Sabtu, 08 November 2014

Ke Bukit Batas, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Seperti pesta bujang, Sabtu-Minggu (1-2 November 2014), dua hari terakhir masa libur kami sebelum dinas di rumah sakit-rumah sakit, kami habiskan untuk 'bertenda' di Bukit Batas, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan.

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit yang memiliki pemandangan menakjubkan ini mendadak booming setelah banyak yang mengupload foto dan menshare-nya di sosial media. Maka tidak mengherankan, jika satu bulan terakhir setiap akhir pekan bukit ini sangat ramai layaknya pasar.

***

Sebagaimana yang sudah kita maklumi bersama, jika perjalanan direncanakan jauh hari, biasanya justru gagal. Perjalanan kami ini terlaksana justru karena sifatnya yang dadakan. Malam Jumat Tri ke kontrakanku, saat itulah kami berdua merencanakan ini. Rencananya, agar tidak ribet kami hanya akan berangkat berdua saja tanpa mengajak teman yang lain. Malam itu juga aku mendapatkan nomor HP paman pemilik kapal yang biasa membawa pengunjung dari Riam Kanan ke Pulau Pinus, pintu masuk Bukit Batas. Setelah menanyakan harga, kami tercengang: 450 ribu! Dan itu tak bisa ditawar lagi.
Rencana kami hanya berangkat berdua pun harus kami ubah. Kami menghubungi kawan-kawan lain yang mungkin bisa diajak. Targetnya adalah 10 orang, sehingga kami hanya perlu patungan 45 ribu untuk ongkos kapal.
Sabtu siang, waktu yang telah kami sepakati untuk berangkat, terkumpullah 13 orang: aku, Tri, Rofik, Zehek, Abob, Ica, Ufik, Yudis, Rijal, Pacar Rijal, Teman Pacar Rijal, Aya (bukan perempuan), dan Pak Jarot (teman Aya di TNI). Enam orang pertama adalah mereka yang hari liburnya tinggal 2 hari itu.
Pukul 12.30 kami berangkat. Sekitar pukul dua siang, kami telah tiba di Riam Kanan dan di sana telah menunggu Paman Otong, pemilik kapal yang kami sewa. Namun kata Paman Otong dia tidak bisa mengantar karena kesibukan, dan akan digantikan teman sejawatnya, Abah Nisa. Sebelum naik kapal, kami mengisi perut dulu di Riam Kanan. Lalu kami naik kapal yang ukurannya cukup besar. Bahkan terlalu besar untuk kami ber-13.


Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Sekitar satu jam, kami sampai di Pulau Pinus yang merupakan pintu masuk menuju Bukit Batas. Di sini, kami foto-foto dulu sejenak. Dari Pulau Pinus, kami menyeberang jembatan ke 'pulau' di sebelahnya.

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Pulau Pinus

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Jembatan Antar Pulau

Dari sinilah perjalanan mendaki dimulai. Kami melewati perkampungan warga, di mesjid kami singgah untuk shalat dan buang hajat. Melewati rumah kepala RT 2, kami dikenakan retribusi sebesar 5 ribu rupiah perorang. Bukan masalah, karena menurut teman yang sering ke sini dana itulah yang digunakan untuk biaya pembersihan Bukit Batas dari sampah-sampah yang ditinggalkan pengunjung. Kami juga mengisi semacam buku tamu. Dari situ kami tahu bahwa di atas sana sudah ada 80-an orang mendaki.
Pendakian berlanjut, dan permukiman warga sudah tidak tampak lagi. Semakin ke atas, jalan semakin curam. Zehek yang punya kebiasaan merokok berkali-kali 'tersandar' bahkan 'terbaring'. Beda sekali dengan Aya dan Pak Jarot, jalan mendaki ke Bukit Batas bagi dua tentara ini tampaknya upil belaka.
Sampai di atas, kami tercengang, bukan hanya oleh pemandangan yang memukau, tapi juga karena beberapa warung yang ada di sana. Kami yang telah membawa banyak minuman dan makanan benar-benar kecewa. Kalau tahu begini, tak perlu repot-repot bawa bekal! Tapi sekali lagi, pemandangannya memang luar biasa.

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Warung yang Bikin Kecewa Para Pembawa Bekal

Kami berisitirahat, main UNO, ngobrol sama bule dari Swiss, dan tentunya, apa lagi kalau bukan: foto-foto!
Kami juga menyiapkan tenda. Hanya ada satu tenda, dan itu untuk para perempuan dan untuk menaruh tas. Sementara para laki-laki akan tidur tanpa tenda di atas matras (dalam hal ini karpet, tikar plastik, dan jas hujan). Kami juga membeli beberapa ikat kayu bakar di warung untuk menghangatkan malam nanti.

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Siluet Abob dan Ica, Menikmati Sunset Berdua

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Sunset di Bukit Batas

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Para pengunjung kian berdatangan. Begitu banyak. Menurut Dilah dan Kak Nanda, teman yang tiap akhir pekan ke sini dalam rangka jasa paket trip, minggu yang lalu saja ada 700-an yang naik, entah hari ini. Selain Dilah dan Kak Nanda, dari sekian banyak orang itu aku juga bertemu Wahyu, Subhan, dan Haji Halim. Mereka adalah teman saat di pesantren dulu.
Langit gelap. Malam merambat. Pengunjung masih terus berdatangan. Kartu UNO yang kami bawa benar-benar memberikan manfaatnya malam ini. Entah berapa jam waktu yang kami habiskan untuk memainkannya dan menertawakan yang bernasib sial hingga perut keram.
Potongan kecil tikar yang dibawa Abob tak henti-hentinya jadi bahan olok-olokan teman-teman. Malam itu sungguh menyenangkan, dan beruntung sekali karena tidak turun hujan.[]

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Foto-foto di Pagi Hari

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan



Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Si Bule Pulangnya Nebeng Kami

Sabtu, 01 November 2014

Canon PhotoMarathon Indonesia 2014 (Jakarta)

Fotografi jadi hobby baru saya beberapa lama ini. Sebenarnya sudah lama sih sukanya, tapi baru lebih diseriusin setahun belakangan ini. Walaupun belum masuk ke dunia profesional, tapi at least camera DSLR jadi mainan baru saya. Canon DSLR 600D yang saya beli setahun yang lalu ini sudah menemani saya dalam traveling, atau sekedar hunting. Tapi bukan saya namanya kalo ngga memanfaatkan barang mahal jadi duit lagi (ga mau rugi haha). Maksudnya bukan dijual, tapi diberdayakan. Setelah saya membeli DSLR ini langsung saya berdayakan sebagai kamera utama saya membuat video Wedding dan film pendek saya. Seperti hal nya gadget saya yang lain; laptop, hp, kamera, sampe TV saya berdayakan supaya bisa menghasilkan duit yang nantinya buat gantiin duit beli itu barang malah lebih.

Ok, skip lah soal itu, balik ke topik yaitu Canon Photomarathon (CPM). Sebenernya ini kali pertama saya ikut kompetisi beginian. Awalnya ga pede sih, tapi penasaran banget mau ikut ini dari tahun lalu. Karena tahun lalu belum punya kameranya (beli kamera ngga lama setelah eventnya) jadinya baru kesampean tahun 2014 ini. Dan secara ngga sengaja pun karena saya nonton acara TV yang judulnya Canon Photo Face Off di channel History (kalo yang langganan TV berbayar harusnya tau). Begitu ada info soal CPM ini akan diadain di Jakarta saya langsung cari infonya, dan voila! ternyata diadain di Plaza Selatan Senayan tanggal 25 Oktober 2014. Pendaftarannya kalo online cuma 180ribu, kalo on the spot jadi 300ribu. Ngga pake mikir lagi deh, langsung saya daftar online 3 minggu sebelum hari H.

HARI H
Ngantri dulu
Para peserta diwajibkan dateng mulai jam 7 di venue untuk daftar
Rompi, Topi dll
ulang. Begitu dateng, wih... antrian udah mengular. Katanya sih 2000 lebih peserta yang terdaftar. Sempet grogi juga waktu itu karena peserta yang lain pada bawa teman dan peralatan canggih (kamera + lensa mahal, tapi ngga tau makenya manual apa auto haha) sedangkan saya sendirian dan alat seadanya. Kayak masuk ke medan perang yang lain bawa senjata AK-47, Sniper Riffle, saya cuma bawa pistol Revolver Shotgun. Tapi ga apa, biar cuma revolver kalo 1 peluru langsung kena hasilnya lebih mematikan (ini apa sih jadi ngomongin senapan?). Waktu daftar ulang saya langsung dikasih perlengkapan berupa name tag, topi, rompi dan aksesori gratisan dari Canon. Di buku panduan juga ada kupon untuk ditukarin snack. Event sebesar ini pun isi snack nya lontong dan pastel haha. Di venue juga banyak produk sponsor mulai dari printer sampe lensa segede bagong. Acara dimulai jam 8.30 pagi dan hunting dimulai jam 10.00. Ternyata sebelum hunting dimulai para peserta diwajibkan merubah tanggal di kameranya jadi 10 Januari 2015. Mungkin ini menghindari foto yang diambil jauh hari sebelum acara yang mungkin sudah dipersiapkan peserta. Bagus sih, jadi yang diterima juri ini bener-bener foto yang Fresh.

Arbain Rambey jadi salah satu jurinya
Tema yang dilombakan antara lain; Tema 1 : Olahraga Yuuk.
Diceramahin Justin Mott
Tema 2; Duuuh Panasnya! dan Tema 3; Peduli Lingkungan. Sebenernya untuk dapetin ketiga tema itu sih ngga susah untuk di GBK ini, tapi justru teknik dan kreatifitas itu yang susah. Waktu yang dikasih juga ngga banyak, tema 1; 30 menit, tema 2; 45 menit dan tema 3; 1 jam. Karena basic saya Street Photography jadinya agak susah untuk bereksperimen jadinya ya... biasa aja haha. Tapi justru setelah melihat para finalis dan pemenang, saya jadi tau selera juri kayak gimana. Malah foto yang keliatannya sederhana bisa jadi finalis hanya karena timing dan komposisi yang pas. Jauh dari foto saya yang lebih cocok masuk koran mingguan haha.

Lumayan ada bokeh dikit hihi
Nengok sini dong mbak :)
 

Acara yang diadakan dari pagi sampe sore ini bener-bener padat jadwalnya, sampe untuk break makan aja harus buru-buru. Selama penjurian berlangsung kita juga disuguhin seminar fotografi oleh Justin Mott, dia adalah seorang fotografer dunia yang karyanya bisa dilihat disini. Di akhir acara juga seperti biasanya event fotografi diadakan foto model. Ya lumayan lah buat nambah skill bokeh-bokeh an hihi. Biarpun ngga masuk final sekalipun, tapi asik juga seru-seruan di acara ini. Tahun depan harus ikut lagi. Kalo bisa sih ajak temen-temen yang banyak buat bantuin jadi model atau minta pendapat. Jadi, ada yang mau ikut tahun depan? :)