Sabtu, 27 Desember 2014

Hellofest 10 Anima Expo (2014)

Zombie!!!
Ini adalah ke 5 kalinya saya datang ke acara Hellofest. Dimulai pada Hellofest 6 yang saat itu diadakan di Balai Kartini Jakarta Selatan, dan sejak Hellofest 9 acara ini diadakan di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Untuk yang belum tahu apa aja yang ada di acara ini, sepertinya sesekali kamu bisa cobain datang ke acara ini. Ada banyak hal menarik disini mulai dari festival film pendek, animasi, cosplay dan juga banyak Pop Culture lainnya disini. Seperti yang sudah sering saya lakukan di beberapa tahun sebelumnya, saya selalu mengikuti festival film pendek. Dan sejak Hellofest 8 saya sudah mengirimkan beberapa film saya, tapi sayangnya belum masuk menjadi finalis. Tapi sejak Hellofest 9 yang diadakan setahun sebelumnya, ada 1 kategori baru untuk festival film pendeknya. Yaitu kategori 8 detik pas! Rasanya agak mustahil ya untuk buat film berdurasi 8 detik, tapi nyatanya ada sekitar 200+ film yang masuk pada awal kategori ini di lombakan. Dan sejak Hellofest 9 saya juga menyertakan film 8 detik pas yang tentu saja ada film pendek juga yang saya kirimkan. Tapi sayangnya film pendek saya harus terhenti di semi final. Malah film 8 detik yang saya buat tanpa perencanaan malah masuk sebagai finalis. Wah, bener-bener surprise waktu dapat email undangan menjadi finalis saat itu.

ID Card
Mengulang kesuksesan saya setahun yang lalu, saya kembali mengirimkan karya saya ke event tahunan ini. Ya memang sejak Hellofest 8 saya sudah komitmen untuk selalu mengirimkan karya saya. Walaupun untuk sekarang ini agak sulit membuat film pendek lagi karena sulitnya membagi waktu luang saya dan mencari pemain yang tepat dengan budget terbatas. Akhirnya saya cuma bisa mengirimkan film 8 detik pas untuk tahun ini (Hellofest 10). Tapi tak apalah, setidaknya komitmen saya tetap bertahan. Dan dari 3 film 8 detik yang saya kirimkan, Alhamdulillah saya dapat 2 tempat di kursi finalis. Sebenarnya saya cuma berharap setidaknya 1 film masuk, tapi ternyata masuk 2! Thank God. Memang film saya bukan yang terbaik, tapi setidaknya hal ini cukup membanggakan untuk saya. Karena menurut prinsip saya "Yang namanya seniman itu ya harus berkarya. Dan Karya nya itu harus bisa diterima orang banyak." 

2 Hari Acara Full Kesenangan
Foto bersama komunitas Cosplay
Ok, back to topic. Saya mau bahas soal acaranya. Sejak Hellofest 9 tahun lalu acara ini diadakan 2 hari full. Mulai di buka pukul 10 pagi sampai 10 malam. Dan biasanya diadakan di hari sabtu dan minggu di akhir tahun (antara oktober - desember). Di tahun 2014 ini diadakan di Plaza Barat Senayan dan Tennis Indoor Senayan tanggal 22-23 November 2014. Harga tiket masuk (kalo ngga salah) 25 ribu untuk 1 hari dan 40 ribu untuk 2 hari. Tapi karena saya undangan, jadinya saya dapat masuk GRATIS! Apalagi 2 film saya masuk final, jadinya saya bisa membawa 1 orang untuk masuk. Untuk penghargaan sebagai aktor di film saya yang masuk final, akhirnya saya mengajak kakak saya Angga untuk menghadiri acara ini. 

Saya kira dia ngga tertarik sama acara macam begini, tapi nyatanya dia yang lebih heboh hahaha... Apalagi dia ngga pernah ngeliat cosplayer terbaik Indonesia berkumpul selama 2 hari dan bebas ambil foto. Yah, saya cuma bisa mengalah waktu dimintain dia foto tanpa gantian hahaha... Lagipula tiap dia ambil foto selalu miring, blur dan komposisi kurang OK. Jadi ya, terima aja sebagai kameraman. 


Theater Area
Selama 2 hari kami berkeliling, berfoto, dan menikmati susunan acara yang nonstop diadakan di Theater area. Maunya sih belanja sesuatu yang unik, tapi... harga nya ngga bersahabat sama isi dompet di akhir bulan, jadinya cuma liat-liat aja haha. Dan selama 2 hari ini kami sungguh menikmati walaupun badan pegal & kaki capek mondar mandir di lokasi yang cukup luas ini. Biar ngga penasaran bisa dilihat foto dan video kami berkeliling di acara ini selama 2 hari.































Full House
Trailer "Pendekar Tongkat Emas"


Pengumuman Pemenang


Dan ini adalah video Flash Report :


Sampai ketemu di Hellofest 11 tahun depan !! :)




Sabtu, 13 Desember 2014

Tentang Cerpen Suasana Zian Armie Wahyufi

buku kumpulan cerpen Lelaki Dilarang Menangis - Zian Armie Wahyufi
Oleh: Tarman Effendi Tarsyad

Salah satu yang menarik manakala membaca cerpen Zian Armie Wahyufi dalam kumpulan Lelaki Dilarang Menangis (bersama Aliansyah Jumbawuya, 2014) yaitu keberhasilan Zian menampilkan cerpen suasana. Dari tujuh cerpen Zian yang terhimpun dalam kumpulan tersebut, ada beberapa cerpen yang termasuk dalam cerpen suasana. Pada cerpen suasana, yang menonjol yaitu suasananya. Cerpen suasana bisa saja berangkat dari hal-hal yang mungkin dianggap kecil. Akan tetapi suasana pada cerpen tersebut yang (kadang-kadang) disajikan dengan bahasa puitis sebagaimana layaknya sebuah puisi, justru membuat cerpen menjadi semakin memikat.
Dalam penulisan cerpen di Indonesia, cerpen suasana tentu saja bukan sesuatu yang baru. Cerpen suasana dapat dibaca misalnya pada cerpen Korrie Layun Rampan dalam kumpulan Malam Putih (1983), pada cerpen Umar Kayam dalam kumpulan Sri Sumarah (1995), pada cerpen Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan Pengarang Telah Mati (2001), dan pada cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan Sepotong Senja untuk Pacarku (2002). Sementara pada pengarang Kalimantan Selatan, cerpen suasana dapat dibaca misalnya pada cerpen Sandi Firly dalam kumpulan Perempuan yang Memburu Hujan (2008) dan pada cerpen Ratih Ayuningrung dalam kumpulan Pelangi di Ujung Senja (2013).
Pada cerpen suasana, suasana dapat dibangun misalnya (terutama) berdasarkan deskripsi dengan bahasa yang puitis sebagaimana layaknya sebuah puisi. Cerpen suasana juga dapat dibangun misalnya berdasarkan deskripsi dan (terutama) dialog.
Pada pengarang Kalimantan Selatan, cerpen suasana dapat dibangun misalnya berdasarkan (terutama) deskripsi, dialog, dan monolog. Hal tersebut dapat dibaca misalnya pada cerpen “Perempuan yang Memburu Hujan” karya Sandi Firly (2008:86-95). Cerpen suasana juga dapat dibangun misalnya berdasarkan (terutama) deskripsi dan dialog. Hal tersebut dapat dibaca misalnya pada cerpen “Pelangi di Ujung Senja” karya Ratih Ayuningrum (2013:37-46).
Berdasarkan beberapa contoh cerpen suasana seperti disebutkan di atas, bagaimana dengan cerpen suasana Zian Armie Wahyufi? Pada cerpen Zian, suasana tampaknya pertama dibangun dengan deskripsi dan dialog. Hal tersebut dapat dibaca misalnya pada cerpen “Jalan Pulang” (2014:91-102). Suasana yang sangat terasa pada cerpen tersebut terutama perpaduan antara rasa rindu, sedih, dan cemas. Dalam rangka menyajikan suasana tersebut, pengarang terutama mendeskripsikannya dengan latar waktu pada sore hingga senja hari dengan diiringi tetesan hujan. Hal itu sudah tampak pada permulaan cerpen tersebut seperti pada kutipan berikut:

“Di luar, rintik-rintik hujan kembali menderas. Ricisnya seperti berjatuhan di dasar hati. Sore yang murung. Kaca jendela di sampingku yang mengembun sudah beberapa kali kuusap, sehingga mataku bisa lebih leluasa memandangi sungai kecil di sepanjang sisi kiri jalan yang diguguri tetesan hujan itu” (2014:91).
Cerpen tersebut menceritakan mengenai seorang lelaki – sebagai tokoh utama – yang kembali pulang kepada orangtuanya. Dalam perjalanan pulang, terutama dari terminal Handil Bakti menuju Marabahan, dalam taksi colt dengan suasana hujan lelaki tersebut teringat dengan masa lalunya. Lelaki tersebut ternyata pergi meninggalkan orangtuanya. Mengenai kepergian lelaki tersebut meninggalkan orangtuanya pengarang mengatakan:
“Kamu, lelaki yang naik taksi colt dengan hati dilanda badai. Orangtua yang tak pernah menghentikan pertengkaran, orangtua yang selau menganggap salah apa yang kamu lakukan, orangtua yang menghinamu sekeji binatang jalanan, orangtua yang selalu menyebutmu anak durhaka tanpa bosan. Kamu muak! Kamu memasukkan beberapa lembar pakaian dan barang-barang penting dalam tas yang biasa kamu pakai untuk sekolah. Kamu memecahkan celenganmu dan memunguti uang-uang receh itu dengan tergesa. Kamu berlari menerobos hujan, di atas jalan setapak yang becek menuju jalan raya. Kamu melambaikan tanganmu pada taksi colt yang merangkak pelan” (2014:92).
Setelah pergi, lelaki tersebut diceritakan akhirnya terdampar di kota Banjarbaru. Di kota Banjarbaru, lelaki tersebut menjadi pengamen, pengemis, dan tumbuh menjadi preman. Bertahun-tahun kehidupan semacam itu digelutinya. Lelaki tersebut juga pernah terluka dan harus dioperasi hingga sembuh. Hingga diceritakan ia sekolah pada sebuah pesantren. Ketika di pesantren itulah seorang ustadz, Zamakhsyari namanya, meminta agar lelaki tersebut segera pulang menemui orangtuanya.
Pada malam hari, lelaki tersebut sampai di kota Marabahan. Kemudian ia naik ojek, menuju tempat tinggalnya, Desa Sungai Raya. Sejak di dalam taksi colt, hingga naik ojek, rindunya kepada orangtua semakin mendalam. Namun ketika naik ojek menuju desanya, lelaki tersebut terpana karena dari kejauhan dilihatnya cahaya begitu terang. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Rasa rindu merayap pada kecemasan. Ketika tempat dengan cahaya yang sangat terang itu semakin dekat, alat-alat berat tampak jelas dalam sinar lampu. Ternyata benar, tempat tersebut memang tepat pada lokasi rumah orangtuanya.
Ketika berada di depan tempat dengan cahaya yang sangat terang itu, lelaki tersebut terpaku. Setelah sekian tahun ia tinggalkan, segalanya telah berubah. Tidak ada jalan setapak yang dulu ia tinggalkan. Jalan itu kini digantikan dengan jalan lebar dan mobil-mobil perusahaan yang hilir mudik di atasnya. Tidak ada satu pun rumah di sepanjang sisi jalan itu. Pagar-pagar tinggi dari besi mengelilinginya. Tepat di ujungnya, tempat dengan cahaya yang sangat terang itu, ternyata lokasi pengeboran minyak.
Lelaki tersebut mendekati tempat itu. Ketika berada di depan pintu masuk, lelaki tersebut diminta pergi oleh satpam yang menjaga lokasi itu. Namun tak lama kemudian, seseorang keluar dari pos dan mendekatinya. Seseorang itu pakaiannya tampak rapi. Lelaki tersebut sontak kaget saat wajah orang itu terlihat jelas di depannya. Seseorang itu juga terlihat kaget. Mereka terdiam. Mata mereka bertumbukan. Hanya gemuruh alat-alat besar yang memenuhi udara. Malam terasa pucat.
Cerpen di atas, memang diakhiri secara terbuka oleh pengarang. Pembaca diberi kebebasan untuk menafsirkan, misalnya siapa seseorang yang menemui lelaki tersebut di akhir cerita. Apakah itu ayahnya atau bukan? Kemudian, pembaca juga diberi kebebasan untuk menafsirkan, misalnya apa yang terjadi setelah lelaki tersebut (andaikata) bertemu dengan ayahnya seperti pada paragraf terakhir dari cerpen tersebut. Begitu seterusnya.
Cerpen dengan akhir yang terbuka, memang kadang-kadang seperti sebuah teka-teki. Pembaca diberi kebebasan untuk menjawabnya. Begitu pula pada cerpen tersebut. Bahkan tidak hanya di akhir cerita, beberapa peristiwa pada cerpen tersebut memang ada juga yang menimbulkan pertanyaan. Misalnya, mengapa orangtuanya tidak suka kepada lelaki tersebut? Hingga lelaki tersebut harus pergi meninggalkan orangtuanya. Pertanyaan lain, mengapa lelaki tersebut kemudian akhirnya diceritakan sekolah di pesantren? Selain itu, mengapa lokasi rumah orangtuanya akhirnya menjadi tempat pengeboran minyak?
Sebuah cerpen memang bisa saja menimbulkan (beberapa) pertanyaan atas suatu peristiwa yang dikemukakan oleh pengarang. Akan tetapi, kalau penjelasan mengapa (setiap) peristiwa itu terjadi dianggap perlu, tentu saja akan lebih baik. Lebih-lebih pada saat cerita itu masih berlangsung (bukan pada akhir cerita). Soalnya, peristiwa yang tanpa penjelasan akan dapat mengaburkan pemahaman bagi pembaca untuk kepaduan sebuah cerita pada cerpen yang tengah dibacanya.
Terlepas dari hal tersebut di atas, jelas bahwa cerpen Zian yang berjudul “Jalan Pulang” merupakan cerpen suasana. Begitu pula dengan cerpen Zian yang berjudul “Barjarbaru, Kafe, dan Hujan” (2014:112-120). Pada cerpen tersebut, suasana tampaknya dibangun dengan deskripsi dan monolog. Suasana yang sangat terasa pada cerpen tersebut terutama perpaduan antara rasa sepi, cemas, dan rindu. Dalam rangka menyajikan suasana tersebut, sebagaimana cerpen “Jalan Pulang”, pengarang terutama mendeskripsikannya dengan latar waktu pada sore hingga senja hari dengan diiringi guyuran hujan. Hal itu sudah tampak pada permulaan cerpen tersebut seperti pada kutipan berikut:
“Bagiku, Banjarbaru ialah romansa. Pohon-pohonnya berdaun puisi, dan bunga-bunganya adalah cerita cinta. Hujan masih deras. Ruahnya seperti ikut berjatuhan di dasar hati yang nelangsa. Di sini, aku termangu menunggumu, menatap ke luar jendela pada rumput-rumput yang terendam, ‘puisi-puisi’ kering yang dibawa hanyut air, dan ‘cerita-cerita cinta’ yang kuyup” (2014:112).
Cerpen tersebut bercerita dari dua sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang seorang perempuan. Perempuan tersebut berasal dari Pesantren Al-Falah Puteri. Kedua, dari sudut pandang seorang lelaki. Lelaki itu berasal dari Pesantren Al-Falah Putera. Pada suatu sore mereka berjanji akan bertemu pada sebuah kafe. Kafe tersebut, kafe Jus namanya, terletak di depan Gang Antara. Diberi nama Gang Antara karena gang tersebut berada di tengah-tengah antara Pesantren Al-Falah Puteri dengan Pesantren Al-Falah Putera.
Dari sudut pandang perempuan, diceritakan pada sore hari ia menunggu lelaki itu di kafe Jus. Pada sore itu hari hujan. Hingga senja, hingga magrib, lelaki itu tidak datang, tidak memenuhi janjinya. Perempuan tersebut benar-benar merasa kesepian. Pada saat seperti itu, ia sering menumpahkan perasaannya di buku saku yang covernya berwarna ungu. Meskipun demikian, sejak peristiwa itu, bila sore hari ia masih terus menunggu di kafe tersebut. Kemudian diceritakan perempuan tersebut kuliah di Surabaya. Beberapa tahun kemudian, ketika pulang, perempuan tersebut kembali menunggu lelaki itu di kafe Jus. Apakah lelaki itu akan datang menemuinya?
Dari sudut pandang lelaki, lelaki itu mengemukakan mengapa ia tidak bisa datang menemui perempuan tersebut pada suatu sore sebagaimana yang sudah mereka sepakati. Kata lelaki itu ia tidak bisa menemui perempuan tersebut pada sore itu bukan karena hujan. Kalau begitu apa alasannya? Kata lelaki itu ia tidak datang memenuhi janjinya kepada perempuan tersebut karena pada sore itu ia tidak mendapat izin keluar dari pihak pesantren. Soalnya, ia sudah sering meminta izin keluar pesantren dengan berbagai alasan. Selain itu, pihak pesantren tidak memberi izin karena besoknya ujian akhir akan dimulai di Pesantren Al-Falah Putera. Hingga setelah selesai ujian, lelaki itu harus berangkat ke Bandung melanjutkan studinya ke perguruan tinggi.
Sekali waktu, ketika lelaki itu kembali ke Pesantren Al-Falah, ia pun menyempatkan diri ke kafe Jus. Pada saat itu, sore hari, sore yang juga basah oleh hujan, sebagaimana sore yang dulu mereka sepakati untuk bertemu di kafe Jus. Ketika lelaki itu berada di kafe, kafe tampak sepi. Meskipun demikian, semua kenangan yang dulu pernah mereka rajut di kafe itu, kembali hadir. Lelaki itu menyangka pada sore itu tidak ada siapa-siapa di kafe Jus. Namun, ketika dilihatnya di atas meja ada sebuah buku saku dengan cover berwarna ungu, lelaki itu jadi tersentak. Ketika lelaki itu mau meraih buku saku terebut, tiba-tiba seorang perempuan berjilbab masuk. Perempuan tersebut melangkah menuju meja lelaki itu. Wajah perempuan tersebut dapat terlihat dengan jelas oleh lelaki itu. Seketika itu pula lelaki itu dapat menerka bahwa cerita lama antara dirinya dengan perempuan tersebut masih punya kelanjutan.
Begitulah akhir dari cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan”. Sebagaimana cerpen “Jalan Pulang”, cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan” juga diakhiri secara terbuka. Pembaca diberi kebebasan untuk menafsikran, misalnya siapa perempuan berjilbab yang melangkah menuju meja lelaki itu? Apakah perempuan itu perempuan yang dulu menunggunya pada sore hari sesuai dengan janji yang mereka sepakati ketika mereka sama-sama masih sebagai santri di Pesantren Al-Falah? Dari buku saku dengan cover berwarna ungu yang terletak di atas meja, tampaknya dapat dinyatakan bahwa buku saku tersebut memang milik perempuan yang selama ini dirindukannya. Hal tersebut, sebagaimana sebelumnya dikemukakan pada cerita yang berdasarkan dari sudut pandang perempuan, dikatakan bahwa perempuan tersebut sering menumpahkan perasaannya di buku saku yang covernya berwarna ungu. Selain itu, pada cerpen tersebut pembaca juga diberi kebebasan untuk menafsirkan, misalnya apa yang terjadi setelah lelaki itu akhirnya bertemu dengan perempuan tersebut? Begitu seterusnya.
Selain kedua cerpen di atas, pada cerpen Zian, suasana tampaknya juga dapat dibangun dengan deskripsi, dialog, dan monolog. Hal tersebut dapat dibaca misalnya pada cerpen “Secangkir Kopi Air Mata” (2014:75-82). Suasana yang sangat terasa pada cerpen tersebut terutama perpaduan antara rasa sepi, rindu, dan sedih. Berbeda dengan dua cerpen sebelumnya, jika dua cerpen sebelumnya pengarang terutama mendeskripsikannya dengan latar waktu pada sore hingga senja hari dengan diiringi tetesan hujan, pada cerpen “Secangkir Kopi Air Mata” pengarang terutama mendeskripsikannya dengan latar waktu pada malam hari. Hal itu sudah tampak pada permulaan cerpen tersebut seperti pada kutipan berikut:
“Lagu dari Avril Lavigne mengalir lembut. Secangkir kopi hitam masih mengepulkan asap beraroma sedap. Namun sejak tadi kau hanya menatap kopi itu tanpa sedikit pun menyentuhnya. Dapat kudengar desah napasmu kian berat meski tersamar oleh musik sendu yang mengalun lembut dari Pojok Mingguraya. Malam belum tua, namun udara Banjarbaru telah menusukkan dinginnya hingga ke balik switer yang kukenakan” (2014:75).
Cerpen tersebut diungkapkan berdasarkan sudut pandang seorang perempuan mengenai seorang lelaki. Perempuan tersebut mengungkapkan pertemuannya kembali dengan seorang lelaki pada suatu malam di Mingguraya, Banjarbaru. Mereka kembali bertemu setelah sekian tahun berpisah. Pertemuan mereka pertama kali juga di Mingguraya. Mereka bertemu pada saat ada acara Tadarus Puisi, acara pembacaan puisi yang sudah beberapa tahun diadakan setiap bulan Ramadhan di Mingguraya, Banjarbaru. Pada saat itu, lelaki itu mengatakan bahwa ia seorang santri Pesantren Al-Falah Putera. Ia berasal dari Grogot. Pada malam acara Tadarus Puisi tersebut, lelaki itu membacakan sebuah puisi yang berjudul “Gadis Senja” yang dipersembahkan khusus untuk perempuan yang baru dikenalnya pada malam itu.
Setelah pertemuan pertama itu, mereka masih sering bertemu. Bahkan hampir setiap bulan mereka bertemu di tempat yang sama (Mingguraya, Banjarbaru). Hingga tanpa disadari oleh perempuan tersebut, ternyata ada debar-debar aneh yang memikat hatinya terhadap lelaki itu. Namun, pada suatu hari lelaki itu menelepon bahwa satu minggu lagi merupakan waktu kelulusan baginya sebagai seorang santri. Setelah itu lelaki itu akan pulang ke Grogot dan tidak bisa dipastikan kapan kembali lagi ke Banjarbaru. Akan tetapi perempuan tersebut mengatakan bahwa ia akan tetap menunggu. Sementara lelaki itu mengatakan bahwa ia pasti suatu saat akan kembali ke Banjarbaru dan ia berjanji akan menikahi perempuan tersebut. Meskipun usia perempuan tersebut, lebih tua dari lelaki itu.
Setelah pertemuan terakhir itu, setelah mereka saling berjanji, mereka pun berpisah. Beberapa bulan mereka saling memberi kabar melalui telepon genggam. Semula lancar saja. Akan tetapi kemudian, nomor ponsel milik lelaki itu tidak lagi bisa dihubungi. Komunikasi antar mereka kemudian terputus. Lelaki itu seperti menghilang. Berbagai cara telah diusahakan oleh perempuan tersebut agar ia bisa berkomunikasi dengan lelaki itu, namun hasilnya nihil. Sementara itu, orangtua perempuan tersebut terus mendesak agar anaknya – perempuan tersebut – segera menikah mengingat usia anaknya yang semakin menua.
Setelah sekian lama berpisah, pada suatu malam mereka bertemu kembali di Mingguraya, Banjarbaru. Pada saat itulah lelaki itu menumpahkan kerinduannya sekaligus kesedihannya. Bahkan tetesan air mata lelaki itu menyatu pada pekatnya kopi hitam dalam cangkir yang ada di hadapannya. Itulah sebabnya, barangkali, cerpen tersebut diberi judul “Secangkir Kopi Air Mata”. Namun, mengapa lelaki itu begitu bersedih ketika kembali bertemu dengan perempuan tersebut? Jawabnya tidak lain karena perempuan tersebut ternyata sudah bersuami dengan lelaki lain. Kemudan perempuan tersebut, pergi menemui suaminya, meninggalkan lelaki itu.
Dari ketiga cerpen suasana Zian Armie Wahyufi sebagaimana dikemukakan  di atas, jelas bahwa ketiga cerpen tersebut bernada sendu. Bahkan antara cerpen “Jalan Pulang” dengan “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan” memiliki latar yang kurang lebih sama, terutama dengan latar waktu sore dan senja yang diiringi dengan tetesan bahkan guyuran hujan. Sementara antara cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan” dengan “Secangkir Kopi Air Mata” memiliki cerita yang kurang lebih sama, yaitu mengenai seorang perempuan yang bertemu kembali dengan seorang lelaki setelah sekian lama berpisah. Meskipun pada cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan” pertemuan kembali antara seorang lelaki dengan seorang perempuan menumbuhkan kebahagiaan, sementara pada “Secangkir Kopi Air Mata” pertemuan kembali antara seorang lelaki dengan seorang perempuan menimbulkan kesedihan.
Satu hal yang perlu dicatat, bahwa Zian tampaknya berupaya menampilkan teknik bercerita yang berbeda antara cerpen yang satu dengan cerpen lainnya. Pada cerpen “Jalan Pulang”, Zian menggunakan sudut pandang akuan, yaitu seorang lelaki. Pada cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan”, Zian menggunakan dua sudut pandang akuan sekaligus, pertama sudut pandang akuan dengan seorang perempuan, kedua sudut pandang akuan dengan seorang lelaki. Sementara pada cerpen “Secangkir Kopi Air Mata”, Zian memang juga menggunakan sudut pandang akuan. Akan tetapi berbeda dengan kedua cerpen sebelumnya, pada cerpen “Secangkir Kopi Air Mata”, Zian menggunakan sudut pandang akuan dari seorang perempuan yang bercerita mengenai seorang lelaki.
Teknik bercerita dengan bervariasi seperti di atas, tentu saja sesuatu yang sangat menggembirakan bagi perkembangan cerpen Zian untuk masa selanjutnya. Lebih-lebih bila Zian akan terus mengembangkan cerita suasana yang juga dengan berbagai variasi hingga semakin menarik bagi pembaca. Meskipun bagi pembaca yang kurang jeli, terutama karena menggunakan sudut pandang akuan yang berbeda pada ketiga cerpen di atas, bisa menyulitkan pemahaman terhadap cerpen yang tengah dibacanya. Untuk itu, sekali lagi, semoga pada masa mendatang Zian akan lebih baik lagi dalam mengembangkan cerpen suasananya. Semoga. []

Daftar Pustaka
Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Sepotong Senja untuk Pacarku. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Ayuningrum, Ratih. 2013. Pelangi di Ujung Senja. Banjarmasin: Penerbit Tahura Media.
Damono, Sapardi Djoko. 2001. Pengarang Telah Mati. Magelang: Penerbit IndonesiaTera.
Firly, Sandi dan Harie Insani Putera. 2008. Perempuan yang Memburu Hujan. Banjarmasin: Penerbit Tahura Media.
Kayam, Umar. 1995. Sri Sumarah. Cetakan Ketiga. Jakarta: Penerbit PT Dunia Pustaka Jaya.
Rampan, Korrie Layun. 1983. Malam Putih. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Wahyufi, Zian Armie dan Aliansyah Jumbawuya. 2014. Lelaki Dilarang Menangis. Banjarbaru: Penerbit Penakita Publisher.

(Media Kalimantan, Minggu, 14 Desember 2014)

Sabtu, 08 November 2014

Ke Bukit Batas, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Seperti pesta bujang, Sabtu-Minggu (1-2 November 2014), dua hari terakhir masa libur kami sebelum dinas di rumah sakit-rumah sakit, kami habiskan untuk 'bertenda' di Bukit Batas, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan.

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit yang memiliki pemandangan menakjubkan ini mendadak booming setelah banyak yang mengupload foto dan menshare-nya di sosial media. Maka tidak mengherankan, jika satu bulan terakhir setiap akhir pekan bukit ini sangat ramai layaknya pasar.

***

Sebagaimana yang sudah kita maklumi bersama, jika perjalanan direncanakan jauh hari, biasanya justru gagal. Perjalanan kami ini terlaksana justru karena sifatnya yang dadakan. Malam Jumat Tri ke kontrakanku, saat itulah kami berdua merencanakan ini. Rencananya, agar tidak ribet kami hanya akan berangkat berdua saja tanpa mengajak teman yang lain. Malam itu juga aku mendapatkan nomor HP paman pemilik kapal yang biasa membawa pengunjung dari Riam Kanan ke Pulau Pinus, pintu masuk Bukit Batas. Setelah menanyakan harga, kami tercengang: 450 ribu! Dan itu tak bisa ditawar lagi.
Rencana kami hanya berangkat berdua pun harus kami ubah. Kami menghubungi kawan-kawan lain yang mungkin bisa diajak. Targetnya adalah 10 orang, sehingga kami hanya perlu patungan 45 ribu untuk ongkos kapal.
Sabtu siang, waktu yang telah kami sepakati untuk berangkat, terkumpullah 13 orang: aku, Tri, Rofik, Zehek, Abob, Ica, Ufik, Yudis, Rijal, Pacar Rijal, Teman Pacar Rijal, Aya (bukan perempuan), dan Pak Jarot (teman Aya di TNI). Enam orang pertama adalah mereka yang hari liburnya tinggal 2 hari itu.
Pukul 12.30 kami berangkat. Sekitar pukul dua siang, kami telah tiba di Riam Kanan dan di sana telah menunggu Paman Otong, pemilik kapal yang kami sewa. Namun kata Paman Otong dia tidak bisa mengantar karena kesibukan, dan akan digantikan teman sejawatnya, Abah Nisa. Sebelum naik kapal, kami mengisi perut dulu di Riam Kanan. Lalu kami naik kapal yang ukurannya cukup besar. Bahkan terlalu besar untuk kami ber-13.


Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Sekitar satu jam, kami sampai di Pulau Pinus yang merupakan pintu masuk menuju Bukit Batas. Di sini, kami foto-foto dulu sejenak. Dari Pulau Pinus, kami menyeberang jembatan ke 'pulau' di sebelahnya.

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Pulau Pinus

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Jembatan Antar Pulau

Dari sinilah perjalanan mendaki dimulai. Kami melewati perkampungan warga, di mesjid kami singgah untuk shalat dan buang hajat. Melewati rumah kepala RT 2, kami dikenakan retribusi sebesar 5 ribu rupiah perorang. Bukan masalah, karena menurut teman yang sering ke sini dana itulah yang digunakan untuk biaya pembersihan Bukit Batas dari sampah-sampah yang ditinggalkan pengunjung. Kami juga mengisi semacam buku tamu. Dari situ kami tahu bahwa di atas sana sudah ada 80-an orang mendaki.
Pendakian berlanjut, dan permukiman warga sudah tidak tampak lagi. Semakin ke atas, jalan semakin curam. Zehek yang punya kebiasaan merokok berkali-kali 'tersandar' bahkan 'terbaring'. Beda sekali dengan Aya dan Pak Jarot, jalan mendaki ke Bukit Batas bagi dua tentara ini tampaknya upil belaka.
Sampai di atas, kami tercengang, bukan hanya oleh pemandangan yang memukau, tapi juga karena beberapa warung yang ada di sana. Kami yang telah membawa banyak minuman dan makanan benar-benar kecewa. Kalau tahu begini, tak perlu repot-repot bawa bekal! Tapi sekali lagi, pemandangannya memang luar biasa.

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Warung yang Bikin Kecewa Para Pembawa Bekal

Kami berisitirahat, main UNO, ngobrol sama bule dari Swiss, dan tentunya, apa lagi kalau bukan: foto-foto!
Kami juga menyiapkan tenda. Hanya ada satu tenda, dan itu untuk para perempuan dan untuk menaruh tas. Sementara para laki-laki akan tidur tanpa tenda di atas matras (dalam hal ini karpet, tikar plastik, dan jas hujan). Kami juga membeli beberapa ikat kayu bakar di warung untuk menghangatkan malam nanti.

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Siluet Abob dan Ica, Menikmati Sunset Berdua

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Sunset di Bukit Batas

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Para pengunjung kian berdatangan. Begitu banyak. Menurut Dilah dan Kak Nanda, teman yang tiap akhir pekan ke sini dalam rangka jasa paket trip, minggu yang lalu saja ada 700-an yang naik, entah hari ini. Selain Dilah dan Kak Nanda, dari sekian banyak orang itu aku juga bertemu Wahyu, Subhan, dan Haji Halim. Mereka adalah teman saat di pesantren dulu.
Langit gelap. Malam merambat. Pengunjung masih terus berdatangan. Kartu UNO yang kami bawa benar-benar memberikan manfaatnya malam ini. Entah berapa jam waktu yang kami habiskan untuk memainkannya dan menertawakan yang bernasib sial hingga perut keram.
Potongan kecil tikar yang dibawa Abob tak henti-hentinya jadi bahan olok-olokan teman-teman. Malam itu sungguh menyenangkan, dan beruntung sekali karena tidak turun hujan.[]

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Foto-foto di Pagi Hari

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan



Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan

Bukit Batas - Banjar - Kalimantan Selatan
Si Bule Pulangnya Nebeng Kami

Sabtu, 01 November 2014

Canon PhotoMarathon Indonesia 2014 (Jakarta)

Fotografi jadi hobby baru saya beberapa lama ini. Sebenarnya sudah lama sih sukanya, tapi baru lebih diseriusin setahun belakangan ini. Walaupun belum masuk ke dunia profesional, tapi at least camera DSLR jadi mainan baru saya. Canon DSLR 600D yang saya beli setahun yang lalu ini sudah menemani saya dalam traveling, atau sekedar hunting. Tapi bukan saya namanya kalo ngga memanfaatkan barang mahal jadi duit lagi (ga mau rugi haha). Maksudnya bukan dijual, tapi diberdayakan. Setelah saya membeli DSLR ini langsung saya berdayakan sebagai kamera utama saya membuat video Wedding dan film pendek saya. Seperti hal nya gadget saya yang lain; laptop, hp, kamera, sampe TV saya berdayakan supaya bisa menghasilkan duit yang nantinya buat gantiin duit beli itu barang malah lebih.

Ok, skip lah soal itu, balik ke topik yaitu Canon Photomarathon (CPM). Sebenernya ini kali pertama saya ikut kompetisi beginian. Awalnya ga pede sih, tapi penasaran banget mau ikut ini dari tahun lalu. Karena tahun lalu belum punya kameranya (beli kamera ngga lama setelah eventnya) jadinya baru kesampean tahun 2014 ini. Dan secara ngga sengaja pun karena saya nonton acara TV yang judulnya Canon Photo Face Off di channel History (kalo yang langganan TV berbayar harusnya tau). Begitu ada info soal CPM ini akan diadain di Jakarta saya langsung cari infonya, dan voila! ternyata diadain di Plaza Selatan Senayan tanggal 25 Oktober 2014. Pendaftarannya kalo online cuma 180ribu, kalo on the spot jadi 300ribu. Ngga pake mikir lagi deh, langsung saya daftar online 3 minggu sebelum hari H.

HARI H
Ngantri dulu
Para peserta diwajibkan dateng mulai jam 7 di venue untuk daftar
Rompi, Topi dll
ulang. Begitu dateng, wih... antrian udah mengular. Katanya sih 2000 lebih peserta yang terdaftar. Sempet grogi juga waktu itu karena peserta yang lain pada bawa teman dan peralatan canggih (kamera + lensa mahal, tapi ngga tau makenya manual apa auto haha) sedangkan saya sendirian dan alat seadanya. Kayak masuk ke medan perang yang lain bawa senjata AK-47, Sniper Riffle, saya cuma bawa pistol Revolver Shotgun. Tapi ga apa, biar cuma revolver kalo 1 peluru langsung kena hasilnya lebih mematikan (ini apa sih jadi ngomongin senapan?). Waktu daftar ulang saya langsung dikasih perlengkapan berupa name tag, topi, rompi dan aksesori gratisan dari Canon. Di buku panduan juga ada kupon untuk ditukarin snack. Event sebesar ini pun isi snack nya lontong dan pastel haha. Di venue juga banyak produk sponsor mulai dari printer sampe lensa segede bagong. Acara dimulai jam 8.30 pagi dan hunting dimulai jam 10.00. Ternyata sebelum hunting dimulai para peserta diwajibkan merubah tanggal di kameranya jadi 10 Januari 2015. Mungkin ini menghindari foto yang diambil jauh hari sebelum acara yang mungkin sudah dipersiapkan peserta. Bagus sih, jadi yang diterima juri ini bener-bener foto yang Fresh.

Arbain Rambey jadi salah satu jurinya
Tema yang dilombakan antara lain; Tema 1 : Olahraga Yuuk.
Diceramahin Justin Mott
Tema 2; Duuuh Panasnya! dan Tema 3; Peduli Lingkungan. Sebenernya untuk dapetin ketiga tema itu sih ngga susah untuk di GBK ini, tapi justru teknik dan kreatifitas itu yang susah. Waktu yang dikasih juga ngga banyak, tema 1; 30 menit, tema 2; 45 menit dan tema 3; 1 jam. Karena basic saya Street Photography jadinya agak susah untuk bereksperimen jadinya ya... biasa aja haha. Tapi justru setelah melihat para finalis dan pemenang, saya jadi tau selera juri kayak gimana. Malah foto yang keliatannya sederhana bisa jadi finalis hanya karena timing dan komposisi yang pas. Jauh dari foto saya yang lebih cocok masuk koran mingguan haha.

Lumayan ada bokeh dikit hihi
Nengok sini dong mbak :)
 

Acara yang diadakan dari pagi sampe sore ini bener-bener padat jadwalnya, sampe untuk break makan aja harus buru-buru. Selama penjurian berlangsung kita juga disuguhin seminar fotografi oleh Justin Mott, dia adalah seorang fotografer dunia yang karyanya bisa dilihat disini. Di akhir acara juga seperti biasanya event fotografi diadakan foto model. Ya lumayan lah buat nambah skill bokeh-bokeh an hihi. Biarpun ngga masuk final sekalipun, tapi asik juga seru-seruan di acara ini. Tahun depan harus ikut lagi. Kalo bisa sih ajak temen-temen yang banyak buat bantuin jadi model atau minta pendapat. Jadi, ada yang mau ikut tahun depan? :)