Selasa, 24 Februari 2015

Melihat Kecantikan Danau Biru di Pengaron, Banjar

Danau Biru, Simpang Empat Pengaron, Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar


Ahad, 8 Februari 2015, pukul 10 pagi, lewat satu jam dari waktu yang telah disepakati, Tri dan dr. Teguh datang ke kontrakanku. Sekarang giliranku menjemput Bang Yudis, sang penunjuk ke jalan kebenaran, yang rumahnya hanya sekitar 100 meter dari kontrakanku. Kemudian, meluncurlah kami berempat dengan aku membonceng Bang Yudis, dan Tri membonceng dr. Teguh.
Tujuan kami adalah Danau Biru yang ada di daerah Simpang Empat Pengaron, Kabupaten Banjar. Danau yang sebenarnya merupakan bekas galian tambang batu bara. Di perempatan Jl. Veteran, kami berbelok ke kiri, ke jalan menuju Sungai Tabuk (jalan dalam) karena menurut teori jalan tersebut lebih dekat dibanding Jl. A. Yani (jalan luar). Namun di luar perhitungan, kami terjebak macet lantaran ada acara perkawinan sementara lebar jalan sangat sempit. Maka tak ada pilihan lain selain ikut merayap di antara kepadatan kendaraan, debu, dan cuaca panas yang membakar kulit. Setelah sekian lama, akhirnya kami terbebas dari macet. Kami pun melaju di atas jalanan lapang.
Namun hal itu tidak berlangsung lama,  selanjutnya kami disambut genangan banjir sehingga menahan dua motor yang kami tunggangi untuk melaju. Dengan tarikan gas seadanya tadi, akhirnya sampailah kami di kota intan, Martapura. Kerumunan santri dengan peci, sarung, baju putih, dan kitab yang terpegang di depan dada seolah menyambut siapa saja yang datang ke kota ini.
Perjalanan terus berlanjut. Sekitar satu jam dari Kota Martapura, tibalah kami di Simpang Empat Pengaron, di sini kami berbelok ke kanan, ke arah Benteng (dinamai demikian karena di sana terdapat benteng peninggalan Belanda).

Kami berhenti untuk membeli bensin dan nasi bungkus. Aku dan Bang Yudis bertukar posisi, ia yang di depan, aku yang di belakang. Dari sinilah kehadiran Bang Yudis, sang penunjuk jalan, dibutuhkan. Dengan mengandalkan ingatannya, kami meneruskan putaran roda motor.
Kami berbelok memasuki kawasan pertambangan. Beberapa ratus meter, tampaklah danau biru. Tapi ternyata danau biru yang dimaksud bukan itu, itu danau biru kecil, sedangkan yang kami tuju lebih besar dari itu. Kami berkali-kali berbelok, dan kemudian, terjadilah apa yang kutakutkan: Sang penunjuk jalan lupa akan jalan... Tapi kemudian dengan instingnya, Bang Yudis memilih-milih jalan. Ajaib, Si Danau Biru akhirnya ditemukan!!!
Danau Biru - Pengaron - Banjar

Ketika kami tiba, di sana sudah banyak pengunjung meski tidak terlalu ramai. Dan sesuai teori, di mana ada keramaian, ada pula dua hal ini: warung, dan parkir liar. Kami memarkir motor, duduk di warung, memesan es teh, dan membuka nasi bungkus yang tadi kami beli. Setelah itu semua, barulah kami berjalan ke Danau Biru untuk foto-foto. Sementara kami ngobrol dan makan tadi, tampaknya pengunjung terus bertambah, jadi untuk foto-foto di titik yang bagus kami harus bergantian.
Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar


Puas berfoto-foto, dan itu perlu berjam-jam, barulah kami sepakat untuk pulang.
Aku tidak hapal jalan pulang, maka sang penunjuk jalan kembali menyetir di depan. Lalu sesuatu yang mencemaskan kembali terjadi, jalan yang kami lalui sekarang terasa asing, tidak seperti jalan kami masuk tadi. Tapi kami tetap meneruskan. Lagi-lagi ajaib, kami keluar lewat jalan berbeda!!!
Di perjalanan pulang kami singgah di Kota Martapura untuk mengistirahatkan tubuh dan menikmati suasana tamannya, lalu singgah di warung makan dengan menu khas Nasi Samin. Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami kembali lewat 'jalan dalam' karena berdasar info dari sosial media, Jalan A. Yani tepatnya di daerah bandara macet total akibat banjir. Sementara di 'jalan dalam', sesuai insting Bang Yudis, banjir tadi siang telah surut. Tepat ketika adzan magrib berkumandang dari mic musalla, kami sampai di kontrakanku, dengan membawa foto-foto yang siap dipamerkan. :D
Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar


Senin, 23 Februari 2015

Jalan-jalan ke Bukit Lintang dan Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) di Pelaihari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan

Bukit Lintang - Bukit Rimpi
Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut
Bukit Lintang, Tanah Laut

Bukit Rimpi - Pelaihari - Tanah Laut
Bukit Rimpi, Tanah Laut


11 Januari 2015
Minggu, jam 7 pagi, saat di mana kehidupan belum benar-benar berlangsung di kontrakanku. Tapi tidak hari ini. Hari ini, aku, Tri dan Bang Yudis berencana akan ke Bukit Lintang dan Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies), dua bukit di daerah Pelaihari yang akhir-akhir ini ramai dikunjungi (orang Banjarmasin, beberapa bulan ini, memang sedang keranjingan naik bukit!). Rencana memang tidak sepagi ini, tapi aku harus ke acara perkawinan Ka Shinta, teman yang juga pelangganku saat jual buku dulu, pelanggan yang membeli buku dengan alasan yang unik: ia membeli buku-buku Ernest Hemingway karena anaknya akan ia beri nama Ernest, padahal saat itu ia belum menikah apalagi punya anak. Ka Shinta membeli nyaris semua buku-buku karangan Ernest Hemingway, dan aku sudah menyiapkan kado untuknya tepat satu tahun lalu, sebuah buku Ernest Hemingway yang sudah cukup langka dan bisa kupastikan ia belum punya.
Sekitar pukul 8 aku tiba di Martapura, di tempat acara, setelah sebelumnya beberapa kali bertanya jalan. Tidak butuh waktu lama untuk aku menyerahkan kado ke bagian penerima tamu, makan, bersalaman, lalu pamit. Lega rasanya, buku itu sudah diserahkan pada yang bersangkutan, sebab selama satu tahun ini buku itu terus menggoda untuk jadi milikku saja. Haha…
Dari Martapura, aku mengambil Jalan Cempaka, sampai di Simpang Tiga Bati-Bati, aku mampir di warung gorengan dalam rangka menunggu Tri dan Bang Yudis. Kukira mereka telah tiba di sana lebih dulu, ternyata aku harus menunggu, menunggu yang lama, karena perlu waktu hampir satu jam hingga mereka muncul. Saat mereka tiba, aku tak perlu bertanya untuk tahu jawaban atas keterlambatan mereka: Tri mengajak dua orang temannya, keduanya perempuan (yang belakangan aku tahu nama mereka Iin dan Desty), dan Bang Yudis mengajar tiga orang temannya, satu laki-laki dan dua perempuan (yang laki-laki bernama Agung, dan yang perempuan satunya bernama Rita, satunya lagi aku sudah lupa siapa namanya). Maka berdelapan, kami melanjutkan perjalanan ke arah Pelaihari.

Yang pertama dituju adalah Bukit Lintang. Kami berbelok ke kiri tepat sebelum Bukit Kayangan.
Jalan menuju Bukit Lintang
Jalan menuju Bukit Lintang

Beberapa ratus kilometer, jalan aspal, berganti jalan berbatu dan tanah, dan rumah-rumah penduduk berganti pohon-pohon kelapa sawit. Selain kami berdelapan, pagi itu banyak juga yang melalui jalan itu, yang jelas memiliki tujuan yang sama. Setelah beberapa kali menemui belokan, dan beberapa kali mampir untuk foto-foto, sampailah kami di kaki Bukit Lintang!



Ada banyak pengunjung di sini. Seperti biasa, di mana ada banyak orang, di situ ada warung. Kami istirahat sejenak, kemudian mulai mendaki. Dengan penuh semangat, aku memimpin di depan. Matahari begitu terik. Tapi saat ini tenagaku masih penuh-penuhnya. Beberapa kali stop untuk istirahat, lalu naik lagi. Matahari semakin terik, namun aku masih di depan, masih semangat. Di pertengahan antara puncak dan kaki bukit, Iin dan Desty mengibarkan bendera putih.
Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut
Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Dari sini, jalur pendakian semakin curam. Bahkan disiapkan tali tambang untuk membantu naik. Lalu, setelah beberapa puluh meter ke atas, semangatku yang tadi berapi-api, meleleh seperti lilin. Satu persatu teman-teman yang meneruskan naik melewatiku yang mengipasi semangatku. Tapi rupanya, panas matahari, dan perut yang tampaknya tengah bermasalah, membuat semangatku semakin meleleh habis. Akhirnya aku pun menyerah… Bukan, ini adalah sebuah kesadaran akan batas kemampuan…. Hehe.
Tidak ada pohon di tempat aku berhenti tersebut. Maka pilihan terbaik adalah turun, menuju tempat Iin dan Desty istirahat di mana di sana ada beberapa pohon untuk bernaung. Maka bertiga, kami menunggu lima orang pejuang yang tersisa sambil foto-foto, dan menghibur diri dengan merasa cukup puas dengan pemandangan dari “setengah perjalanan”.

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut
Bukan, itu bukan motor saya....

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Cukup lama hingga akhirnya lima orang rombongan kami itu turun dan lantas memamerkan foto-foto dari puncak bukit. Kami kemudian turun, istirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan menuju Bukit Rimpi atau yang biasa disebut Bukit Teletubbies karena mirip dengan bukit-bukit di acara TV Teletubbies dengan skala yang lebih besar. Kami tiba di Kota Pelaihari, dan saat itu hari sudah hampir sore. Kami mampir di warung es nyiur di tepi jalan untuk istirahat, kemudian lanjut lagi.

Tidak jauh dari Kota Pelaihari, kami sampai di depan pintu masuk utama menuju Bukit Rimpi, di sini cukup ramai, dan banyak terparkir motor. Namun berdasarkan saran dari Bang Yudis, kami terus menuju pintu masuk kedua karena menurutnya, di sana hanya perlu bayar satu kali, yaitu buat parkir, sedangkan di pintu masuk utama tadi harus bayar dua kali, satu untuk parkir, dan satu untuk masuk.
Setiba di depan pintu masuk kedua, setelah menembus jalan setapak naik-turun, kami memang diminta bayar untuk parkir, 5 ribu rupiah, dan harus bayar di awal. Dan tidak seperti perkiraan, saat akan memasuki lokasi ternyata diminta bayar lagi, 4 ribu rupiah perorang. Memasuki Bukit Rimpi, kami takjub bukan main, bukan oleh pemandangannya, tapi oleh banyaknya orangnya!
Ini tidak seperti yang kubayangkan, di sini benar-benar sangat ramai, bersaing dengan Duta Mall. Dan yang lebih mengecewakan ialah rumput-rumput hijaunya yang karena terlalu sering diinjak, menjadi agak gundul, meninggalkan warna coklat tanah. Pemandangan tersebut jauh berbeda dengan dua bulan sebelumnya, saat Bang Yudis pertama ke sana dan memamerkan fotonya. Tapi tak apa, kami cukup senang, dibuktikan dengan seringnya kami berfoto ria di sana dengan senyum yang mengembang.


Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) - Pelaihari, Tanah Laut

Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) - Pelaihari, Tanah Laut

Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) - Pelaihari, Tanah Laut

Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) - Pelaihari, Tanah Laut

Sampai pukul enam sore, barulah kami turun. Sebelum pulang ke Banjarmasin, kami mampir di rumah Kak Rita untuk istirahat dan mandi, kemudian meneruskan perjalalan pulang, singgah di daerah Bati-bati untuk makan malam. []


Senin, 16 Februari 2015

Garut, Jawa Barat (Day 2)

Pagi hari di Pondok Saladah, tempat kemah kami sudah dibasahi air hujan yang turun semalaman. Rencana kami untuk naik ke Hutan Mati untuk melihat sunrise pun harus dibatalkan karena sangat riskan untuk naik diwaktu hujan. Terlebih kabut tebal membuat jarak pandang makin pendek. Akhirnya sekitar pukul 7 pagi kami baru keluar dari tenda dan bersiap untuk naik menuju Hutan Mati. Jalan licin dan berlumpur menghiasi perjalanan kami. Tapi karena kami adalah tim hore alias gembira di segala suasana jadinya jalan becek licin dan kotor itu tidak kami rasakan. Pokoknya hajar terus sampai atas ahaha... Lagi-lagi tak mau melewatkan kesempatan menarik ini saya langsung mengeluarkan kamera saya dan mulai merekam perjalanan naik ke Hutan Mati bersama teman-teman yang sudah bersemangat dari pagi. Ternyata kami tidak sendiri karena makin siang makin banyak yang naik ke Hutan Mati karena seharian kemarin hujan menghambat kami untuk terus naik. 

Tim hore selalu
Mulai jalan becek, berbatu sampai kubangan kami lalui dengan berani (halah). Walaupun ada di beberapa tempat mengalami kesulitan karena harus melompati celah besar dan berdiri di batu licin tapi akhirnya kami sampai juga di Hutan Mati. Setelah melihat hamparan hutan yang diisi pohon hitam karena terbakar hawa panas dari belerang, sepertinya melompati celah besar dan terperosok ke kubangan langsung lupa sejenak. Suasana takjub dan agak mistis membuat saya makin bersemangat. Lokasi ini sangat istimewa untuk dijadikan lokasi pemotretan. Andaikan saya juga bisa membuat film disini alangkah bahagia sekali. Batu putih dan batang kayu hitam seakan menambah kontras warna hutan ini. Pokoknya untuk yang ingin foto prewedding saya rekomendasikan kemari. 

Sepanjang hari kami habiskan waktu untuk berfoto dan bercanda di atas sana. Banyak spot bagus yang tidak boleh dilewatkan kalau kamu pecinta fotografi. Untunglah saya hobby fotografi dan teman teman saya bersedia menjadi model dadakan akhirnya bisa menambah koleksi foto saya. Seolah tidak mau pergi dari 1 tempat ke tempat lain karena masih mau meng eksplore satu tempat untuk di foto. Tapi ternyata makin naik, suasana berbeda dan pemandangan indah makin banyak. Sepertinya tidak akan habis kalau harus meng eksplore seharian disini. Dan puncaknya adalah di pinggir jurang yang mengharuskan saya menghentikan pemotretan. Ditambah hujan gerimis tiba tiba datang. Karena tidak ada pepohonan rindang di daerah sana kami harus sigap menyelamatkan bawaan kami dan segera memakai jas hujan. 














Karena waktu sudah tidak memungkinkan untuk terus naik ke Tegal Alun akhirnya kami putuskan untuk kembali ke pondok Saladah untuk segera packing dan turun. Siang hari kami harus packing di tengah hujan rintik rintik. Beruntunglah teman-teman baru kami sangat membantu dalam membongkar tenda. Terus terang karena saya baru pertama kali jadinya masih bingung untuk memasang dan bongkar tenda yang akhirnya kurang membantu mereka dalam segi kecepatan (maaf ya..). Setelah tenda dan barang-barang terbungkus rapih di dalam backpack kami pun segera turun. Sepertinya saya masih belum bersahabat dengan cuaca disini karena dari sepagian perut saya sakit sekali karena masuk angin dan itu membuat kesenangan saya kurang maksimal. Ditambah hujan menurunkan suhu lebih dingin lagi, dan pernah menyentuh angka 6 derajat Celcius. Bisa dibayangkan berendam di dalam air dengan es batu? Ya, 6 derajat Celcius kira-kira seperti itu. Tapi untunglah saya membawa jaket tambahan dan menggandakan jaket saya supaya lebih tebal. Malah tangan saya yang sejak pagi pakai sarung tangan tetap terasa kaku dan harus sesekali mengepal supaya sirkulasi darah lancar. Perut sakit, hujan, jalan licin dan dingin mensuk tulang menjadi drama baru seperjalaan kami turun. 

Sesampainya di Pos 2 hujan makin deras dan memaksa kami untuk berhenti sejenak di pondok yang ada di pos 2. Jalan makin licin dan genangan makin melebar. Perjalanan turun yang seharusnya lebih mudah dibanding naiknya sepertinya malah lebih sulit daripada naiknya. Jalan tanah yang licin membuat kami harus berjalan ekstra hari-hati agar tidak terpeleset. Dan sehati-hati apapun kalau lengah sedikt saja tetap membuat terpeleset. Seperti yang saya alami saat menuruni jalan berbatu. Saya sudah sangat hati hati berjalan selangka demi selangkah di bebatuan licin dan turunan. Tapi karena mata saya terhalang oleh tas yang saya gendong kedepan (ya, saya membawa 2 tas depan belakang) kahirnya saya terpeleset di salah satu batu bulat. Tidak keras sih tapi cukup membuat saya sedikit shock. Untunglah jalan yang saya lalui bukan di pinggir jurang. Beruntung saya memiliki teman-teman yang sigap sehingga saya merasa aman berada dekat mereka. Korban jatuh bukan cuma saya, karena teman saya yang lain ternyata jatuh di tempat yang lain, tapi untunglah tidak luka parah, cuma lecet saja seperti saya. 

Sesampainya di pos 1 kami beristirahat sebentar untuk saling introspeksi diri dan mengecek apakah ada yang mengalami cederas serius. Untunglah tidak terjadi apa-apa dan perjalanan kami lanjutkan kembali. Dan tidak sampai 30 menit kami sudah sampai di Camp David. Ada beberapa diantara kami yang menggigil karena ternyata bajunya basah, saya juga segera ke toilet karena perut saya sudah tidak tertahan sakitnya. Saking dinginnya saat itu, teh panas pun serasa teh hangat kuku saja, padahal jelas-jelas asap mengepul dari dalam gelas. 

Setelah dikira cukup, kami segera mencari mobil pick up untuk mengantar kami ke Cisurupan karena waktu sudah makin sore. Suasana persahabatan makin terasa hingga disaat pulang. Dengan berdempetan dalam pick up kami bercanda seolah sudah kenal lama. Bau kandang ayam yang terendus di dalam pick up tidak jadi penghalang, malah jadi bahan tertawaan kami haha... Dan sesampainya di Cisurupan saat saya menghidupkan HP saya, banyak pesan masuk dan diantaranya ada yang menawarkan peluang kerja. Alhamdulillah, apakah mungkin in iawal dari move on saya selama 5 tahun? Semoga saja.

Perjalanan pulang yang selalu bersama dari Garut hingga Kampung Rambutan membuat kami bukan hanya teman, tapi juga seperti saudara. Pertemanan kami juga tidak terhenti ke kampung rambutan, karena hingga hari ini kami masih saling melakukan kontak. Malah banyak yang datang ke pemutaran video trip yang saya buat ini, bahkan yang tidak sempat ikut ke papandayan sekalipun. Sungguh pengalaman yang akan membekas. Terimakasih teman teman atas pengalaman berharga ini.

Berikut adalah video nya.

Garut, Jawa Barat (Day 1)

Naik gunung. Ya, itu salah satu yang ingin saya lakukan dari dulu tapi sayangnya belum dapat waktu dan teman yang bisa diajak kesana. Dan penantian itu akhirnya berakhir pada 31 Januari 2015 lalu. Berawal dari ajakan iseng teman dan entah mengapa saya langsung meng-iya-kan ajakannya. Awalnya agak ragu juga karena saya belum pernah naik gunung dan camping sama sekali (yang di pramuka jaman SD ngga saya hitung ya, karena itu kan bukan di hutan beneran). Sedikit bimbang dan akhirnya saya yakinkan diri saya sendiri. Dan akhirnya gunung Papandayan Garut Jawa Barat ini mengawali cinta saya kepada gunung.
Resign, Hiking dan Move On
Hari itu tepatnya tanggal 30 Januari 2015 saya mengakhiri masa kerja saya di kantor lama saya. Setelah 5 tahun mengabdi akhirnya saya putuskan untuk keluar dari sana. Banyak hal yang terjadi, tapi yah... sudahlah. Sepulang dari sana saya langsung menyiapkan segala perlengkapan travel saya. Teman saya selalu mewanti-wanti kalau di gunung itu cuacanya agak extreme, apalagi masih di bulan Januari yang notabene musim hujan. Selain persiapan perlengkapan, saya juga harus membekali fisik saya agar selalu fit. Setelah direpotkan oleh urusan resign kantor, mungkin ini kesempatan saya untuk recharge diri saya agar lebih baik lagi. Persiapan mulai dari pakaian tebal, alas kaki hingga obat-obatan sudah saya persiapkan. Karena saya belum tahu medannya jadi saya memproteksi diri saya lebih dari trip biasa saya jalan-jalan di perkotaan. Lapisan plastik trash bag membungkus isi dari tas saya. Selain itu barang-barang yang rentan basah dan lembab juga saya bungkus dengan kantong plastik satu persatu. Dengan izin orang tua dan Bismillah, saya mulai perjalanan saya.
Malam itu pukul 20.00 kami berkumpul di tempat salah satu teman kami. Setelah berkumpul dan mempersiapkan segala sesuatunya kami langsung berangkat menuju terminal Kampung Rambutan. Perjalan menggunakan sepeda motor beramai-ramai memakan waktu -+ 1 jam. Perjalanan dimulai dengan tawar menawar harga bus hingga didapat harga Rp.50ribu sekali jalan menuju terminal Guntur, Garut. Bus yang kami naiki berangkat pukul 23.00. Perjalanan panjang kami isi dengan ngobrol, diskusi dan akhirnya tertidur hehe... Sekitar 4 jam kemudian kami sudah sampai di terminal Guntur dan bersiap untuk melanjutkan menggunakan angkot. Di terminal kami sempatkan membeli makanan dan ke toilet. Dan, lagi-lagi tawar menawar harga angkot dimulai. Untuk urusan tawar menawar kami serahkan teman wanita kami karena kami para lelaki ngga akan bisa menawar karena jujur... ngga tegaan haha... Setelah harga disepakati kami pun langsung berangkat 30 menit kemudian. Karena jumlah grup kami hanya 8 orang, jadinya kami harus berbagi  dengan grup lain yang jumlahnya 6 orang. Dengan semangat persaudaraan (halah) kami berbincang dengan grup lain tersebut dan... tadaaa... teman baru sudah didapat. Mudah sekali mencari teman disini karena semangat persaudaraan yang tinggi, beda sekali seperti... ah sudahlah.

Perjalanan dari terminal guntur menuju Cisurupan memakan waktu -+45 menit karena jalannya yang sepi dan masih tengah malam. Sesampainya di Cisurupan kami harus melanjutkan menggunakan mobil pick up. Karena sudah mendekati waktu sholat subuh akhirnya kami putuskan beristirahat sebentar, sholat subuh lalu lanjut ke Camp David. Inilah yang saya suka kalau keluar kota, suasana persaudaraan dan sopan santun warganya masih sangat terasa. Ya, walaupun tidak semuanya, tapi kebanyakan masih sangat baik. Selesai sholat subuh kami segera melanjutkan perjalanan ke Camp David menggunakan pick up yang tentu saja setelah melakukan tawar menawar sengit antara wanita super vs abang supir haha... Dan hal yang membuat seru adalah, rombongan pick up kami adalah rombongan yang sama seperti di angkot tadi. Dan inilah awal kami berteman hingga sekarang.

Perjalanan dari Cisurupan ke Camp David sekitar +- 30 menitan. Sepanjang jalan kami di suguhi pemandangan 3 gunung yang melingkari kami. Adalah gunung Guntur, Cikuray dan tentu saja Papandayan. Pemandangan dipercantik dengan terbitnya matahari di sisi dalam gunung Cikuray. Sungguh pemandangan yang Subhanallah. 

Pendakian Perdana Dimulai
Kebersamaan mulai dari awal
Sesampainya di Camp David kami langsung check in dan sarapan sebentar. Saya pun dengan segera menangkap beberapa pemandangan dengan kamera saya. Inilah yang saya ingin dapatkan kalau trip ke gunung. Dengan semangat 45 kami memulai perjalanan naik keatas yang tentu saja dimulai dengan berdoa sejenak untuk keselamatan kami. Langkah mantap kami memulai pendakian ke atas gunung Papandayan. Setelah beberapa meter dari Camp David jalan mulai berbatu walaupun masih landai. Banyak rombongan yang memulai pendakiannya bersama kami. Kiri kanan saya terlihat pendaki dengan backpack besar berwarna warni berjalan mendahului. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan saya dengan sigap mengambil beberapa gambar dengan kamera saya walaupun itu cukup menghambat tapi untunglah teman-teman saya berjiwa narsis tinggi, sehingga mereka rela menunggu saya yang agak lambat ini (maaf ya) untuk tetap bersama berjalan dalam track dengan syarat saya memotret mereka juga haha... Baru beberapa ratus meter saja pemandangan yang disuguhkan sudah sebegini indahnya, bagaimana diatas nanti? Kebetulah cuaca sedang cerah walaupun awan tebal siap menutup langit kapan saja. Langit biru, gulungan awan dan kepulan asap dari kawah belerang membuat foto saya terlihat "mahal". Tapi sayang, keindahan ini sedikit dirusak dengan corat-coret tangan jahil pendaki yang menuliskan namanya di atas batu.

Tetap narsis
Mulai dari jalan berbatu, kini jalan berubah menjadi tanah dan sedikit berlumpur. Untunglah cuaca saat itu sedang cerah jadinya lumpur sudah agak mengeras dan mudah untuk dilewati. Setelah melewati sungai kecil jalan mulai menanjak. Dan sangat disayangkan jalan tanah yang cuma segitu-gitunya harus dirusak dengan sepeda motor yang naik lewat tengah jalur. Jadinya tanah yang masih lembek itu menjadi terbelah dan terbentuklah seperti got di antara 2 jalan kecil. 
Bersama sahabat
Narsis juga ternyata

Amazing view
Kebersamaan

Menikmati awan
Kawah Papandayan


Istirahat dulu ah... capek
Ngasoo...




Pos 2 Pondok Saladah
Setelah beberapa jam kami sudah sampai di pos 2 dan harus melaporkan grup kami kembali. Sebenarnya kami bisa mulai mendirikan tenda disini, tapi karena lokasinya yang sudah mulai terisi banyak tenda akhirnya kami putuskan untuk terus naik hingga ke pondok Saladah. Perjalanan 30 menit lagi yang harus melewati hutan yang cukup rindang. Pemandangan yang saya dapat adalah hutan di sebelah kanan, dan jurang di sebelah kiri. Pemandangan sebelah kiri memang menggoda untuk dilihat karena terlihat pegunungan yang indah, tapi sebaiknya berhati-hati dan tetap fokus pada jalan. Sesampai di pondok Saladah kami seperti di sambut dengan banyaknya tanda yang sudah berdiri di beberapa tempat. Tanpa membuang waktu kami segera mencari lokasi strategis untuk mendirikan tenda. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di antara pohon dengan pertimbangan mempermudah pendirian tenda dan mengurangi resiko terkena angin kencang apabila cuaca buruk. Dan benar saja, baru kami mulai pendirian tenda, rintik hujan juga menambut kami. Kami percepat proses pembuatan tenda supaya barang-barang kami bisa selamat dahulu. Untunglah teman seperjalanan yang kami temui tadi pagi ikut bergabung dan membantu pendirian tenda. 





Makan malam bersama
Dari siang hingga sore hari hujan terus turun walaupun tidak deras. Tidak banyak yang bisa kami lakukan, jadinya kami hanya bisa mengobrol di dalam tenda. Karena bosan kami pun mulai bermaik gaple sampai nyanyi ngga jelas haha... Karena sudah lelah dan hujan belum ada tanda berhenti akhirnya kami putuskan untuk istirahat dulu dan tidur sebentar. Tidur siang di dalam tenda selama hujan gerimis itu ternyata nikmati loh haha... Oh iya, waktu mendirikan tenda sebaiknya dibuat jalur air supaya tidak membuat genangan di bawah tenda. Benar saja, setelah sore hari kami keluar dari tenda dan melihat trik ini berhasil membuang air yang kemungkinan bisa membuat tenda kami basah. Karena sudah sore akhirnya kami membatalkan untuk pendakian ke atas lagi dan berencana untuk naik esok pagi saja. Sepanjang sore hingga malam hanya bisa kami lakukan di sekitaran tenda saja. Ada yang dengar musik, masak, main gaple, apa sajalah yang penting bisa buang kebosanan.

Makin malam suhu pun mulai turun. Jaket tebal pun mulai tidak kuat menahan dingin dikarenakan gerimis menambah turunnya suhu malam itu. Tercatat suhu turun hingga 16 derajat Celcius (setidaknya itu yang terdeteksi di jam tangan saya). Hembusan nafas pun mulai menjadi uap air. Jaket tebal, kupluk hingga sarung tangan mulai dikerahkan. Hingga malam pun tiba kami beristirahat kembali ke dalam tenda. Baru 30 menit kami tidur, hujan mulai deras. Khawatir jalur air yang kami buat terlalu kecil dan bisa membuat basah tenda akhirnya salah satu teman kami dengan sigap keluar dari tenda dan mencari cangkul untuk membuat jalur yang lebih besar. Untunglah saya jalan bersama orang-orang yang sudah berpengalaman. Setelah got yang lebih besar terbentuk, kami menjadi lebih lega dan meneruskan tidur kami di malam dingin itu.




Bagaimana kelanjutan cerita ini? lanjut baca ya...

Ini video buktinya.