luar negeri (khususnya Hollywood) yang men-dubbing karakternya sesuai dengan "umur"nya. Maksudnya, kalau karakternya seorang anak kecil ya sudah pasti dubbernya juga seorang anak kecil. Berbeda dengan proses dubbing disini yang biasanya menggunakan orang dewasa yang di buat seolah anak kecil. Suara anak yang alamiah membuat saya lebih menyukai karakternya. Setelah menonton 80 persen filmnya, dan akan terasa "Disney" sekali. Kenapa saya katakan begitu? karena saya merasa Deja Vu karena beberapa scene dan plot nya mirip Lion King atau Bambi. Tapi tetap saya menghargai jalan ceritanya yang cukup mengharukan. Banyak kejadian tak terduga dan karakter aneh yang sangat terasad di dunia nyata.

Untuk menonton ini pastikan ajak keluarga untuk menontonnya. Anak usia 8 tahun keatas pasti akan suka karakter Arlo dan Spot (anak manusia peliharaan Arlo) ini. Dengan ini saya memberi nilai 7.0/10 (Cocok untuk koleksi)

Selasa, 02 Februari 2016

Senin, 01 Februari 2016

The Martian (2015)

Bagi penggemar film sci-fi sepertinya akan langsung menyukainya. Ditambah lagi, fil The Martian membawa film sci-fi ke level yang baru. Jadi bukan cuma tembak-tembakan pakai laser, main pedang lightsaber aja (oops... sorry star wars fans) atau terbang pakai teknologi canggih. Disini para penonton disuguhkan juga drama yang kental. Yang sebelumnya pernah menonton film Gravity, Interstellar, sepertinya ngga akan ketinggalan film ini juga. Bahkan sempat seketika saya mengira ini ada hubungannya dengan film Interstellar karena pemain utamanya adalah Matt Damon yang pada film Interstellar... ah sudahlah tonton dulu aja ya, daripada spoiler.

Hapir sama seperti kedua film yang saya sebutkan tadi, setting yang ditonjolkan di film ini bukan di bumi, tapi di planet lain. Sesuai dengan judulnya setting berada di planet Jupiter Mars
. Sepertinya kita makin diperkenalkan dunia lain selain di bumi. Keindahan angkasa luar tergambar jelas di layar besar. Tapi sayangnya untuk yang ngga terlalu suka berbau "luar angkasa" film ini akan terasa agak "garing" karena ngga banyak yang menarik di film ini. Drama yang dibangun juga menurut saya agak lambat dibanding Interstellar tapi masih lebih baik dari The Gravity menurut saya. Jadi untuk menikmati film ini hanya akan terasa di bioskop besar yang punya kualtas gambar dan suara yang 4 jempol.

Akting Matt Damon yang ngga terlalu "wah" menurut saya sangat disayangkan. Karena setau saya aktor sekelas Matt harusnya bisa dapat peran lebih menantang lagi. Ada bagian yang paling menantang disaat Matt Damon diharuskan menurunkan berat badannya (saya yakin dia menggunakan stuntman) dikarenakan sedang mengirit makan karena...(oopps, nanti spoiler). Hingga adegan terakhir pun saya kurang greget sama drama yang di bangun selama film berjalan. Tapi entah kenapa film ini masuk ke salah satu nominasi Oscar? apakah mengikuti film The Gravity dan Interstellar? saya ngga tau juga. Tapi menurut hati saya yang paling dalam (halah) film ini ngga sehebat yang dibayangkan. Saya lebih merasakan drama di film Armageddon dibandingkan film ini. Tapi yah sudahlah, film ini cukup saya beri nilai 7/10 (tunggu di TV aja) sorry ya mas Matt.

The Walk (2015)

The Walk. Mungkin dari judulnya ngga terlalu menarik ya? tapi beruntung film ini punya promo yang gembar gembor jadinya bikin orang penasaran untuk nonton film ini. Saya seringkali melihat iklan film ini justru di MTV yang notabene bukan televisi film. Dari trailer yang ditampilkan ngga banyak adegan yang terlalu mencolok, bahkan terlihat seperti film drama biasa. Dan setelah saya tonton film ini memang drama yang... ngga terlalu biasa, kenapa? lanjtu baca ya.

Film ini berlatar kisah nyata dari seorang pejalan kabel (apa ya namanya?) bernama Phillipe Petit yang berasal dari Paris, Prancis. Di awal film kita sudah disguhkan gambar yang "menarik" dan akan sangat terasa kalau di tonton di bioskop dengan kualitas yang bagus karena akan terasa melayang. Dan untuk yang menderita Acrophobia (alias takut ketinggian) mungkin akan terasa seperti nonton film horor karena banyak angle dari ketinggian di film ini.

Penggambaran "menarik" yang saya maksud salah satunya adalah cerita dimana saat Phillipe mulai mengamen di Paris dan bertemu Annie (saya ngga mau spoiler disini, tonton aja ya) yang tergambar sederhana tapi terasa menarik dan membuat penasaran. Akting Joseph Gordon-Levitt di film ini sama kerennya saat dia memerankan film Premium Rush. Setiap adegan dilakoninya dengan cukup meyakinkan. Saya ngga tau apakah dia menggunakan stuntman saat adegan, tapi saya makin yakin kalo dia adalah calon aktor masa depan. Bahasa Prancis-Inggris nya juga keren ditambah tampangnya yang masih agak baby face mungkin memberi nilai tambah di film ini. Cerita yang sangat inspiratif walaupun agak ektreem ini bisa memberi motivasi ke penontonnya. Walaupun film ini ngga terlalu berat, tapi sisi drama nya masih cukup terasa. Kisah hidup dan persahabatn yang sungguh menyentuh menurut saya. Ngga banyak yang bisa saya komentari di film ini, jadi nonton aja ya karena ada sisi romantisnya, komedi dan beberapa ketegangan di beberapa scene yang cukup aman di tonton bersama keluarga dan teman. Dengan ini saya memberi nilai 7,5/10 (Cocok untuk koleksi).