Minggu, 18 Maret 2012

Lost In Singapore

Dari dulu saya punya keinginan untuk melihat dunia dan seisinya. Maunya sih keliling dunia, tapi karena keterbatasan uang dan waktu sepertinya itu cuma mimpi. Tapi syukurlah saya akhirnya memberanikan diri untuk mencobanya. Walaupun agak sulit awalnya tapi dengan kemauan tinggi akhirnya saya bulatkan tekad untuk memulai pencapaian mimpi saya. Sebagai orang yang baru pertama kalinya keluar negeri, pastinya ada rasa takut sekaligus penasaran. Maka dari itu saya coba browsing untuk mencari tahu negara mana yang paling aman dikunjungi untuk pemula seperti saya. Dan negara pertama saya adalah Singapura. Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, aman dan banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Setelah membandingkan dengan negara sekitarnya (Malaysia, Thailand dan Vietnam) akhirnya saya memilih Singapura untuk negara pertama yang saya kunjungi. 

Bermula dari pemesanan tiket pesawat murah (syukurlah saya mendapat promo terbang Rp.20.000 sekali jalan) dan teman saya yang memaksa untuk diajak. Ada baiknya juga teman saya ingin diajak karena kalau pergi sendirian pasti garing juga. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi di awal tahun 2012 yaitu 14 - 16 Maret 2012. Dengan berbekal nekat, uang seadanya dan pengetahuan yang semuanya didapat dari internet akhirnya kami siap untuk pergi. Sebagai penambah kesenangan saya juga membeli tiket Universal Studios Singapore karena memang itu salah satu tujuan utama kami selain mengunjungi si Singa "Merlion".

Tiket pesawat, boarding pass, passpor, booking hostel, tiket USS
dan uang seadanya
Dan sampailah kami di hari yang ditunggu-tunggu. Mau tahu kisah kami? lanjut baca di Lost In Singapore (Day 1) ya :)

Lost In Singapore (Day 1)



Berangkat dari jam 4.30 pagi dari rumah saya di daerah Tangerang menuju Cengkareng menggunakan motor dengan gerimis sepanjang jalan membuka petualangan saya menuju negeri singa. Jam take-off adalah 07.05. Kami harus sampai disana paling telat jam 06.05. Tanpa menghiraukan gerimis kami memaksakan untuk tetap sampai tepat waktu. Syukurlah kami belum terlambat yaitu 05.45. Sesampainya disana kami langsung mengisi data, menuju imigrasi dan menunggu dipanggil ke pesawat. Karena ini adalah penerbangan internasional pertama kami, jadi kami harus tetap waspada agar tidak salah masuk. Dan akhirnya saat yang ditunggu telah tiba.



Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Singapura
Baru sampai di Terminal 1


Ternyata cuaca agak tidak bersahabat sesampainya saya di Singapura. Sesampainya di Terminal 1 Changi kami disambut hujan gerimis. Tapi kami tetap excited dan melupakan bahwa diluar masih hujan. Untuk menghibur diri kami berkeliling dan berfoto bersama didalam. Saking noraknya kami berkali-kali minum air gratisan yang ada di setiap pintu depan menuju toilet. Kami pun sesekali saling bertanya : "Bener ga sih kita udah di Singapura?" sambil saling menertawakan diri. Kami juga saling membandingkan antara Changi dan Soeta yang sepertinya tidak fair untuk dibandingkan. Dan juga 1 hal lagi yang saya rasakan sepanjang hari itu di Singapura adalah, aroma orang lokal sana kurang lebih mirip. Entah apakah selera parfum mereka sama atau apakah sedang populer aroma tersebut? entahlah, selama itu tidak mengganggu saya.

#Tips : Sebaiknya membawa botol dari rumah dan mengisinya di keran di setiap depan toilet karena harga ari mahal (S$1 - S$1,95 per 600ml)




Pertama Kali Menginap di Hostel
Hostel adalah hal baru untuk saya. Waktu membaca cerita dari backpacker lainnya, mereka sepertinya tidak bermasalah jika harus tidur sekamar dengan orang yang tidak dikenal selama budget yang dikeluarkan minim. Untuk itu saya mencari hostel yang rekomen untuk pemula seperti saya, dan jatuhlah pilihan saya di ABC Backpacker hostel Jalan Kubor No, 3. Untuk mencapai kesana tidak sulit. Dari terminal 1 Changi kita harus pindah ke terminal 2 dulu menggunakan Skytrain dan lagi-lagi ini GRATIS. Sesampainya di terminal 2, cari saja tanda menuju MRT atau Train to city. Gampang kok carinya. Begitu ketemu stasiun MRT, kita harus membeli tiket sekali jalan dulu menuju stasiun Bugis. Waktu saya kesana sih harganya $3, dan bisa di refund kartunya $1 sesampai di stasiun Bugis. Saran saya sih sesampainya di stasiun Bugis sebaiknya membeli kartu EZ Link yang harga perdananya $12 (isinya $7 dan kartu bisa di refund $5) yang bisa dibeli di loket dekat pintu masuk. Kalau masih bingung, ada penjaga yang pakai seragam warna merah di sekitar situ. Biasanya penjaganya bisa bahasa Inggris dan Melayu tapi cobalah pakai bahasa Inggris supaya tidak miss-understanding. Dengan kartu ini bukan cuma untuk naik MRT aja, tapi juga bisa untuk naik Bus, Sentosa Express, Taksi (SMRT) dan bisa juga untuk belanja di 7eleven dan makan di McD. Satu kartu untuk semua, what a smart card. Tapi se canggihnya alat tetap ada error system juga. Saya pernah di saat mau masuk ke stasiun kartu saya bermasalah akhirnya saya tidak dapat masuk karena kartu tidak terbaca. "Card Failed" begitu tertulis. Untungnya petugas MRT selalu sigap dan akhirnya kartu saya dapat digunakan kembali. Saya tanya "What happened with my card?" dan ia bilang "It's okay, just another error system". Setelah sampai di stasiun Bugis langsung saja keluar ke kanan, menuju jalan lalu teruskan jalan ke arah kanan sampai ketemu jalan Kubor. 


Peta MRT : transilink.com.sg
Kartu MRT = SIN$12











MRT menuju Bugis Station
Nyari lokasi kamar di ABC hostel











#Tips : Jangan lupa bawa gembok sendiri karena hotel tidak menyediakan dan pastikan minta tidur di kasur bawah, karena tidur di kasur atas akan merepotkan jika kita sudah seharian berjalan.

Kota Yang Bersih, Tertib dan Teratur
Nunggu nyeberang
Karena ini negara denda, jadi hati-hati kalau mau menyeberang. Tidak seperti di Jakarta yang bisa semaunya saja menyeberang, kalau disini kita harus menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Ada tombol untuk menyeberang di setiap lampu merah, jadi tunggu saja 2-3 menit dan voila!! lampu hijau menyala baru nyeberang deh. Kalau lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, jangan takut ditabrak pengendara mobil karena mereka sering kali tetap berjalan walaupun kita sedang menyeberang. Tenang saja, mereka mau kok menunggu kita menyeberang. Melihat hal itu kami sampai terkaget-kaget dan saling tertawa karena tertibnya negara ini. Walaupun mobil dan bus besar berseliweran tak usah repot menutup hidung karena udara disini bersih sekali. Ga akan ada lagi bau solar waktu bus lewat, bunyi suara bajaj yang memekakkan telinga, dan tukang ojeg yang menyerempet pinggir jalan. Trotoarnya pun semua bersih, gak usah takut sepatu jadi kotor kalau jalan di waktu hujan.

#Tips : Selalu menekan tanda panah di lampu penyebrangan, karena polisi tidak segan menilang S$100 untuk pelanggaran menyeberang sembarangan.


Makan Siang Pertama
Maunya sih makan makanan asli sini, tapi kami sudah cari-cari disekitar hostel ternyata hanya ada makanan arab. Tapi ada 1 tempat yang membuat kami terhenti, Nasi Padang Sabar Menanti II (apakah ada seri I nya?) tanpa berpikir lagi kami coba masuk kedalamnya untuk mencicipi masakan Padang di negeri singa ini. Agak kecewa karena penjualnya orang melayu. Saya pikir asli orang Padang, karena sesama orang Indonesia pasti akan saling membantu. Tapi ya sudahlah, tidak ada waktu lagi untuk makan karena sudah jam 1 waktu SIN. Saya makan rendang, perkedel dan teh panas seharga $5.30 (IDR 39.000) memang mahal sih, tapi hey, ini Singaura bung. Setelah makan saya membeli air mineral di 7eleven didekatnya, tahu berapa air mineral (saya beli merk AQUA) ukuran 600ml disini? $1.95 (IDR 14.000an). Lupakan soal mahal disini, kita sedang liburan bukan?
Sabar Menanti II
Makan siang seharga S$5.30











#Tips : Jangan berharap seenak RM Sederhana, lebih baik mencoba makanan khas Singapura di sekitarnya atau di Hawker Hall Bugis Juction.


Waktunya Jalan-jalan
Merlion
Hari pertama waktunya melihat keadaan sekitar dulu. Dan kami putuskan untuk mendatangi Merlion. Dan sekaligus pengalaman pertama kami menggunakan bus disana. Untunglah saya pernah membaca cara naik bus di internet jadi agak terbantu. Mulai dari melihat rute dan nomor bus, hingga cara men-tap kartu pada saat masuk dan keluar pintu. Naik bus sebenarnya cukup menyenangkan karena bisa melihat keadaan sekitar, tapi resikonya kita bisa terlewat halte yang ingin kita tuju. Jadi selama perjalanan mata harus waspada melihat sudah samapai halte mana saya berhenti. Setelah sampai di halte Fullerton, saya lanjutkan menyeberang jalan lewat jembatan mirip mangga 2 tapi dengan kebersihan dan kenyamanan tingkat tinggi. Dan dari kejauhan kami sudah bisa melihat singa mancur yang sudah di kerubuti para turis, ya saya termasuk turis juga kan? Saat memasuki Merlion Park yang terlintas dipikiran adalah : Wow, ini yang aslinya! kemarin saya cuma lihat di TV dan Internet. Kami pun langsung gila-gilaan berfoto di depan patung singa mancur itu. Sesekali ada turis berbahasa Mandarin berbicara untuk meminta di foto kan. Hello, in English please! Am I look like a Chinese? I don't think so. Selain patung singa, bisa juga berfoto di depan hotel Marina Bay Sand, gedung dengan kapal pesiar tersangkut diatasnya dan bianglala besar dari kejauhan.
Marina Bay Sands
Merlion


Science Art Museum







Singapore Flyer











#Tips : Perhatikan jalan sepanjang perjalanan menuju tempat yang dituju apabila menggunakan bus, karena supir tidak akan menunggu lama di setiap halte, dan tidak semua supir bus ramah bisa diminta memberitahukan kita sudah sampai mana.


Mencoba Kereta Monorail
Cobain Monorail
Setelah sukses foto didepan icon Singapura, akhirnya kami memutuskan untuk segera menuju Sentosa Island. Dengan modal $3 kita bisa mondar-mandir antar stasiun di pulau Sentosa. Kalau gak mau rugi, bisa juga pakai kartu EZ link nya. Ada 4 pemberhentian, yaitu Sentosa Station, Waterfront Station, Imbiah Station dan Beach Station. Untuk menuju kesana kita harus ke lantai atas Vivo City lalu membeli tiket 1 hari monorail. Saran saya sekalian beli tiket Song Of the Sea disini seharga $10 untuk menyaksikan pertunjukan spektakuler kelas dunia di pinggir pantai yang berada di Beach Station. Sambil menunggu jam 7.40 malam kami putuskan untuk kembali ke Waterfront Station  untuk sekedar berfoto di depan Globe milik Universal Studios. 
Monorail Station
Naik monorail
Numpang beken
          
Gaya doang
#Tips : Coba semua tempat selama disini karena kita bebas mondar-mandir selama belum kembali ke Vivo City


Nonton Song Of The Sea
Waktu di Sentosa station tadi, kami sempat membeli tiket Song of The Sea dan kami memesan yg jam 7.40. Begitu waktunya tiba kami langusng mencari antrian yang tidak terlalu panjang. Waktu masuk kami dibelikan plastik ponco. Entah untuk apa ini? apakah ada senprot-semprotan selama pertunjukan berlangsung? atau kah karena terhindar dari hujan yang memang saat itu sempat hujan sebentar. Didalam kami disuguhkan pertunjukan laser dan proyektor dan live action beberapa orang dengan berbeda ras bernyanyi. Mirip laskar pelangi di Dufan, tapi saya yakin bahwa Laskar Pelangi-lah yang mengikuti Song of The Sea.
foto : sentosa.com.sg

#Tips : Jika ingin mendapatkan view bagus di Song of the Sea, pastikan datang 30menit lebih awal dari jadwal di tiket.

Kecapean Jalan Seharian
Setelah jalan seharian, kami putuskan pulang ke hostel tapi sebelumnya cari makan dulu. Tanpa disadari sudah pukul 9 waktu SIN, dan kami kesulitan mencari makan di pinggir jalan. Kami menciba mencari di tempat makan siang tadi tapi sudah tutup. Kaki kami sudah kelelahan. Saking bingungnya kami pun kesasar hingga jalan Serangoon. Karena tidak dapat makan juga kami putuskan untuk tidak makan malam itu dan makan banyak pada saat sarapan esok pagi, sungguh menderitanya. Sesampainya di kamar hostel kami disambut room mate kami yang kebetulan bule Germany bernama Toby. Kamipun segera mandi dan beranjak tidur mempersiapkan petualangan lainnya esok hari bersama teman baru kami. 

#Tips : Apabila sudah diatas pukul 9, carilah makan di daerah Bugis Street karena buka 24 jam.

Sabtu, 17 Maret 2012

Lost In Singapore (Day 2)

Masih belum percaya kalau saya sudah ada di Singapore, pagi harinya saya masih meyakinkan diri dengan melihat tempat saya bangun. Ya, saya ada di kamar hostel, berarti benar saya memang di Singapura. Wah, maklum wong ndeso haha. Dan hari yagn ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ya, hari kedua kami jadwalkan untuk bermain di Universal Studios Singapore (USS). Ternyata saya kedatangan 1 anggota perjalanan lagi, yaitu Toby teman sekamar saya di hostel. Ia berasal dari Jerman dan mengaku belum pernah tahu apa itu USS. Dengan sopan ia meminta kami mengajaknya. Selama tidak ada ruginya, ya... go ahead.

Menuju Universal Studios Singapore
Lokasi wajib!
Pastinya sesampainya di lokasi ada 1 ritual wajib bagi para pengunjung tempat wisata terkenal seantero jagad ini.  Ya, berfoto di depan globe Universal. Untungnya saya datang cukup pagi, yaitu pukul 9.30 jadi antrian foto tidak terlalu ramai. Karena saya dan teman saya sudah membeli tiket via Online (saya beli di kaskus) jadinya saya harus menunggu teman Jerman saya mengantri tiket di loket. Dia sampai terkejut karena harganya S$75. Entah memang itu harga yang mahal atau memang dia pelit? haha. Sempat terlihat keraguan di dirinya, apakah tetap ikut kami kedalam atau hanya bisa mengantar kami sampai pintu depan saja. Tapi begitu Ia melihat wahana terbaru Transformers The Ride, akhirnya dia putuskan untuk ikut kami. Dasar bule plin plan haha. "Wait for me! I want to try the Transformers!" serunya. Ya what ever, yang jelas kami mau coba semuanya hihi.

Di depan USS
Didalam langsung narsis









#Tips : Lebih baik beli tiket jauh hari via online untuk menghindari Sold Out di hari H. Bisa juga membeli di travel agen online karena bisa lebih murah, tapi harus berhati-hati karena ada yang jual tiket palsu.

Mencoba Wahana di USS
Wahana pertama yang kami coba adalah Lights, Camera, Action! karena memang sejalan dengan urutan yang kami lewati. Terus terang saya cukup penasaran dengan atraksi ini setelah melihat beberapa videonya di YouTube. Bayangkan jika kau berada di dalam rumah kapal di New York yang sedang di landa badai kategori 5 dan menghancurkan tempat tinggalmu. Kamu bisa merasakannya disini secara langsung. Bagi pecinta film harus coba ini. Setelah pemanasan dengan Lights, Camera, Action! kami lanjutkan ke Transformers The Ride. Kami beruntung bisa mencoba wahana pertama kali di dunia, bahkan yang di Amerika saja baru di buka bulan April 2012. Walau terpampang tulisan "45 Minutes" di depan wahana (menunjukkan lama antrian) kami tetap masuk. Inilah yang saya suka dari tempat ini, walaupun antriannya sangat panjang, tapi kita tidak perlu panas-panasan menunggu malah diberikan hiburan dengan cuplikan film-film Transformers yang jujur saja saya tidak mengerti jalan ceritanya karena saya tidak menyukain flm ini sejak menonton seri keduanya. Tapi tentu saja penantian selama 45 menit tidaklah sia-sia, karena kami disuguhi simulator 4D yang sangat keren hingga saya tidak bisa menceritakannya, coba saja! 

Kami lanjutkan perjalan kami dan terlihat Roller Coaster paling menyeramkan yang pernah saya lihat. 2 buah rel berwarna merah dan biru saling bersilangan. Terlihat warna biru adalah Cyclon, dan merah adalah Human. Ternyata mereka berbeda satu sama lain. Untuk Cyclon (biru) menggunakan rel di atas kepala, jadi kaki kita menggantung selama perjalanan, sedangkan Human seperti layaknya roller coaster biasa, duduk dengan rel di bawah. Karena teman-teman saya gila, jadinya mereka memilih yang biru padahal saya keringat dingin saat itu ahaha. Karena tidak mau malu didepan kedua teman saya akhirnya saya hanya berdoa dalam hati "semoga tidak pingsan diatas" haha. Begitu duduk di kursinya berarti sudah tidak ada kata mundur, dan kursi pun di kunci oleh penjaganya. Dengan aba-aba akhirnya kereta berjalan dengan tarikan yang cepat sehingga saya kesulitan menarik nafas, dan begitu turunan pertama saya sampai kesulitan berteriak ahaha. Untung saja tidak ada foto sya diatas rel itu saat tarikan pertama. Setelah beberapa saat saya merasakan pergerakan yang halus dari rel, membuat saya malah menikmati perjalanan roller coaster ini. Alih-alih berteriak ketakuan, saya malah melihat ke sekeliling dan terkesima dengan keindahan arsitektur USS. Saya mendengar teriakan dari depan dan belakang saya bahkan kedua teman saya. Aneh, padahal setiap saya main di DUFAN pasti saya tidak pernah membuka mata sampai perjalanan selesai. Apakah karena relnya terasa halus sehingga saya merasa aman dan seakan terbang? Sungguh perjalanan roller coaster paling mengesankan.

Lanjut lagi ke tema Ancient Egypt, kami mencoba Revenge of the Mummy. Sebuah wahana roller coaster indoor. saya pikir ini lebih seru karena ada cerita didalamnya dan beberapa kali terjadi pergerakan mengejutkan, seperti berhenti tiba-tiba dan berjalan mundur...ya, mundur. Bahkan yang sungguh mengejutkan, ada api di atas kepala kami sehingga kami dapat merasakan hangatnya api tersebut, sungguh wahana yang sinting.

Roasted Chicken Rice  = S$10.50
Perjalanan kami lanjutkan, dan bertemu gerbang The Lost World. Ya, ini identik dengan dinosaurus. Di wahana ini kami harus menyewa loker dengan biaya S$4/jam. Kami coba mengantri ke Rapid Adventure tapi sungguh di sayangkan beberapa kali terdengar pengumuman penundaan karena ada beberapa hal teknis. Lucu juga, ternyata bukan hanya penerbangan saja yang delay, tapi wahana juga ada. Karena sudah terlalu lama kami mengantri dan takut loker kami terkena perpanjangan waktu (30 menit berikutnya S$1) akhirnya kami urungkan untuk menaikinya. Karena sudah siang akhirnya kami mencari restoran untuk makan siang dan terhentilah langkah kami di Discovery Food Court tepat di belakang patung Dinosaurus hijau. Kami makan Roasted Chicken Rice seharga S$10.50. Mahal memang untuk makanan seperti itu, tapi ya...namanya juga di tempat wisata, nikmatin sajalah.
Kenyang menghabiskan makanan kami, perjalanan kami lanjutkan ke Waterworld. Tapi karena jam pertunjukan masih 30 menit lagi kami putuskan ke Far Far Away. Ada teater 4D dengan Ogre dari Shrek menyambut kami dan kami pun langsung masuk ke dalam kastil besar. Kami disuguhkan animasi Shrek dengan simulator dan layar 3D. Sungguh pengalaman yang menarik. Selesai dengan teater 4D kami pun kembali ke Waterworld karena sudah dekat dengan waktu pertunjukan. Ini bukan wahana, ini teater. Kami disuguhkan penampilan berbahaya dari 8 stunt di panggung air. Terdapat banyak ledakan dan cipratan di dalamnya. Untunglah saya duduk di kursi warna coklat jadi tidak takut terciprat air. 

Masih terpesona dengan penampilan akis laga berbahaya tadi, kami lanjutkan perjalanan kami, dan kami beruntung karena tepat dengan waktu pertunjukan Madagascar Boogie. Para karakter Madagascar menghbiur para pengunjung dengan tarian "I like to move it!" dan selesai tarian kita boleh berfoto dengan para karakter Madagascar tersebut. Karena teringat dengan teman saya yang sangat menyukai tokoh Gloria si kudanil, maka saya sempatkan untuk membeli souvenir untuknya.
Madagascar Boogie
Gloria the Hippo










Selesai berbelanja, kami lanjutkan ke wahana terakhir, dan lagi-lagi teater berjudul Monster Rock. Saya baru sadar bahwa USS memang tidak sebesar DUFAN tapi mereka pintar memanfaatkan lahan yang sedikit itu menjadi sangat padat dan tidak membosankan karena tidak ada lahan kosong yang terbuang. Selesai menonton teater Monster Rock yang cukup membuat saya mengantuk karena menampilkan lelucon garing dan lagu-lagu serta tarian ala broadway kami sudah tiba di pintu keluar. Karena tidak mau rugi karena masih di dalam, saya menyempatkan untuk membeli souvenir untuk saya sendiri. Sebuah miniatur globe Universal Studios seharga S$21.50 untuk saya letakkan di atas tv kamar saya supaya saya tetap ingat bahwa saya pernah kesana. Dan untunglah saya bertemu dengan tokoh-tokoh kartun lainnya seperti Po dari Kungfu Panda dan Woody Woodpecker. Saya sempat mencari Charlie Chaplin tapi hanya ketemu Marilyn Monroe dan saya tidak tertarik karena terlihat sangat palsu ahaha. Setelah puas berfoto akhirnya kami sudah siap menuju pintu keluar untuk meninggalkan tempat paling keren ini.
Po
Woody Woodpecker









#Tips : Sebaiknya bawa makan (misal McD, Burger King) dari luar untuk dimakan disaat lapar karena harga makanan mahal. Setidaknya belilah 1 souvenir berupa barang tidak habis pakai untuk kenangan. Bila kita datang di akhir pekan (sabtu-minggu) akan ada kembang api puku 19.00 di danau USS

Menuju Chinatown
Pukul 17.00 kami selesai bermain di USS dan teman bule saya meminta kami menemaninya ke Chinatown karena dia sangat penasaran dengan makanan cina. Karena kebetulan saya juga belum pernah kesana jadi tidak ada salahnya jika kami ikut kesana. sesampainya di Chinatown saya hanya melongo karena suasananya tidak beda jauh dengan suasana di glodok ataupun pasar baru. Terlihat banyak makanan dijajakan di pinggir jalan, dagangan berupa camilan dan akar-akaran khas obat cina, dan bau hio yang semriwing. Saya hanya saling lihat dengan teman saya karena kami sudah terbiasa dengan keadaan ini. Sesampainya di sebuah food court teman bule saya langsung memesan makanan untuk makan malamnya. Saya sebenarnya juga ingin mencicipi, tapi sepanjang jalan saya mendapati menu dengan tulisan "pork" di setiap outlet. Sadar saya tidak isa makan disini setidaknya saya menghormati teman saya, dan akhirnya saya hanya memesan softdrink untuk lebih amannya. Saya dibuat kesulitan membeli minuman setelah penjaga outlet yang saya mintakan minuman tidak bisa berbahasa Inggris. "Do you have a pepsi?" tanya saya. Penjaga hanya melongo dan meminta temannya untuk mengartikannya dalam bahasa mandarin. Ya ampun...akhirnya daripada malu dan tidak menjadi beli minuman, akhirnya saya menggunakan bahasa Tarzan dengan menggerakkan tangan saya seperti orang mau minum. Ternyata tidak dijual disana dan menunjukkan ke toko lain yang menjual minuman. Malu 2 kali saya, tapi masa bodoh lah, saya toh turis haha. Di tempat minuman yang ditunjuk ternyata penjualnya prang Melayu, syukurlah dia bisa bahasa Inggris. "One pepsi ,please" dan voila! sekaleng pepsi mendarat di meja. Thank God!


#Tips : Untuk membeli makanan china dengan label Halal bisa dibeli di Siang Leah St di dekat Bugis Juction dan pastikan ada label Halalnya. Jika bertemu dengan penduduk yang tidak bisa bahasa Inggris sebaiknya pelajari bahasa Tarzan.


Marina Bay Sand
Sejak dibangunnya hotel Marina Bay Sands di tahun 2010 lalu, tempat ini menjadi objek wisata wajib lainnya setelah Merlion. Tidak hanya hotel saja yang ada disitu karena di sekitarnya juga tersedia mall, casino dan street view yang menakjubkan pada sore hari. Ditambah lagi, manager Marina Bay membarikan persembahan GRATIS untuk pada pengunjungnya berupa pertunjukan air mancur dan multimedia yang diberi nama Wonderful Water and Lights yang ditampilkan setiap hari pukul 19.00 dan 20.00 SIN dan melanjutkan melihat mangkuk air yang tidak pernah terisi penuh yang berada tepat di pintu depan Shop At The Marina mall. Untuk turis yang mau mencoba masuk ke Casino, cukup menunjukkan pasport dan kita bisa meluncur ke dalamnya. Atau naiklah terus hingga ke atapnya karena kita akan serasa naik ke kapal pesiar dan bisa melihat seisi Singapura dengan teleskop. Benar-benar memanjakan turis. Atau kalau minder masuk ke dalamnya, kita masih bisa kok menikmati suasana sore yang asri di sekitar teras hotel. Kita bisa berfoto, melihat orang Singapura joging sore atau sekedar jalan-jalan sore. Sayangnya, baterai kamera saya habis dipakai di USS tadi, jadi tidak bisa merekam semua moment itu :'(









Giant Water Bowl
Wonderful Water and Lights











Seharian jalan terus kaki pada pegal, dan kasur menjadi tempat paling berharga pada saat itu.

#Tips : Sebaiknya membawa krim untuk pegal (jangan lebih dari 100ml bisa ingin dibawa ke kabin) karena praktis kita berdiri dan berjalan terus seharian, dan duduk hanya pada saat makan dan naik bus/MRT itu pun kalau dapat kursi.

Masih berlanjut di Lost In Singapore (Day 3)






Kamis, 15 Maret 2012

Lost In Singapore (Day 3)

Sarapan terakhir di ABC Hostel
Dan akhirnya sampailah saya di hari terakhir di Singapura. Sebenarnya sih belum mau pulang, tapi jadwal pulang saya memang tanggal 16 Maret ini. Cukup sedih meninggalkan kasur yang 2 malam saya tempati dan suasana asri di Bugis dan sekitarnya. Akhrinya barang bawaan sudah di pack dan siap untuk check out dan pulang menuju Jakarta. Walaupun masih pagi dan jadwal take off saya pukul 17.20 tapi saya tetap keluar dari hostel pukul 9.00.



#Tips : Jika kira-kira puas dengan pelayanan hostel, sebelum c/o sebaiknya menuliskan testimony di wall yang disediakan dan berfoto dengan penjaga hostel untuk menghormati dan mengingatkan kita untuk kembali ke tempat itu.

Belanja di Orchard
Orchard Road
Hari terakhir kami manfaatkan untuk berbelanja. Ya, memang ini salah satu moment yang kami tunggu dari 3 hari ini. Kenapa kami berbelanja di hari terakhir? karena kami belum tahu berapa budget kami hidup 2 hari disini, jadi berbelanja ini adalah syarat saja supaya pulangnya bawa oleh-oleh hehe... Setelah sarapan dan check out dari hostel kami langsung ngacir ke MRT Bugis dan menuju Orchard. Karena saya tidak tahu tempat berbelanja yang murah dan banyak pilihan, jadinya kami cuma ke Orchard saja. Padahal kalau saja kami mau repot sedikit, kami bisa menuju Bugis Street dan Mustafa Center dulu. Memang dasar tidak pengalaman berbelanja, jadinya cari aman saja, dan Lucky Plaza adalah tujuan utama kami. Karena kami sudah pernah kemari di hari 1 jadinya kami tidak bingung lagi harus kemana dan harus lewat mana. Dari MRT Bugis kami naik sampai ke City Hall lalu transit ke arah jurong East dan teruskan sampai ke stasiun Orchard. Sebelum membuka pintu stasiun saya sempat mengecek saldo kartu MRT saya, masih ada S$6, saya kira masih cukup untuk sampai ke Changi nanti. Tapi sayangnya kartu MRT teman saya cuma sekitar S$3 dan itu hanya cukup sampai ke Orchard, tidak akan cukup jika digunakan ke Changi. Kenapa kok saldo kami beda S$3? ya, itulah kebodohan teman saya, padahal waktu kami menyeberang ke Sentosa di hari 1 kami sudah punya tiket menyeberang, tapi karena "kebodohan yang tidak perlu" dia men-tap kartu MRT nya di pintu Sentosa station, jadinya kepotong S$3 deh. Ya sudahlah jangan disesali, namanya juga pemula hehe...

Tempat belanja kami di Lucky Plaza
Sesampai di Orchard kami segera menyeberang lewat link menuju Lucky Plaza (LP). Ternyata mall sana dan sini sama saja, kami datang ternyata kepagian (9.45 SIN) dan ternyata masih banyak toko yang belum buka. Saat melintas di salah satu toko depan LP kami sempat terhenti di satu toko berwarna-warni dan masih tutup itu. Kami menemukan Sexshop dengan pajangan sexdoll, vibrator dan gantungan entah apa itu. Sempat berpikir "coba masuk yuk, gw mau liat apaan sih yang dijual?" kata saya pada teman saya. Di pintu kaca terlihat jam buka pukul 10.00 jadinya belum bisa masuk dan melanjutkan rencana semula kami, belanja. Setelah masuk mall yang mirip mangga dua "versi bersihnya", kami mencari beberapa toko yang sudah buka, dan terlihatlah Souvenir Shop. Dan lagi-lagi saya mendengar bahasa yang tidak lazim, bahasa Jakarta dengan logat Jawa. Sepertinya kumpulan ibu-ibu dari Jakarta yang hari ini akan pulang juga jadi mereka belanja oleh-oleh disini. Kami pikir sudah tepat berbelanja disini karena lihat saja, ibu-ibu biasanya tahu dimana tempat belanja murah dan bagus haha... Berawal mencari magnet kulkas, gantungan kunci, koerk api, pulpen, tas, dan akhirnya pesanan teman saya coklat berhasil saya dapatkan. Dan inilah kelemahan saya soal uang, suka lupa diri kalau masih ada nyelip di dompet jadinya pingin beli-beli-beli terus sampai akhirnya mentok dan patungan untuk membeli kaos yang hampir lupa kami belikan untuk teman kami yang punya anak kecil. setelah selesai berbelanja dan kesulitan memasukkan barang belanjaan tadi ke dalam tas, akhirnya kami beristirahat di kursi ION orchard sebelum berangkat menuju Changi.

Sempet-sempetnya
Karena jiwa narsis kami masih tinggi jadinya tetap saja foto-foto dulu di sana. Dan selesai kami berfoto-foto narsis saya teringat ada yang terlupakan, apa ya? Oh iya, kami batal masuk ke SexShop ahaha... karena sudah waktunya makan siang, saya sarankan untuk mencari makan di sekitar sini, tapi karena ke"sok tau"an teman saya, dia bilang : "Makan di bandara aja, harganya sama aja kok, emangnya di Jakarta?" Dan akhirnya ini menjadi kesalahan besar kami nantinya.



#Tips : Sisakan sedikitnya S$10-15 untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti makan, transport dan adminsitrasi lainnya. Jangan membeli benda tajam, yang mudah terbakar dan berbau. Makan di Airport 1,5x lebih malah jadi usahakan makan di dalam kota saja.

Pulang Ke Jakarta
Naik MRT di hari terakhir
Dan inilah saat-saat yang paling menyebalkan untuk yang sedang liburan yaitu pulang. Kami berangkat dari MRT ORchard pukul 12.00 SIN. Memang masih terlalu lama dari jam take off kami tapi saya pikir kami bisa jalan-jalan di Airport saja sambil explore apa yang bagus dari "Best Airport In The World" ini. Karena teman saya kehabisan saldo di tiket MRTnya, jadi dia harus membeli tiket one way ke Changi dan harus rela keluar S$3 dan bisa di refund S$1 nanti. Pukul 12.45 kami sudah sampai di Changi setelah merefund S$1 dari kartu one way kami segera mencari Burger King untuk makan siang kami. Dengan pede nya saya membuka dompet dan "Astaga!" tidak ada uang S$ di dompet saya. Ternyata uang saya habis di belanjakan tadi, yang ada cuma beberapa lembar 50 ribuan. Waduh, bagaimana ini? masa tidak makan siang? Sayapun teringat masih menyimpan beberapa uang receh di dompet koin saya, dan sayapun lemas melihat hasil kumpulan saya cuma S$4.50 an. Sambil mengitungnya saya melihat ke papan harga makanan disana, S$8.70, "cuma bisa beli minum" pikir saya padahal seingat saya harganya cuma S$7 an di Bugis. Saya pun berinisiatif untuk mencari alternatif lain. "Oh iya, McD aja!" kata saya dengan bangga karena saya tahu harga McD pasti tidak semahal di Burger King. Tapi teman saya bersikeras untuk makan di Burger King. Dengan agak malu saya bilang "Duit gw abis nih, tinggal recehan semua". Dia mengeluarkan semua uangnya juga, dan ternyata cuma total S$8. "Tuh kan, duit lo aja kurang. masa kita patungan trus di potong 2 gitu? wah, ngga deh" hahaha...

Dengan semangat pantang mundur dan perut keroncongan kami mencari tempat makan lain di sekitar Terminal 2, dan logo M berwarna kuning serasa memanggil kami untuk mampir (lebay karena lapar). Refleks saja saya bilang :"Yes, ketemu tuh" sambil nunjuk ke arah M kuning tanpa rasa malu. Masih menggenggam recehan saya beranikan untuk melihat harganya, dan... "Double Cheese Burger : S$4.50, Reg Coke S$1.50" Gotcha! Dengan agak malu saya bilang : "Tambahin dong, nanti gw ganti di Jakarta" kata saya, teman saya cuma tertawa "Ya elah, santai aja kali, kalo ga gini ga ada petualangannya" Benar juga sih, ah bodo amt lah yang penting sekarang waktunya makan haha... Dengan menyatukan sisa-sisa uang kami akhirnya saya beranikan mengantri. "2 Double Cheese burger and 2 Coke" dengan pedenya. Beberapa detik kemudian makanan sudah ada di meja dan waktunya bayar. O ow, saya lupa harga itu belum termasuk tax. beep, beep total S$13,20. My God! saya mengeluarkan semua uang kertas dan koin dan menghitungnya semoga ada uang sejumlah itu. Ibu-ibu Singapore nya melihat ke arah saya dan membantu menghitung dan, Thank God, masih ada lebihan beberapa puluh cents. Dengan agak malu saya bilang :"Thank you Miss" disertai senyuman nahan malu "Your welcome, enjoy your meal"

Akhirnya makan juga! Cuman 15 menit 1 double cheese burger abis, tapi sayang coke nya masih setengah, ga berani ngabisin takut eneg nanti di pesawat hahaha... Setelah perut di ganjal burger, perjalanan kami lanjutkan dengan pindah ke terminal 1 menggunakan Skytrain. Karena belum terbiasa dengan penerbangan pulang internasional, kami sempat bingung "Kita harus apa dulu ya?". Dengan pede kami ikuti seorang yang mau masuk ke pintu masuk boarding. saya melihat orang di depan saya membawa kertas panjang di selipkan di passportnya, "Itu apa ya?" tanya saya ke teman saya. karena tidak sempat mundur lagi akhirnya giliran saya maju, dan... "Boarding pass please?" oh ternyata boardning pass! dasar ndeso! saya dengan terburu-buru mencari di tas, dan memberikannya kepada mas-mas Singapore nya dan... "No, you must check in first" sambil menunjukkan ke arah kiri. "Ok, Thank you" sambil senyum nahan malu, lagi. Beruntung lah teman saya tidak sempat masuk keantrian, karena dia pasti langsung pucat di kasih tau pakai Bahasa Inggris haha... kami segera mencari Counter Check In AirAsia, dan lagi-lagi salah, Waduh! kami antri di antrian baggage "Do you have a baggage?" tanyanya, "No" kata saya, lalu mas-mas Singapore menunjuk ke belakangnya. Aih, ternyata diatasnya ada tulisan segede gaban tapi ga dibaca, dasar orang Indonesia males baca. Dan akhirnya kami di layani mbak-mbak Singapore dan dengan beberapa detik voila! Boarding pass akhirnya saya dapatkan. Segera saya ke tempat tadi dan, sret-sret... boarding pass di paraf dan masuk ke imigrasi. Di bagian cap imigrasi ternyata mas-mas Singapore nya sok asik, yah lumayan lah ngilangin malu berkali-kali. Setelah mencap, di bilang : "Ke Jakarta ya? selamat terbang" halah, melayu sok asik, dan disaat mau melangkah "Dit, permet. Permen Dit?" sambil menunjukkan toples permen di depannya. Walah, ini sok asik tapi boleh lah ahaha...
Pesanan Boss
Enak beneeeeeerrr...
Selesai semua urusan ini itu sampailah di depan pintu ruang tunggu, tapi karena masih jam 15.00 jadinya belum boleh masuk. Supaya ngga bosan akhirnya saya jalan-kalan dulu. Begitu ketemu kursi pijit kami langusng mendekatinya dan...ahhh, 3 hari berjalan akhirnya ada yang mijitin. Sudah bosan pijit memijit, kami ke internet corner, lumayan untuk ngasih tahu orang rumah kalo kita sudah mau pulang dan ternyata Boss saya titip pesen beli coklat. Walah, duit abis disuruh beli coklat?
Akhirnya "kartu sakti" bertindak juga.

Liat jadwal dulu (sok ngerti)
Jam 16.45 kami dipanggil untuk masuk ke ruang tunggu. Semua barang masuk X-Ray. Lolos. saya deg-degan juga karena saya bawa 3 korek api, takutnya disuruh ditinggal. Setelah beberapa lama dan delay 20 menitan akhirnya kami naik ke pesawat dan ternyata sudah penuh, sampai saya harus menaruh tas saya di laci seberang. And finally, Jakarta here we come.




#Tips : Sebaiknya berjalan-jalan dahulu untuk menikmati fasilitas Airport, dan kalau sudah lelah bisa di pijit dengan mesin yang ber jejer di beberapa titik di terminal 1.

Sampai di Jakarta
Bukan bermaksud sombong karena baru pulang dari luar negeri, tapi memang begitu keluar dari terminal 3 Soeta suasananya kontras banget. Dari suhunya yang pengap, bau asap dimana-mana, dan suasana yang kurang tertib. Kebiasanaan berjalan cepat di Singapore agaknya terbawa sampai ke Jakarta. Ya, mau bagaimanapun kondisinya, ini memang lokasi tempat tinggal saya, dinikmati sajalah. 

#Tips : Transportasi di Soeta agak sulit, jika tidak ada yang menjemput sebaiknya naik taksi resmi di pool atau jika ingin naik bus DAMRI sebaiknya pilih penerbangan lebih siang karena agak lama menunggu shuttle bus datang menjemput.

Selasa, 06 Maret 2012

Jalan Pulang


Selesai. Semua pelarian itu telah usai. Aku pulang.
Di luar, rintik-rintik hujan kembali menderas. Ricisnya seperti berjatuhan di dasar hati. Sore yang murung. Kaca jendela di sampingku yang mengembun sudah beberapa kali kuusap, sehingga mataku bisa lebih leluasa memandangi sungai kecil di sepanjang sisi kiri jalan yang diguguri tetesan hujan itu.
Aku penumpang terakhir, tersandar di bangku terdepan dalam taksi colt terakhir yang merambat dari terminal Handil Bakti menuju Marabahan. Taksi tidak penuh, dan suasana benar-benar sunyi. Sopir sepertinya enggan menyalakan radio karena suaranya pasti tak akan jelas dalam cuaca seperti ini. Dan penumpang lain, tampaknya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Di sisi kanan jalan kadang terlihat beberapa pengendara sepeda motor yang menepi di warung atau emperan-emperan toko, menunggu hujan yang sepertinya masih lama lagi akan benar-benar teduh.
Akhirnya aku pulang. Hhh…

Pandangan kembali kulempar ke samping kiri, pada kaca yang kembali mengembun itu, tapi kali ini aku enggan mengusapnya. Di kaca itu, tampak samar wajahmu. Wajah yang lelah usai bertarung. Wajah yang limbung. Wajah yang sama seperti sepuluh tahun lalu, kecuali jenggot tipis yang tidak rapi dan rahang yang tampak lebih keras.
Kamu, lelaki yang naik taksi colt dengan hati dilanda badai. Orangtua yang tak pernah menghentikan pertengkaran, orangtua yang selalu menganggap salah apa yang kamu lakukan, orangtua yang menghinamu sekeji binatang jalanan, orangtua yang selalu menyebutmu anak durhaka tanpa bosan. Kamu muak! Kamu memasukkan beberapa lembar pakaian dan barang-barang penting dalam tas yang biasa kamu pakai untuk sekolah. Kamu memecahkan celenganmu dan memunguti uang-uang receh itu dengan tergesa. Kamu berlari menerobos hujan, di atas jalan setapak yang becek menuju jalan raya. Kamu melambaikan tanganmu pada taksi colt yang merangkak pelan.
Dan kamu pun lamat di sana, di jendela kaca yang berembun—sesekali embun itu terkumpul dan meluncur jatuh. Kepalamu kosong, kecuali satu; tidak ingin lagi melihat kedua orangtuamu. Sedang hatimu, adalah kumpulan embun yang meluncur jatuh itu.
Colt yang kamu tumpangi mengantarmu ke terminal Handil Bakti. Hujan mulai lindap, tersisa gerimis dan tanah yang basah. Sore telah tua, hanya tinggal beberapa angkot yang akan menuju Banjarmasin di terminal itu. Kamu naik angkot jurusan Pal 6, dan taksi itu segera meluncur tanpa menunggu penumpang penuh. Ke manapun nanti, asalkan tidak bertemu lagi dengan Ayah dan Ibu!
Tapi sayangnya, kamu tak punya pilihan kecuali menjadi gelandangan. Kamu menjadi pengamen, pengemis, dan terakhir kamu tumbuh menjadi preman. Preman yang cukup ditakuti di Kota Banjarbaru. Semua orang pasar kenal denganmu, membayar uang ‘keamanan’ padamu, untuk kemudian uang itu kamu pakai menghabiskan malam ditemani bau alkohol.
Ya, itu profesi terakhirmu selama bertahun-tahun hidup di jalanan, karena setelahnya kamu benar-benar menghargai hidupmu. Itu diawali pada sebuah malam yang basah dengan terlibatnya dirimu pada sebuah perkelahian tak seimbang. Seorang yang punya dendam denganmu membawa kawan-kawannya lantas mengeroyokmu hingga habis. Serangan beruntun tanpa balasan. Kamu tak berdaya. Kamu pingsan. Sekujur tubuhmu penuh darah, dan sebilah pisau menancap di perutmu.

***

Banyak perubahan di kabupaten ini sejak kutinggalkan sepuluh tahun terakhir. Jalan raya sudah lebih lebar dari yang dulu, dan pemukiman penduduk semakin ramai di sepanjang sisi jalan. Ah, tunggu, benarkah sepuluh tahun? Sepertinya lebih dari itu. Aku ragu. Sudah sejak lama aku tak peduli lagi dengan waktu.
Hujan belum juga mau berhenti. Sesekali kilat menerangi langit disusul bunyi yang mengerikan. Taksi colt yang kutumpangi mulai memasuki daerah Sungai Pantai. Kukeluarkan ponsel dari saku jaket, sudah jam enam lewat. Hujan begini, senja memang selalu lebih gegas hadir.
Tidak ada yang bisa kulakukan, dan aku memang tak ingin melakukan apa-apa. Mataku kembali tertuju pada kaca jendela yang semakin berkabut. Kamu, tampak semakin limbung di sana.
Saat itu kamu terbangun dengan setiap inci tubuh didera rasa sakit. Kepalamu pusing. Di akhirat kah ini? Namun kamu segera menyadari, bahwa itu di rumah sakit. Kamu edarkan pandangan ke sekelilingmu. Ada selang infus di tangan kiri dan seorang laki-laki setengah baya yang wajahnya seketika berubah cerah.
Pandanganmu tertumpuk padanya, seolah menunggu penjelasan.
“Akhirnya kamu siuman juga. Empat hari kamu pingsan. Tapi tenang saja, kamu hanya perlu menunggu luka operasimu sembuh. Ususmu ada yang robek, jadi harus dioperasi.”
Tatapanmu masih lekat padanya, masih banyak yang ingin kamu ketahui.
“Ah, aku bukan siapa-siapa. Aku cuma orang suruhan yang membawamu kemari. Semua biaya sudah ditanggung oleh Bos. Tunggu dulu, biar kuberitahu Bos bahwa kamu sudah bangun.”
Lelaki itu mengeluarkan ponselnya lalu terlibat pembicaraan.
“Bos akan kemari.” Ia menyunggingkan senyum.
Ruangan kembali hening. Cukup lama, hingga keheningan itu terpecah oleh ketukan di pintu. Lelaki itu sigap berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Orang yang disebut Bos itu ternyata seorang lelaki empat puluhan dengan wajah bersih dan pakaian rapi. Namanya Owen. Oh, ini rupanya orang bernama Owen itu. Selama ini kamu cuma pernah mendengar namanya sebagai pemilik banyak perusahaan dan beberapa SPBU yang tinggal di Banjarbaru. Rupanya benar apa yang sering diomongkan orang-orang bahwa Owen ini orang baik. Aku hanya seorang preman pasar yang sama sekali tidak ia kenal, tapi ia rela menyelamatkan nyawaku. Kalian sedikit berbasa-basi, sebelum kemudian orang itu sibuk dengan ponselnya lalu mohon diri.
Tiga hari kamu dirawat di rumah sakit semenjak kamu sadar. Selama tiga hari itu pula kamu banyak merenungi kehidupanmu, jalan hidupmu. Sesekali kamu juga minta pendapat pada lelaki setengah baya yang disuruh menemanimu itu. Sungguh, itu waktu yang sangat cukup.
Di hari terkahir kamu di rumah sakit Owen menawarimu pekerjaan dan tempat tinggal, tapi dengan halus kamu menolaknya. Hutang budimu padanya sudah terlalu banyak. Di samping itu, kamu telah menentukan bagaimana akan menjalani hidupmu kemudian. Keputusan yang telah bulat.

***

Aku tersipu mengingat bagaimana lugunya anak buah Owen yang menungguiku di rumah sakit dulu. Hm, siapa ya namanya? Sayang aku tak terpikir menanyakannya waktu itu. Aku juga tak pernah lagi bertemu dengannya setelah itu, juga dengan Owen. Barangkali sudah empat tahun lebih. Sekarang pastilah Si Bos itu jauh lebih kaya. Aku berdoa semoga suatu saat bisa membalas kemurahan hati mereka berdua.
Taksi colt memasuki Desa Sungai Gampa, lalu berbelok di Simpang Pinang. Aku tersadar karena rute ini bukan yang pernah kulalui dulu. Oh, iya, tentu saja. Tak mungkin berita tentang selesainya jembatan besar yang dibangun di Desa Rumpiang demi menyeberangi sungai Barito itu tidak kuketahui. Jembatan itu ternyata telah mengubah rute taksi menuju Marabahan yang sebelumnya harus menumpang feri penyeberangan di Desa Sungai Gampa. Bagiku, semua itu cuma berarti satu hal: aku tak bisa langsung turun di depan jalan setapak menuju rumah.
Ini yang mencengangkan, jalan menuju Jembatan Rumpiang ini jauh lebih lebar dari sebelumnya. Sepanjang tepi jalan yang dulunya lebih didominasi ilalang-ilalang tinggi dan sawah sekarang mulai dikerumuni rumah dan warung.
Kotak rokok kukeluarkan dari saku jaket, mengambil sebatang dan menyalakannya. Kuisap dalam lalu menghembuskannya perlahan. Asapnya yang mengisi dada sedikit mengurangi gigilku. Senja semakin muram. Hujan masih saja mengucur deras seperti tadi, seakan langit menyimpan debit air yang tak pernah habis.
Tiga batang rokok telah habis ketika Jembatan Rumpiang tampak di depanku. Di antara jariku kini tersampir yang keempat. Jembatan yang sangat besar dan cukup megah, kagumku. Kemegahan itu makin jelas saat taksi yang kutumpangi merayapinya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa takjub. Bergantian kiri dan kanan jembatan ini kuperhatikan, juga Sungai Barito yang membentang di bawahnya. Sungai yang selalu mengalirkan kerinduan. Andai tidak hujan, di sepanjang bibir jembatan ini pastilah sekarang dikerumuni banyak anak muda. Sejauh yang aku tahu, Marabahan memang tidak banyak menawarkan tempat nyaman buat nongkrong.
Kumandang azan magrib terdengar menggema. Menyelinap di tengah-tengah gemerisik tetesan hujan. Aku mendesah.

***

Keempat roda taksi colt ini serempak berhenti tepat di terminal Marabahan. Penumpang-penumpang di belakang bergegas turun. Kota Marabahan, aku telah sampai. Aku mengamati sekeliling. Hampir tidak ada perubahan drastis dari kota ini semenjak sepuluh tahun yang lalu—atau lebih.
“Berapa Man?” Aku mengeluarkan dompet.
“Sepuluh.” Sopir itu menjawab tanpa ekspresi. Jelas ia tak menikmati pekerjaannya yang kian tidak menguntungkan ini.
Setelah menyerahkan selembar sepuluh ribu aku berlari membelah hujan ke arah mesjid yang tak jauh dari terminal.
Jamaah sudah selesai, terpaksa aku shalat sendirian. Huft, aku akhirnya pulang, setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah. Ini luar biasa! Hanya beberapa kilometer lagi aku akan sampai, lalu bertemu kedua orangtuaku, sesuatu yang paling kuharamkan semenjak berlari meninggalkan rumah dulu. Tapi itu tidak berarti lagi sekarang. Ini perintah.
“Perjuangan ibu dalam melahirkan kita ke dunia adalah perjuangan hidup dan mati. Saat sudah lahir, betapapun kita rewelnya, ibu akan tetap sabar. Tanpa rasa jijik, beliau membersihkan berak kita. Ibulah orang yang paling utama wajib kita muliakan di dunia ini. Dan ayah, dengan sekuat tenaga ia berjuang agar kita bisa makan dan tumbuh. Apapun ia lakukan agar kebutuhan kita terpenuhi.” Ustadz Zamakhsyari terdiam sejenak. “Sungguh, pengorbanan mereka berdua tidak akan sanggup kita balas sedikit pun. Lalu apa yang kita lakukan terhadap mereka setelah kita besar?” Kalimat terakhir itu ia ucapkan dengan sangat pelan, nyaris berbisik. Mushalla yang biasanya gaduh selalu tenang jika Ustadz Zamakh yang mengisi pengajian.
Aku terhenyak mendengar kata-kata Ustadz Zamakhsyari. Ingatanku melayang pada bagaimana dulu ketika masih sangat kecil Ayah selalu membawakan kerupuk kesukaanku setiap pulang dari ngojek. Juga Ibu yang dengan sabar mengerok punggungku bila aku masuk angin, sambil bercerita tentang legenda-legenda Radin Pangantin, Putri Junjung Buih, Hantu Mariaban… Tiba-tiba, ada sekeping rindu yang diam-diam menyelinap.
Di asrama aku merenungi semuanya. Sejahat-jahat mereka, mereka orangtuaku. Orangtua yang penuh ikhlas dan sabar membesarkanku. Aku rindu mereka. Aku rindu rumah. Aku rindu sungai belakang rumah. Aku rindu berenang di sana bersama kawan-kawan. Aku rindu kampung halaman…
“Sal, kamu dipanggil Ustadz Zamakh!” Ketua asramaku berteriak dari biliknya.
Seperti biasa aku akan membantu-bantu Ustadz Zamakhsyari di rumahnya, kadang memotong rumput di halaman yang mulai tinggi, memperbaiki atap yang rusak, menimba air dari sumur, menjaga si kecil Abdurrahman yang baru bisa berjalan, atau apa saja. Ustadz Zamakhsyari pula yang selama ini membiayai semua kebutuhanku selama menuntut ilmu di pondok pesantren ini. Sedangkan untuk SPP bulanan aku bekerja membersihkan ruang makan pondok, tiap hari, tiga kali sehari.
Ternyata tidak ada pekerjaan sore ini. Yang ada ialah secangkir teh hangat di ruang keluarga dan senyum ustadz Zamakhsyari yang tak kalah hangat.
“Besok kamu harus pulang ke rumah.” Pelan, santai, datar.
Aku tersentak kaget. Itu kalimat yang tak pernah kuduga.
“Kamu sudah terlalu lama meninggalkan orangtuamu, waktunya kamu berbakti pada mereka.” Kembali aku teringat Ibu dan Ayah. Ustadz Zamakhsyari tahu semua tentangku, termasuk masa laluku, akan tetapi baru kali ini, setelah empat tahun aku menjadi santri di pondok pesantren ini, ia bicara mengenai orangtuaku.
“Ilmu yang kamu peroleh sudah banyak, saatnya kamu benar-benar mengamalkannya.” Ustadz Zamakh menyeruput tehnya. “Maafkanlah kesalahan mereka. Tapi yang terpenting, kamulah yang harus memohon maaf dari mereka.” Kali ini aku tidak bisa menahan air mata.
Ah, aku masih dalam shalat. Shalat magribku tidak karuan. Memang, shalatku tak pernah khusuk, tapi ini yang paling parah!
Hujan tinggal menyisakan gerimis. Selesai shalat aku mendatangi pangkalan ojek. Ojek, mengingatkanku kembali pada pekerjaan Ayah dulu sebelum aku sekolah.
“Ke Sungai Raya, berapa?” Aku langsung bertanya. Aku ingin cepat.
“Lima belas ding ai.” Itu terlalu mahal, tapi aku malas menawar. Aku sudah tak sabar ingin sampai rumah.
Paman ojek itu menyalakan motornya lalu menyerahkan helm. Aku naik. Motor perlahan melaju. Aku pulang. Perang selesai, dan aku pihak yang kalah.

***

Meski malam, masih jelas kukenali jalanan ini. Masih kuingat pohon-pohon besar di samping-sampingnya. Hanya saja, terlalu banyak lubang-lubang besar. Setelah jalan ini tidak lagi menjadi jalur utama pastilah tidak lagi mendapat perhatian.
Sesudah kelokan itu adalah Desa Sungai Raya. Kerinduan semakin memukul-mukul dadaku. Motor menikung mengikuti jalan yang berkelok. Deg.. deg… deg…
Aku seketika terpana. Cahaya lampu yang begitu terang tampak dari kejauhan. Bukankah di sana rumahku? Apa itu?
“Apa itu Man?” Aku tak sanggup untuk tidak bertanya.
“Oh… itu pengeboran minyak.”
Lidahku beku. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala. Rasa rindu merayap pada kecemasan. Ah, semoga saja pengeboran minyak itu tidak tepat di lokasi rumah orangtuaku. Mungkin di belakangnya, atau di sampingnya.
Tempat dengan cahaya sangat terang dalam kegelapan malam itu semakin dekat. Alat-alat besar tampak jelas dalam sinar lampu. Masya Allah, itu benar-benar tepat di lokasi rumah orangtuaku. Kini kami berada di depannya. Ojek kuminta berhenti. Aku turun dan membayar ongkos. Ojek itu kemudian berputar lalu menjauh.
Aku terpatung di tempatku. Tidak ada jalan setapak. Jalan itu kini digantikan jalan lebar dan mobil-mobil perusahaan yang hilir mudik di atasnya. Tidak ada satu pun rumah di sepanjang sisi jalan itu. Tepat di ujungnya, adalah tempat yang sangat terang itu, lokasi pengeboran minyak. Pagar-pagar tinggi dari besi mengelilinginya.
Aku mendekati tempat itu dengan tas di punggung dan jantung tak terkontrol. Semakin jelas kulihat alat-alat besar itu diiringi bunyi yang menggemuruh. Di dalamnya juga banyak kotak-kotak kontainer. Ketika sudah di depan pintu masuk, sebuah suara dari pos satpam meneriakiku. “Hey, mau apa?!”
Aku menoleh ke arah pos satpam. Ada dua orang di dalam sana. Salah seorang dengan seragam satpam keluar dan menghampiriku.
“Mau apa? Pergi sana!” Ia menggertak.
“Siapa di sini bosnya? Saya mau bicara!” Mataku tajam menatap orang itu. Aku sama sekali tak takut.
“Mau bicara apa? Kalau mau malak jangan di sini!” Ia mengambil besi yang sejak tadi terselip di pinggangnya lalu menepuk-nepuknya ke telapak tangan yang lain.
“Hey, hey, ada apa ini?” Seseorang keluar dari pos dan mendekat. Pakaiannya tampak rapi.
Aku sontak kaget saat wajah orang itu benar-benar jelas di depanku. Ia juga terlihat kaget. Aku masih ingat betul wajah itu. Kami terdiam, mata kami saling bertumbukan. Hanya gemuruh dari alat-alat besar itu yang kini memenuhi udara. Malam terasa pucat. []

Handil Bakti, 14 Oktober 2011


(Media Kalimantan, Minggu, 26 Februari 2012)
(Episode Luka, Penakita, 2012)
(Lelaki Dilarang Menangis, Penakita Publisher, Juni 2014)