Minggu, 30 Juni 2013

Hal Aneh yang Menimpaku 25 Juni Lalu

Ulang tahun, tidak menyangka itu juga terjadi padaku. Ternyata aku juga bisa ulang tahun! Ada banyak sekali yang mengucapkan "HBD" di wall facebook, bahkan hingga sulit membalasnya satu-satu. Beberapa teman dekat juga mengirim ucapannya lewat pesan singkat.

Aku belajar banyak hal pada peristiwa langka ini. Di antaranya, orang yang ulang tahun itu harus berharapkan bisa lebih baik lagi daripada usia sebelumnya, lebih serius kuliah, jualan tambah laris, rezeki tambah banyak, ibadah lebih rajin, dan yang pasti lebih dewasa.
Orang ulang tahun juga diharapkan mentraktir makan teman-temannya, tak peduli itu bulan muda atau bulan tua. Beruntung teman-teman yang memintaku mentraktir itu jauh-jauh semua, jadi ada alasan untuk mengelak. :)
Aku juga belajar bahwa ketika ulang tahun, yang paling kamu pikirkan bukanlah siapa yang memberimu ucapan ulang tahun, melainkan siapa yang tidak. Kamu berharap beberapa orang tertentu mengucapkan selamat, namun ternyata tidak. Ulang tahun memang aneh.

Minggu, 23 Juni 2013

Have a Good Time In Yogyakarta (Day 3)

Dan akhirnya sampai juga di hari terakhir petualangan kami di Yogyakarta. Seperti janji saya dari awal ke teman-teman yang lain : Kalau mau belanja di hari terakhir aja. Dan terjadilah "balas dendam" belanja. Kami mulai keluar kamar hotel menuju pasar Beringharjo untuk belanja pada jam 9.30 pagi. Agak telat untuk sarapan, tapi ya sudah lah. 

Makan sarapan sekaligus makan siang di Malioboro, kami memilih rumah makan yang menjual gudeg. Entah memang sudah kecanduan gudeg atau memang doyan? Seperti biasa, parkir disini harus extra usaha. Selain tempatnya terbatas, areanya juga sempit. Masih lebih baik dibanding cari parkir di Kuta, Bali. Untunglah para penjaga parkir disini sangat ramah, jadinya kami lupa kalau cari parkir disini susah. Ngga tau apakah karena mereka sedang melayani turis, atau memang beneran baik ya? Karena sepanjang kami lewat dan berbelanja disana semua penjaganya baik hati dan murah senyum. Memang sih ngga semuanya, ada juga beberapa penjual yang agak judes, tapi sepanjang jalan masih lebih baik orang-orangnya.


Belanja Gila-Gilaan.
Kalau belanja disini harus jaga iman, karena biarpun kelihatannya murah meriah tapi kalau over budget bisa masalah juga nantinya. Seperti yang saya alami, untuk budget belanja saya pikir 150ribu saja sudah cukup, tapi ternyata saya harus mengorek lebih dalam isi dompet saya (ngga di korek sih, yang bnernya ambil di atm haha). Over budget 200ribu, jadi total saya keluar hampir 350ribu saya keluarkan untuk sekedar belanja oleh-oleh. Jadi budget total saya yang saya perkirakan cuma habis 500ribuan, harus keluar 750ribu. Wah, rugi bandar haha. Tapi tetap aja saya puas dengan perjalanan kali ini, karena kurang dari 1juta Rupiah (sudah termasuk tiket kereta PP, hotel 2 malam, makan dan belanja) saya bisa menikmati petualangan yang tak terlupakan. Di tambah lagi bersama teman-teman yang memang sehati.

Kembali ke belanja, jangan lewatkan beli panganan khas Yogyakarta ; Bakpia pathuk. Harganya berkisar 25-28ribuan, tergantung merknya. Selain bakpia ada juga wingko babat, dan  lainnya. Belanja kali ini benar-benar melelahkan, karena banyak toko yang kami datangi dan berusaha mendapatkan harga terbaik (bilang aja ngga mau rugi haha). Sekedar tips untuk belanja di pasar Beringharjo, seperti hal nya belanja di pasar tradisional lainnya tawarlah harga setengah harga dari harga yang diberikan. Walaupun agak lama bertransaksi, tapi justru disinilah seni belanja yang sebenarnya. Tapi jangan sampai kalap kalau dapat harga murah, nanti bisa beli yang ngga perlu.

Pulang Menuju Jakarta
Blangkon Hotel - Jl. Prawirotaman No. 17
Setelah kelelahan belanja berkeliling jalan Malioboro dan beli bakpia pathuk langsung di pabriknya, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 15.30 waktunya kami bersiap menuju stasiun kereta karena kereta kami berangkat pukul 18.00. Kami masih harus kembali ke hotel untuk mengambil barang kami dan segera ke stasiun. Untunglah hotel yang kami tempati sangat pengertian dengan kami. Karena barang bawaan kami banyak dan harus check out pukul 14.00, kami minta titip barang kami, dan mereka mengizinkan tanpa dipungut biaya. Asiknya lagi, semua barang bawaan kami disimpan di 1 kamar, dan kami boleh menggunakan fasilitas kamar itu selama barang kami titip, wah makasih mbak resepsionis (yang ngga mau menyebutkan namanya, panggil saja Bunga). Untuk rasa terimakasih kami, saya meminta semua petugas hotel untuk berfoto bersama kami di luar hotel. Padahal saya sudah bilang mau tulis ulasan hotel ini ke blog saya (dan terbukti kan?) tapi mbak Bunga tetap ngga mau diajak foto, jadinya petugas yang lain ikut-ikutan ngga mau deh. Ya sudah, kami numpang foto aja di depan hotel.

Selesai foto, mengambil barang, kami pun pamit ke semua petugas hotel. Sudah seperti keluarga dan sahabat aja kami selama 3 hari ini. Untuk perjalanan berikutnya kalau mau ke Jogja lagi, saya fully recommended ke hotel ini. Nama hotelnya Blangkon Hotel, Jalan Prawirotaman No. 17. Untuk kamar rombongan yang non AC harganya 40ribu (45ribu high season) dan 75ribu AC. Semoga harganya ngga naik kalau kita kesana lagi haha.

Menunggu kereta datang (Stasiun Tugu)
20 menit kemudian kami sudah sampai di Stasiun Tugu menggunakan motor sewaan kami. Kok bisa ke stasiun bawa motor sewaan? itu lah enaknya di hotel ini, semua bisa diatur. Tinggal bilang ke penjaganya kita akan pakai sampai stasiun, mereka mengijinkan. Yah, kasih sedikit tips aja biar semua senang, beres kan? Kira-kira sampai stasiun jam 17.00 itu artinya tinggal sejam lagi kami berangkat kembali ke Jakarta. Menunggu kereta di peron sambil bercanda dengan teman-teman itu seru banget. Sayangnya moment seperti ini ngga bisa didapat setiap hari, apalagi kalau jalan-jalan seperti ini jadi harus dinikmati selagi bisa. Ternyata bukan cuma kami aja yang pulang serombongan, banyak juga yang akan kembali ke Jakarta dengan rombongan masing-masing. Untunglah kami masih kebagian tiket.

Jam 17.45 kereta sudah datang, kami langsung berhamburan menuju kereta mencari kursi masing-masing sesuai nomor tiket. Memang energi teman-teman saya ini ngga ada habisnya, karena selama perjalanan mereka masih aja ketawa ketiwi, main kartu, mondar-mandir. Tapi akhirnya mereka tepar juga setelah jam menunjukkan pukul 23.00. Mungkin karena sudah bosan juga. Gimana ngga bosan? perjalanan 8-9 jam.

Welcome Home to Jakarta.
Stasiun Senen sudah tampak di jendela kereta kami, saatnya kami pulang. Jam 3.20 pagi kami sampai di stasiun Senen Jakarta. Dan sampai di stasiun Senen lagi lah kebersamaan ini harus selesai. Kami pun kembali ke tempat tinggal masing-masing. Ada yang dijemput pacaranya, ada yang naik taksi, ada juga yang naik angkot termasuk saya haha. Sungguh perjalanan 5 hari (Kamis malam sampai Senin Pagi) yang takkan terlupakan. Kota Yogyakarta yang membuat kangen (malah saya buat tulisan ini sudah pingin kesana lagi haha), dan teman-teman yang super. Bisa ngga kita ulangi moment seperti ini lagi? Semoga... Secepatnya... :)

Mau lihat serunya? Nonton ini dulu ya :

Credit Title
Tim Plesir :
Wahyu - Liya - Nia - Haya - Novan - Indra - Wijaya - Feybert - Ria - Heny - Didiet

Special Thanks to
Additional :
Tea - Miko

Minggu, 16 Juni 2013

Have a Good Time In Yogyakarta (Day 2)

Kurang tidur karena semalaman di kereta & jalan seharian di hari 1, saya pikir akan membuat semuanya bangun kesiangan. Tapi ternyata nggak! Mereka udah pada bangun dan siap "tempur" lagi jam 7 pagi. Gilak! para pecinta liburan ini emang ga ada matinya. Setelah semua sudah bangun, kami ngobrol dan review lagi jalan-jalan kemarin. Karena ada beberapa dari kami yang memutuskan untuk mengunjungi tempat lain, akhirnya kami jadi tau apa aja yang seru ditempat lainnya. Tapi hari ke 2 ini kami sudah sepakat untuk konvoi bersama menuju taman nasional Gunung Merapi dan diteruskan menuju Candi Mendut dan Candi Borobudur. 

Petualangan Dimulai Lagi!
Perjalanan dimulai jam 8.15 pagi, kami sudah siap di depan hotel. Dengan bermodalkan tumpangan masing-masing (motor sewaan) kami siap untuk konvoi hari ini. Sebelumnya kami sempatkan untuk sarapan di depan Pasar Bringharjo. Pecel lontong dan teman-temannya rasanya enak banget pagi itu. Apakah memang beneran enak atau memang kami lagi lapar banget ya? Pecel lontong ditemani es teh manis paduan yang ajib, sayang saya lupa harganya, tapi tenang aja, masih dalam level aman (alias murah) kok.

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan. Awalnya masih bingung karena belum tau darimana kami mulainya? Karena kami juga ngga tau jalan menuju kesananya. Dan... lagi-lagi GPS dan HP butut saya berjasa banget kali ini. Tinggal tunjuk tujuan, dan udah ketauan jalur mana aja yang harus kami ambil menuju taman nasional Gunung Merapi. Karena saya yang pegang setir (supir kalee..) jadinya Nia (teman saya) yang jadi navigator, walaupun beberapa kali salah baca arah peta (haha, sorry ya Nia). Modal GPS dari HP butut dan navigator pemula, semua teman-teman yang konvoi ikut di belakang kami. Wah, kalo nyasar bisa berabe nih haha. Tapi untunglah warga Yogyakarta itu baik banget, karena pada satu tempat GPS saya ngga berfungsi (mungkin sinyalnya putus) dan harus bertanya ke orang lain. Saking baiknya, dia sampai rela menunjukkan jalannya. Wah, makasih yah bu.. 

Bukan itu aja, untunglah Nia bisa menghubungi temannya yang tinggal di Jogja yang bersedia untuk mengantar kami. Dengan janjian di Universitas Gadjah Mada, kami lanjutkan perjalanan, tapi kali ini full speed haha. Kelihatannya alam lagi ngga bersahabat pagi itu, karena langit makin lama makin gelap dan awannya makin tebal. Sepanjang jalan kami berharap supaya ngga turun hujan. Tapi... benar juga, alam lagi ngga bersahabat, jadinya kami harus beberapa kali menepi supaya ngga kehujanan. Tapi memang dasarnya petualang sejati semua, ngga mau kalah sama alam akhirnya kami putuskan tetap jalan walaupun pakai jas hujan. Naik gunung, "agak" ngebut, hujan-hujanan, rame-rame, benar-benar hal yang nga bisa dilupakan. Rasanya boleh kapan-kapan kita coba lagi ya guys! haha...

Taman Nasional Gunung Merapi
Sampai di dekat gunung merapi, kami berhenti sejenak di lereng sebelah kiri jalan. Ngga tau namanya apa, tapi pemandangannya Amazing banget. Karena jalannya basah setelah hujan, beberapa teman saya ngga berani turun sampai ke ujung lereng. Kalo saya sih, emang dasarnya suka yang beginian jadi hajar terus haha.  Kami cuma berfoto-foto di sekitar lereng lalu melanjutkan perjalanan yang masih +-1km lagi untuk sampai ke taman nasional gunung merapi. Setelah sampai, saya agak kecewa, kok gini ya? Kenapa saya bilang "kok gini ya?" kaerna setiap jengkalnya jadi daerah komersil.

Mulai dari masuk kompleks taman nasional, kami sudah di cegat untuk bayar masuk (lagi-lagi saya lupa harganya...maaf ya), lalu harus rela memarkirkan motor kami di depan yang berarti kami harus berjalan kaki untuk meneruskan perjalanan. Untuk naik keatas kita harus berjalan kaki yang +-2km baru sampai ke museum gunung merapi, atau menyewa motor trail seharga RP.50ribu atau mobil Jeep seharga Rp.650ribu. Awalnya kami memutuskan untuk jalan kaki saja, tapi lagi-lagi hujan turun lebih deras. Kami menunggu sampai hujan reda sambil makan siang di warung sekitar situ. Tapi rasanya sudah ngga ada waktu lagi, kami pun mengurungkan niat untuk naik keatas. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.30, dan kamipun balik badan bubar jalan.

Menuju Candi Borobudur
Untuk mengejar waktu ke Borobudur yang masih +-40km lagi, akhirnya kami tinggalkan gunung merapi dengan kekecewaan. Untunglah cuaca sudah agak lebih baik dan kami langsung memacu motor kami. Tampaknya perjalanan kembali dari gunung merapi lebih harus berhati-hati, karena jalanannya cenderung turunan tajam yang membuat motor kami ngacir lebih cepat. Perjalanan kami bisa lebh cepat karena sepertinya jalan terlihat lengang, atau mungkin teman Nia (namanya Miko) menunjukkan kami jalan pintas ya? Jalan yang kami lalui terlihat banyak kebun salak di kiri dan kanan. Pasti sudah tau kelanjutannya kan? Ya, kami berhenti sejenak untuk membeli salak haha. Saya pun sesekali makan salak "sample" gratisan dan mbok nya, lumayan...enak...gratis lagi... 

Ngga jauh dari perjalanan setelah membeli salak, hujan harus turun lagi. Kampiun memutuskan kembali memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan. Hujan, terang, hujan, terang, cuaca yang labil. Makin mendekati jalan Borobudur, jalan makin macet. Dan hal yang ngga saya inginkan terjadi, terpisah dari konvoi (Aduuuh!!) Tapi naluri "supir" saya langsung on dengan cara mengikuti petunjuka jalan, mudah-mudahan ngga kesasar.  Ditambah lagi ada jalan alternatif ke Borobudur yang ditunjukkan warga sana. Sampai beberapa ratus meter mengikuti jalan, kami masih terpisah dnegan teman-teman kami. Akhirnya sang GPS pun turun tangan. Ternyata jalan yang kami ambil sudah benar, tapi kok masih belum ketemu teman-teman yang lain ya? Berinisiatif menelpon "kawanan" yang lain, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di Candi Mendut. Kira-kira 20 menit kemudian akhirnya kami bertemu lagi. Makin dekat dengan kawasan Borobudur membuat kami makin semangat, karena akhirnya kami sampai juga.

Di depan pintu Borobudur, jalan makin padat. Ternyata ratusan bahkan ribuan orang berebut masuk ke dalam Borobudur untuk mengikuti jalannya perayaan Waisak. Wah, ternyata orang sedunia datang kesini semua. Memang bisa dibilang Borobudur ini Ka'bah nya orang Buddha. Setelah mendapatkan tempat parkir (yang susssssah banget dicarinya) kami langsung menuju pintu masuk utama. Banyak polis berjaga-jaga di depan pintu masuk. Ternyata pintu masuk sudah ditutup untuk umum, cuma peserta ritaul aja yang boleh masuk lewat sana. Tanpa pikir panjang lagi kami langsung mencari pintu lainnya. Dan, sudah bisa diduga, ribuan orang sudah mengantri di pintu yang sama. Kami mengantri seperti mengantri nonton konser. Ditambah dikiri dan kanan kami banyak orang yang berbeda bahasa ngomong berbarengan. Ada bahasa Jawa, Jakarta, Inggris, Jerman, Jepang, Mandarin. Wah, serasa nonton konser beneran haha.

Berdesak-desakan seperti ikan teri di kantong plastik, saling dorong tapi untungnya masih tertib. Ditengah antrian hujan rintik rintik mulai turun, what a perfect situation. Tapi karena ditengah kerumunan orang banyak, jadinya gerimis pun ngga berasa. Bisa dibayangkan, untuk melewati 1 pintu kami harus rela mengantri selama 30-40 menit. Dan pintu yang harus dilewati ada 3, ya ngga salah liat, ada 3. Mulai antri jam 17.00, kami sampai di dalam jam 19.15. Harap-harap cemas semoga hujan ngga turun lebih deras lagi, karena tujuan kami kemari di malam hari cuma untuk menyaksikan pelepasan 1000 lampion. Setelah menunggu lama (kerena Menteri Agama telat datang, tipikal orang Indonesia) akhrinya acara ditunda sampai pak Menteri datang. Dan...lagi-lagi hujan mulai rintik-rintik lagi sampai deras. Payung mulai bermunculan di tengah kerumunan membuat kami ngga bisa melihat ke depan. Kami yang masih penasaran masih bertahan di tengah lapangan manusia. Hujan yang makin deras sepertinya ngga ada tanda untuk berhenti. Beberapa dari kami mulai mundur hingga akhirnya ngga ada yang sanggup bertahan lagi. 

Di tengah hujan kami keluar dari kompleks Borobudur. Ngga pakai payung, ngga pakai jas hujan, kami menuju pintu keluar yang jaraknya +-1km. Basah luar dalam (bener-bener sampai dalam haha). Setelah insiden mandi hujan itu, kami putuskan untuk makan yang hangat-hangat, Mie Bakso jadi pilihan. Makan lahap karena perut lapar setelah jalan jauh & kehujanan. Setelah sudah siap untuk pulang, akhirnya kami segera meninggalkan Borobudur, lagi-lagi dengan kekecewaan.

Perjalanan Pulang Yang Menegangkan
Sampai kami pulangpun hujan masih deras. Perjalanan ditangah hujan di tengah malam saja sudah cukup menegangkan. Tapi yang ini, Pulang malam hari, hujan, kecepatan 60km/jam (kalo ngga segini bisa ketinggalan), ngga tau jalan ditambah angin yang kadang bertiup kencang. Mungkin kalo cuma ngebayangin biasa aja, silahkan dicoba deh haha. Yang bikin makin susah, saya harus membuka mata waktu ngedarain motor disaat air hujan masuk kemata dan tiupan angin menerbangkan jas hujan kami. Jalan gelas banget, bagaimana kalo ditengah jalan ada lubang? duh, ngga kebayang deh.

Perjalanan 1,5 jam rasanya 1,5 hari (agak lebay sih). Hati mulai tenang waktu melihat tulisan "Selamat Datang di kota Yogyakarta". Ditambah hujan sudah berhenti, akhirnya cobaan itu lewat juga haha.. Sesampainya di hotel, langsung pada berebut untuk pakai kamar mandi. Baju basah membuat mereka ngga betah pingin segera mandi. Tapi jangan kira setelah sampai hotel mereka mandi langsung tidur, ternyata masih ada juga yang masih sanggup untuk nonton Final Liga Champion, haha edan. Saya pun diajak untuk mencoba minum susu jahe di angkringan dekat hotel. Saya pikir cuma sebentar, Ok lah, tapi ternyata kami lupa waktu sampai pukul 3.15 pagi haha.

Segera kembali ke hotel dan berbaring di tempat tidur, ahhh surga dunia. Dan beberapa menit kemudian saya sudah kealam mimpi haha.

Mau lihat serunya perjalanan kami? Lihat video berikut ini

Keseruan masih berlanjut di Hari 3. Baca terus yuk...

Kamis, 13 Juni 2013

Cara Mengetahui Apakah Seseorang Teman Sejati Anda

teman sejati
Apakah dia benar-benar perhatian pada Anda? Apakah dia setia? Apakah dia hanya berpura-pura menyukai Anda? Terkadang, kita sulit mengetahui seseorang benar-benar merupakan teman sejati ataukah hanya berpura-pura menjadi teman kita. Tetapi, Anda tidak akan lagi membuang waktu untuk hubungan yang tak berguna atau hubungan yang hanya menguntungkan salah satu pihak. Dengan rahasia-rahasia psikologis berikut ini, Anda tidak akan sangsi lagi apakah dia benar-benar perhatian pada Anda ataukah hanya mementingkan diri sendiri. Anda dapat selalu mengetahuinya, setiap saat. Mungkin, inilah saat yang tepat untuk mengingatkan Anda bahwa pertemanan adalah dasar bagi setiap hubungan. Jika Anda berteman seseorang yang tidak lulus tes ini, maka hubungan Anda dengannya kemungkinan tidak berjalan dengan baik.

Enam Tes Penting untuk Mengetahui Apakah Seseorang adalah Teman Sejati


- Perhatian
Salah satu kriteria penting dalam menilai seorang teman adalah seberapa perhatian dia pada kehidupan Anda. Katakan padanya hal penting yang terjadi dalam hidup Anda dan lihatlah apakah dia menanggapi dan mencari tahu lebih jauh. Jika dia tidak melakukan hal itu, maka hubungi dia lagi dan lihatlah apakah dia menyinggungnya. Terakhir, jika dia tidak menyinggungnya, berilah isyarat tentang hal itu dan lihatlah apakah dia mengingat percakapan Anda sebelumnya tentang hal itu ataukah tidak.
- Kesetiaan
Ceritakan padanya rahasia seorang teman dekat Anda dan lihatlah apakah dia berkomentar ataukah tidak. Seorang teman sejati mengetahui arti kepercayaan dalam sebuah hubungan. Pastikan bahwa dia tampak keberatan karena Anda telah menceritakan rahasia seorang teman pada orang lain.
- Kebanggaan
Siapa pun dapat menghibur kesedihan Anda, karena mereka merasa menjadi orang baik setelah melakukannya. Tetapi, lihatlah siapa yang menepuk punggung Anda ketika Anda sukses menjalankan suatu pekerjaan. Orang-orang yang tidak cemburu dan iri akan melakukan hal itu. Seorang teman sejati akan bangga dengan prestasi Anda, bukannya iri dengan kesuksesan Anda. Lihatlah apakah dia mendatangi Anda ketika Anda menerima berita baik, bukan hanya berita buruk. Banyak orang yang bersedia "menghibur" tatkala kenyataan membelakangi apa yang Anda harapkan. Tetapi, sulit menemukan orang yang mengucapkan selamat kepada Anda tatkala segalanya berjalan sesuai keinginan Anda.
- Kejujuran
Teman sejati adalah teman yang mau memberitahukan hal-hal yang tidak ingin Anda dengar. Dia rela Anda benci jika apa yang dia lakukan bermanfaat untuk Anda. Apakah dia mau mengatakan hal-hal bermanfaat untuk Anda sekalipun dia tahu bahwa hal itu dapat membuat Anda kecewa padanya?
- Penghargaan
Katakanlah padanya bahwa ada sesuatu yang menyenangkan--sesuatu yang baik--yang sedang terjadi dalam hidup Anda, tetapi Anda lebih suka untuk tidak membicarakannya saat ini. Lalu, lihatlah apakah dia mendesak Anda untuk menceritakannya ataukah tidak. Ada perbedaan antara rasa ingin tahu dan perhatian. Jika dia menunjukkan sikap bahwa dia "harus tahu", berarti dia hanya tertarik pada gosip dan bukan pada Anda. Teman yang baik akan menghormati harapan-harapan Anda dan memberi Anda kesempatan untuk meraihnya--tanpa memaksakan keingintahuannya. Dia mungkin akan terus menyinggungnya karena tertarik, tetapi dia tidak akan serta-merta dan terus-menerus mendesak Anda untuk menceritakannya apabila Anda sudah menegaskan bahwa Anda tidak ingin menceritakannya sekarang. Alasan mengapa Anda harus menggunakan "misteri" positif, bukannya negatif, adalah karena jika seorang teman baik Anda beritahu bahwa sesuatu yang salah atau buruk sedang menimpa Anda, dia akan berusaha perhatian pada Anda. Jadi, Anda tidak dapat menguji penghargaannya dengan misteri negatif.
- Pengorbanan
Apakah dia mau mengorbankan sesuatu jika hal itu bisa membuat Anda senang? Relakah dia mengorbankan kesenangannya sendiri untuk kebahagiaan Anda? Siapa yang memutuskan apa yang akan Anda lakukan? Apakah arti kata "kompromi" menurut dia? Ketika situasi berisiko tinggi sedang menimpa Anda, kebanyakan orang berhamburan pergi untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Perhatikanlah, apakah dia satu-satunya orang yang berpikir atau berencana untuk membantu Anda "keluar dengan selamat", ataukah dia tampak mendahulukan, dan berusaha menyelamatkan, kepentingannya sendiri.

Poin Penting


Jika teman Anda lulus dalam empat hingga enam poin tes di atas, kemungkinan besar Anda telah mendapatkan teman baik yang bisa diandalkan. Jika dia hanya lulus dalam tiga poin atau kurang, Anda mungkin perlu meninjau ulang pertemanan Anda dengannya, atau membicarakan hal ini padanya.
Tentu saja, karena kita mengalami banyak hal dalam kehidupan, kita mungkin saja bingung dan secara tak sadar menjadi kurang peka. Jadi, sebaiknya, pengukuran hubungan Anda dengan enam faktor ini dilakukan dalam jangka waktu tertentu, bukan hanya dalam sehari.[]
Sumber:
Lieberman, D. J. (2000). Get Anyone to Do Anything: Never Feel Powerless--with Psychological Secrets to Control and Influence Every Situation. New York: St. Martin's Griffin

Minggu, 02 Juni 2013

Have a Good Time In Yogyakarta (Day 1)

Jogja! Here We Come! (Foto : Feybert)
Baru bulan lalu (April) saya ke Singapore, dan sekarang (Mei) saya jalan-jalan lagi. Agak boros sih, tapi kalo udah suka mau gimana lagi dong? Awalnya dimulai dari iseng-iseng salah satu teman saya mengusulkan untuk sekali-sekali kita jalan-jalan bareng. Dan 1 tempat yang ada di kepala saya yaitu "Jogja!!". Dan seketika itu juga semua setuju untuk pergi ke Jogja. Dari ide iseng itulah akhirnya saya berinisiatif untuk menentukan tanggalnya, dan dapatlah tanggal 23 Mei 2013. Saya memilih tanggal 23 Mei karena kebetulan tanggal 25 Mei adalah hari Waisak yang pastinya akan ada massa besar berdatangan menyambut jalannya ritual hari raya Waisak di Borobudur. Setelah semua setuju, saya langsung browsing harga tiket. Karena kami ingin gaya backpacker, kami putuskan untuk menggunakan kereta. Bukan kereta executive, tapi kereta ekonomi. 

Berawal dari 5 orang yang ikut, lalu bertambah beberapa orang lagi sampai total 12 orang. Wah, ini sih sudah over quota namanya. Akhirnya setelah pas 12 orang saya langsung menutup tambahan orang lagi. Tiket kereta sudah dapat, masih harus booking penginapan. Untunglah saya menemukan hotel murah (tapi bukan murahan) di jalan Prawirotaman. Hotel itu bernama Blangkon Hotel. Harga perkamarnya kami dapat Rp.70.000 permalam dengan fasilitas TV, AC dan kamar mandi dalam. Memang murah, tapi kami harus berbagi 1 kamar 4 orang. Saya sih ngga masalah, toh bulan lalu saja saya tidur ber4 bersama orang lain yang ngga dikenal, apalagi cuma ini?

Menuju Jogja
Stasiun Kereta Senen
Berangkat! (Foto : Nia)
Dan hari yang ditunggu akhirnya tiba. Kami berkumpul di salah satu teman saya (Nia) untuk berangkat ke stasiun Pasar Senen bersama. Dan lagi-lagi kami menggunakan moda transportasi paling murah, yaitu Bus. Saya ngga tahu bagaimana yang lain, tapi saya sih menikmati perjalanan ini. Sesampainya di stasiun Pasar Senen, kami langsung ke dalam untuk menunggu jadwal kereta datang. Dan belum juga perjalanan ini dimulai, ada saja hal yang ngga diinginkan. 3 orang teman kami telambat datang. Hingga panggilan ke dalam peron diumumkan, belum satupun dari ke3 teman kami kelihatan. Beberapa kali dihubungi jawabannya masih sama : "Masih di jalan nih". Dan detik-detik sebelum kereta berangkat muncullah salah satu teman kami (Feybert) yang sudah basah-basahan karena hujan mengejar kami ke pintu peron. Tapi walau bagaimanapun, kereta sudah waktunya berangkat (!8.55 WIB), kami ngga bisa menahan lagi. Akhirnya saya menitipkan tiket ke2 teman kami yang belum datang itu di pintu penukaran tiket. Sayang sekali.

Foto : Nia
Setelah insiden terlambat itu, kami masih mencari-cari teman kami walaupun rasanya mustahil menemui mereka di saat kereta sudah jalan. Ya sudah lah, masih ada beberapa teman yang lain yang masih bisa ikut. Kami pun menoba menikmati perjalanan ini meskipun sebenarnya kurang nyaman. 

Tiba-tiba sekitar pukul 8 datang sebuah pesan dari ke2 teman kami. Ternyata mereka datang tapi sudah terlambat. Saya menyarankan untuk membeli tiket kereta malam (21:00) untuk mengejar kami. Tapi memang sedang sial, hari itu memang sedang peak dan tiket sudah ludes terjual. Tanpa hilang akal akhirnya mereka mengejar kami dengan kereta lain jurusan Semarang Poncol dan meneruskan lagi dengan Bus menuju Yogya. Sungguh perjuangan yang berat, tapi kami salut dengan mereka.

Nasi kecap seharga Rp.20.000
Setelah mendapat berita baik itu, kami langsung lega dan kembali bersenang-senang di dalam kereta. Mulai dari main kartu, ngobrol, sampai ada yang sibuk sendiri dengan tablet nya haha. Jam 8.30 malam perut saya keroncongan, langsung saja saya memesan nasi goreng. Begitu dicoba, saya ngga ngerasa nasi goreng, tepatnya nasi dikecapin seharga Rp.20.00. Ya sudahlah, dinikmati aja. Memang dasar orang kantoran, baru jam 10 malam pun mereka sudah kelelahan dan tidur satu persatu. Inilah resiko naik kereta ekonomi, kursinya terlalu tegak dan AC nya mati setiap kereta berhenti di setiap stasiun haha. Saya berusaha tidur karena saya tahu besok pagi masih banyak yang perlu dilakukan di Jogja sana. Dari posisi miring, lurus, tetap tidak bisa membuat saya tidur. Dan akhirnya di stasiun Kroya ada 2 orang turun dari kereta, pada saat itu juga saya langsung mengambil kursinya untuk sekedar tidur sebentar. Baru saja tidur (2.30) saya sudah dibangunkan teman saya karena sudah sampai (3.30). 

Foto : Wahyu
Jam 4.10 akhirnya kami sampai di stasiun Tugu Jogja, telambat 50 menitan dari jadwal di tiket 3.22. Tapi saya beruntung punya teman-teman yang selalu ceria walaupun saya tahu masih ngantuk berat. Di luar masih gelap, tapi syukurlah ada salah satu teman kami menawarkan untuk menunggu pagi di hotel tempat dia menginap. Setelah beristirahat sejenak sambil menunggu matahari terbit, kami lanjutkan untuk memulai hari. Kami segera mencari sarapan, dan terpilihlah gudeg yang ada di pinggir jalan Mangkubumi. Setelah menghabiskan 1 porsi gudeg beserta kawan-kawannya (walaupun ada juga yang nambah jadi 2 porsi) tiba-tiba semangat mereka datang lagi. Gila! semalaman ngga tidur tapi masih bisa jalan dan ketawa-ketawa lagi. Entah memang makan gudeg membuat tenaga datang lagi atau memang saya terbawa suasana, ngantuk yang dari tadi saya tahan pun ikutan hilang.

Setelah sarapan kami lanjutkan berjalan-jalan pagi ke sekitaran jalan Malioboro. Memang dasar grup narsis, tiap beberapa langkah foto-foto, lewat toko tawar-tawar, semangat liburannya tinggi sekali. Dan ngga terasa sudah jam 10, kami langsung menuju jalan Prawirotaman untuk check in hotel kami. Sesampainya di hotel banyak jadwal yang sudah menanti diantaranya solat Jumat, makan siang dan pastinya jalan-jalan lagi.



 Foto : Wahyu

Ke Prambanan
Selesai solat Jumat dan makan siang, kami lanjutkan ke Prambanan. Karena ngga ada satupun dari kami yang tahu jalan menuju Prambanan, akhirnya HP jadul saya berjasa juga. Kami bergantung dari GPS yang ada di HP saya. Sambil berharap jalurnya benar dan batere nya kuat sampai nanti malam. Kami konvoi dengan menggunakan motor yang kami sewa dari hotel seharga Rp.50.000 per hari. Karena takut nyasar dan kurang terbiasa naik motor matic, kami berjalan agak pelan. Yang seharusnya bisa ditempuh 30 menitan, kami sampai sana sekitar 50 menit. Tapi sudahlah, toh kita akhirnya sampai juga kan?

Tiket Rp.30.000
Sesampainya di Prambanan, kami sudah di sambut bangunan megah dari abad ke-9 ini. Walaupun ada beberapa candi kecil yang sudah runtuh akibat gempa bumi tahun 2010 lalu, tapi bangunan utamaya masih kokoh berdiri. Pemandangan yang jarang ngga bisa ditemui di Jakarta. Untuk masuk kedalam kami harus membayar tiket seharga Rp.30.000. Selain mengunjungi candi, kita juga bisa menikmati taman yang terawat dan taman rusa di dekat pintu keluar. Dan setelah Prambanan tutup pun kami masih belum bisa pulang karena para pedagang merayu kami untuk membeli barang dagangannya. Kami pun sempat terhenti untuk menunggu teman kami menawar, menawar dan menawar barang yang akan dibeli. tapi cuma beli 1 haha..

 
 Foto : Feybert

Mencoba Permainan "Masangin" di Alun-alun Selatan
Jam 18.30 kami lanjutkan perjalanan kami. Kali ini kami lanjutkan ke alun-alun selatan di tengah kota Jogja. Untunglah kali ini kami bertemu teman baru bernama Miko (teman Nia) yang bersedia menemani kami selama di Jogja. Dengan arahan darinya kami bisa langsung menuju alun-alun selatan tanpa berlama-lama. Hanya 40 menit kami sudah sampai di alun-alun selatan. Dari kejauhan saja sudah terlihat meriha karena terlihat puluhan sepeda yang di hiasi lampu-lampu unik di sekitar alun-alun. Seperti parade sepeda, banyak sepeda "menyala" berputar mengelilingi lapangan alun-alun yang di pasangi TV dan sound system yang menggelegar. Wow! rame banget! Kami langsung bergabung di dalam kemeriahan alun-alun. Tanpa basa-basi kami langsung mencoba permainan "Masangin", yaitu berjalan dengan mata tertutup menuju kedua pohon beringin besar di tengah lapangan. Katanya sih, siapa saja yang berhasil melewati diantara kedua pohon beringin itu akan mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya, dan ada juga yang bilang hati yang bersih bisa membawa seseorang menuju kebaikan, makanya bisa jalan lurus. Kalo kami sih dibuat have fun aja. Jangan dikira berjalan lurus dengan mata tertutup itu gampang, buktinya 4 orang diantara kami (termasuk saya) yang mencoba selalu melenceng ke kanan atau kekiri waktu di tengah jalan. Aneh memang, karena rasanya sudah yakin berjalan lurus. Malah ada yang lebih parah berputar-putar ngga karuan yang akhirnya berhenti di tempat semula sampai kami menghentikannya karena ngga kunjung sampai haha. Dan dari 6 orang dari kami yang mencoba, ternyata ada 2 orang (Haya dan Feybert) berhasil berjalan melewatinya. Good job!

Setelah seru-seruan bermain Masangin, kami lanjutkan makan malam bersama di pinggir lapangan alun-alun selatan yang kenyataan nya tidak terlalu menyenangkan. Selain makanannya (maaf) ngga enak, ada juga pengamen yang membuat risih. Kenapa risih? Ya, coba aja rasain bagaimana enaknya lagi makan (yang ngga seberapa enak itu) lalu diganggu waria pengamen yang ngga segan-segan memegang teman-teman cowok yang ngga mau bayar. Tapi kami buat seru-seruan aja, anggap aja kita sedang di Bangkok haha.

Makan Tengah Malam
Kopi Joss (Foto : Nia)
Angkringan (Foto : Nia)
Ternyata energi beberapa teman yang lain masih tersisa banyak. Buktinya sudah diatas jam 10 masih saja mencari tempat makan atau sekedar nongkrong. Mulai dari mencoba kopi joss di angkringan sekitar stasiun Tugu, sampai mencoba makan gudeg di suatu tempat yang saya pun lupa untuk melihat nama jalannya karena saya sudah lelah sekali tapi masih mencoba excited. Saya dan beberapa teman yang lain ngga ikut makan gudeg nya, kami cuma mengantar teman-teman kami yang penasaran itu. Baru saja kami sampai (23.00) gudegnya sudah diambang kehabisan. Untunglah mereka masih dapat mencobanya (sisa 4 porsi). Setelah keinginan mereka terkabul, saatnya kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Badan lelah, mata ngantuk, batere tiris. Akhirnya semua bisa di refill lagi setelah ketemu kasur dan colokan. Ah... lelah dan serunya hari ini. Keseruan masih berlanjut besok.

Mau lihat serunya? Nonton ini dulu ya :