Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Desember 2014

Tentang Cerpen Suasana Zian Armie Wahyufi

buku kumpulan cerpen Lelaki Dilarang Menangis - Zian Armie Wahyufi
Oleh: Tarman Effendi Tarsyad

Salah satu yang menarik manakala membaca cerpen Zian Armie Wahyufi dalam kumpulan Lelaki Dilarang Menangis (bersama Aliansyah Jumbawuya, 2014) yaitu keberhasilan Zian menampilkan cerpen suasana. Dari tujuh cerpen Zian yang terhimpun dalam kumpulan tersebut, ada beberapa cerpen yang termasuk dalam cerpen suasana. Pada cerpen suasana, yang menonjol yaitu suasananya. Cerpen suasana bisa saja berangkat dari hal-hal yang mungkin dianggap kecil. Akan tetapi suasana pada cerpen tersebut yang (kadang-kadang) disajikan dengan bahasa puitis sebagaimana layaknya sebuah puisi, justru membuat cerpen menjadi semakin memikat.
Dalam penulisan cerpen di Indonesia, cerpen suasana tentu saja bukan sesuatu yang baru. Cerpen suasana dapat dibaca misalnya pada cerpen Korrie Layun Rampan dalam kumpulan Malam Putih (1983), pada cerpen Umar Kayam dalam kumpulan Sri Sumarah (1995), pada cerpen Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan Pengarang Telah Mati (2001), dan pada cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan Sepotong Senja untuk Pacarku (2002). Sementara pada pengarang Kalimantan Selatan, cerpen suasana dapat dibaca misalnya pada cerpen Sandi Firly dalam kumpulan Perempuan yang Memburu Hujan (2008) dan pada cerpen Ratih Ayuningrung dalam kumpulan Pelangi di Ujung Senja (2013).
Pada cerpen suasana, suasana dapat dibangun misalnya (terutama) berdasarkan deskripsi dengan bahasa yang puitis sebagaimana layaknya sebuah puisi. Cerpen suasana juga dapat dibangun misalnya berdasarkan deskripsi dan (terutama) dialog.
Pada pengarang Kalimantan Selatan, cerpen suasana dapat dibangun misalnya berdasarkan (terutama) deskripsi, dialog, dan monolog. Hal tersebut dapat dibaca misalnya pada cerpen “Perempuan yang Memburu Hujan” karya Sandi Firly (2008:86-95). Cerpen suasana juga dapat dibangun misalnya berdasarkan (terutama) deskripsi dan dialog. Hal tersebut dapat dibaca misalnya pada cerpen “Pelangi di Ujung Senja” karya Ratih Ayuningrum (2013:37-46).
Berdasarkan beberapa contoh cerpen suasana seperti disebutkan di atas, bagaimana dengan cerpen suasana Zian Armie Wahyufi? Pada cerpen Zian, suasana tampaknya pertama dibangun dengan deskripsi dan dialog. Hal tersebut dapat dibaca misalnya pada cerpen “Jalan Pulang” (2014:91-102). Suasana yang sangat terasa pada cerpen tersebut terutama perpaduan antara rasa rindu, sedih, dan cemas. Dalam rangka menyajikan suasana tersebut, pengarang terutama mendeskripsikannya dengan latar waktu pada sore hingga senja hari dengan diiringi tetesan hujan. Hal itu sudah tampak pada permulaan cerpen tersebut seperti pada kutipan berikut:

“Di luar, rintik-rintik hujan kembali menderas. Ricisnya seperti berjatuhan di dasar hati. Sore yang murung. Kaca jendela di sampingku yang mengembun sudah beberapa kali kuusap, sehingga mataku bisa lebih leluasa memandangi sungai kecil di sepanjang sisi kiri jalan yang diguguri tetesan hujan itu” (2014:91).
Cerpen tersebut menceritakan mengenai seorang lelaki – sebagai tokoh utama – yang kembali pulang kepada orangtuanya. Dalam perjalanan pulang, terutama dari terminal Handil Bakti menuju Marabahan, dalam taksi colt dengan suasana hujan lelaki tersebut teringat dengan masa lalunya. Lelaki tersebut ternyata pergi meninggalkan orangtuanya. Mengenai kepergian lelaki tersebut meninggalkan orangtuanya pengarang mengatakan:
“Kamu, lelaki yang naik taksi colt dengan hati dilanda badai. Orangtua yang tak pernah menghentikan pertengkaran, orangtua yang selau menganggap salah apa yang kamu lakukan, orangtua yang menghinamu sekeji binatang jalanan, orangtua yang selalu menyebutmu anak durhaka tanpa bosan. Kamu muak! Kamu memasukkan beberapa lembar pakaian dan barang-barang penting dalam tas yang biasa kamu pakai untuk sekolah. Kamu memecahkan celenganmu dan memunguti uang-uang receh itu dengan tergesa. Kamu berlari menerobos hujan, di atas jalan setapak yang becek menuju jalan raya. Kamu melambaikan tanganmu pada taksi colt yang merangkak pelan” (2014:92).
Setelah pergi, lelaki tersebut diceritakan akhirnya terdampar di kota Banjarbaru. Di kota Banjarbaru, lelaki tersebut menjadi pengamen, pengemis, dan tumbuh menjadi preman. Bertahun-tahun kehidupan semacam itu digelutinya. Lelaki tersebut juga pernah terluka dan harus dioperasi hingga sembuh. Hingga diceritakan ia sekolah pada sebuah pesantren. Ketika di pesantren itulah seorang ustadz, Zamakhsyari namanya, meminta agar lelaki tersebut segera pulang menemui orangtuanya.
Pada malam hari, lelaki tersebut sampai di kota Marabahan. Kemudian ia naik ojek, menuju tempat tinggalnya, Desa Sungai Raya. Sejak di dalam taksi colt, hingga naik ojek, rindunya kepada orangtua semakin mendalam. Namun ketika naik ojek menuju desanya, lelaki tersebut terpana karena dari kejauhan dilihatnya cahaya begitu terang. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Rasa rindu merayap pada kecemasan. Ketika tempat dengan cahaya yang sangat terang itu semakin dekat, alat-alat berat tampak jelas dalam sinar lampu. Ternyata benar, tempat tersebut memang tepat pada lokasi rumah orangtuanya.
Ketika berada di depan tempat dengan cahaya yang sangat terang itu, lelaki tersebut terpaku. Setelah sekian tahun ia tinggalkan, segalanya telah berubah. Tidak ada jalan setapak yang dulu ia tinggalkan. Jalan itu kini digantikan dengan jalan lebar dan mobil-mobil perusahaan yang hilir mudik di atasnya. Tidak ada satu pun rumah di sepanjang sisi jalan itu. Pagar-pagar tinggi dari besi mengelilinginya. Tepat di ujungnya, tempat dengan cahaya yang sangat terang itu, ternyata lokasi pengeboran minyak.
Lelaki tersebut mendekati tempat itu. Ketika berada di depan pintu masuk, lelaki tersebut diminta pergi oleh satpam yang menjaga lokasi itu. Namun tak lama kemudian, seseorang keluar dari pos dan mendekatinya. Seseorang itu pakaiannya tampak rapi. Lelaki tersebut sontak kaget saat wajah orang itu terlihat jelas di depannya. Seseorang itu juga terlihat kaget. Mereka terdiam. Mata mereka bertumbukan. Hanya gemuruh alat-alat besar yang memenuhi udara. Malam terasa pucat.
Cerpen di atas, memang diakhiri secara terbuka oleh pengarang. Pembaca diberi kebebasan untuk menafsirkan, misalnya siapa seseorang yang menemui lelaki tersebut di akhir cerita. Apakah itu ayahnya atau bukan? Kemudian, pembaca juga diberi kebebasan untuk menafsirkan, misalnya apa yang terjadi setelah lelaki tersebut (andaikata) bertemu dengan ayahnya seperti pada paragraf terakhir dari cerpen tersebut. Begitu seterusnya.
Cerpen dengan akhir yang terbuka, memang kadang-kadang seperti sebuah teka-teki. Pembaca diberi kebebasan untuk menjawabnya. Begitu pula pada cerpen tersebut. Bahkan tidak hanya di akhir cerita, beberapa peristiwa pada cerpen tersebut memang ada juga yang menimbulkan pertanyaan. Misalnya, mengapa orangtuanya tidak suka kepada lelaki tersebut? Hingga lelaki tersebut harus pergi meninggalkan orangtuanya. Pertanyaan lain, mengapa lelaki tersebut kemudian akhirnya diceritakan sekolah di pesantren? Selain itu, mengapa lokasi rumah orangtuanya akhirnya menjadi tempat pengeboran minyak?
Sebuah cerpen memang bisa saja menimbulkan (beberapa) pertanyaan atas suatu peristiwa yang dikemukakan oleh pengarang. Akan tetapi, kalau penjelasan mengapa (setiap) peristiwa itu terjadi dianggap perlu, tentu saja akan lebih baik. Lebih-lebih pada saat cerita itu masih berlangsung (bukan pada akhir cerita). Soalnya, peristiwa yang tanpa penjelasan akan dapat mengaburkan pemahaman bagi pembaca untuk kepaduan sebuah cerita pada cerpen yang tengah dibacanya.
Terlepas dari hal tersebut di atas, jelas bahwa cerpen Zian yang berjudul “Jalan Pulang” merupakan cerpen suasana. Begitu pula dengan cerpen Zian yang berjudul “Barjarbaru, Kafe, dan Hujan” (2014:112-120). Pada cerpen tersebut, suasana tampaknya dibangun dengan deskripsi dan monolog. Suasana yang sangat terasa pada cerpen tersebut terutama perpaduan antara rasa sepi, cemas, dan rindu. Dalam rangka menyajikan suasana tersebut, sebagaimana cerpen “Jalan Pulang”, pengarang terutama mendeskripsikannya dengan latar waktu pada sore hingga senja hari dengan diiringi guyuran hujan. Hal itu sudah tampak pada permulaan cerpen tersebut seperti pada kutipan berikut:
“Bagiku, Banjarbaru ialah romansa. Pohon-pohonnya berdaun puisi, dan bunga-bunganya adalah cerita cinta. Hujan masih deras. Ruahnya seperti ikut berjatuhan di dasar hati yang nelangsa. Di sini, aku termangu menunggumu, menatap ke luar jendela pada rumput-rumput yang terendam, ‘puisi-puisi’ kering yang dibawa hanyut air, dan ‘cerita-cerita cinta’ yang kuyup” (2014:112).
Cerpen tersebut bercerita dari dua sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang seorang perempuan. Perempuan tersebut berasal dari Pesantren Al-Falah Puteri. Kedua, dari sudut pandang seorang lelaki. Lelaki itu berasal dari Pesantren Al-Falah Putera. Pada suatu sore mereka berjanji akan bertemu pada sebuah kafe. Kafe tersebut, kafe Jus namanya, terletak di depan Gang Antara. Diberi nama Gang Antara karena gang tersebut berada di tengah-tengah antara Pesantren Al-Falah Puteri dengan Pesantren Al-Falah Putera.
Dari sudut pandang perempuan, diceritakan pada sore hari ia menunggu lelaki itu di kafe Jus. Pada sore itu hari hujan. Hingga senja, hingga magrib, lelaki itu tidak datang, tidak memenuhi janjinya. Perempuan tersebut benar-benar merasa kesepian. Pada saat seperti itu, ia sering menumpahkan perasaannya di buku saku yang covernya berwarna ungu. Meskipun demikian, sejak peristiwa itu, bila sore hari ia masih terus menunggu di kafe tersebut. Kemudian diceritakan perempuan tersebut kuliah di Surabaya. Beberapa tahun kemudian, ketika pulang, perempuan tersebut kembali menunggu lelaki itu di kafe Jus. Apakah lelaki itu akan datang menemuinya?
Dari sudut pandang lelaki, lelaki itu mengemukakan mengapa ia tidak bisa datang menemui perempuan tersebut pada suatu sore sebagaimana yang sudah mereka sepakati. Kata lelaki itu ia tidak bisa menemui perempuan tersebut pada sore itu bukan karena hujan. Kalau begitu apa alasannya? Kata lelaki itu ia tidak datang memenuhi janjinya kepada perempuan tersebut karena pada sore itu ia tidak mendapat izin keluar dari pihak pesantren. Soalnya, ia sudah sering meminta izin keluar pesantren dengan berbagai alasan. Selain itu, pihak pesantren tidak memberi izin karena besoknya ujian akhir akan dimulai di Pesantren Al-Falah Putera. Hingga setelah selesai ujian, lelaki itu harus berangkat ke Bandung melanjutkan studinya ke perguruan tinggi.
Sekali waktu, ketika lelaki itu kembali ke Pesantren Al-Falah, ia pun menyempatkan diri ke kafe Jus. Pada saat itu, sore hari, sore yang juga basah oleh hujan, sebagaimana sore yang dulu mereka sepakati untuk bertemu di kafe Jus. Ketika lelaki itu berada di kafe, kafe tampak sepi. Meskipun demikian, semua kenangan yang dulu pernah mereka rajut di kafe itu, kembali hadir. Lelaki itu menyangka pada sore itu tidak ada siapa-siapa di kafe Jus. Namun, ketika dilihatnya di atas meja ada sebuah buku saku dengan cover berwarna ungu, lelaki itu jadi tersentak. Ketika lelaki itu mau meraih buku saku terebut, tiba-tiba seorang perempuan berjilbab masuk. Perempuan tersebut melangkah menuju meja lelaki itu. Wajah perempuan tersebut dapat terlihat dengan jelas oleh lelaki itu. Seketika itu pula lelaki itu dapat menerka bahwa cerita lama antara dirinya dengan perempuan tersebut masih punya kelanjutan.
Begitulah akhir dari cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan”. Sebagaimana cerpen “Jalan Pulang”, cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan” juga diakhiri secara terbuka. Pembaca diberi kebebasan untuk menafsikran, misalnya siapa perempuan berjilbab yang melangkah menuju meja lelaki itu? Apakah perempuan itu perempuan yang dulu menunggunya pada sore hari sesuai dengan janji yang mereka sepakati ketika mereka sama-sama masih sebagai santri di Pesantren Al-Falah? Dari buku saku dengan cover berwarna ungu yang terletak di atas meja, tampaknya dapat dinyatakan bahwa buku saku tersebut memang milik perempuan yang selama ini dirindukannya. Hal tersebut, sebagaimana sebelumnya dikemukakan pada cerita yang berdasarkan dari sudut pandang perempuan, dikatakan bahwa perempuan tersebut sering menumpahkan perasaannya di buku saku yang covernya berwarna ungu. Selain itu, pada cerpen tersebut pembaca juga diberi kebebasan untuk menafsirkan, misalnya apa yang terjadi setelah lelaki itu akhirnya bertemu dengan perempuan tersebut? Begitu seterusnya.
Selain kedua cerpen di atas, pada cerpen Zian, suasana tampaknya juga dapat dibangun dengan deskripsi, dialog, dan monolog. Hal tersebut dapat dibaca misalnya pada cerpen “Secangkir Kopi Air Mata” (2014:75-82). Suasana yang sangat terasa pada cerpen tersebut terutama perpaduan antara rasa sepi, rindu, dan sedih. Berbeda dengan dua cerpen sebelumnya, jika dua cerpen sebelumnya pengarang terutama mendeskripsikannya dengan latar waktu pada sore hingga senja hari dengan diiringi tetesan hujan, pada cerpen “Secangkir Kopi Air Mata” pengarang terutama mendeskripsikannya dengan latar waktu pada malam hari. Hal itu sudah tampak pada permulaan cerpen tersebut seperti pada kutipan berikut:
“Lagu dari Avril Lavigne mengalir lembut. Secangkir kopi hitam masih mengepulkan asap beraroma sedap. Namun sejak tadi kau hanya menatap kopi itu tanpa sedikit pun menyentuhnya. Dapat kudengar desah napasmu kian berat meski tersamar oleh musik sendu yang mengalun lembut dari Pojok Mingguraya. Malam belum tua, namun udara Banjarbaru telah menusukkan dinginnya hingga ke balik switer yang kukenakan” (2014:75).
Cerpen tersebut diungkapkan berdasarkan sudut pandang seorang perempuan mengenai seorang lelaki. Perempuan tersebut mengungkapkan pertemuannya kembali dengan seorang lelaki pada suatu malam di Mingguraya, Banjarbaru. Mereka kembali bertemu setelah sekian tahun berpisah. Pertemuan mereka pertama kali juga di Mingguraya. Mereka bertemu pada saat ada acara Tadarus Puisi, acara pembacaan puisi yang sudah beberapa tahun diadakan setiap bulan Ramadhan di Mingguraya, Banjarbaru. Pada saat itu, lelaki itu mengatakan bahwa ia seorang santri Pesantren Al-Falah Putera. Ia berasal dari Grogot. Pada malam acara Tadarus Puisi tersebut, lelaki itu membacakan sebuah puisi yang berjudul “Gadis Senja” yang dipersembahkan khusus untuk perempuan yang baru dikenalnya pada malam itu.
Setelah pertemuan pertama itu, mereka masih sering bertemu. Bahkan hampir setiap bulan mereka bertemu di tempat yang sama (Mingguraya, Banjarbaru). Hingga tanpa disadari oleh perempuan tersebut, ternyata ada debar-debar aneh yang memikat hatinya terhadap lelaki itu. Namun, pada suatu hari lelaki itu menelepon bahwa satu minggu lagi merupakan waktu kelulusan baginya sebagai seorang santri. Setelah itu lelaki itu akan pulang ke Grogot dan tidak bisa dipastikan kapan kembali lagi ke Banjarbaru. Akan tetapi perempuan tersebut mengatakan bahwa ia akan tetap menunggu. Sementara lelaki itu mengatakan bahwa ia pasti suatu saat akan kembali ke Banjarbaru dan ia berjanji akan menikahi perempuan tersebut. Meskipun usia perempuan tersebut, lebih tua dari lelaki itu.
Setelah pertemuan terakhir itu, setelah mereka saling berjanji, mereka pun berpisah. Beberapa bulan mereka saling memberi kabar melalui telepon genggam. Semula lancar saja. Akan tetapi kemudian, nomor ponsel milik lelaki itu tidak lagi bisa dihubungi. Komunikasi antar mereka kemudian terputus. Lelaki itu seperti menghilang. Berbagai cara telah diusahakan oleh perempuan tersebut agar ia bisa berkomunikasi dengan lelaki itu, namun hasilnya nihil. Sementara itu, orangtua perempuan tersebut terus mendesak agar anaknya – perempuan tersebut – segera menikah mengingat usia anaknya yang semakin menua.
Setelah sekian lama berpisah, pada suatu malam mereka bertemu kembali di Mingguraya, Banjarbaru. Pada saat itulah lelaki itu menumpahkan kerinduannya sekaligus kesedihannya. Bahkan tetesan air mata lelaki itu menyatu pada pekatnya kopi hitam dalam cangkir yang ada di hadapannya. Itulah sebabnya, barangkali, cerpen tersebut diberi judul “Secangkir Kopi Air Mata”. Namun, mengapa lelaki itu begitu bersedih ketika kembali bertemu dengan perempuan tersebut? Jawabnya tidak lain karena perempuan tersebut ternyata sudah bersuami dengan lelaki lain. Kemudan perempuan tersebut, pergi menemui suaminya, meninggalkan lelaki itu.
Dari ketiga cerpen suasana Zian Armie Wahyufi sebagaimana dikemukakan  di atas, jelas bahwa ketiga cerpen tersebut bernada sendu. Bahkan antara cerpen “Jalan Pulang” dengan “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan” memiliki latar yang kurang lebih sama, terutama dengan latar waktu sore dan senja yang diiringi dengan tetesan bahkan guyuran hujan. Sementara antara cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan” dengan “Secangkir Kopi Air Mata” memiliki cerita yang kurang lebih sama, yaitu mengenai seorang perempuan yang bertemu kembali dengan seorang lelaki setelah sekian lama berpisah. Meskipun pada cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan” pertemuan kembali antara seorang lelaki dengan seorang perempuan menumbuhkan kebahagiaan, sementara pada “Secangkir Kopi Air Mata” pertemuan kembali antara seorang lelaki dengan seorang perempuan menimbulkan kesedihan.
Satu hal yang perlu dicatat, bahwa Zian tampaknya berupaya menampilkan teknik bercerita yang berbeda antara cerpen yang satu dengan cerpen lainnya. Pada cerpen “Jalan Pulang”, Zian menggunakan sudut pandang akuan, yaitu seorang lelaki. Pada cerpen “Banjarbaru, Kafe, dan Hujan”, Zian menggunakan dua sudut pandang akuan sekaligus, pertama sudut pandang akuan dengan seorang perempuan, kedua sudut pandang akuan dengan seorang lelaki. Sementara pada cerpen “Secangkir Kopi Air Mata”, Zian memang juga menggunakan sudut pandang akuan. Akan tetapi berbeda dengan kedua cerpen sebelumnya, pada cerpen “Secangkir Kopi Air Mata”, Zian menggunakan sudut pandang akuan dari seorang perempuan yang bercerita mengenai seorang lelaki.
Teknik bercerita dengan bervariasi seperti di atas, tentu saja sesuatu yang sangat menggembirakan bagi perkembangan cerpen Zian untuk masa selanjutnya. Lebih-lebih bila Zian akan terus mengembangkan cerita suasana yang juga dengan berbagai variasi hingga semakin menarik bagi pembaca. Meskipun bagi pembaca yang kurang jeli, terutama karena menggunakan sudut pandang akuan yang berbeda pada ketiga cerpen di atas, bisa menyulitkan pemahaman terhadap cerpen yang tengah dibacanya. Untuk itu, sekali lagi, semoga pada masa mendatang Zian akan lebih baik lagi dalam mengembangkan cerpen suasananya. Semoga. []

Daftar Pustaka
Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Sepotong Senja untuk Pacarku. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Ayuningrum, Ratih. 2013. Pelangi di Ujung Senja. Banjarmasin: Penerbit Tahura Media.
Damono, Sapardi Djoko. 2001. Pengarang Telah Mati. Magelang: Penerbit IndonesiaTera.
Firly, Sandi dan Harie Insani Putera. 2008. Perempuan yang Memburu Hujan. Banjarmasin: Penerbit Tahura Media.
Kayam, Umar. 1995. Sri Sumarah. Cetakan Ketiga. Jakarta: Penerbit PT Dunia Pustaka Jaya.
Rampan, Korrie Layun. 1983. Malam Putih. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Wahyufi, Zian Armie dan Aliansyah Jumbawuya. 2014. Lelaki Dilarang Menangis. Banjarbaru: Penerbit Penakita Publisher.

(Media Kalimantan, Minggu, 14 Desember 2014)

Minggu, 06 Juli 2014

Teriakan Bisu Tiga Lelaki

Teriakan Bisu Tiga Lelaki

Oleh: Nailiya Nikmah JKF

Menuangkan isi hati ke dalam bentuk puisi terkadang menjadi pilihan terbaik bagi siapa saja. Tidak terkecuali bagi tiga orang lelaki (Imam Budiman, M. Ansyar dan Zian Armie Wahyufi) yang mengumpulkan puisi-puisinya dalam buku Teriakan Bisu (TB) terbitan Tahura Media , 2012. Ada dua kemungkinan yang ingin disampaikan ketiganya melalui teriakan bisunya. Pertama, mereka sebenarnya sedang ingin berteriak tetapi mereka tidak punya suara (:kekuatan) untuk berteriak sehingga yang terjadi adalah mereka menyunyikan teriakan tersebut menjadi baris-baris puisi yang sepi. Kemungkinan kedua, mereka berceloteh, berteriak lewat puisi-puisi tersebut namun sejatinya mereka “bisu”. Hal ini diakui oleh Zian secara tersurat dalam epilog buku TB, " …maka setidaknya, buku inilah teriakan kami selanjutnya, meski kami hanyalah orang-orang "bisu"".
Di antara beragam hal yang diteriakkan oleh Zian dkk dalam TB, pembaca dapat menemukan “orangtua” sebagai salah satunya. Anak lelaki berbicara tentang orangtua. Adakah keunikannya jika dibandingkan dengan pembicaraan oleh anak perempuan? Para orangtua biasanya lebih lembut dan halus perangainya ketika berbicara dengan anak perempuannya tapi tidak dengan anak laki-laki. Saat anak perempuan menangis, ayah pasti kelimpungan mencari sapu tangan untuk mengusap air matanya tapi saat anak lelaki menangis, ayahnya akan berkata, “simpan tangismu, anak laki nggak boleh cengeng!”
Ada empat puisi tentang orangtua dalam TB. Puisi tersebut adalah Bapak (hlm 24) dikarang oleh Imam Budiman; Puisi untuk Orangtuaku (hlm 47) dikarang oleh M. Ansyar; Krak! (hlm 59) dan Kampung Batu (hlm 65) dikarang oleh Zian Armie Wahyufi.
Puisi “Bapak” didominasi oleh bunyi-bunyi ringan dan lembut seperti e dan i. Misalnya pada kata semburat, manapun, menimpa, sebelumnya, setumpuk, permata, menuduhnya, tersenyum, membahagiakan dan diam. Lambang bunyi dapat dihubungkan dengan suasana jiwa (Tarsyad, 2011:15). Bunyi yang ringan dan lembut melukiskan suasana yang sendu. Hal ini terkait dengan makna umum puisi “Bapak” yang menggambarkan kesedihan aku lirik ketika tahu bapaknya ingin menikah lagi yang disebutnya dengan ibu baru.
Gaya bahasa klimaks terdapat pada larik “…dan ketika ia singgah dalam jangka waktu relatif singkat, sangat sebentar/ dirinya pun terengguti ketidakadilan yang entah dengan siapa ku/ harus menuduhnya.” Gagasan-gagasan yang diungkapkan mengandung urutan pikiran yang semakin meningkat kepentingannya. Di sini terdapat pula ungkapan yang perifrasis, yaitu mempergunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan. “Jangka waktu relatif singkat, sangat sebentar.” Seharusnya cukup “waktu yang singkat” atau “sangat sebentar”. Keduanya tidak perlu digunakan bersamaan.
Gaya bahasa yang antitesis juga terdapat dalam “Bapak”. “…meski keinginan diri menolak keras…/aku diam.” Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan (Keraf, 2002:126). Gagasan “ingin menolak keras” dibenturkan dengan gagasan “diam”. Semua itu karena Imam terpaksa. Untuk keterpaksaan itu, Imam pun mengeluh /huh! Entah apa jadinya!/. Lihat juga catatan di akhir puisi Imam.   “Keterpaksaan, Juli 2011”
Pada puisi “Puisi untuk Orangtuaku” terdapat gaya bahasa kiasan persamaan/ simile. Gaya bahasa ini adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain (Keraf, 2002:138). /Itulah ketakutanku Ayah, Ibu/ yang datang bak gelombang besar/. Ansyar begitu takutnya terhadap orangtuanya sampai ia menyamakan ketakutannya dengan gelombang besar. Gelombang yang siap menggulungnya.
Puisi berikutnya berjudul “Krak!” ditulis oleh Zian. Puisi ini mengingatkan kita pada gaya puisi Sutardji Calzoum Bachri. Penggunaan gaya bahasa repetisi yang berupa anafora pada “Kau tulis” menjadi ruh puisi “Krak!”.
Gaya aliterasi juga mewarnai puisi ini. Gaya aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud pengulangan konsonan yang sama (Keraf, 2002: 130). Pada puisi “Krak!” terdapat pengulangan konsonan k di tiap barisnya. Terdapat kata sajak, jejak, serak, berontak, gejolak, bentak, sorak, teriak, sesak, Bapak, Anak, sentak, gertak, benak, jarak, hentak, gerak, detak, retak, kelak, tebak, hendak dan tidak.
Semua kata yang mengandung pengulangan konsonan k tersebut ditulis menggunakan huruf kecil pada huruf pertamanya, kecuali pada kata Bapak dan Anak. Ini menyiratkan bahwa ada yang penting yang terjadi antara bapak dan anak. Kedua kata ini pun diletakkan di tengah baris, yang menyiratkan poros persoalan pada puisi ini adalah bapak dan anak.
Berdasarkan teori lambang bunyi Semi dalam Tarsyad (2011:15), konsonan k termasuk dalam kelompok bunyi yang ringan. Bunyi yang ringan melukiskan suasana sendu. Krak! adalah bunyi yang ditimbulkan oleh sesuatu yang patah atau belah.  Dengan tanda seru di sampingnya menyiratkan bunyi tersebut cukup keras. Di balik kegaduhan bunyi Krak! tersimpan unsur kesenduan. Biasanya sesuatu yang patah akan menimbulkan kesedihan mendalam, terlebih apabila yang patah itu adalah sekeping hati.
Puisi “Kampung Batu” dimulai Zian dengan melempar sebuah pertanyaan. “Buat apa kau datang ke kampungku”. Pertanyaan ini menimbulkan kode teka-teki secara struktur. Zian seolah-olah meragukan urgensi orang lain untuk datang ke kampungnya.
Pada puisi ini terdapat repetisi kata batu dan debu. Bunyi vokal a dan u serta bunyi konsonan b dan d termasuk dalam kelompok bunyi-bunyi yang berat. Bunyi yang berat melukiskan perasaan jiwa yang tertekan dan gelisah (Semi dalam Tarsyad, 2011:15). Zian menyimpan perasaan tertekan dan gelisah karena persoalan-persoalan yang bisa membuatnya termasuk dalam kategori anak durhaka. Anak durhaka tentunya akan menjadi batu seperti Malin Kundang di Sumatra (atau menjadi gunung seperti Angui di banua kita). Lalu batu itu pun akan jadi debu. Anak durhaka akan sia-sia hidupnya.
Sebenarnya Zian anak terakhir yang belum jadi batu. Seperti katanya “…Sisa aku di sini – yang juga telah durhaka, menunggu jadi batu dan debu/…/ Mama-abah pergi umrah”. Sayangnya Zian pun kelak akan jadi batu. Akan tetapi ada peluang sebenarnya untuk Zian. “…Mama-abah pergi umrah” Kalimat ini menyiratkan harapan untuk Zian. Bisa saja ketika umrah itu orangtuanya khusyuk berdoa untuk Zian. Bukankah doa di Baitullah sering terkabul? Meski begitu, Zian tetap tertekan dan gelisah. Untuk itu ia ma- anyaki lagi.” Jadi, masih tertarik datang ke kampungku?”
Puisi-puisi yang bicara tentang orangtua ini bertemakan suasana keterpaksaan. Zian dkk terpaksa menuruti kehendak orangtua, tak berani membantah, lama-kelamaan hal ini membuat mereka memilih “bisu”. Pada puisi “Bapak”, Imam Budiman tidak suka bapaknya menikah lagi tetapi demi melihat bapaknya tersenyum, ia terpaksa menyetujuinya dan memilih untuk diam. Pada puisi “Puisi untuk Orangtuaku” Muhammad Ansyar juga terpaksa tak bisa jujur karena ia takut terhadap kemarahan ayah ibunya. Dengan melankolis, Ansyar mengakui bahwa hatinya begitu rapuh. Kemarahan orangtuanya membuatnya tidak merasa bebas. Ia juga tak bisa melihat keramaian dengan jelas. Dengan kata lain, hidupnya selalu sepi. Pada puisi “Krak!” Zian dengan tegas mendeskripsikan perseteruan antara anak dengan Bapak. Zian ingin memberontak tapi bapaknya balas membentak. Ketika Zian menyentak, bapaknya balas menggertak. Ujung-ujungnya Zian merasa ada yang retak karena tiap kehendaknya selalu tidak sama dengan kehendak Bapak. Agaknya puisi ini terhubung dengan puisi “Kampung Batu”. Dalam “Kampung Batu” Zian akhirnya mengakui bahwa ia pun telah berani melawan orangtuanya. Ia melakukan kedurhakaan – mengikuti seluruh orang di kampungnya – justru di saat orangtuanya sedang mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya. Secara berlawanan Zian juga ingin mengemukakan bahwa masih ada setitik harapan dari doa dan ampunan orangtuanya. Tapi sepertinya menjadi batu sudah terlanjur menjadi ancaman yang menakutkan bagi dirinya. Zian merasa ia pasti akan membatu pula. Zian tidak sendiri, orang sekampung bahkan telah lebih dulu menjadi batu. Ternyata “bersuara” pun akan berujung pada diam. Seperti diamnya batu-batu yang terbuat dari anak durhaka.
Puisi-puisi tadi mengingatkan saya pada puisi Arief Rahman Heriansyah yang berjudul “Sajak Ayah; Pada Pernyataan Ngarai Sastra” dalam buku Balian Jazirah Anak Ladang (2011:5-6).
Puisi tersebut berisi suara hati Arief tentang ayahnya: “…/kemudian saatnya menjadi bisu/ bisu yang tertahan di kemudian…// dalam sajak Ayah; mengapa terlalaikan oleh cinta/ dalam sajak Ayah; hempaskanlah apapun maksud baikmu/ dalam sajak Ayah; aku selalu menggenggam fatamorgana/ dalam sajak Ayah; mengapa bingkisan tua itu masih terkatup rapat?...// …dalam luka aku menggores sajak/ pada langit buram yang tak kumengerti”. Sama seperti Zian dkk, Arief pun menjalani saat-saat menjadi bisu.
Diksi-diksi seperti hasrat, mimpi, imaji, dikontraskan dengan tak bernyali menjelaskan apa yang disebut dengan fatamorgana. Suasana sedih mewarnai puisi ini dari awal sampai akhir. Arief bahkan merasa perlu menegaskan kelukaan hatinya dengan memberi catatan pada puisinya tersebut, “*Ayah; kehendakmu goreskan sakit hatiku, bagaimanapun aku tetap mencintaimu…”
Jurang yang menganga antara orangtua dan anak; ketidakterampilan dalam berkomunikasi, kerap menutupi maksud baik orangtua terhadap anaknya. Akhirnya ada anak yang merasa terpaksa menuruti semua keinginan orangtuanya. Artinya, ia mau saja menepiskan keinginan dirinya sendiri demi berbakti pada orang tua dan menelan konsekuensinya: hati yang terluka. Ada juga anak yang memilih berontak – lalu durhaka. Sementara Zian dkk terkatung-katung antara keduanya. Akhirnya mereka memilih berteriak lewat puisi. Uniknya, puisi-puisi tentang orangtua tersebut didominasi oleh sosok orangtua laki-laki. Imam menyebutnya “Bapak”. Ansyar dan Arief menyebutnya “Ayah”, Zian menyebutnya “Bapak” dan “Abah”. Adakah misteri yang tak bisa ditemukan jawabannya antara ayah dan anak laki-laki?

(Media Kalimantan, Minggu, 30 Desember 2012)

Rabu, 02 Juli 2014

Zian, Cerpenis Harapan


Zian, Cerpenis Harapan
Oleh: Sainul Hermawan

Sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan cerita pendek di Kalimantan Selatan sejak sibuk mengkaji tradisi lisan. Akhir-akhir ini saya kembali mengikutinya setiap akhir pekan di dua media yang saya anggap memiliki reputasi cerpen yang relatif bermutu untuk dibaca karena diredakturi oleh sastrawan.
Pada 26 Februari 2012, kedua media cetak yang berbeda tersebut memuat dua cerpen yang berbeda pula tetapi ditulis oleh seorang penulis yang sama: Zian Armie Wahyufi. Kedua cerpen itu cukup mencengangkan dalam hal pencapaian kekuatan penceritaan dan pendayagunaan bahasa yang efektif, efisien, dan puitis. Ia memiliki keberanian untuk menjadikan cerita berjalan mengikuti keinginan cerita, bukan keinginan dirinya sebagai penulis. Ia tidak berpretensi menjejalkan moral dirinya kepada pembaca tetapi mengajak pembaca mendialogkan moral cerita dengan moral pembaca. Dengan cara ini ia tampak sangat paham bahwa cerpen bukan pelajaran agama, pelajaran akidah dan akhlak, peta penunjuk jalan, atau resep makanan siap saji. Cerpen adalah dunia yang penuh kemungkinan.
Cerpen “Secangkir Kopi Air Mata”-nya yang menjadi pemenang harapan ketiga dalam kontes cerita pendek yang diselenggarakan Radar Banjarmasin dan MGR pada 2011 dan dimuat di Radar Banjarmasin pada 26 Februari 2012 (halaman 5) menunjukkan talenta Zian yang cukup dapat diharapkan. Kekuatan cerpen ini terletak pada kemampuan penulisnya untuk mendialogkan yang global dengan yang lokal, dan menerjemahkan puisi ke dalam prosa. Cuplikan lirik lagu dengan sadar dijadikan sebagai foreshadowing tentang apa yang akan terjadi: perpisahan dua insan yang sangat saling mencintai. Bukan cuma itu, lirik lagu pun dijadikan titik akhir untuk melakukan flashback. Dengan teknik tersebut, apa yang akan dan telah terjadi bisa terus dikenang.
Kedua, sudut pandang yang dipilihnya pun menarik, yakni menggunakan sudut pandang “akuan”. Siapa aku dalam cerpen ini disajikan secara bertahap sebagai jangkar perhatian agar pembaca terus mengikuti cerita sampai akhir. Aku dalam cerpen ini adalah seorang perempuan, yang tanpa rencana berkenalan dengan lelaki di Taman Air Mancur Banjarbaru, di Tadarus Puisi pada bulan Ramadan. Lelaki itu penyuka puisi yang berjanji ingin menikahinya. Tetapi keinginan itu tak tercapai. Kemudian ia datang ke Mingguraya untuk memberikan ciuman perpisahan. Mungkin ini yang menjadikan cerpen yang secara bahasa sangat menarik ini terpaksa harus berada di posisi pemenang harapan karena dari segi tema sudah sangat biasa, yakni tentang cinta yang tak sampai.
Namun dari segi penggunaan bahasa cerpen ini sangat segar. Misalnya, cuplikan berikut ini:
Tapi cinta kita tak seperti warung-warung di Mingguraya, selalu ada yang datang setiap kali ada yang pergi meninggalkan. Puluhan malam telah menelikungkan sebuah ketidakpastian. Aku tak bisa seperti pendar cahaya lampu, seperti ketika awal dinyalakan oleh janjimu. Percayalah, aku ingin menangis saat wajahmu mulai gerimis....
Cuplikan ini hanya secuil contoh dari keseluruhan diksi-diksi Zian yang sangat puitis. Ungkapan tersebut tentu merupakan penemuan yang relatif sulit dan memerlukan perenungan sebelum memilih diksi-diksi menjadi penyampai suasana yang dianggapnya paling tepat. Memang sangat tepat dan tetap terikat pada lirik puitis yang mengawali dan mengakhiri cerpen ini.
Contoh lain yang cukup menarik adalah ini:
Dapat kulihat jelas wajahmu seperti puisi sedih yang menyimpan bait-bait irisan luka. Tanpa kata, di mataku kau menjelma menjadi puisi yang berserak. Tapi kau harus tahu, seperti dulu, aku tak pernah mengerti tentang puisi.
Sayangnya, logika cerpen ini bisa dianggap jadi agak terganggu oleh pembaca tertentu saat ungkapan ini dinyatakan oleh tokoh aku yang tak pernah mengerti tentang puisi. Namun, bisa saja ungkapan “tak pernah mengerti tentang puisi” juga merupakan strategi kreatifnya yang bertolak dari logika bahasa: berpura-pura tidak mengerti. Bukankah dalam situasi tertentu kita bisa menjumpai orang yang tiba-tiba mengaku tak mengerti tentang Banjarbaru padahal setiap saat orang itu melakukan yang terbaik untuk kota itu, atau sebaliknya ada pula orang-orang sok paham tentang kota itu tetapi tak setitik pun kebaikan dilakukannya untuk kemajuan kota itu. Zian telah menunjukkan kemungkinan tersebut.
Di samping tema, mungkin penggunaan sudut pandang yang tampak “keseleo” di bagian akhir turut jadi penyebabnya. Namun, cara itu dipilih dengan sengaja untuk membuat akhir yang absurd dan membuat pembaca bertanya-tanya.
Aku terus berlari tanpa menoleh saat kau berteriak memanggil namaku. Di sudut taman air mancur, aku berteriak memanggil namanya. Kenapa kau pergi?
Sebelum ungkapan ini muncul, Zian telah memberikan sinyal bahwa tokoh aku yang perempuan itu telah memiliki atau dimiliki oleh lelaki lain sebagai buah keputusan yang lahir dari masa-masa penuh ketakpastian. Jika tak ada konteks kemungkinan adanya orang ketiga, maka ungkapan tersebut bisa keliru. Jika ungkapan tersebut bisa kita benarkan, maka Zian memang ingin membuat akhir terbaca rumit. Kemungkinan pertama, perempuan itu lari, lelaki itu memanggil namanya. Perempuan itu memanggil nama lelaki yang lain. Lelaki itu pergi meninggalkannya. Jadi, dia kehilangan keduanya. Kemungkinan kedua, saat aku memanggil nama orang ketiga, lelaki pesantren itulah yang pergi. Kemungkinan lain, hanya Zian yang tahu.
Sebagai sebuah strategi menutup cerpen, tentu cara ini sangat menarik. Atas pertimbangan itu, cerpen Zian sebenarnya layak menjadi juara pertama tanpa ingin bermaksud melecehkan keputusan dewan juri yang terhormat. Pemuatan pertimbangan dewan juri atas keputusannya sangatlah bermanfaat bagi publik sastra Kalsel, apa pun hasilnya, dengan demikian peserta dan pembaca mendapatkan pelajaran tentang bagaimana dasar-dasar penilaian dewan juri. Mungkin di tempat lain hal semacam itu tidak biasa dilakukan tapi bukankah memang tidak ada gunanya latah pada ketiadaan? Dengan mencatatkan pertimbangan penilaian kita, kita belajar bersama menyongsong atmosfer cerpen Kalsel yang lebih dewasa dan bermartabat, paling tidak dalam lingkungan Kalsel sendiri. Saya yakin kita bisa kalau mau.
Cerpen Zian yang lain, “Jalan Pulang”, pada hari yang sama hadir di Media Kalimantan (halaman A5). Cerpen ini terbagi dalam lima segmen. Cerpen beralur linier ini menceritakan tokoh aku, orang Sungai Raya, Barito Kuala, yang insyaf dan ingin berdamai dengan orangtuanya. Cerpen ini menggunakan sudut pandang “kamuan” yang fungsinya sama dengan fungsi “dia-an” (pada sebagian segmen satu dan dua), sudut pandang “akuan” (pada segmen tiga sampai lima), dan “dia-an” (antara lain di sebagian segmen dua). Ya, pendeknya Zian menggunakan teknik multinarator. Bagi pembaca tertentu, perubahan narator yang terlalu cepat tetapi bukan sebagai strategi cerita yang memiliki implikasi makna, tentu melelahkan pembaca.
Kelancaran narasi Zian dalam cerpen ini belum diikuti kemampuan untuk terhindar dari tema klise. Misalnya, menjadikan tokoh ustadz sebagai tokoh pengubah perilaku tokoh utama dengan pesan-pesan moral yang jamak.
Saya sangat menikmati cerpen-cerpen Zian yang secara kebahasaan sangat bagus dan cerdas, tetapi pada unsur-unsur tema, ide cerita, sudut pandang, dan alur, Zian perlu terus menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru karena hanya dengan terbuka pada kritik dari pembacanya, karyanya akan semakin baik. Zian punya potensi besar untuk menjadi penulis fiksi yang hebat!

Pondok Cina, Depok, 11.03.2012

(Radar Banjarmasin, Minggu, 18 Maret 2012)

Pesantren, Santri dan Karya Tulisnya

Pesantren, Santri dan Karya Tulisnya

Oleh: Harie Insani Putra

Empat tahun lalu, tepatnya 20 Agustus 2007, dua anak muda ‘berpeci’ punya mimpi besar. Mereka ingin mendirikan forum yang bergiat di dunia penulisan. Akh, bukankah forum semacam ini sudah banyak dan tidak lagi termasuk mimpi besar?
Dua anak muda berpeci itu adalah M. Noor dan Zian Armie Wahyufi. Saat itu mereka masih belajar di Pondok Pesantren Al Falah, Banjarbaru. Nah, kemarin (15 April 2011) ustadz Hadi sudah menyampaikan uneg-unegnya di hadapan para santri dalam acara peluncuran buku kumpulan cerpen Forum Pena Pesantren (FPP) yang berjudul “Tembok Suci” diterbitkan oleh minggurayaPRESS. “Aktivitas dunia penulisan di pondok pesantren memang belum tumbuh subur. Padalah, aktivitas menulis sudah dilakoni para ulama-ulama terdahulu dan karya-karya mereka menjadi acuan belajar pada santri,” kata ustadz Hadi di Ponpes Al Falah Putera.
Apakah M. Noor dan Zian sedang ingin menjawab sekaligus membuktikan sesuatu kepada ustadz Hadi lalu memproklamirkan FPP di Ponpes Al Falah? Entahlah. Toh ada rentang waktu yang jauh saat FPP didirikan dengan apa yang diucapkan ustadz Hadi. Atau jangan-jangan dua anak muda ‘berpeci’ tadi sudah memiliki pemikiran yang sama.
Terlepas dari itu, untuk membiasakan sesuatu, apalagi urusan menulis, memang butuh perjuangan dan pengorbanan sekaligus dukungan. Dengan jumlah anggota seadanya, dengan kondisi dan pun seadanya, FPP merangkak tumbuh menyebarkan karya tulis mereka lewat buletin bernama “Literasi”. Buletin dengan cetak fotokopian dalam jumlah terbatas itu mereka sebar. Wilayah penyebarannya pun terbatas di beberapa pesantren yang siap bekerjasama dalam hal distribusi. Itu pun tidak cari untung berupa materi, yang penting tersebar dan terbaca. Maka bisa ditebak, setiap kali ingin terbit, anggota FPP harus mengorbankan uang jajan mereka demi menerbitkan “Literasi”. Untungnya, semangat ‘mengorbankan uang jajan’ itu tidak pernah mereka permasalahkan demi sama-sama maju, sama-sama berkarya.
Waktu terus berjalan, regenerasi FPP terus melaju. Kepercayaan diri dalam menghasilkan karya tulis bisa dilihat dari seringnya karya mereka tercetak di berbagai media massa di Kalsel. Rentetan perjalanan itu, dari buletin ke media cetak lalu menjadi buku adalah suatu prestasi yang membanggakan. Saya pikir inilah mimpi besar itu, sebuah forum yang mampu mencetak generasi penulis dengan karya-karya yang bisa dibanggakan.
Sederet cerita di atas hanyalah tentang FPP yang termaknai laiknya sebuah organisasi. Lantas bagaimana dengan kualitas karya mereka? Siapapun berhak menilai. Tapi ada beberapa hal yang perlu dicatat adalah, sekalipun mereka di dalam sana (pesantren), jika memungkinkan, sesuatu yang ada di luar hampir-hampir tak pernah mereka tinggalkan. Mereka terus belajar dan belajar. Jika di luar sana ada pengetahuan tentang dunia tulis-menulis, makan akan mereka kejar. Memang begitulah seharusnya ‘rumus jitu pintar menulis’. Jka tak salah informasi, bukankah hampir-hampir di Kalsel ini tak ada pelajaran menulis di sekolah? Sebuah pelajaran yang memang khusus mengajarkan anak didiknya agar kelak pandai menulis. Jangankan hal itu, sanggar-sanggar penulisan pun tampaknya minim. Pun jika ada, belum bisa maksimal dan hanya sayup-sayup terdengar.
Begitulah. Keberadaan FPP atau sejenisnya memang sangat diperlukan. Saya rasa tidak hanya di pesantren, tapi juga penting diadakan di tiap-tiap sekolah. Dari sana kita bisa berharap banyak, semoga kelak akan muncul barisan penulis handal. Akhirnya, selamat kepada Forum Pena Pesantren. Imagination is more important than knowledge, begitu karya Albert Einstein. [] hariesaja@gmail.com

(Radar Banjarmasin, Minggu, 17 April 2011)