Kamis, 28 November 2013

Ini Seperti...

Ini seperti kamu lupa jadwal kuliah Maternitas. Ketika ingat ternyata waktunya sudah lewat beberapa menit. Kamu buru-buru ke kampus, sambil berdoa Bu Yuli belum masuk. Tiba di depan lokal, kamu langsung membuka pintu dan bergegas masuk. Semua mata menatapmu heran, dan kamu seketika sadar, kamu telah salah ruangan! Kamu pun berjalan keluar dengan menunduk, diiringi tawa yang meledak di seisi ruangan. Sampai luar, ponselmu berderit, ada pesan singkat yang masuk: Hari ini Ibu Yuli tidak masuk, diganti besok.


Hei, kenapa menyesal? Kenapa harus kesal? Kamu bisa ke perpustakaan hanya dengan naik dua lantai lagi. Kamu bisa mengerjakan skripsimu. Bukankah judul saja kamu belum dapat? Bisa jadi dengan ke perpustakaan kamu bisa menemukan judul yang bagus dan mulai menyusun Bab 1. Tak ada salahnya bukan?

Ini seperti ketika kamu kelaparan pada tengah malam. Kamu lalu menyalakan motormu dan pergi mencari nasi goreng. Ada warung nasi goreng yang buka tak jauh dari kostmu, tapi kamu enggan beli di sana. Kamu punya langganan nasi goreng gerobak yang biasanya mangkal di depan kampus tengah malam begini. Ke sanalah tujuanmu. Tiba di depan kampus, kamu tidak mendapati nasi goreng gerobak langgananmu itu. Mungkin malam ini pamannya mau istirahat. Kamu pun berbalik, kembali. Tujuanmu warung nasi goreng dekat kostmu tadi. Dan, plak! Saat kamu tiba, warung itu sudah tutup.

Hei, kenapa menyesal? Kenapa harus kesal? Kamu bisa pulang ke kost lalu memasak beras dan telur yang dibawakan orangtuamu. Bukankah sudah lama kamu tidak masak sendiri? Pasti menyenangkan masak tengah malam begini. Dan itu bisa menghemat uangmu bukan?

Sajak yang Malas

Tuhan, kenapa saya diciptakan sebagai manusia?

Minggu, 24 November 2013

Despicable Me 2 (2013)

Sejak menonton film yang pertama, saya sudah jatuh cinta kepada semua karakter di film ini. sebut saja Gru, Margo, Edith, Agnes dan tentunya para Minions. Baru beberapa menit saja saya sudah dibuat tertawa dengan aksi konyolnya film ini. Ada hal yang saya perhatikan sangat banyak digunakan pada komedi di film ini, yaitu komedi slapstick. Banyak perbuatan yang ngga terduga yang pastinya membuat tertawa walaupun kita tahu itu komedi slapstick yang sudah banyak digunakan komedian jadul. Tapi kenapa lucu? apakah karena dibuat untuk animasi, yang akhirnya membuat komedi slapstick ini makin lucu.

Animasinya yang sangat menawan dan penggambaran yang diluar dugaan membuat saya menunggu kejutan berikutnya.
Banyak hal diluar logika tapi sangat "sah" saja dilakukan di film ini. Seperti alat-alat canggih yang ditampilkan yang membuat hal yang selama ini ngga mungkin, tapi semua jadi mungkin di film ini. Ada 1 alat yang sangat saya suka di film ini, lipstik strum ahaha...

Tapi bukan cuma kekonyolan saja yang saya tangkap di film ini, ada nilai moral yang didapat yaitu kekeluargaan, dan persahabatan. Memang takaran antara kekonyolan dan pesan moral ini adalah 65:35, tapi sepertinya itu worth. Dan kesimpulan saya adalah 7,3/10 (Cocok untuk koleksi).

The Croods (2013)

Sekilas awalnya agak pesimis sama filmnya. Film animasi bertema jaman batu ini dari trailernya ngga ada sesuatu yang bikin penasaran. Cuma kegilaan yang ditampilkan di trailernya. Tapi karena disitu tertulis : from creator of Ice Age, saya jadi sedikit memberi harapan kepada film ini. Tertolong karena iming-iming "Ice Age" itu tadi, dan ternyata memang benar, gambar yang ditampilkan cukup bagus dan karakter yang ditampilkan cukup menarik semenarik film Ice Age. Karakter yang saling bertentangan membuat film ini penuh konflik, walaupun ringan tapi pesan moralnya tersampaikan dengan baik.

Untuk sisi komedi memang agak maksa dan beberapa bagian agak garing, tapi untunglah hal itu terlupakan setelah melihat animasinya yang indah. Untuk sisi sound effect dan musik, ngga terlalu istimewa tapi sangat match dengan temanya.
Ada beberapa bagian yang menurut saya adalah sisi lain dari film Ice Age. Kalau Ice Age di zaman es, the Croods ada di zaman batu. Apalagi setelah mereka menemukan dunia baru yang sekilas mirip dengan film Ice Age 2 dimana mereka bertemu dengan Buck. DItambah pada saat ayah mereka menemukan binatang peliharaan, mengingatkan saya pada Buck yang akhirnya menjadikan Rudy sebagai binatang peliharaannya. Apakah mereka sengaja membuat situasi seperti itu, atau memang suatu kebetulan?

Dengan komedi ringan, animasi menawan walaupun agak lamban...sepertinya film ini cukup menarik kalau ditonton bersama keluarga. Walau begitu, film ini masih agak jauh dari harapan saya. Karena cerita yang ringan inilah membuat pesan moralnya jadi lebih mudah tersampaikan. Dan kesimpulannya, fim ini saya beri nilai 6.8/10 (Tunggu di TV saja).

Minggu, 03 November 2013

Wedding Trailer : Satrio + Citra

Ini dia salah satu hobby saya yang bisa menghasilkan uang. Membuat video wedding bisa sangat menyenangkan kalo memang kita semangat mengerjakannya. Awalnya sih cuma iseng aja menawarkan ke salah satu teman yang memang sedang cari pembuat dokumentasi pernikahannya. Dan karena mendadak, akhirnya saya diminta teman saya untuk bergabung di team dokumentasinya. Teman saya bertugas sebagai Photographer, tapi sayangnya belum ada yang mengisi posisi Videographer. Dengan meyakinkan diri dan melihat beberapa referensi di YouTube, akhirnya saya memberanikan diri untuk bersedia menggarap pembuatan videonya. Walaupun awalnya agak grogi karena ini video wedding serius pertama saya (sebelumnya cuma bantu shoot saudara yang nikahan), tapi overall saya cukup puas untuk hasil pertama saya, walaupun masih jauh dari ekspektasi saya. Dan inilah video wedding pertama saya :



#Peralatan yang dipakai :
Camera : Canon 60D

Sound recorder :iPhone 5S
Video Editing : Sony Vegas Pro 11

Dan berikut lanjutan dari wedding trailer yang lainnya :


#Peralatan yang dipakai :
Camera : Canon 60D

Sound recorder :Samsung Galaxy S4
Video Editing : Sony Vegas Pro 11




#Peralatan yang dipakai :
Camera : Canon 600D
Sound recorder :Samsung Galaxy S4
Video Editing : Sony Vegas Pro 11

Untuk booking, hubungi :
Twitter : @DidietTriquetra

Sabtu, 02 November 2013

Andai Tuhan Seperti Komite Skripsi

Kemarin sore pulang ke rumah orangtua. Selain untuk menyimpan buku-buku yang sudah saya baca dan buku-buku yang baru dibeli namun belum ingin membacanya, rencana mau mencari sertifikat kursus Microsoft Office karena tanpa disangka sertifikat itu sangat diperlukan. Untuk maju sidang proposal syaratnya sertifikat tersebut. Saya dulu ketika masih di pondok, tepatnya saat kelas 3 tsanawiyah, pernah ikut kursus komputer di pondok, tapi lupa apakah diberi sertifikat setelahnya atau tidak. Makanya, saya pulang buat mengeceknya. Siapa tahu ada, jadi tak perlu lagi ikut kursus hanya untuk memiliki sertifikat tersebut. Aneh juga, sesuatu dibuktikan dengan selembar kertas, bukan bagaimana kemampuannya.

Begitulah, sampai di rumah saya membongkar-bongkar berkas milik saya. Hasilnya, tidak ketemu. Yah, berarti dulu kami memang tidak diberi sertifikat. Kursus waktu di pondok dulu berarti tujuannya adalah agar kami para santri "bisa", bukan "terbukti bisa".
Tapi meski tidak ketemu apa yang saya butuhkan, saya ketemu ini

piagam santri terbaik
piagam santri terbaik
piagam santri terbaik
piagam santri terbaik
piagam santri terbaik

Melihat itu rasanya ironis sekali. Begitu jauhnya sudah saya melenceng dari bagaimana seharusnya seorang santri... Begitu banyaknya ilmu yang didapat dulu namun tak sedikit pun mampu diamalkan... Rasanya tidak ada artinya piagam-piagam tersebut. Andai Tuhan seperti Komite Skripsi yang menilai sesuatu hanya lewat kertas, tentu saya akan berpesan pada keluarga saya agar piagam-piagam tersebut nanti dimasukkan juga dalam kubur saya. Tapi Tuhan tidak seperti Komite Skripsi, bukan?