Ini dia salah satu hobby saya yang bisa menghasilkan uang. Membuat video wedding bisa sangat menyenangkan kalo memang kita semangat mengerjakannya. Awalnya sih cuma iseng aja menawarkan ke salah satu teman yang memang sedang cari pembuat dokumentasi pernikahannya. Dan karena mendadak, akhirnya saya diminta teman saya untuk bergabung di team dokumentasinya. Teman saya bertugas sebagai Photographer, tapi sayangnya belum ada yang mengisi posisi Videographer. Dengan meyakinkan diri dan melihat beberapa referensi di YouTube, akhirnya saya memberanikan diri untuk bersedia menggarap pembuatan videonya. Walaupun awalnya agak grogi karena ini video wedding serius pertama saya (sebelumnya cuma bantu shoot saudara yang nikahan), tapi overall saya cukup puas untuk hasil pertama saya, walaupun masih jauh dari ekspektasi saya. Dan inilah video wedding pertama saya :
#Peralatan yang dipakai : Camera : Canon 60D
Sound recorder :iPhone 5S Video Editing : Sony Vegas Pro 11
Dan berikut lanjutan dari wedding trailer yang lainnya :
#Peralatan yang dipakai : Camera : Canon 60D
Sound recorder :Samsung Galaxy S4 Video Editing : Sony Vegas Pro 11
#Peralatan yang dipakai : Camera : Canon 600D Sound recorder :Samsung Galaxy S4 Video Editing : Sony Vegas Pro 11
Untuk booking, hubungi : Twitter : @DidietTriquetra
Kembali saya membuat film. Dan ini pertama kalinya saya memproduksi film di tahun yang sama. Bukannya sok-sok an kayak sutradara Hollywood yang memang produksi lebih dari setahun sekali, tapi memang saya ngga mau sembarangan produksi film kalo memang belum siap. Pinginnya sih film yang saya buat itu beda dari film indie yang banyak orang buat. Entah itu dari jalan cerita, logika dan teknik pembuatan. Tapi yah, namanya juga otodidak, rasanya kalo maksain idealis gitu susah juga ya? Selama ini saya cuma belajar dari film yang saya lihat dari TV luar negeri (saya langganan TV cable) supaya dapat ide yang beda daripada nonton sinetron yang tiap tahun itu ke itu aja. Di tambah referensi pembuatan dari YouTube. Itulah kedua sumber referensi saya membuat film. Begitu pula halnya waktu saya membuat film SAMA, Mana Keren...? (SMK) ini.
Alat seadanya
Sebelumnya saya sudah dari sebelum film KOiN jilid 2 pingin buat film seperti ini. Karena saya merasa kesulitan mencari cast. Tapi saat itu saya belum tahu teknik pembuatannya, jadi saya urungkan untuk membuatnya. Tapi untunglah saya menemukan tekniknya di Youtube dan mempelajarinya sendiri. Karena memang saya bukan orang film sungguhan, makanya proses belajarnya pun makan waktu agak lama. Selain mempelajari teknik pembuatannya, saya juga harus memikirkan jalan cerita yang memang cocok dijadikan untuk film ini. Lagi-lagi saya harus membuatnya sesederhana mungkin supaya banyak yang bisa mengerti maksud dari film ini.
Awal Pemberian Judul
Jadi crew sendiri
Intinya, saya mau ngirit cast jadinya kepikiran untuk meng "clone" pemainnya. Sebenarnya beberapa hari sebelum saya membuat ini, teman saya mengajak untuk membuat profil tentang dirinya. Tapi karena (maklum kami beda visi) schedule yang sering ngga cocok, akhirnya film itu ngga pernah dimulai. Karena saat itu semangat membuat film saya sedang tinggi, jadinya saya harus on the spot merubah rencana sebelum mood saya membuat film hilang. Dan akhirnya, cukup waktu 45 menit saya berhasil membuat jalan cerita untuk film yang baru. Sebenarnya judul yang saya buat itu bertujuan untuk mengkritik orang-orang yang bisanya hanya melakukan hal yang sama. Makanya judul yang saya buat : SAMA, Mana Keren...? . Maksudnya, kenapa harus sama? apa bagusnya? Buatlah sesuatu yang beda. Makanya, saya coba sesuatu yang beda sekarang. Walaupun ngga beda banget, tapi film kayak gini masih sangat jarang. Tapi rasanya banyak yang nonton film ini cuma untuk have fun, ngga diambil hikmahnya haha. Well, mau dibilang apa lagi?
Proses Shooting
Berduaan aja
Setelah selesai membuat script yang makan waktu seharian itu, tinggal cari cast yang cocok. Apakah saya harus pakai cast dari film Koin lagi? rasanya penonton juga akan jenuh kalau di cekokin pemain yang itu-itu lagi. Tapi saya butuh cast yang bisa memainkan beberapa karakter sekaligus. Dan saya teringat pemeran pembantu di film KOiN jilid 2. Ya, dia adalah abang saya sendiri, Angga. Kebetulan dia tinggal ngga jauh dari rumah, jadi bisa gampang di call. Setelah sedikit merayu dia untuk membantu saya dalam project film baru ini, akhirnya dia bersedia. Malah, saya juga bisa dengan leluasa menggunakan rumahnya untuk dipakai lokasi shooting. Wah, benar-benar 0 budget. Makin murah budgetnya, makin terasa keberhasilan saya dalam membuat film indie haha.
Motret juga sendiri
Liat tuh lampunya
Shooting dimulai jam 1 siang dan selesai tepat pukul 6 sore. Shooting kali ini benar-benar melelahkan, karena memang saya sengaja mengejarnya dalam 1 hari. Karena saya belum begitu pengalaman dalam membuat film clone, takutnya continuity ngga sama. Ditambah si pemain harus mondar-mandi ganti baju dan penampilan. Bukan cuma pemain aja yang sibuk, saya pun ngga kalah sibuk. Selagi pemain sibuk ganti baju, saya mempersiapkan alat, lampu, property dan komposisi object supaya enak dilihat di camera. Kami benar-benar cuma berdua untuk menggarap film ini. Bisa dibayangkan sibuknya kami saat itu?
Pegang lampu sendiri juga
Untungnya di film yang ini saya sudah terbiasa melakukan improvisasi on the spot. Selain itu saya juga sudah bisa membuat storyboard, jadinya sudah lebih matang. Tapi saya masih kurang sreg dengan gambar yang didapat, karena masih menggunakan camcorder yang sama. Tapi, saya harus akui, di film yang kali ini saya makin matang dalam membuat film.
Post Production
Setelah seharian kami berkutat di dalam rumah itu, saat itu juga saya mulai mentransfer ke laptop saya. Karena orang rumah penasaran dengan hasilnya, akhirnya saya tunjukkan hasilnya di TV. Materi masih mentah dan belum jelas jalan ceritanya. Mereka yang menontonnya sama sekali ngga mengerti saya mau buat film seperti apa. Sesekali ada pertanyaan : "Kok diulang-ulang terus sih?" haha, saya cuma bisa bilang : "Ini belum jadi, nanti aja lihat hasilnya ya, baru ngerti."
Proses editing = 5 hari
Karena kali ini bisa dibilang promotor nya berkurang, jadinya saya agak kesulitan untukmempromosikan film baru saya ini. Tapi syukurlah selain di Facebook, saya bisa promosi lewat Twitter, YouTube bahkan Kaskus. Seketika itu juga banyak yang mempertanyakan film baru ini. Apalagi saya membuat poster yang sengaja saya buat begitu supaya memancing pertanyaan banyak orang. Sepertinya film ini cukup berhasil, setidaknya masa promosi sudah menunjukkan hasilnya. Saya sengaja menuliskan "coming soon" di bawah poster karena saya juga belum tahu kapan saya bisa merampungkan film ini. Tinggal cari tanggal bagusnya. Saya buat film ini tanggal 15 November 2012, tepat di hari ulang tahun saya (ga penting). Rencananya saya mau menggunakan tanggal 12 Desember 2012 untuk premiere supaya bisa di tulis 12.12.12 tapi saya pikir terlalu lama, takutnya animonya sudah berkurang. Akhirnya saya percepat prosesnya, dan memberanikan menggunakan tanggal 2 Desember 2012. Kebetulan tanggal itu adalah hari minggu, kemungkinan banyak orang yang menonton. Untuk premiere kali ini saya mengundang para penonton melalui YouTube. Jadi dimulai tanggal 2 Desember 2012 (atau yang saya tulis 2.12.12) film SMK ini sudah bisa ditonton.
Dan, ternyata saya salah. Banyak dari mereka yang ngga nonton di hari pertama (hari Minggu). Jadinya di hari 1 cuma puluhan penonton. Melihat angka viewers yang sangat dibawah target ngga membuat saya putus harapan. Beberapa minggu sejak premiere saya terus promosikan film baru ini, dan reaksi penonton yang saya harapkan akhirnya saya dapatkan. Dalam 1 minggu sudah ada beberapa ratus views dan pertanyaan : "Ih, kok bisa gitu sih?" Yeah, that's what I mean! akhirnya ada juga yang bertanya begitu. Mulai saat itu makin banyak pertanyaan soal film itu, teknik pembuatan dan "kapan buatnya? kok ngga bilang-bilang?" haha...Surprise!
Padahal beberapa hari sebelum shooting saya sudah membuat teaser yang sepertinya banyak yang ngga memperhatikan maksud saya. Memang sih, kadang-kadang saya suka membuat hal iseng-iseng tanpa maksud tertentu. Tapi sekalinya ada maksudnya, malah mereka ngga memperhatikan haha... Ini dia teasernya. :
Mungkin dikira cuma iseng-iseng ga penting sampai promo ini wara-wiri di FB cuma lewat aja. Penontonnya pun ngga banyak. Dan setelah selesai proses shooting, langsung malam itu juga saya buat trailernya. Tapi karena badan sudah pegal semua, akhirnya butuh 2 hari untuk selesaikan trailernya, dan jadilah seperti ini :
Mulailah sejak trailernya bertebaran di FB dan Twitter, film ini sudah mulai ada peminatnya. Tapi sepertinya penonton kita ngga suka dikasih kejutan, makanya banyak yang bertanya "Itu filmnya tertang apa sih? Kok dia kaget pas buka pintu?" Justru disitu pancingannya, tapi beberapa orang tetap kekeuh bertanya : "Itu ada apa? yang main siapa?" Pertanyaan yang susah dijawab.
Dan inilah film yang membuat orang-orang bertanya itu. Selamat menyaksikan.
Credit Title : Angga Story, Camera, Editor, Producer, Director : Didiet Triquetra
Peralatan : Camera : Canon Legria FS 406 Lampu : Philips Sony Vegas Pro 11
Senang ya rasanya kalau hasil karya kita disukai banyak orang. Apalagi sampai dipuji sama banyak orang yang kita ngga kenal. Nah, rasa itu yang bikin saya semangat untuk buat film lagi. Tapi karena belum ada ide baru yang benar-benar fresh akhirnya saya putuskan untuk membuat sequel film Koin. Beresiko sih sebenarnya membuat film sequel. Antara berhasil atau malah gagal total. Untuk yang kali ini saya ingin lebih baik dalam pengambilan gambar dan komposisi ceritanya. Dari segi angle dan kepadatan cerita saya godok sampai dapat yang terbaik. Dari yang seri pertamanya saya cuma mengandalkan pemain dan improvisasi saya sendiri, kali ini harus lebih baik lagi sampai-sampai saya mulai membuatnya dalam storyboard. Saya lakukan hal ini karena tahu, sequel harus lebih baik dari seri pertama jadi penggarapannya haus lebih serius lagi.
Penulisan draft cerita cuma butuh +- 30 menitan saja, tapi penggodokan ceritanya butuh 2-3 hari. Kenapa harus digodok lagi? Karena saya ngga mau membuat cerita dengan durasi panjang tapi kurang berisi dan menghindari potong sana potong sini waktu editing. Jadinya hal-hal yang ngga perlu harus saya hapus dari jalan cerita. Setelah menulis dan melihat kemungkinan kesulitan dari film ini, akhirnya saya siap untuk eksekusi film ini.
Keterbatasan Pemain dan Alat
Canon FS 406
Persiapan sebelum shooting
Sepertinya masalah klasik ini masih harus menghantui saya. Dengan berbekal pemain dan alat seadanya saya harus putar otak supaya film ini tetal berjalan dengan cerita yang masuk akal. Enaknya mengangkat hal sederhana yang kita alami sehari-hari menjadikan film ini gampang diterima dan sebagai cermin buat si penontonnya. Masih dengan pemain yang sama (tapi bentuknya sudah agak beda) dan alat yang baru tapi kualitasnya masih sama dengan yang lama. Kali ini saya menggunakan kamera camcorder Canon FS 406 dengan SD card. Enaknya kali ini saya bisa langsung melihat hasilnya tanpa menunggu waktu editing, dan proses editing bisa lebih cepat karena ngga perlu proses converting dari analog ke digital.
Lokasi pas
One and only crew
Selain pemain dan alat, kru yang membantu saya juga sangat kurang, ya...cuma 1 orang. Dan perubahan lokasi harus saya putuskan karena waktu mau pakai lokasi banyak umbul-umbul produk rokok disana. Ternyata di dekat lokasi mau diadakan lomba, jadi pesan sponsor segede gaban terpampang disana. Ga mungkin saya pakai itu, karena akan banyak sensoran di gambar nantinya. Tapi untunglah ngga jauh dari situ ada halte yang ternyata lebih bagus posisinya. Dan kami langsung putuskan pakai lokasi itu.
Proses Yang Cepat
Harus pake handy talkie
Kami cuma membutuhkan waktu 2 hari untuk proses shootingnya. Mungkin saya sedang beruntung kali ini, karena cuaca yang sangat mendukung dan lokasi yang strategis. Di hari pertama kami shooting dari pagi (jam 9) dan mendapati halte bus yang ngga ramai, malah cenderung sepi. Benar-benar sesuai harapan. Ditambah cuaca cerah jadi bisa meyakinkan penonton kalau itu siang hari jam 14. Di lokasi halte kami cuma butuh +- 2 jam 30 menit. Kami sungguh bersenang-senang di pembuatan film ini. Kenapa di scene yang cuma butuh waktu +-3 menit ini butuh waktu begitu lama? Karena saya mau gambar dan angle sempurna, jadinya saya harus rela menyuruh talent saya berpanas-panas ria untuk sekedar mengulang adegan. Malah di adegan berjalan di sepanjang jalan, saya harus sekali lagi tega menyuruh talent saya mengulang jalannya kalau posisinya ngga sesuai. Apalagi posisi lokasi agak jauh dari pengambilan gambar jadi kami harus menggunakan handy talkie untuk komunikasi. Tapi sekali lagi saya ingatkan, kami bersenang-senang di shooting kali ini.
Makan siang dulu yuk
Selesai shooting scene halte, kami putuskan untuk break sejenak karena sudah siang dan melanjutkan ke scene kamar. Di scene ini agak lama karena mungkin ini rumah, jadinya kami lebih banyak leha-leha nya haha. Tapi tetap namanya project harus dikerjakan dengan cepat dan serius. Sekitar 2 jam scene ini selesai. Untunglah scene ini dilakukan di dalam rumah, jadinya camcorder saya bisa merekam sambil nyolok ke listrik haha.
Scene terakhir ada di hari ke 2 di minggu berikutnya karena talent yang lainnya harus menunggu hari libur kerjanya. Untunglah saya mendapat lokasi yang lagi-lagi strategis. Cukup melangkah beberapa meter dari rumah saya, sudah dapat lokasi tempat photocopy ini. Dan terus terang, budget terbesar cuma saya keluarkan untuk scene ini. Ya, saya harus rela membayar lokasi ini (ngga diminta sih) sebesar Rp.25.000 kepada pemilik tempat sebagai ucapan terimakasih sudah boleh mekai tempatnya. Karena si pemilik berpikir ini project sekolah, dia agak sungkan menerimananya, tapi saya sudah niat kok mau ngasih walaupun seadanya haha. Dan tanpa beban, kami selesaikan shooting di hari ke 2 ini selama 2,5 jam.
Post Production
Proses edit Trailer
Dan inilah proses yang cukup menyenangkan sekaligus mendebarkan selama project film. Selain harus mengedit sesuai bayangan saya, film ini juga harus di promosikan. Malam setelah shooting hari terakhir saya langsung mentransfer semua file video ke laptop dan segera membuat trailer. Promosi itu paling penting karena bisa menentukan jumlah penonton film kita nantinya. Supaya penggemar film Koin ikut terlibat, tiap jam saya posting beberapa bocoran di FB dan twitter. Ternyata cara ini berhasil membuat beberapa pembaca penasaran. Mulai dari foto waktu shooting, foto property yang dipakai, sampai potongan dialog yang di pakai di film ini.
Jenis promo ini saya terapkan beberapa minggu sebelum premiere
Senang rasanya dapat respon positif dari teman-teman yang mendukung film ini. Hingga setelah beberapa hari kemudian saya sudah selesai membuat trailer film KOiN jilid 2, makin banyak pula yang menanyakan kapan film ini diputar dan dimana gala premiere nya? Tiba-tiba saja saya berpikir "Hah? Gala Premiere? Waduh, siapa yang mau jadi produsernya nih?" haha. Dan untunglah ada salah satu teman kami yang berkenan untuk dipakai rumahnya untuk diberantakin dipakai untuk Gala Premiere.
Trailer KOiN jilid 2
Undangan Gala Premiere
Format DVD juga ada hehe
Selain menyebarkan undangan di FB, saya juga memposting film ini di YouTube di hari berikutnya. Intinya Gala Premiere ya pasti orang pertama yang nonton dong. Dan dilihat dari popularitasnya, sepertinya KOIN the Movie masih menang telak dari sequelnnya. Inilah kenyataannya, saya harus terima. Memang membuat sequel itu beresiko, tapi hey, just relax, ini untuk have fun aja kan? Tapi setelah beberapa minggu film ini wara-wiri di postingan FB, banyak juga yang menanyakan "Apakah film berikutnya Koin jilid 3? atau mungkin judul baru?" Well, ini baru beberapa minggu lho, biarkan saya menikmati moment jadi sutradara-sutrada-an dulu deh, baru berpikir bikin film lagi haha. Tapi nyatanya saya ini orangnya memang gampang di semangatin. Baru ditanya begitu, walaupun sebenarnya saya masih belum mau buat film lagi, tapi ide-ide baru langsung muncul. Ah, please brain, let me relax for a while, okay?
Calling Entry Solo Film Festival 2012
Masuk di Ofiicial Fan Page Frozz
Buat yang belum pernah nonton filmnya, sok di monggo liat filmnya disini. Tenang aja, GRATIS kok :)
Credit Title : Bembeng, Angga, Adhitya, Ruri
Voice Over : Angga, Shella .V
Ass. Director : Indah Prameswari Story, Camera, Editor, Producer, Director : Didiet Triquetra
Mungkin ini salah satu genre film yang cocok untuk saya buat. Bukan berarti menutup genre lain yang bisa saya buat, tapi sepertinya untuk permulaan membuat genre komedi terasa lebih nyaman untuk saya. Sebenarnya, saya lebih menyukai film genre action, sci-fi dan mistery tapi sepertinya untuk saat ini genre komedi saja dulu karena hanya membutuhkan ide dibanding property yang pastinya membutuhkan lebih banyak budget daripada ide saja.
aktor-director-ass.director
Berawal dari melihat hal kecil sehari-hari yang saya buat menjadi lebih kompleks. Saya melihat sebuah koin yang mungkin saat ini dipandang sebelah mata atau mungkin sudah ngga ada yang peduli lagi. Tapi sebenarnya dari hal yang kecil ini bisa menghasilkan sesuatu yang besar. Dan coba-coba tulis sedikit, malah berlanjut jadi cerita yang kompleks. Ditambah lagi referensi dari film pendek yang pernah saya tonton sebelumnya menjadikan kumpulan cerita yang akhirnya bisa dirangkum menjadi film ini. Apalagi saya bertekad untuk selalu membuat film se-low-bugdet mungkin. Cuma bermodal koin 500perak dan beberapa lembar uang ribuan kertas sepertinya bukan halyang sulit. Hingga akhirnya saya memulai mencari pemain yang cocok untuk memainkan film ini.
Minjem teras tetangga
Bembeng pernah bermain di film "6" sebagai pemeran pembantu. Karena saya melihat semangatnya untuk membuat film dan ditambah saat itu cuma dia yang punya kamera (wah, ketahuan deh akalnya) akhirnya dia calon kuat pemain film ini. Berbekal property dan lokasi yang gampang didapat dan bantuan dari teman-teman yang juga semangatnya masih tinggi akhirnya produksi ini dimulai.
Cuma butuh 3 hari untuk proses shooting. Itupun karena kehabisan baterai dan cuaca yang kurang baik tapi kami tetap semangat mengerjakannya. Dengan bersenjatakan camcorder mini dv jadul, tripod (agak seret) dan 3 orang crew kami mondar mandir di lokasi yang jaraknya cuma disitu-situ saja. Tapi karena trik kamera jadi seolah jalanan yang ditempuh itu jauh sekali, haha.
Untuk lokasi teras rumah, kami terpaksa meminjam teras rumah tetangga bembeng untuk lokasinya dan harus buru-buru karena ngga enak kalo dipake lama-lama. Unungnya mereka baik, malah sempat tanya "kapan shooting lagi? shooting di dalam rumah juga boleh kok" haha.
Untuk yang penasaran dan belum nonton filmnya, sok mangga atuh ditonton film nya...
Gimana? ancur? lucu? norak? terserah apa aja penilaian kamu tapi yah, itulah hasilnya. Dan alhamdulillah film norak ini sudah ditonton lebih dari 1000 kali di YouTube (saya aja ngga percaya tapi percayalah). Mungkin kalo saya ngga ikut sertakan film ini di Hellofest 7 dan KasKus Fovie ngga akan ditonton lebih dari 1000 kali. Malah yang lebih membanggakan lagi film ini sempat dibahas di satu koran di Yogyakarta yang kebetulan meliput acara KasKus Fovie. Jujur aja waktu ngeliat ini langsung merinding, nyut-nyutan, panas dingin, meriang (lebay ah..). Apalagi beberapa hari setelah diketahui pemenang KasKus Fovie tahun 2010 lalu (walaupun film ini ga menang) ada satu blog yang menulis kalo harusnya film ini setidaknya masuk di juara 3. Memang kebetulan saat itu tema dari fetival film ini : Pahlawan. Sebetulnya sih ga nyambung sama filmnya, tapi karena memang mau ikut-ikutan aja, makanya film ini yang saya ikut sertakan. Ini sedikit screenshot dari blog yang nulis film ini. Terimakasih untuk pemilik blog ini yang sudah menghargai karya saya ini (lihat blog aslinya di : http://ulasansingkat.wordpress.com/2011/11/13/lomba-film-pendek-online-forum-movies-kaskus/
Dan seperti biasa beberapa bulan setelah film ini menyebar di internet, teman-teman pendukung meminta melanjutkan untuk membuat film sejenis. Dan akhirnya saya membuat sequel film ini yang berjudul KOiN jilid 2.Foto-foto behind the scene bisa dilihat klik disini
Credit Title : Bembeng, Kiki & Diki (pengamen), Bang Bodong (supir angkot)
Ass. Director : Indah Prameswari Story, Camera, Editor, Producer, Director : Didiet Triquetra
Untuk sebagian orang yang belum tau, saya mau kasih tau dulu kalo film pertama saya yang benar-benar saya publish dan ikutkan di festival film adalah film 6 ini. Film ini adalah film pertama saya yang sekaligus dengan "nekat" nya saya ikutsertakan di GANFFEST (Ganesha Film Festival) di Bandung yang diselenggarakan oleh Universitas ITB.
Kalo melihat sekilas dari posternya, kira-kira udah ketangkap belom genre film ini apa? Kalo kamu jawab film mistery, berarti ga salah saya memilih poster ini. Proses pemilihan poster ini adalah melalui voting di FB yang akan saya ceritakan nanti.
Sinopsis dari film ini : Icha (Rissa Narulita) mengalami hal aneh setelah mendapatkan mimpi buruk. Fenomena ini membuat hidupnya menjadi terusik hingga ankhirnya Ia mendapatkan jawabannya sendiri tepat dihadapannya.
Sayang sekali film ini ngga bia di share di YouTube karena keterbatasan limit waktu yang disediakan cuma 10 menit (durasi film 20 menit). Tapi kita masih bisa lihat trailernya di Youtube.
Calling Entry
Karena film pertama, jadi saya ngga muluk berharap menang di festival. Bisa masuk nominasi saja sudah prestasi untuk saya. Walaupun saya ngga dapat keduanya (pemenang & finalis) setidaknya saya dapat undangan malam award nya di salah satu Hotel (maaf saya lupa namanya) di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Begitu masuk calling entry dan mendapat undangan via e-mail, saya langsung minta cuti dan siap-siap menuju Bandung dengan budget seadanya.
Sedikit info, film ini diproduksi selama 3 minggu. Kenapa segitu lama? karena kami cuma punya waktu shooting setiap sabtu dan minggu dari pukul 10 pagi sampai jam 5 sore. Ditambah proses shooting dikerjakan pada bulan Ramadhan dan semuanya sedang puasa. Walaupun hasilnya kurang maksimal dari semua sisi (pemain, alat, dan lokasi) tapi setidaknya saya puas dengan pencapaian yang didapat saat itu. Saya jadi mulai berpikir bahwa, membuat film independent (yang notabene minim budget) tidak bisa menuruti skenario yang rumit.
Kalau tidak merasakan sulitnya membuat film, jadi kurang seru pastinya. Tapi bukan berarti kita mencari-cari kesulitan. Tetap membuat film low budget dengan cara yang masuk akal. Justru memutar otak supaya low budget dan terhindar dari kekurangan itu tantangannya. Apalagi dibantu temen-teman yang dengan rela membagi waktunya membantu pembuatan film ini. Walaupun sayang, mereka tidak bisa hadir di malam awardnya. Oh iya, selain saya ingin berterimakasih untuk teman-teman yang membantu proses produksi, saya juga ingin berterimakasih untuk teman-teman yang dengan senang hati memilih poster yang cocok untuk film ini. Kenapa kami adakan voting poster? karena saya sebenarnya masih bingung menentukan seperti apa posternya, dan juga sedikit banyak untuk ajang promosi untuk film ini. Mau tau seperti apa saja poster yang harus dipilih? klik disini.
Dan akhrnya karena satu dan lain hal, akhirnya saya membuat penyatuan dari design yang ada dan dibuat sesimple mungkin. Hasilnya seperti yang kita lihat di awal tulisan ini.
Credit Title : Rissa Narulita - Reza Moerai - Syachri - Bembeng - Yuanita - Efi Sri Handayani Cameraman : Bembeng Ass. Director : Efi Sri Handayani Producer : Rissa Narulita Story, Editor, Music, DOP, Director : Didiet Triquetra
Pertama kali membuat video cover saya mencoba dari yang mudah dulu. Tapi mudah disini bukan berarti memainkan musik yang gampangan. Memang sih lagu Sounan yang dibawakan Tokyo Jihen ini kurang populer di dengar masyarakat awam. Malah saya juga baru mendengarnya sekitar 2 bulan sebelum saya memutuskan untuk membuat video covernya. Idenya sih karena pada suatu malam saya lagi browsing lagu di YouTube, tapi yang keluar malah music cover dari fans. Karena saya pikir saya bisa melakukan lebih baik dari orang yang di video itu makanya saya mulai pelajari 1 lagu yang mau saya jadikan video covernya. Setelah mencari-cari lagu yang cocok, entah kenapa saya malah memilih lagu ini.
Setelah latihan 2 hari akhirnya saya beranikan merekamnya. Berbekal peralatan yang seadanya saya mulai merekamnya. Butuh waktu sekitar 5-6 kali take dan lebih dari 30 menit untuk membuatnya. Mau tau seperti apa sih jadinya? cek video dibawah ini.
Gimana? Mau coba buat juga? Untuk yang pertama kali ingin membuat video music cover saya kasih tips nya ala saya klik disini ya
#Peralatan yang dipakai : Camera : iPod Nano 5G Keyboard : Yamaha PSR-740 Sound recorder : NG Wave Video Editing : Pinnacle 9.0