Jumat, 31 Agustus 2012

The Raid (2012)

Film Indonesia? Action? Jujur saja, begitu mendengar ada film action Indonesia ada rasa skeptis karena sudah trauma menonton film lokal yang seperti itu-itu aja. Tapi begitu melihat trailer & prestasi yang didapat di beberapa festival film luar negeri membuat saya jadi penasaran. Apakah sebagus itu? Ditambah lagi seorang Mike Shinoda (personil Linkin Park) bersedia menggarap soundtrack-nya. Wah, berarti film serius nih. Dan walaupun agak terlambat, tapi saya sempatkan menonton di bioskop untuk sekedar ingin tahu sudah sebagus apa film Indonesia saat ini.

Walaupun agak kecewa melihat nama Sutradara luar (Gareth Evans) tapi setidaknya produser dan pemainnya adalah artis lokal. Menit-menit pertama sudah terasa bagaimana pembawaan film ini. Jujur saya bilang, sangat berbeda dengan pembawaan skenarion yang dibuat sutradara lokal. To the point dan tidak bertele-tele, khas film Hollywood yang mengharuskan "gong" dimulai setidaknya 2 - 10 menit pertama. Penggambaran suasana yang sangat baik dan sangat "Indonesia" terlihat di film ini, walaupun sayang ada beberapa bagian yang agak dipaksakan. Maksud saya dipaksakan adalah dimana situasinya agak ke "Amerika-Amerika" an. Lihat saja gaya komunikasi mereka waktu penyergapan diam-diam dibuat seperti pasukan SWAT. Mulai dari dalam mobil hingga saat masuk ke halaman apartemen. Mungkin hal itu terjadi karena skenarionya dibuat bukan oleh orang Indonesia.

Full action yang membuat saya tak bergerak dari kursi membuat saya berdecak kagum. Jalan cerita yang tidak berbelit-belit membuat penontonnya lebih mudah memahami. Karakter yang dibuat juga terasa real Walau ada 1 bagian yang setidaknya janggal yaitu waktu para penjahat menembaki supir mobil polisi di halaman apartemen yang notabene pada saat itu terlihat di pinggir jalan yang ramai orang. Apakah sebegitu cuek nya orang-orang sekitarnya? Special Effects ala film Ninja Assassin banyak diperlihatkan disini. Mulai dari cipratan darah sampai leher yang patah. Andai saja seluruh produksinya dibuat oleh orang lokal, pasti makin membanggakan.

Filmnya memang full action, sampai-sampi kalau saya hitung mungkin jalan ceritanya hanya 40% saja, sisanya hanya berantem-beranteman. Tapi ya mau dibilang apa? namanya juga film action. Mengharapkan aksi ledakan yang dahsyat? Be realistic aja, ini film Indonesia yang kata kritikus film Hollywood "film action berbudget rendah". Jadi ada adegan tembak-tembakan aja sudah lebih dari cukup, meskipun banyak adegan tangan kosongnya. Walaupun masih bercampurnya film action ala Amerika-Indonesia tapi saya melihat sudah ada kemajuan yang lebih baik untuk film Indonesia. Dan inilah salah satu film Indonesia yang saya anggap worth untuk di tonton di bioskop. Semoga suatu saat nanti film sebaik ini seluruh produksinya dikerjakan oleh sineas lokal. Dengan ini saya nilai : (8/10) Recommended!

Karena banyak Disturbing Picture nya, disarankan untuk tidak ditonton wanita hamil dan anak dibawah umur.

Selasa, 28 Agustus 2012

Story of My Life

Mungkin banyak dari kita yang mengalami hal serupa yang di ceritakan Jessie .J di lagu Who's Laughing Now ini. Entah itu di sepelekan, di Bully, atau malah dilecehkan. Dan pasti rasanya kita ingin membalas orang yang berbuat jahat sama kita suatu hari nanti. Saya pernah membaca salah satu quote motivasi yang kira-kira isinya : Balaslah musuhmu dengan anggun, tunjukkan kalau kau bisa lebih baik daripada dirinya. Sepertinya pembalasan yang "anggun" itu yang lebih menyakitkan. Nah, seperti halnya banyak orang, saya pun pernah mengalami hal serupa. Tapi selama ini saya hanya menyimpannya dalam hati dan tersenyum, sampai pada suatu saat orang yang melecehkan saya lah yang meminta bantuan pada saya. Dan bisa saya kutip dalam lyrics seperti ini :

Oh, so you think you know me now
Have you forgotten how 
You would make me feel 
When you drag my spirit down?
 
Itulah rasanya ketika kita membantu orang yang pernah melecehkan kita. Tapi, tetaplah anggun walaupun dalam hati kita berkata

So make your jokes, go for broke 
Blow your smoke, you're not alone 
But who's laughing now?

Ok, kalau saya bilang terus terang ke dia "Who's Laughing Now?" adalah sikap yang jahat, tapi sebenarnya dalam hati kecil kita pasti terbesit hal itu kan? Tapi ya, sudah lah... Lebih baik mendengarkan lagu ini sambil mengenang masa sulit itu dan menjadikannya motivasi untuk hidup yang lebih baik :)



No Cost Travelling - Bali (Agustus 2012)

Barang bawaan cuma segini
No Cost? Gratisan maksudnya? Bisa dibilang...Ya, saya dapat kesempatan travelling ke Bali GRATIS bulan Agustus 2012 lalu. Kok bisa? Ya, mungkin saya sedang beruntung kali ini. Tapi yang namanya GRATIS itu belum tentu se-perfect yang kita mau lho, tapi ya tetap ada enaknya juga lah. Mau tau lebih lengkapnya perjalanan 5 hari 4 malam ini? Keep reading ya! :)

Kok Bisa GRATISAN?
Ok, saya akan bahas kenapa kok bisa GRATISAN? Kebetulan saya dekat dengan Bos saya, dan kebetulan juga dia tau kalau saya suka membuat video travelling dan (lagi-lagi) kebetulan ada tugas sekolah anaknya yang mengharuskan membuat video tentang liburan (setidaknya itu alasan beliau mengajak saya). Tapi terserah apapun alasannya, yang namanya GRATIS saja sudah membuat saya semangat berkobar (apa sih?). Mulai dari tiket pesawat PP, akomodasi, makan, dan transport selama disana. Seandainya belanjanya juga GRATIS pasti sempurna perjalanan saya haha...

Terminal 1B Soetta
Jakarta Ke Denpasar
Yang seperti saya bilang tadi, yang namanya GRATIS itu belum tentu perfect, seperti halnya tiket pesawat kami berbeda maskapai. Kalau Bos saya dan keluarganya menggunakan Garuda, saya harus puas menggunakan maskapai Sriwijaya. Kalau Garuda bisa terbang dari pukul 11.30, saya harus puas terbang dengan Sriwijaya pada pukul 14.30, dan delay menjadi 15.00 dan delay lagi menjadi 16.10, sial!. Bisa terbayang lama perjalanan sekitar 1,5 jam ditambah zona waktu yang maju 1 jam, berarti saya sampai disana setidaknya pukul 7 malam.

Yang complain pada antri tuh
Lelah menunggu ditambah was-was karena saya harus berbuka puasa (saat itu hari puasa ke-28) di dalam pesawat. Walaupun sudah diberi compliment berupa besek berisi nasi dan ayam, saya hanya bisa melirik saja karena baru jam 15.00. Lelah sangat terasa karena saya harus menunggu pesawat dari pukul 10.00 hingga 16.10 (karena saya datang ke bandara bareng dengan Bos saya yang sudah dari tadi sampai ke Denpasar). 1-2 jam saya masih bisa nonton TV atau sesekali chat/browsing internet di HP saya. Tapi bayangkan kalau sudah menunggu lebih dari 5 jam, pasti mati gaya juga. Mau berkeliling bandara, hanya itu-itu saja yang bisa dilihat. Beda sekali dengan bandara tetangga kita (baca: Changi) yang full entertainment. Tapi ya sudah lah, di asikin aja :)

Ini dia tersangkanya
Dan tepat pukul 16.10 panggilan naik ke pesawat terdengar, seperti mendengar adzan maghrib untuk berbuka puasa, tapi bukan haha... Tak ingin lama mengantri saya langsung berlari menuju pintu. Saya pikir sekeluar pintu akan ada pesawat yang menyambut saya, tapi ternyata tidak, saya masih harus naik shuttle bus untuk mengantar saya ke pesawat biru-merah itu, yah elah.  Banyak pesawat dilewati, dan terlihatlah dari kejauhan pesawat telepon boeing yang tidak terlalu besar itu (apa lagi sih?). Setelah naik dan mendapatkan kursi saya pun melepas kelelahan memanggul backpack saya yang sedari tadi nyangkut di bahu saya. Dan sialnya kursi depan saya terlalu dekat yang membuat saya harus duduk tegak selama perjalanan, oh men!

Karena saya duduk di dekat jendela, saya jadi bisa melihat ke luar. Lumayan lah untuk hiburan bisa melihat pemandangan dari atas dan gulungan awan. Tapi sekitar 40 menitan, hiburan itu agaknya berubah menjadi kolor horor, karena turbulensi pesawat kecil yang saya naiki bergetar, ditambah lagi saya melihat sayapnya juga ikut bergetar seperti burung mengepakkan sayap. Is that normal? Ya sudah lah, mungkin saya diharuskan banyak berdoa di perjalanan ini haha. Dan beberapa menit kemudian datanglah box berisi air mineral gelas dan 2 buah kue dan pemberitahuan buka puasa. Yes, akhirnya. Setalah perut terisi, pikiran menjadi tenang, tinggal menunggu pendaratan sekitar 30 menit lagi. Perjalanan dengan pesawat sebenarnya menyenangkan, hanya bagian take off  dan landing saja yang kadang membuat deg-degan. Begitu pemberitahuan mendarat dikumandangkan (adzan kali) saya langsung melihat ke luar jendela. Terlihat titik-titik puspa lampu menandakan kita sudah turun sehingga kota terlihat. Makin dekat dengan titik-titik lampu itu yang makin membesar, saya mempersiapkan diri untuk pendaratan. Dan benar saja, begitu roda menyentuh aspal, hentakan yang cukup keras terasa. Pendaratan yang kasar, payah.

Alhamdulillah, sampe juga
Setelah sampai di bandara Ngurah Rai, saya langsung mengikuti orang-orang untuk masuk, karena ini kali pertama saya ke Denpasar jadi ya, ikuti arus saja sambil melihat papan info. Dan setelah melihat keadaan Ngurah Rai, sepertinya saya harus bersyukur memiliki bandara Soekarno Hatta karena di sini keadaannya lebih memprihatinkan. Bahkan sepintas saya berpikir bandara ini lebih mirip stasiun Gambir, bahkan Gambir saja masih lebih bagus, tapi ya sudahlah. Sayang sekali bandara yang setiap harinya di lewati wisatawan mancanegara hanya bisa seperti ini saja. Setelah mengambil koper (untunglah tidak terlalu lama) saya langsung keluar mencari taksi. Karena kebingungan tempat mencari taksi, saya hanya bisa melihat keadaan sekitar. Ternyata naik taksi disini harus beli tiket di loket untuk menghindari supir nakal yang suka nembak harga seenak udel (udel emangnya enak ya?). Begitu saya ditawari taksi oleh salah satu supir nakal, dia mematok harga ke hotel saya dengan harga Rp.150ribu. What? lalu saya bilang :"Masa segitu? saya mau pake argo aja". Dengan santai di jawab "Disini ngga pake argo pak. memang bapak maunya berapa?" Waduh, kok tawar-tawaran kayak naik bajaj gini? Tidak suka dengan supir tadi (untung supirnya juga ga suka sama saya, repot nanti) saya pun ikut antri di loket taksi. Cuma tunggu sebentar, sebutkan nama hotel dan voila! pak penjaga loket bilang : "Rp.105ribu pak". Walaupun masih agak gak percaya sama harganya, tapi setidaknya ini lebih bisa dipercaya. Dan saya pun segera meluncur ke hotel untuk istirahat. 

Di Bali Itu...
Hiii... banyak sesajen di pinggir jalan
Sampai di hotel jam 9:30 bisa apa lagi? Malah resto hotel tempat saya menginap hampir tutup, untunglah saya minta ditunggu karena tidak tau mau makan dimana nanti. Setelah makan saya ingin merubah fasilitas breakfast saya menjadi sahur, tapi ternyata ga bisa. Wah, repot nih, masa ga sahur? Padahal besoknya masih ada puasa 1 hari lagi. Ga hilang akal, setelah ganti baju saya langsung pergi keluar untuk beli makanan yang bisa awet sampai jam 3 pagi nanti. kalau di Jakarta, setiap 5 langkah ada warteg, resto padang, McD 24 jam, tapi setiap 5 langkah malah ketemu sesajen di trotoar, dan tempat makan disini cuma cafe yang kebanyakan sudah mau tutup. 
Sahurnya cuma pakai ini :'(
Minimarket disini juga gak kayak 7Eleven yang bisa beli makanan. Setelah jalan jauh di kegelapan dengan sesajen berserakan, akhirnya saya menemukan secercah harapan (ya elah, apaan sih ini?) Saya menemukan seonggok penjual martabak telor di depan minimarket yang sedang dikerubuti lalat turis karena keheranan cara masaknya. Haha, tuh penjual martabak jadi tenar di kalangan bule-bule. Saya pun ikut antri di antara bule-bule penyuka martabak. Dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya saya sudah memiliki sekotak martabak telur ala Bali yang dibuat oleh penjual martabak yang ternyata dari Jakarta juga, haha. Yah, mudah-mudahan puasanya kuat sahur pake beginian doang, amin.

Hotel Yang Aneh
Waktu masuk hotel ini sih tidak ada sesuatu yang aneh ataupun istimewa. Memang cuma hotel bintang 2 dengan  fasilitas seadanya. Dan keanehan mulai terasa begitu masuk ke kamar. Eits! jangan pikir aneh disini karena ada hantunya ya, bukan itu. Waktu masuk, pintu nya sempit sekali sehingga saya harus miring waktu masuk. Dan kunci yang digunakan adalah kunci gembok lengkap dengan cantelan gembiknya. Bentuk kamarnya sih so so lah, tapi begitu masuk ke kamar mandi, We-O-We..WOW!!! Ternyata kamar mandinya tidak beratap. ya saya tidak salah tulis, TIDAK BERATAP! Mungkin mengambil konsep sesuai nama hotelnya Bali Village, tapi bukan berarti kita harus mandi di ruangan terbuka gini dong? Bagaimana kalau hujan? masa mandi hujan? trus kalau mandi malam/pagi, kabayang angin semriwing kena kulit pasti dingin sekali. Complain saya pun di tolak, karena memang semua kamar seperti itu, dan saya harus puas mandi diintip burung-burung diatas pohon dan pesawat yang lewat (ga keliatan juga kali).
Di sini belum aneh
Lho, atapnya kemana ya?













Masjid Jami' Mujahidin, Tj. Benoa
Lebaran di Bali
Ini pertama kalinya saya lebaran tidak dirumah, dan kebetulan juga lebaran di Bali yang muslimnya menjadi minoritas. Lagi-lagi tidak seperti di Jakarta yang setiap pinggir jalan terlihat masjid dan musholla, disini masjid atau musholla menjadi sesuatu yang langka. Tapi untunglah warga Bali yang mayoritas Hindu sangat toleran kepada agama lain. Mereka dengan senang hati menunjukkan lokasi masjid walaupun letaknya terpencil. Dan Alhamdulillah, masih diizinkan solat Ied, akhirnya saya menemukan sebuah mesjid yang tidak terlalu besar tapi bagus di daerah Tanjung Benoa, kira-kira 2 km dari hotel saya. Agak terharu mendengar sayup-sayup suara takbir dari dalam mesjid (karena suara takbir tidak dikeluarkan) dan sekumpulan orang mengantri masuk masjid. Ya, Solat Ied kali ini lebih mengharukan.

Dalamnya
Suasana habis solat Ied











Mau GRATIS? Ada Konsekuensinya
GRATIS sih GRATIS, tapi harus bisa apa aja. namanya juga di ajak, kalo ga berguna ya ga diajak dong haha. Apa gunanya saya disini? ada dong. Mau tau? Seperti saya bilang diawal tadi, buatin video liburan anaknya Bos, bantu angkatin kopernya, dan ga ketinggalan jadi supir, haha... Berbekal mobil sewaan (serasa bawa angkot) saya harus mempelajari jalan-jalan di daerah Benoa, Nusa Dua, Kuta, Legian, Denpasar dan Ubud dalam waktu 5 hari sajah.Untunglah sudah ditemukan teknologi GPS di hp saya, jadinya ga takut nyasar deh. Tapi yang namanya teknologi GPS ada kelemahannya juga, kalau kebetulan lewat daerah yang minim sinyal 3G, ya jadi bego deh. Udah jalan kemana-mana tapi GPS nya masih stuck disitu aja, akhirnya nanya ke orang juga haha... Awalnya sih asik-asik aja nyetir di Bali, apalagi disana jarang sekali macet. Apa karena pada mudik ya? Dan mimpi buruk itu datang waktu lewat Legian. Jalan kecil, 1 jalur dan macet padat merayap. Saya sudah lama tidak mengendarai mobil manual, akhirnya sindrom "gempor kiri" itu saya alami lagi. 

Numpang motret
Lumayan, Jalan-jalan GRATIS...
Kebetulan rombongan yang saya bawa suka sekali kuliner. 2 hari yang lalu saat saya masih puasa, saya cuma bisa lihatin mereka makan. Tapi setelah lebaran, saya bisa makan sepuasnya haha. Selain makan, kami juga jalan-jalan dan berbelanja ke Kuta, Legian, Denpasar, dan Ubud. Ya lumayan lah, walaupun sebenarnya gaya saya yang backpacker tidak terlalu suka berbelanja di tempat mewah, tapi setidaknya bisa untuk ngadem. Perjalanan dengan mobil juga kurang saya sukai karena tidak bisa sebebas motor, dan parkir disana sulit. Tapi memang dasarnyasaya tidak terlalu suka pantai, jadi selain melihat bule-bule pada mandi matahari, ya liat orang surfing.



Pemandangan sehari-hari di hotel
Ground Zero, Legian
Malam di Legian













Di perjalanan, kami sempat mengunjungi Turtle island yang harus ditempuh menggunakan motor boat. Disana banyak penyu dan beberapa hewan lainnya seperti kelelawar, ular python, landak, elang, dan beberapa burung lainnya. Ini dia travelling ala saya, berkunjung ke tempat seperti ini, murah meriah dan mendapatkan sesuatu yang baru. Selain Turtle Island saya juga sangat suka berkunjung ke Monkey Forest di Ubud. Senangnya bertemu keluarga saya disini haha... Sebenarnya ada Taman Gajah, tapi sayangnya tidak kesana. Ya setidaknya wisata bertemu binatang selama beberapa jam itu membuat saya terseyum lagi setelah perjalanan jauh yang melelahkan.

Elang
Ga tau burung apa?
Bagi dong nyet...













Senengnya ketemu sodara
Awh... lutuna..
Ganteng ya?










Jangan Lupa Orang Rumah
Suasana pasar Sukawati
Selain mengucapkan Lebaran pada orang rumah, jangan lupa juga oleh-olehnya untuk orang rumah. Walau niatnya pingin jalan-jalan, tapi sisihkan lah sedikit untuk beli souvenir. Karena dari kemarin saya cuma bisa melihat Bos saya belanja di toko mahal, akhrinya saya minta untuk menyempatkan mampir di pasar Sukawati. Yang pernah ke Bali pasti tau tempat ini. Disini banyak cinderamata khas Bali yang harganya murah, sampai saya tidak tega menawarnya lagi. Dengan bermodal Rp.200ribu, saya sudah bisa pulang beberapa potong baju, kipas Bali, gantungan kunci dan beberapa souvenir kecil lainnya. Serasa jadi orang kaya saya disana haha... Dan di hari terakhir saya juga menyempatkan membeli beberapa souvenir lagi di Joger dan membeli makanan khas sana di toko Krisna dekat bandara. Tadinya saya mau beli Pia Legong, tapi karena kehabisan Pia Barong pun OK lah. 

Beli souvenir di Joger
Mampir Krisna beli kue
Beli segini total Rp.80ribu










Saatnya Pulang
Kata "Pulang"  adalah satu hal yang tidak disukai. Tapi entah kenapa saya tetap bersemangat waktu pulang? Apakah sudah kangen keluarga saya yang sempat saya tinggal waktu Lebaran? Dan ingin cepat pulang untuk mencicipi ketupat? Mungkin saja. Tapi yang pasti perjalanan pulang tidak menimbulkan kesulitan yang berarti. Selain (lagi-lagi) delay 1 jam, dan kondisi bandara yang sempit, saya jadi makin peka akan keadaan sekitar. Walaupun travelling sendiri tapi masih bisa menikmati. Lalu, apakah saya akan kembali ke Bali dalam waktu dekat ini? jawabannya bisa ya, bisa tidak. Ya, saya ingin kembali JIKA ada GRATISAN lagi atau banyak teman saya yang mengajak saya kesana lagi. Tidak, saya tidak akan kembali JIKA hanya travelling sendiri karena saya tidak suka pantai, biayanya yang relatif mahal, dan cuacanya yang panas melebih Jakarta.
Depannya Ngurah Rai Airport
Ga usah bingung, ada ini
Pesawat SJ 261 ke Jakarta











Jadi, sudah tau kan plus minus nya No Cost Travelling? Mau coba? :)

Minggu, 05 Agustus 2012

Jam


buku kumpulan cerpen Lelaki Dilarang Menangis
Di rumah kami ada sebuah jam dinding. Satu-satunya jam dinding. Jam dinding itu sengaja kugantung di ruang tengah. Alasannya sederhana, agar aku mudah melihatnya setiap kali hilir mudik di dalam rumah. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari jam dinding itu. Biasa-biasa saja. Bentuknya pun seperti jam dinding kebanyakan, bundar dengan warna putih yang dominan kecuali bingkainya yang berwarna merah, dan berdetak tiap detik.
Saat kuperhatikan, sekilas jam itu tampak normal. Dan siapapun yang memerhatikan, pasti juga akan berpikir demikian. Aku sendiri tidak yakin kalau jam itu ternyata terlambat satu jam. Awalnya kusadari ketika azan magrib. Aku sontak terkejut melihat jam itu baru menunjuk pukul setengah enam, padahal biasanya azan magrib berkumandang sekitar pukul setengah tujuh. Karena tak percaya, aku segera memeriksa jam di ponsel. Ternyata memang benar, terlambat satu jam.

Memang, sebelum aku benar-benar menyadari bahwa jam dinding itu terlambat satu jam, perkara-perkara ganjil kerap kutemui. Jika biasanya aku tiba di kantor paling awal, justru sekarang menjadi terbalik, aku malah terlambat satu jam. Untuk sekali dua, bos masih bisa maklum. Mengingat sebelumnya aku tidak pernah telat masuk kerja. Tapi kejadian itu terus berulang, aku selalu terlambat satu jam. Bos mana yang bisa tahan melihat anak buahnya selalu datang terlambat? Termasuk bosku, pemilik biro peminjaman uang tunai tempat aku bekerja.
Berhari-hari aku terlambat datang ke kantor. Bos mulai menunjukkan rasa tidak sukanya. Setiap kali bertemu, wajahnya kecut dan sering membentak. Untung saja aku segera menyadari bahwa semua itu gara-gara jam dinding yang terlambat satu jam. Ya, jam dindingku saja rupanya yang salah.
Istriku, ia memang tak terlalu banyak berurusan dengan jam dinding. Wajarlah jika ia juga tak menyadarinya. Ia punya jam biologis sendiri. Azan subuh mengalun, ia bangun. Setelah selesai shalat, ia akan mengerjakan pekerjaan rumah apa saja yang bisa ia lakukan. Sampai malam. Jadi istriku tidak pernah repot dengan jam dinding, kecuali aku.
Lalu kenapa sampai sekarang jam dinding itu masih telat satu jam, itu pun ada ceritanya. Ketika aku sadar bahwa jam dinding itu terlambat, aku langsung mengambil kursi untuk mengambil dan memperbaikinya.
“Habis baterai ya, Kang?” tanya istriku ikut memerhatikan ketika aku membuka tutup baterai dan melepasnya.
“Iya nih, barangkali. Soalnya selalu telat satu jam,” jawabku singkat, lalu meminta agar ia mengambilkan baterai baru di dalam lemari. Setelah baterai kuganti, dan waktunya kusesuaikan dengan jam di ponsel, jam dinding itu kugantung lagi. Sempurna. Tidak ada lagi masalah pada jam dinding itu. Aku pun lega. Besok tidak akan lagi aku telat ke kantor. Pada bos akan kuceritakan penyebab keterlambatanku selama beberapa hari ini.
Besok paginya, tanpa kusangka, kembali aku terlambat tiba di kantor. Kali ini, bos marah besar. Aku hanya diam dan khawatir jika seandainya ancamannya benar terjadi. “Bila kamu masih suka telat, saya tidak akan segan-segan memecat kamu!”
Sepulang dari kantor, segera kuperiksa jam dinding di rumahku. Ternyata, lagi-lagi jam itu terlambat satu jam. Aku heran. Kuperiksa baik-baik. Tidak ada yang rusak. Jarum detiknya masih berdetak dengan normal. Kucek, berapa lama waktu yang diperlukan jam dinding itu untuk menggeser jarum penunjuk menit dari angka 12 ke angka 1. Jam di ponsel kujadikan acuan. Tepat lima menit! Berarti masih normal. Lalu kucoba mengecek jarum penunjuk jamnya. Istriku tampak heran melihat aku yang satu jam lebih hanya memandangi jam dinding. Waktunya tepat satu jam! Berarti tidak ada yang bermasalah. Lalu di mana letak kesalahannya? Atau jangan-jangan saat tengah malam jam itu mati selama satu jam, lalu hidup lagi? Bisa jadi. Ah, tapi aneh. Namun semua keanehan ini tak kuceritakan pada istriku. Nanti bisa dikiranya aku tidak waras.
Malamnya, sebelum tidur, kucek sekali lagi, apakah jam dinding itu masih sesuai dengan jam di ponsel. Benar, masih sama-sama pukul sepuluh lewat lima menit. Aku pun tidur. Keesokan paginya, aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan keanehan jam tersebut dari istriku. Lagi-lagi jam itu terlambat satu jam!
“Akang yakin?” tanya istriku dengan dahi berkerut.
Aku kesal. “Kamu tidak percaya?”
“Percaya, kok. Mungkin jamnya memang rusak. Ya sudah, nanti di pasar aku beli jam yang baru saja,” jawabnya santai sambil berlalu ke arah dapur.
Aku sedikit lega. Namun tetap saja kebingunganku tidak terjawab. Kenapa selalu terlambat satu jam? Benarkah pada tengah malam jam itu mati selama satu jam lalu hidup lagi? Ah, sudahlah, yang penting pagi ini aku menyadari kesalahan jam itu. Setidaknya, aku bisa ke kantor tepat waktu.
Sepulang kerja, sebuah jam dinding baru telah kudapati menggantikan jam dinding sebelumnya. Kulihat jam di ponsel. Sama. Semoga saja jam dinding baru ini tidak punya masalah seperti jam dinding sebelumnya.
Besok paginya, aku tercengang tidak percaya.
“Jamnya terlambat dua jam!!!!”
Teriakan itu menyeret istriku ke ruang tengah dengan langkah tergopoh-gopoh. Ia tak kalah heran dan cuma melongo menatap jam dinding itu. Seterang ini, baru pukul 5 pagi!
“Kamu beli yang murah kali.”
“Mungkin,” giliran istriku disusupi pertanyaan besar di kepalanya.
“Ya sudah, aku saja nanti yang cari jam baru. Langsung di toko jam aja. Yang mahal sekalian.”
“Kita cari sama-sama aja, Kang. Kita kan sudah lama tidak jalan-jalan.”
Malamnya sesudah shalat magrib kami jalan-jalan. Tujuan utama tentulah ke toko jam. Aku memilih yang bingkainya terbuat dari kayu jati, dan istriku setuju.
Besoknya, istriku membangunkanku. Sayup-sayup terdengar azan subuh dari masjid di depan komplek tempat kami tinggal.
“Kang, coba lihat jamnya…”
Sambil mengucek mata, kulangkahkan kaki ke ruang tengah.
“Apa?! Masih jam dua?!”
Pagi itu, sambil sarapan, kami berunding. Keputusannya, tidak perlu lagi beli jam. Kami pakai jam yang pertama saja, soalnya terlambatnya cuma satu jam. Namun untuk mengetahui waktu, jam di ponsel sebagai gantinya.
Beberapa hari aku tidak lagi melihat jam dinding. Yang kulihat untuk mengetahui waktu kini adalah ponsel. Ajaib, jam dinding itu tetap terlambat satu jam. Seharusnya jika memang berputar hanya 23 jam dalam sehari, mestinya semakin hari semakin bertambah keterlambatannya. Namun ini tidak. Apakah sudah kembali normal?
Pada istriku kujelaskan hal tersebut. Ia menyarankanku menyesuaikan jam dinding itu. Tanpa ragu kusesuaikan jam tersebut ke waktu yang semestinya. Esok paginya, kembali jam dinding itu terlambat satu jam! Bangsat!
Kami pun pasrah. Itulah ceritanya mengapa jam dinding di rumahku terlambat satu jam. Puncak peristiwa ini adalah ketika ponselku tertinggal di kantor. Karena buru-buru, tanpa sadar aku kembali melihat ke jam dinding. Hari itu adalah hari yang membuatku seperti orang tolol. Lagi-lagi aku terlambat tiba di kantor. Bisa ditebak, bos kembali marah dan kali ini ancamannya tidak main-main. Aku akan dipecat jika sekali lagi terlambat. Sialnya, ia tak percaya dengan cerita jam dinding yang terlambat satu jam itu. Alasan saja, katanya.
Tapi itu tak lagi jadi masalah, karena sekarang aku punya pekerjaan baru yang tidak lagi mementingkan ketepatan waktu, yaitu jadi anggota dewan. Dengan menjual sepeda motor dan sebidang tanah warisan orangtua, uangnya kujadikan modal untuk mencalonkan diri lewat salah satu partai yang baru berdiri.
O, ya. Semenjak aku jadi anggota dewan itu, muncul keanehan baru. Jam ponselku ikut-ikutan terlambat, kadang satu jam, kadang dua jam, kadang lima jam. Herannya lagi, kadang tanggalnya juga mulai nyeleneh, ikut-ikutan terlambat. Seperti halnya jam dinding kami di rumah, berkali-kali aku ganti ponsel baru sesuai trend, namun tetap saja jamnya telat. Sayangnya, kecuali istriku, tidak ada yang mau percaya dengan perkara jam itu. Apalagi rakyat! Emangnya, tahu apa mereka?! []

Puntik Dalam, 19 Desember 2011

(Media Kalimantan, Minggu, 29 Juli 2012)
(Lelaki Dilarang Menangis, Penakita Publisher, Juni 2014)