Selasa, 26 Juni 2012

Solo Travelling - Bandung

Sejak pertama kalinya saya berkunjung ke kota ini beberapa tahun lalu, ada rasa yang berbeda dan membuat saya ingin kembali kesini lagi. Selain iklimnya yang lebih nyaman, keramahan orang Bandung lah yang membuat saya terpesona. Mereka akan dengan senang hati membantu dan merekomendasikan hal terbaik di kotanya. Dengan perasaan kangen yang tak bisa dibendung lagi akhirnya saya putuskan kembali ke kota kembang ini.

Perjalanan Menuju Bandung
Sebelum memulai perjalanan seperti biasa saya selalu browsing segala sesuatu yang perlu diketahui di tempat tujuan saya nanti. Untuk kali ini ke Bandung, saya perlu mencari spot terbaik untuk dikunjungi, transportasi, tempat makan, penginapan hingga tempat membeli oleh-oleh. Dan saya agak kecewa setelah menemukan banyak sekali tulisan di internet yang menyebutkan Bandung tidak seperti dulu lagi. Mulai dari lalu lintas yang macet, supir angkot dan taksi yang suka berbohong, dan kacaunya sistem transportasi disana. Saya hampir mengurungkan niat saya, tapi "ngidam" saya dengan kota Bandung tak menyurutkan niat saya untuk kembali kesana. Karena saya hanya punya waktu 1 hari, jadi harus menemukan transportasi yang mudah dan cepat. Entah mengapa saya mengetik : "Ojek Bandung" di mbah Google dan menemukan jasa ojek online dengan tarif Rp.20ribu/jam. Memang jatuhnya lebih mahal dibanding naik beberapa kali angkot, tapi efisiensi waktu dan ketepatan menuju tempat tujuan lebih berharga (halah, apa sih?) dan saya memutuskan untuk menggunakan Ojek Online.

Antrian loket Sta. Gambir
Dimulai pagi hari pukul 5.30 pagi berangkat dari rumah menuju stasiun kereta Gambir supaya tidak ketinggalan kereta pukul 8.20. Berbekal tas ransel andalan berisi beberapa roti dan botol minum saya memulai perjalanan. Saya sampai di Gambir tepat pukul 7.00 pagi lalu segera menukarkan tiket online saya di loket tiket terdekat. Saya melihat antrian yang tidak terlalu panjang. Syukurlah saya tidak perlu capek antri. Gambir yang saya lihat sekarang sudah jauh berbeda karena fasilitas dan kebersihan yang sudah sangat baik. Tak berapa lama mengantri akhirnya saya menyerahkan kertas booking saya dan...voila!  kertas berubah menjadi tiket kereta api Argo Parahyangan.

Ini loh tiketnya
Karena ini adalah kali pertama saya naik kereta lagi (terakhir naik kereta waktu Lebaran umur 5 tahun) menjadikan hal yang menarik buat saya. Karena gengsi saya berusaha untuk tidak terlihat canggung. Sudah berusaha tidak melakukan kesalahan, tapi tetap saja kejadian. Waktu menaiki tangga untuk ke jalur 3 saya melewati pintu untuk commuter dan sudah pasti terkunci. Terdengar bunyi "BEEP" cukup keras dan lampu menjadi merah. Saya berusaha membukanya sambil menekan tombol yang ada disitu tapi tetap tidak berhasil. Alamak, malu banget, tapi untungnya orang Jakarta tidak ada yang peduli. Dengan wajah cuek saya berbalik arah menuju kursi dan melihat keadaan. Terlihat orang dengan santai naik di tangga turun untuk naik ke jalur 3. Ternyata sesimple itu! kenapa cara naik MRT di Singapore saya terapkan disini? sudah pasti salah (tepok jidat). Tapi yasudah lah, toh orang lain tidak ada yang lihat. Saya ikuti naik melewati tangga itu dan terlihatlah beberapa jalur kereta dan herannya mengapa saya menunggu di kursi atas? padahal kereta masih 1 jam lagi. Setelah ngeh akan kebodohan saya akhirnya saya putuskan untuk turun kembali. Tak perlu waktu lama saya sudah beradaptasi dengan keadaan sekitar. Dengan berbekal watu kurang dari 30 menit kedatangan kereta saya berkeliling dan menemukan sinyal wifi dimana-mana. Tahu begini saya tunggu disini saja (tepok jidat pakai tembok). Saya melirik ke jam saya, sudah pukul 8.10, sebaiknya saya ke toilet dulu daripada nanti malu cari toilet di kereta. Saya mencari-cari ternyata ada di lantai bawah, sial. 

Selesai doing my business saya langsung ke lantai paling atas untuk segera naik ke kereta dan lagi-lagi bingung mencari di gerbong mana saya naik? Saya pun bertanya kepada petugas dan ditunjukkan kereta paling depan. Memang dasar oon, saya langsung ke kereta paling depan and you know what? Ikan hiu makan kawat saya tidak bisa menemukan pintunya. Ya tentu saja pintunya tidak terbuka, itu kan gerbong masinis (tepok jidat berkali-kali ke tembok berpaku) Setelah mencari dan akhirnya berhasil menemukan pintu gerbong Eksekutif terbuka dan saya langsung masuk. Saya mengecek kembali nomor kursi saya A2 dan saya langsung menuju depan dan menemukan kursinya sudah ditempati penuh. Loh kok sudah ada orangnya? apakah pemilihan kursinya bebas? Saya pun langsung duduk di belakang kursi itu dengan PEDE nya.

Lumayan bisa nonton TV
Tak lama menunggu, kereta berjalan. Yes, akhirnya saya naik kereta, dan tak lama kemudian petugas tiket memeriksa tiket. Dengan PEDE nya saya menyerahkan tiket dan chop! tiket saya dilubangi. Sesampainya di bekasi, kereta berhenti untuk mengambil penumpang lagi. Disaat saya sudah nyaman dengan kursi saya tiba-tiba beberapa orang mengklaim bahwa itu kursinya. Saya langsung diminta mengecek kembali nomor kursinya. "Maaf pak, A2 ada dibelakang" kata salah satu petugas. Oalah, dan dengan berat hati saya pindah ke kursi saya yang sebenarnya yang berada di belakang sebelah kanan. Sesampai dikursi saya, barulah saya menyadari ada nomor kursi di bagian bawah rak tas. Ah, memalukan (tepok jidat pakai apa lagi ya?)

Sta. Bandung
Perjalanan panjang dan mengerikan menuju Bandung. Kenapa mengerikan? karena beberapa kali lewat jembatan tinggi yang dibawahnya jurang. Malah saking tingginya ada bagian yang tinggi selevel bukit di seberangnya. Ditambah lagi terowongan yang cukup panjang (kira-kira 4 menitan). Dan saat pengumuman Stasiun Bandung sudah dekat,  semangat saya tumbuh lagi.  




Sampai Di Stasiun Bandung
Warung nasi di Sta. Bandung
Perjalanan menuju Bandung terlaksana, tinggal eksekusinya saja. Saya langsung meelepon ke Ojek Online yang sudah saya booking sehari sebelumnya. Saya melirik jam menunjukkan pukul 11.40, saya putuskan untuk mencari makan dekat stasiun karena saya sudah ada janji dengan tukang ojek jam 12 tepat. Dengan berbekal cap cip cup memilih tempat makan, makan terpilihlah warung nasi tepat di depan rel kereta. Dengan menu seadanya, saya cuma bisa memesan nasi goreng biar cepat.

Nasi goreng rasa Asin Pedas
Begitu nasi goreng datang, saya langsung lahap menyantapnya walaupun cuma terasa asin dan pedas saja tapi sudahlah, nikmati saja. Ternyata bukan cuma rasanya saja yang buat saya terkejut, harganya pun cukup membuat terkejut, Rp.12.000 untuk nasi goreng asin pedas itu (terimakasih sudah memberi saya yodium berlebih). Tepat pukul 12.00 dengan peluh menahan asin, pedas dan panasnya nasi & air minum saya langsung menuju keluar pintu stasiun dan bertemulah dengan tukang ojek pesanan saya tadi. Serasa orang penting yang dijemput di bandara oleh supir limo, tapi ini dijemput dari stasiun kereta dan ditunggu tukang ojek dengan motor bututnya hahaha...

Saatnya Jalan-jalan
Begitu naik ke tunggangan pak ojek saya langsung memintanya mengantar saya ke BSM (Bandung Super Mall). Sepanjang jalan saya juga ngobrol dengan si kang ojek. Itulah yang saya suka dari warga Bandung, mereka menjawab dengan sopan dan ramah bahkan tanpa diminta pun mereka bisa menjadi guide. Ternyata memang Bandung sudah menjadi kota macet, tapi untungnya iklimnya masih tidak sepanas Jakarta jadi suasana hati tidak cepat panas. Karena beberapa ruas jalan macet akhirnya saya diputar di jalan lain yang membuat saya tahu jalan lain di Bandung. Sepanjang jalan terlihat berjejer tempat makan dan beberapa FO walaupun mrip jalan di Barito tapi suasanya beda.

Durasi 20 menit saya sudah sampai di kompleks BSM dan terlihatlah (yang katanya) Hotel bintang 6 termewah se-Indonesia. Tapi tujuan saya bukan ke hotel itu, tapi ke Trans Studio. Sebenarnya sih cuma penasaran aja, apa sih jenis entertainment yang dijual disini sampe harganya Rp.200.000 ? Memang sih dari depan keliatan track roller coaster (yang katanya lagi) tercepat dan cuma ada 3 di dunia. Saya lanjutkan menuju dalam, ternyata pintu masukya ada di 1 lantai atas tapi beli tiketnya di bawah. Dengan harga Rp.200.000 + Rp.10.000 (kartu) dompet saya langsung kurus. Niat saya bukan untuk naik wahana ekstrim karena saya sudah pernah mencoba yang lebih ekstrim di Dufan dan Universal Studios Singapore (USS). Saya cuma pingin lihat Trans Theatre, Special Effect, Science Center, Broadcast Museum, Marvel 4D dan beberapa wahana yang sepi pengunjung saja. Dan syukurlah saya cukup menikmatinya walaupun ada beberapa wahana yang membuat saya tertawa, nanti saya ceritakan secepatnya.
Ticket Booth
Senyum dong mbak
Pintu masuknya
Big Screen
TVnya banyak, minta dong 1
Rp.200.000 cuma dapat ini

Sesampai didalam sudah terlihat antrian di roller coaster dan wahana baru Marvel. Untung saya sudah mengambil peta dan jadwal pertunjukan (benar-benar meniru theme park sekelas Universal Studios) jadi saya tahu harus kemana setelahnya. Untuk permulaan saya ikut antri di wahana Mervel. Terlihat petunjuk "60 minutes from here" di pintu antrian. Saya lihat jam tangan saya sudah pukul 1 dan jadwal Special Effect pukul 14.30. Berarti selesai main Marvell langsung menuju ke Special Effect, rencana yang bagus sekali. Antrian tepat 60 menit dan saya menikmati sajian film 4D (yang agak meniru antara Transformers the Ride tapi kok malah lebih mirip Shrek 4D?) dengan getaran di kursi dan beberapa kali cipratan air dan semburan angin dan bisa dinikmati dengan kacamata 3D. Saya pikir, untuk permulaan sudah OK. Dengan durasi kurang dari 10 menit saya sudah ada di luar pintu Marvel. Jam masih menunjukkan pukul 14.00 saya pun penasaran dengan Broadcast Museum. Begitu melihatnya saya hanya tertawa, tidak seperti perkiraan saya sebelumnya. Tempatnya kecil dan peralatan yang seadanya. Hanya bertahan 5 menitan saya lanjutkan melihat keadaan sekitar sambil menuju panggung Special Effect, dan saya mendapatkan antrian seperti mengantri minyak tanah. Wow, apakah sebagus itu sampai di antri orang seBandung? Takut kehabisan tempat saya pun ikut antrian dan hanya menunggu 10 menitan kami pun berbondong-bondong masuk mencari tempat duduk. Karena mengalah terus akhirnya saya hanya kebagian duduk di kursi paling belakang di bagian paling atas. Menurut saya ini meniru konsep LIGHTS, CAMERA, ACTION! di USS tapi kok malah mirip WATERWORLD nya ya? antara bingung dan aneh tapi nikmati sajalah. 
Peta & Jadwal Pertunjukan
Marvel the Ride
Broadcast Museum

Vertigo, ga tertarik
Mirip Panggung Maxima Dufan
Magic Corner, Awas Dikegetin!













Tepat pukul 14.30 pertunjukan dimulai, dan seperti biasa di tambahkan embel-embel obrolan ga penting dengan penonton dulu, typical acara TVnya. Sebagai perkenalan, dipertunjukkan free style motor dengan berbagai jenis. Setelah perkenalan barulah pertunjukan yang sebenarnya. Mirip dengan WATERWORLD, pertunjukannya terdapat cipratan air dan beberapa kali ledakan yang mengluarkan efek api. Biarpun skalanya tidak sebesar WATERWORLD tapi tetap saja membuat adrenalin naik, saya bertepuk tangan untuk yang satu ini.
Antriannya kayak antri minyak
Mino Cooper nembus tembok
Ada ledakannya juga loh







Selesai dari Special Effect saya lanjutkan perjalanan saya, karena takut tidak kebagian kursi seperti tadi saya langsung menuju antrian Trans Theater untuk menonton Kabayan Goes To Hollywood. Awalnya saya pesimis dengan judulnya, jangan-jangan cuma lawakan garing selama 1 jam tapi bukankah saya kemari untuk melihat pertunjukan semacam ini? Antrian yang panjang tapi untunglah tidak terlalu lama, dan saya langsung mencari kursi sedekat mungkin dengan panggung. Inilah asiknya jalan sendiri, tak perlu repot mencari beberapa kursi berderet dengan teman. Begitu dapat kursi kosong langsung tempati saja, dan saya dapat di kursi baris kedua dari depan, perfect! Seperti biasa floor director memberikan arahan untuk tidak jaim dan bebas tertawa serta tidak menggunakan flash saat mengambil foto atau video.
Briefing dulu

Musik pembukanya
Pendukung Acara











Dan operet pun dimulai. Masih skeptis saya menyaksikannya, tapi begitu pembuka acara dimulai saya langsung takjub. Dibuka dengan aksi panggung ala Agnes Monica (tapi bukan) dengan tata cahaya dan musik yang baik. Ok, what next? ternyata pembukanya sukses membuat saya penasaran. Dimainkan oleh orang-orang teater Trans yang rata-rata orang Bandung (kelihatan dari wajahnya nu kasep jeung geulis tea) membuat saya betah nontonnya. Dengan aksi panggung yang agak lebay tapi buktinya beberapa kali saya tertawa. Hingga pada suatu bagian cerita sang emak Kabayan menelepon anaknya. Ternyata sang emak menelepon Kabayan yang ada di atas panggung sedang berada tepat di sebelah saya dan menumpang di kursi saya sambil merangkul saya. Lantas saja sorotan lampu menuju ke saya dan ratusan pasang mata menuju ke saya. Entah harus malu atau bangga? haha.

Dari situ saya hanya tinggal memiliki 1 jam lagi sebelum saya harus pulang karena jam travel hanya hingga pukul 19.30. Saya langsung menuju  Science Center dan langsung menyukainya. Sebenarnya banyak pengetahuan bagus disini, tapi sayang tempatnya kecil dan alat peraganya sudah ada beberapa yang tidak berfungsi.

Science Center
Ruang Kimia
Ruang Biologi












Tingkatan intesitas suara
Magic Triangle
Ilusi Reverse Mask












Tuh, sepi kan?
Selesai dari Science Center saya masih ada 30 menit lagi, dan saya putuskan untuk mencoba rumah hantu Dunia Lain. Melihat tempatnya sepi saya kira wahana ini tidak beroperasi, malah saya sempat bertanya pada penjaganya. Ternyata memang kurang peminat sampai kosong melompong. Tapi daripada saya harus coba wahana yang mengantri, lebih baik ini menjadi penutup. Waktu masuk ke wahana gelap itu sebenarnya suasananya cukup menyeramkan, apalagi kita harus berjalan di ruangan besar dan gelap dengan lukisan seram di sekitarnya. Perjalanan naik turun tangga hingga akhirnya terhenti di suatu antrian naik kereta. Mirip istana boneka di Dufan tapi ini versi horornya. Dan ini lah wahana yang membuat saya tertawa. Bukan karena benar-benar lucu, tapi karena anti klimaks dan sama sekali tidak seram malah terkesan lucu karena horor yang disajikan sangat typical horor Indonesia. Ada kuntilanak di pepohonan, hantu zaman perang, kepala menempel di dinding, nenek-nenek dengan kursi roda, hantu ambulance, dan yang tidak ketinggalan hantu pocong. Dua wanita di belakang saya minta ditemani oleh saya karena mereka ketakutan. Dan setiap kali mereka teriak, saya malah tertawa, haha.
 
Setelah selesai keluar dari rumah-horor-norak itu saya putuskan untuk segera pulang karena sudah pukul 18.00 dan waktunya saya menelepon tukang ojek tadi untuk menjemput saya.

Waktunya Pulang :(
Sekitar pukul 18.20 saya dijemput tukang ojek online saya menuju Jl. Djunjunan. Tapi sialnya si ojek tidak begitu hafal jalan, jadi sepanjang jalan saya hanya berputar-putar di daerah dago dan braga. Dari awal naik juga saya agak ragu karena setiap kali melewati persimpangan si supir selalu tengok kiri kanan seperti tidak yakin. Tukang ojek yang saya naikin ini bukan tukang ojek tadi siang. Katanya sih mereka segrup, jadi siapa yang ada di lokasi terdekat dialah yang bertugas. Beberapa menit sekali saya melirik jam tangan, jangan sampai perjalanan yang cuma 20 menit ini jadi lebih dari 1 jam. Selain biayanya jadi dobel, booking travel saya bisa saja di cancel. Karena tidak sabaran saya mengeluarkan HP saya dan berharap bisa dapat informasi menggunakan GPS. Tapi memang sedang sial, sinyal putus-putus membuat GPS tidak berfungsi ditambah batere yang tinggal 2 bar. Sambil melihat ke arah jalan, saya mengingat-ingat harus kemana. Berharap saya ingat jalannya dan menginformasikan pada si supir yang sedang kehilangan arah ini (apa sih?). Begitu melihat jembatan layang menuju Pateur, saya seperti tertolong. "Nah! ini dia jalannya! lurus aja kang!" kata saya tak sabaran. Dengan pede si supir menarik gas nya dan, syukurlah masih cukup waktu. Karena agak kasihan akhirnya saya menambahkan ongkosnya menjadi Rp.25.000 dan berpesan padanya : "saya tambahin supaya ngga nyasar lagi ya.". Tanpa menunda waktu saya langsung mencari lokasi travelnya dan ternyata tidak jauh di tempat saya berhenti. Saya segera memesan 1 tiket menuju Meruya-Jakarta. Memang dasar orang rumah tahu saja kalau saya sudah mau pulang, mereka langsung memesan oleh-oleh. Karena uang saya terbatas dan kebetulan ada toko oleh-oleh di sebelah travel, saya putuskan untuk membeli beberapa makanan. Hujan yang datang tiba-tiba membuat mobil travel saya agak terlambat datang, yang tentu saja mengakibatkan saya pulang lebih malam lagi. Mobil datang pukul 20.10 dan segera berangkat menuju Jakarta. Sampai di Jakarta pukul 23.15 dan tentu saja sulit mencari taksi jam segini. Walaupun ditawari oleh supir travel yang bersedia mengantar saya dengan harga Rp.50.000 saya menolaknya karena dengan taksi saya hanya cukup membayar 30ribuan saja. Dan untunglah ada 1 taksi baik hati bersedia mengantar saya dengan total tarif Rp.27.750 tapi tetap saya beri Rp.30.000 saja. Dan sialnya begitu merogoh ke semua kantung celana dan jaket untuk membayar, uang saya sudah lenyap semua. Sial! mungkin tertinggal di kursi mobil travel. Yah, mungkin sudah rejeki supir travel tadi, biarlah. Dan keseluruhan total jenderal biaya 1 hari penuh saya diBandung Rp.500.000 (karena hilang sisa uang saya di mobil). Tapi inilah hidup, setelah seharian tersenyum bisa saja keadaan membuat kita "agak" bersedih.

Itulah yang saya suka dari travel, kadang walaupun rencana sudah matang ada saja kejadian diluar rencana tapi membuat cerita yang dramatis dalam hidup (haduh, apa lagi sih?)

Minggu, 24 Juni 2012

Banjarbaru, Kafe, dan Hujan


buku kumpulan cerpen Lelaki Dilarang Menangis
Bagiku, Banjarbaru ialah romansa. Pohon-pohonnya berdaun puisi, dan bunga-bunganya adalah cerita cinta. Hujan masih deras. Ruahnya seperti ikut berjatuhan di dasar hati yang nelangsa. Di sini, aku termangu menunggumu, menatap ke luar jendela pada rumput-rumput yang terendam, ‘puisi-puisi’ kering yang dibawa hanyut air, dan ‘cerita-cerita cinta’ yang kuyup.
Aku memang selalu ke kafe ini bila sore diguyur hujan. Memesan segelas jus nangka, lalu menunggu. Menunggu hujan reda, serta menunggumu.
Aku tahu, kau tidak akan datang. Bukan tersebab hujan ini, tapi kau memang tak pernah lagi kemari. Demikian pula pertemuan kita, tak akan pernah lagi kita teguk bersama. Tapi tahukah kau, duduk di kafe ini ketika hujan, selalu membuatku merasa sedang berbincang denganmu, bercanda apa saja seperti pertemuan terakhir kita dulu? Itulah mengapa setiap hujan bertandang, aku akan berlari-lari kecil ke sini dengan satu tangan memegang payung sedang tangan yang lain sedikit menaikkan rok agar tidak terkena ciprat air.

Kafe ini sepi, sekosong ruang dadaku. Aku kesepian, benar-benar kesepian. Hidupku tampaknya memang telah digariskan untuk beralih dari satu kesunyian pada kesunyian yang lain. Segelas jus nangka telah tandas, sementara hujan masih saja sericis tadi. Langit seperti menyimpan debit air yang tak kunjung habis.
Aku sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali aku kemari, aku bahkan menjadi sangat akrab dengan Acil Napisah, pemilik sekaligus satu-satunya pelayan kafe yang diberi nama “Jus” ini. Letaknya tepat di depan Gang Antara. Semua orang di Kelurahan Landasan Ulin kupikir pastilah tahu kenapa gang itu diberi nama Antara, yaitu karena berada di tengah-tengah antara Al Falah Puteri dan Al Falah Putera.
Empat tahun sudah, sejak sore paling muram itu, aku selalu menghabiskan sore yang basah di sini. Menunggumu, meski aku tahu mustahil kau datang. Sore itu pun demikian, bahkan dua gelas jus nangka serta dua bungkus roti telah karam di lambungku, namun kau belum juga datang menemuiku, menunaikan janji yang telah kita ikat bersama. Aku cuma bisa terpaku menatap ke luar jendela waktu itu, sementara pikiranku selalu berharap sore itu akan sama laiknya pertemuan kita sebelumnya, hangat oleh canda dan tawa lepasmu.
Tapi sore itu, rasanya benar-benar dingin, bukan hanya oleh hujan yang kian deras, tapi juga oleh rasa sepi yang kecut. Aku benar-benar kesepian.
Hujan masih deras waktu itu…
Aku tidak pernah bisa merasa harus marah meski wajahmu belum juga menyembul dari balik pintu kafe, cinta cuma mengizinkanku satu hal: rindu. Karena itulah, aku tetap bertahan menunggumu. Menunggu tidak selalu menjemukan. Menunggu itu kadang mengasyikkan. Apalagi jika yang ditunggu itu adalah pertemuan denganmu.
Dari saku baju terusan, aku mengeluarkan pulpen dan buku saku dengan cover berwarna ungu yang selalu kubawa ke mana-mana. Di buku kecil itu biasanya kutumpahkan apa saja. Bila satu buku telah penuh tulisan, kuganti lagi buku yang baru dengan warna cover masih sama, ungu.
Seketika pulpen yang kupegang sudah menari lesu di atas halaman buku kecil itu, mengalirkan kesunyian yang meronta.
Perlahan sore merambat pada senja. Langit semakin gelap. Ini yang kutakutkan, sebentar lagi azan Magrib menggema, sementara kau masih belum juga tiba.
Aku yakin, kau tidak mungkin lupa pada janji yang telah kita sulam itu. Mengapa sampai sekarang kau belum juga datang pastilah karena kau tidak mendapat izin. Ya, apa lagi? Besok ujian akhir, aku bisa memaklumi itu.
Azan Magrib pun akhirnya berkumandang. Waktu dua setengah jam telah kuhabiskan dalam keheningan yang mengiris dan sunyi.
Izin yang kudapat hanya sampai waktu Magrib. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk tetap menunggumu di sini. Aku sudah berbohong pada ustadzah agar sore tadi diizinkan keluar pondok dengan alasan ingin memfotokopi ringkasan. Akan runyam perkaranya jika sampai aku melewati batas waktu yang diberikan. Lagipula kau pasti tidak mendapat izin, karenanya kau tak mungkin akan datang. Jadi buat apa aku tetap di sini?
Kuhirup udara dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan. Keputusan itu harus kuambil sekarang. Aku bangkit dan membayar dua gelas jus nangka dan dua bungkus roti yang tadi sudah kuhabiskan tanpa sisa. Dengan hati tak menentu, akhirnya aku berlari-lari kecil menerobos hujan. Di udara, azan masih terdengar bertalu-talu.
***
Bagiku, Banjarbaru ialah romansa. Pohon-pohonnya berdaun puisi, dan bunga-bunganya adalah cerita cinta. Seperti senja itu, senja kali ini pun hujan masih saja deras. Tapi aku tetap harus beranjak, bukan karena harus segera masuk ke dalam pondok seperti empat tahun lalu, melainkan tiket penerbangan yang bertuliskan pukul 19.30. Aku harus segera check in.
Dulu, setamat dari Pondok Pesantren Al Falah Puteri, aku hanya melanjutkan ke STAI Al Falah. Tidak seperti teman-teman lain yang kuliah jauh-jauh. Di Gang Antara aku menyewa sebuah kos murah. Maka bila hujan bertandang, aku akan berlari-lari kecil ke mulut gang dengan satu tangan memegang payung sedang tangan yang lain sedikit menaikkan rok agar tidak terkena ciprat air. Kuliahku selesai lebih cepat, dan permohonan beasiswa yang kuajukan untuk menempuh S2 di Surabaya berhasil lolos.
Ini adalah hari terakhir aku di Banjarbaru untuk waktu yang lama. Sudah ratusan sore yang basah kuhabiskan di sini. Cerita cinta ini terpaksa berakhir sekarang. Pada Acil Napisah aku membayar segelas jus nangka yang tadi kuminum lalu berpamitan. Kami berpelukan dengan rasa haru menyesak.
Acil Napisah mengantarku ke seberang jalan dengan payung. Sebuah angkot hijau-putih melambat dan berhenti tepat di depan kami. Aku mencium tangan Acil Napisah lalu segera naik ke dalam angkot. Acil Napisah melambaikan tangan. Azan magrib melantun di udara. Angkot kembali bergerak perlahan. Jus tampak lindap dari balik kaca yang berembun oleh hujan yang masih saja deras.
***
Aku mengingat Banjarbaru sebagai sebuah romansa. Sedang Al Falah Putera adalah rumah. Masa tujuh tahun menjadi santri di pondok pesantren itu, adalah bagian yang paling berkesan sepanjang hidupku.
Dan sore ini akhirnya aku bisa ke ‘rumah’ lagi setelah empat tahun meninggalkannya. Sejenak aku meruapkan rindu. Sayang, hujan masih deras. Seandainya tidak, tentu aku akan keliling-keliling pesantren, memperhatikan perubahan apa saja yang telah terjadi. Sekarang aku cuma bisa membeku dalam makam pendiri pondok pesantren ini, makam K.H. Muhammad Tsani, yang letaknya tepat di sebelah ‘tembok suci’ bagian depan. Tembok suci adalah istilah kami para santri dulu, untuk tembok yang mengelilingi pondok pesantren ini, tembok yang membatasi kami untuk menikmati dunia luar pesantren.
Aku memandang ke luar lewat pintu makam, pada jalan aspal yang basah, dan daun-daun kering yang hanyut diseret air. Terlalu banyak cerita yang bisa dikenang dari ‘rumah’ ini, dan cerita cinta adalah salah satu yang tak mungkin lamur dari ingatan. Ya, meski aku tahu pasti, cerita itu terlalu mustahil bisa berlanjut. Itu cerita lama yang tak mungkin lagi terulang. Ah, pertanyaan itu selalu saja menyelinap saat aku melamun seperti ini: bagaimana kabarmu sekarang?
Di luar hujan semakin deras. Aku kembali merapatkan jaket demi mengurangi rasa dingin. Ingatan tentang itu kembali bertandang. Ah, bagaimana kabarmu sekarang?
Di sini pula aku empat tahun yang lalu, seperti ini pula hujan di sore paling muram itu, terus merinai, tak usai-usai. Namun bukan hujan yang menghalangiku untuk menggenapkan janji kita sore itu. Izin keluar pondok dari ustadz tak kudapatkan hari itu, aku sudah terlalu sering minta izin sehingga tak mudah untuk kembali mendapatkannya. Dan kupikir, ustadz wali kelasku juga telah curiga karena terlalu seringnya aku minta izin dengan alasan yang bermacam-macam.
Alasan ustadz tidak mengizinkanku keluar pondok benar-benar tepat: besok ujian akhir akan dimulai, tamat atau tidaknya aku dari Pondok Pesantren Al Falah Putera tergantung hasil ujian itu, aku harus fokus muthala’ah*, tidak boleh keluar.
Sesungguhnya, karena tidak mendapat izin itu, aku justru semakin tidak fokus pada ujian. Aku yakin, saat itu kau pasti sudah menungguku di Jus dengan gelisah, namun aku jauh lebih gelisah, benar-benar gelisah. Itu akan jadi pertemuan terakhir kita untuk waktu yang lama dan tidak menentu, dan kalau pertemuan itu gagal, berarti kita tidak akan bertemu lagi, bahkan untuk mengucap selamat tinggal.
Hujan masih deras waktu itu…
Aku cuma bisa berharap satu hal: satpam lengah. Maka di makam inilah tempat yang paling tepat untuk memantau.
Tapi aku malah semakin gelisah. Senja telah menyelinap, langit semakin gelap, suara panggilan dari mic musolla sudah menggema di segenap sudut pesantren, dan hujan masih tak mau reda, sementara kesempatan yang kunanti-nanti itu belum juga tiba.
Aku sama sekali tak terganggu dengan panggilan untuk segera ke musolla itu. Aku sudah kelas 3 ‘ulya, kelas tertinggi di pesantren ini. Tidak akan ada yang menyanksiku walau aku tak shalat Magrib. Yang kukhawatirkan adalah dirimu, pertemuan kita. Aku tahu bila azan magrib telah berkumandang kau tidak mungkin lagi ada di Jus. Izin yang kau peroleh tidak pernah lebih dari waktu magrib. Terlalu besar resiko yang akan kau dapat bila berani masuk pondok lewat waktu Magrib.
Sial, satpam itu masih saja duduk anteng di kursinya sambil mendengarkan radio. Hujan deras begini, tentulah ia enggan beranjak kemana-mana kecuali satpam lain yang terkena ship malam datang menggantikan. Hujan terus berdebaman dan kulihat langit semakin hitam.
Akhirnya azan Magrib muntah. Akhirnya aku harus menyerah. Dan akhirnya aku hanya bisa mendesah. Kau pasti sudah kembali ke pondok dengan hati penuh kekesalan. Maafkan aku.
Aku tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu lagi. Setelah ujian akhir selesai, aku harus langsung berangkat ke Bandung mengikuti seleksi masuk salah satu perguruan tinggi di sana lewat jalur beasiswa. Ijazah akan diambil orangtuaku saat acara perpisahan nanti.
Aku tak mungkin pulang hanya untuk menghadiri acara perpisahan dan mengambil ijazah pondok. Yang kugunakan nanti adalah ijazah madrasah aliyah, dan itu sudah ada padaku. Selain itu, ongkos pulang-pergi Banjarbaru-Bandung terlalu mahal bagiku. Aku tidak akan pulang kecuali benar-benar perlu.
Senja itu, aku kembali ke asrama dengan langkah limbung dan hati lunglai. Akhirnya aku kalah.
***
Aku mengingat Banjarbaru sebagai sebuah romansa. Sedang Al Falah Putera adalah rumah. Tapi aku tak bisa berlama-lama di sini. Waktu magrib telah tiba. Aku ingin ke Jus sebentar, sekadar bernostalgia, kemudian pulang ke rumah dalam artian sebenarnya.
Aku keluar makam, mengangguk pada satpam yang jaga dengan seulas senyum. Ia satpam baru, aku tidak kenal. Di parkiran, sebuah taksi yang kucarter dari bandara tadi menungguku. Aku naik, dan sopir menyalakan mesin. Mobil bergerak pelan. Sepasang tangan pengelap naik turun di kaca depan.
Hanya perlu beberapa menit untuk sampai di depan Jus. Taksi kuminta berhenti. Segera aku keluar dan berlari.
Kafe ini sepi. Hampir tidak ada perubahan yang kutemui, semuanya nyaris sama seperti empat tahun dulu. Aku memesan segelas jus alpukat dan duduk di dekat jendela, tempat favorit kita. Meja di hadapanku sedikit basah terkena tempias hujan. Kenangan itu pun tiba-tiba harum kembali. Canda kita, tawa lepas kita, rayuanku, pipi merahmu. Hhh…
Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sehingga baru saja menyadari bahwa di pojok meja itu, tergeletak sebuah buku saku dengan cover berwarna ungu. Ah, bukankah itu seperti milik…
Aku baru saja akan meraihnya ketika mendadak dari pintu seorang perempuan berjilbab masuk. Penjaga kafe tampak sangat terkejut dengan kedatangan perempuan itu dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
“Buku saku ulun ketinggalan!” jawaban perempuan itu terdengar samar di antara berisik hujan yang masih saja deras.
Langkah perempuan itu kemudian berayun menghampiri mejaku. Wajahnya kini bisa kulihat dengan jelas, dan seketika aku tahu, cerita lama itu masih punya kelanjutan.[]

Handil Bakti, 2 Desember 2011

*) mengulang-ulang pelajaran

(Radar Banjarmasin, Minggu, 24 Juni 2012)
(Lelaki Dilarang Menangis, Penakita Publisher, Juni 2014)

Tugas Mengarang

Ini dia masalahku, aku mendapat tugas mengarang dari guru Bahasa Indonesia, Pak Budi. Besok, hari Senin sudah harus dikumpul. Bila tidak, maka tanpa segan guru galak itu akan memberi hukuman. Hukumannya bisa apa saja, namun satu kesamaannya: memalukan! Pak Budi seperti tak pernah kehabisan ide dalam mencari hukuman yang sungguh memalukan, misalnya menungging di depan pintu kelas selama jam pelajaran beliau dengan mulut dijejali rumput. Benar-benar memalukan! Tapi lihatlah, sudah dua jam aku duduk di hadapan komputer namun tetap saja lembar dalam microsoft word itu masih putih bersih, satu huruf pun tak ada yang bisa kukarang.
Aha, iya! Sebuah ide tiba-tiba mendarat di kepalaku. Jari-jariku pun mulai bermain.

Pada suatu hari |

Duh, tapi apa? Memangnya kenapa dengan suatu hari? Pada suatu hari terjadi apa? Oleh siapa?
Pointer itu berkedip-kedip, menunggu huruf selanjutnya yang ingin kuketik. Kebingungan lagi-lagi melanda, berkuasa, menjadi raja dalam kepalaku. Hingga lima belas menit, kebingungan itu tak juga sampai pada ujungnya. Kini layar monitor berubah menampilkan screen saver.
Aku bukan seorang perempuan, karenanya tentu aku tak pandai dalam hal karang-mengarang ini. Kalaupun ada laki-laki yang lihai mengarang, pastilah dia itu orang pintar, dan meski SMA-ku itu adalah SMA unggulan, tapi tetap saja aku bukan termasuk dalam golongan itu.
Kucoba mengalihkan pandangan, ke luar jendela. Sebuah sungai membentang di hadapan mata, sungai keruh yang kini bukan lagi sebagai jalur transportasi, melainkan jalur sampah. Hanya enceng gondok yang tetap setia tinggal di atasnya dari dulu. Beberapa ekor burung elang bermanufer dengan indah di ketinggian sana, mungkin mengintai ikan di sungai yang akan menjadi mangsanya untuk makan siang hari ini. Di seberang sungai, rumah-rumah ditancapkan sekehendak hati. Di seberang itu sudah masuk wilayah Kota Banjarmasin, bukan lagi Kabupaten Barito Kuala seperti dimana aku duduk ini. Handil Bakti, nama desa tempatku tinggal ini, sebuah desa di pinggiran kota seribu sungai, Banjarmasin.
Bicara soal sungai, sebenarnya kabupatenku ini, Barito Kuala jauh lebih banyak memiliki sungai ketimbang Banjarmasin. Sungai Barito, menjadi induk semua sungai yang mengalir di Kalimantan Selatan ini. Sungai yang konon paling besar di Indonesia. Siapa yang punya? Barito Kuala!
Tidak ada apa-apa di luar sana. Aku kembali menekuri layar monitorku. Mouse kugeser agar screen saver itu hilang. Kuhapus tiga kata tadi, karena tak mungkin bisa diteruskan. Kini lembaran itu kembali putih bersih.
Jlep…
Stabilizer, monitor, CPU, keyboard dan mouse tiba-tiba mati mendadak, listrik padam! PLN sialan!
Kutunggu beberapa menit. Belum juga nyala. Kutunggu lagi, hingga kini sudah lewat dari menit yang ke-30. Aku bosan!
Ah, sebaiknya aku jalan-jalan keluar. Siapa tahu ada ide cerita yang bisa kupungut, kuracik-racik, lalu kuolah, hingga jadilah karangan. Haha… Semoga saja.
Jaket kupasang. Kuambil pulpen dan sebuah buku saku, kumasukkan dalam kantung jaket. Hebat sekali gayanya.
“Ma, ulun1 jalan-jalan…!” Teriakku pada Ibu yang sedang bikin pisang goreng.
“Iya, tapi jangan lawas2…!” balas beliau dari dapur.

***

Memang betul “jalan-jalan”, karena dari rumah tadi aku hanya jalan kaki. Sekalian olahraga dan biar tidak ada sesuatu yang terlewatkan, pikirku. Motor kutinggal, bensin mahal, jadinya lumayan buat penghematan, hehe…
Aku berjalan di pinggir jalan raya, menyusuri pinggiran kota yang tak kalah ramainya ini. Matahari sore masih menyisakan panas tengah hari tadi. Mobil dan motor berseliweran, berlomba-lomba menyumbang karbondioksida buat memperpanas bumi. Debu berterbangan kesana-kemari. Begitu pula dengan sampah, bertebaran di sana-sini.
Para pedagang kaki lima mulai membuka dagangan mereka di sepanjang bibir jalan. Ada roti bakar Bandung, martabak telor, keripik Purwokerto, fried chicken Malang, susu kedelai Bayu CS, terang bulan Bandung, pentol, pisang goreng keju, aneka gorengan, empek-empek Palembang, dan macam-macam. Warung-warung makan Sea Food dan warung-warung “tanpa nama” juga mulai buka.
Ah, bisakah semua itu dijadikan karangan? Kurasa tidak. Harus ada sebuah kejadian yang terjadi, sesuatu yang unik, bukan sesuatu yang biasa-biasa saja seperti halnya suasana sore yang sangat biasa ini.
Kini aku sampai di terminal, nama terminal ini diambil dari nama desanya, Terminal Handil Bakti. Ini merupakan terminal utama Kabupaten Barito Kuala, angkot yang datang dari Banjarmasin berikut para penumpangnya yang ingin ke pelosok-pelosok di Barito Kuala, singgahnya di sini. Penumpang itu kemudian berganti angkot. Tinggal pilih, ada jurusan Sungai Gampa, Marabahan, Anjir, bahkan Kapuas. Atau bisa juga memakai jasa para tukang ojek yang banyak mangkal di sini. Demikian pula sebaliknya, bila dari Barito Kuala ingin naik angkot ke Banjarmasin, juga harus mampir di sini untuk kemudian berganti angkot.
Meski ini sebuah terminal, namun suasananya begitu sepi. Terminal ini hanya benar-benar hidup dari jam 8 sampai jam 10 pagi, setelahnya hanya sepi, apalagi sudah sore begini. Maklum, namanya juga desa. Belum lagi sekarang ini orang lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi. Wajarlah bila Amang Ibak, sopir angkot jurusan Handil Bakti-Marabahan yang rumahnya tak jauh dari rumahku itu, hidupnya tak pernah makmur, apalagi sekarang anaknya sudah tiga.
Di belakang loket pembelian tiket jurusan Sungai Gampa dan Marabahan, para sopir angkot asik bermain domino. Botol kaca menggantung di telinga sebagian mereka sebagai hukuman karena kalah permainan. Di sebelahnya, kios yang merangkap warung teh tampak sepi. Dari raut wajah penjaganya yang tampak lesu, sepertinya kios ini sepi pembeli. Angkot yang kesepian, kios yang kesepian, terminal yang kesepian.
Namun bisakah semua ini dijadikan karangan? Sepertinya juga tidak. Di sini tidak ada kejadian yang menarik, bahkan tak terjadi apa-apa!
Aku duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu ulin3, tempat biasa para penumpang menunggu keberangkatan. Di samping kiriku ada seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor. Capek rasanya dari tadi jalan kaki. Kuselonjorkan kakiku. Kulirik seorang wanita paruh baya di sampingku itu. Wajah penuh make-up dan lipstik itu gelisah, sesekali ia melirik HP-nya. Tampaknya sudah terlalu lama menunggu. Parahnya, tak ada penumpang lain selain dia. Sedangkan angkot hanya akan berangkat jika penumpang sudah mencapai angka 12.
“Mau kemana, tante?” Aku mencoba berdialog dengan wanita di sampingku itu, siapa tahu bisa dapat ide buat dikarang.
Dia menoleh ke arahku. Wajah gelisahnya lesu.
“Mau ke Marabahan…”
“Oh… Dari mana?”
“Dari Pasar Hanyar.”
Tampaknya tante ini tak suka diajak bicara. Tapi biarlah, yang penting aku bisa dapat ide. Toh aku juga tak akan bertemu lagi dengannya.
“Ke Marabahan mau pulang atau apa?” tanyaku lagi.
Tak langsung menjawab.
“Menjenguk suami…”
“Oh….” jawabku dengan sebuah senyum, agar tampak manis, sehingga orang ini mau terus berbincang denganku.
Tapi itu bukan berarti aku mengerti. “Menjenguk suami” adalah kalimat yang tak biasa, seperti ada sesuatu di baliknya. Kenapa suami harus ditengok? Bukankah setiap hari biasanya suami dan istri itu ngumpul di rumah? Apa itu artinya tante ini dan suaminya jarang berkumpul? Atau yang dimaksud itu mantan suami? Kenapa pula mantan suami mesti dijenguk? Sakit parah? Apa istrinya yang baru tidak bakalan marah? Atau jangan-jangan yang ingin dijenguk itu sebetulnya anak-anaknya yang dulu dia lahirkan namun diasuh oleh suaminya?
“Hm, kalau boleh tahu, kok suaminya mesti dijenguk?”
Juga tak langsung menjawab.
“Ya kan suami, masa nggak dijenguk?!” jawabnya dengan judes. Namun wajah wanita itu kemudian tersenyum.
Ah, itu bukan jawaban. Tetap saja aku bingung. Aku mulai menduga-duga hal lain, berpikir sebaliknya. Mungkin saja yang ingin ditemuinya di Marabahan itu selingkuhannya. Ya, itu barangkali yang dimaksudnya dengan suami. Suami simpanan!
Eh, tapi bisa saja lebih jauh dari itu. Lebih jauh, bahkan dugaan itu baru saja terpikirkan olehku. Ya, mungkin saja. Jika melihat dandanannya yang seperti itu memang mungkin saja. Mungkin saja wanita ini sebenarnya adalah PSK yang ingin menemui pelanggannya!
Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah… Aku seharusnya tak boleh sangka buruk seperti itu. Tapi jujur saja, itulah yang kemudian terlintas di benakku.
“Emangnya jarang ketemu ya?” aku kembali bertanya.
Sumpah, aku benar-benar penasaran!
“Nggak juga sih. Tiap hari Minggu saya pulang ke rumah suami, terus hari Selasa pagi saya balik lagi ke Pasar Hanyar.”
“O… Tante kerja di sana ya?”
Aku sedikit dapat gambaran sekarang.
“Iya, usaha grosir. Sedangkan suami saya kerjanya di Marabahan. Anak-anak juga sekolahnya di Marabahan.”
“Biasanya kalau di Banjarmasin Tante pulangnya ke mana?”
“Ke rumah orang tua saya…”
“Oh…”
Aku mulai mengerti sekarang. Rupanya pikiranku saja yang tadi terlewat berlebihan. Kemudian kami pun terlibat dalam kebisuan. Hening, menyatu dengan keheningan terminal ini.
“Nggak dijemput suaminya ya Tante?” Aku tiba-tiba dapat ide lagi untuk ditanyakan.
“Nggak, suami saya kebetulan sibuk hari ini.”
“Oh…”
Kembali hening, benar-benar hening. Cukup lama, sampai ada sebuah angkot berwarna kuning yang menepi di depan kami dan menurunkan dua orang penumpangnya, muda-mudi, tampaknya sepasang kekasih. Angkot kuning berarti dari Banjarmasin, maka ada kemungkinan mereka berdua juga akan beli tiket jurusan Marabahan, sama seperti wanita paruh baya di sampingku ini. Benar dugaanku! Setelah membeli tiket jurusan Marabahan, lantas mereka duduk di samping kananku.
Televisi yang ada di dalam loket tiba-tiba menyala. Berarti listrik sudah nyala. Samar kulihat televisi itu menayangkan sebuah sinetron, kisah percintaan tentunya.
Pikiranku kemudian melayang kemana-mana. Wanita yang ingin menjumpai suaminya, sepasang kekasih muda-mudi, sinetron percintaan… Aha! Sekarang aku dapat ide sudah. Kenapa tidak kisah cinta saja yang kutulis buat tugas mengarangku? Walaupun klise, tapi cinta itu kan unik, tak pernah habis, bisa berkembang kemana-mana. Ada cinta yang ditinggal mati, ditinggal selingkuh, ada cinta yang terpaksa, cinta beda agama, ada cinta segi tiga, segi empat, segi lima, segi enam, cinta orangtua kepada anaknya, cinta lawan jenis, cinta sesama jenis, dan cinta-cinta yang lain. Huh, kenapa baru sekarang aku terpikirkan. Baiklah, aku harus pulang secepatnya.
Hari sudah senja, matahari akan beranjak meninggalkan desa Handil Bakti, jingga menghiasi langit, sebelum gelap akan benar-benar bertahta. Suara dari beberapa mesjid dan mushalla mulai menyeruak di udara.
Dengan naik ojek, aku pulang ke rumah. Pisang goreng buatan Mama sudah menanti di sana, siap disantap seusai shalat magrib nanti. Jalan raya semakin ramai, senja memang merupakan puncaknya, saat orang-orang pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Senja kali ini tampaknya begitu indah, bahkan para pedagang kaki lima semuanya tersenyum manis, semanis selai roti bakar Bandung.

***

Pagi ini teman-temanku sibuk. Mereka panik karena baru teringat bahwa ada tugas mengarang. Syukurlah Bahasa Indonesia mata pelajaran terakhir, sehingga mereka masih sempat googling, mencari cerita yang layak untuk dikumpul, mencopy-pastenya, lalu memprint. Sementara yang benar-benar sudah mengerjakan setahuku hanya aku dan Kara, siswi yang diam-diam aku menaruh hati padanya, sejak pertama kenal di kelas X B IPS dulu.
Kara gadis yang biasa, tapi bukankah cinta tak perlu penjelasan? Dan ketahuilah, bayangannyalah sebenarnya yang menari-nari di pelupuk mataku saat aku membuat tugas mengarang ini. [ ]

Mandastana, 2 Maret 2011
____________
1) Ulun (Banjar) = aku
2) Lawas (Banjar) = lama
3) Kayu Ulin = kayu khas Kalimantan, biasanya juga disebut kayu besi karena kekuatan dan kepadatannya melebihi besi

(Nominasi Lomba Menulis Cerpen dengan Tokoh Utama Pelajar)
(Melodi Cinta Putih Abu-abu, Leutika Prio, 2011)