Sabtu, 27 September 2014

Jak Japan Matsuri 2014

Kembali lagi Jakarta kedatangan acara kebudayaan Jepang. Dan acara Matsuri kali ini diadakan di Parkir Timur Senayan setelah beberapa tahun sebelumnya diadakan di Monas. Dan karena ini pertama kalinya saya datang ke acara Matsuri, jadi saya ngga bisa membandingkan tingkat keseruan tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Mungkin karena promosinya kurang gencar (atau memang saya yang kurang gaul?) jadinya 2 tahun sebelumnya terlewatkan acara seperti ini. Dan cara mengetahui acara ini pun karena ngga sengaja saya kebetulan sedang menikmati gowes pagi saya ke arah Monas dan menemukan umbul-umbul acara ini sepanjang jalan Sudirman. Sebenarnya acara ini diadakan selama seminggu mulai tanggal 14 September hingga 21 September 2014, tapi acara puncaknya di tanggal 21 yang diadakan di parkir senayan ini.

Kesiangan
Tiket seharga 30ribu
Karena minggu itu panas banget, akhirnya saya putuskan menunggu cuaca yang agak mendingan untuk pergi ke acara ini. Maklum mobil saya masih di showroom (alias belum bisa beli) jadinya saya harus puas naik motor ke acara ini. Sayangnya sejak pukul 12 cuaca di daerah rumah saya agak mendung, jadi agak ragu untuk meneruskan ke venue atau ngga. Tapi setelah mendung ngga kunjung hujan dan syukurlah matahari mulai menampakkan diri lagi, akhirnya jam 14.00 saya langsung nyalain motor dan cuss menuju Senayan. Dan syukurnya lagi hari minggu itu jalanan ngga macet dan waktu 40 menit dengan kecepatan santai. Baru sampai di pintu masuk 1 sudah banyak calo tiket yang menawarkan harga yang sama. Saya sampe mikir "apa untungnya jual tiket dengan harga yang sama?". Tapi karena saya (maunya) jadi warga negara yang baik, saya cuekin aja para calo itu. Sampai di parkiran pun beberapa calo masih menawarkan saya tiket acara ini, tapi lagi-lagi saya melengos (halah). Sekali lagi sepanjang jalan menuju pintu masuk makin banyak calo tiket, tapi yang lebih aneh mereka jual lebih murah dari harga aslinya, jadi 25ribu aja. Kok bisa?

Mandi Salju
Akhirnya saya beli tiket di loket resmi dan harus membayar 30ribu. Saya pikir ada sesuatu karena beli tiket di loket (misalnya dapet souvenir atau apalah) ternyata sama aja (sampe saya berpikir: "tau gitu beli yang 25ribu aja" hahaha). Begitu masuk di sebelah kiri saya sudah banyak orang-orang berlari dan berteriak kegirangan. Karena kepo penasaran akhirnya saya datangi dan terlihatlah selang besar sedang nyemprotin salju buatan. Wah, seru juga bisa gila-gilaan di tengah salju di musim panas haha. Ngga lama main salju ada sesuatu yang seru juga di belakang saya, dan sinyal kepo saya mulai nyala dan langsung samperin keramaian itu. Yap, kali ini sekumpulan orang membawa Mikoshi, sejenis tandu yang diarak berkeliling venue. Dengan dandanan pakaian Jepang dan di "pawang" nya bawa kipas gede. Walaupun diberi batas tali oleh satpamnya, beruntung saya dapat tempat di paling depa jadinya bisa ambil gambar dengan jelas. 



Mikoshi

Cosplay, Makanan, dan Produk Jepang Lainnya.
Seperti di acara-acara kebudayaan Jepang lainnya, pasti ada yang naanya Cosplay. Cosplay atau singkatan dari Costume Player adalah penampil yang menggunakan kostum dari tokoh film, game, atau sesuatu yang populer. Mirip seperti acara Halloween di amrik sana, tapi ini made in Japan jadi pasti ada bedanya. Dari yang cuma dandan seadanya, sampe yang bikin kostum ribet. Dari anak kecil sampe yang tua juga ada. Dan hal yang bikin seru lagi adalah sederetan makanan Jepang yang mungkin ngga bisa ditemui sehari-hari. Saya lupa apa aja nama makanannya karena saya buka tipe suka jajan, jadi cuma liat-liat sambil ngendus wanginya makanan di deretan stand makanan haha. Ada juga produk asal Jepang yang di pamerkan disini. Memang ngga semua produk Jepang ada disini tapi setidaknya sponsor disini kebanyakan produk Jepang. Masih bingung muter-muter venue karena banyak yang mau didatengin jadinya tiap denger ada keramaian didatengin aja.



Pertunjukan Di Panggung Utama
Saya ingat kalo sebenernya saya ngejar ke acara ini sebelum sore karena mau nonton Jazz di panggung utama. Sambil celingukan saya nyariin mana dia panggung utamanya? Yang ternyata jelas terpampang di peta. Duh! Begitu ketemu langsung ikutan nyempil di kumpulan penonton lainnya. Ternyata masih acara lain, yaitu pengumuman pemenang lomba foto dan lomba lainnya, jadinya ya muter lagi aja nyari sesuatu yang bisa di foto. Tapi ngga lama mulai kedengeran suara piano dan saxophone, nah ini dia! Kembali nyempil di antara kerumunan sampe akhirnya dapet di baris ke 2. Saya akuin, Jazz nya biasa aja sih tapi boleh diacungin jempol lah karena udah mainin beberapa lagu Indonesia. Makin sore makin asik, sampe akhirnya hujan mulai turun dan penonton mulai bubar satu persatu. Karena hujannya masih di level rintik-rintik saya ngga gentar, nonton terus (sambil nutupin kamera dibawah baju}. Akirnya hujan ga tertahan lagi, hujan deras langsung turun ditengah acara dan saya cuma bisa berhatan beberapa menit sampe akhirnya basah kuyup dan berharap lensa saya ngga berjamur. Untungnya di belakang saya ada tenda untuk para tamu VIP, saya langsung ikutan nyempil sambil basah-basahan. Sambil berusaha melihat di tengah remang-remang cahaya tenda memeriksa semoga kamera saya ngga kenapa-kenapa. Kurang lebih 30 menit acara dihentikan karena break maghrib dan mempersiapkan panggung untuk acara berikutnya. Sedikit kekacauan pun terjadi karena tanpa diinfo sebelumnya ternyata jalur tengah harus dikosongkan untuk jalur jalan tamu VIP dan juga supaya tamu VIP bisa nonton sambil duduk cantik di sofa empuk, mantap gan!



Jakarta Kei-On

Acara pun dilanjutkan dengan hujan terus ngerucuk. Begitu hujan reda, saya langsung siapkan kamera saya dan langsung kembali maju ke arah panggung. Sayang sekali karena kali ini saya ngga bisa nyempil lagi karena tempatnya makin padat. Ditambah fans dari J-rock dan JKT48 sudah nunggu dari tadi. AKhirnya cuma bisa puas nonton dari jauh. Ada untungnya juga saya pake lensa tele kali ini, lumayan masih bisa ambil gambar walaupun agak blur (maafkan, saya sudah berusaha menyenangkan kalian hihi..) Hujan rintik-rintik tapi udah ngga berasa lagi kalo udah ditengah penonton yang lagi seru-seruan. Selama ditengah kerumunan mata dan tangan ga boleh lengah ya, jagain dompet, tas dan apapun yang bisa hilang atau rusak. 

Neduh di tenda
J-Rock
JKT48
 
Udah Malam, Capek, Pulang
Jam 20.30 acara sudah selesai dan JKT48 menutup acara dengan baik. Bukannya saya suka ngeliatcewe-cewe ABG lipsync sambil joget, tapi kalo ada ya ngga apalah buat hiburan. Begitu musik berhenti langsung dilanjutkan kembang api di belakang panggung. Lumayan lah ada kembang api walaupun masih lebih bagus kembang api di komplek saya tiap acara tahun baruan -- Ups! Di tengah jalan becek dan kerumunan orang mau pulang, di lapangan dekat pintu keluar ada tarian Bon Odori. Karena tempatnya juga rame dan agak sedikit "magical" akhirnya saya ikut ke dalam kerumunan tapi ngga sampe ikutan nari keliling sih. Ya lumayan lah untuk nambah-nambah koleksi foto. Karena badan udah capek dan rentek ditambah sedikit masuk angin karena baju basah keujanan saya langsung menuju pintu keluar dan parkiran. Dengan membayar 5ribu perak (biaya parkir) akhirnya saya bisa bawa motor saya keluar dan langsung ngacir pulang.

Nah kayak gitu acaranya. Seru juga sih kalo rame-rame jadi ngga berasa capeknya. Dan menurut bocoran, tahun depan acara Matsuri juga akan diadakan di parkir timur senayan. Semoga infonya bisa sampe di agenda saya supaya bisa ikutan lagi. Biar ngga penasaran bisa nonton video Flash Report yang saya buat. Sampe ketemu tahun depan :)


25 September 2014


Minggu, 21 September 2014

Sabtu, 20 September 2014

Cerpen Malam Jumat


Pagi Jumat kali ini kupikir akan seperti pagi-pagi Jumat yang lalu. Aku mengambil kiriman-kiriman karya di kotak mading, memilih mana yang layak muat, lalu menempelnya di mading. Tidak ada yang berubah sebagaimana kegiatan-kegiatan lain di pesantren ini yang semua waktunya sudah diatur. Sama membosankannya seperti wajah para santri. Tapi ternyata aku keliru.
Pagi ini, aku dikejutkan dengan sebuah kiriman karya berupa cerpen yang ditulis dengan sangat menakjubkan. Ini sungguh menggangguku. Dan sialnya, penulis cerpen ini tidak mencantumkan namanya, bahkan sekadar nama samaran ataupun inisial.
Selama ini, semenjak aku pertama jadi santri hingga sekarang aku di tahun terakhir dan menjadi pengurus mading sekaligus ketua asrama, hanya aku seorang di pesantren ini yang belajar menulis cerpen. Setidaknya, akulah satu-satunya orang yang serius belajar menulis cerpen. Aku rela melanggar peraturan dengan keluar pondok demi berguru pada cerpenis-cerpenis handal di kota ini. Aku telah membaca ratusan bahkan mungkin ribuan cerpen. Aku tahu betul mana cerpen bagus, dan mana cerpen jelek. Aku melahap semua buku-buku sastra di perpustakaan pesantren. Aku tekun mempelajari panduan-panduan menulis cerpen baik dari buku maupun internet. Bahkan, aku telah berkali-kali menamatkan membaca KBBI demi memperbanyak penguasaan kosa kata. Semua itu demi cita-citaku yang agung: menjadi cerpenis hebat.
Tapi, meski telah melakukan semua itu, entah apa penyebabnya, aku tak pernah sekalipun berhasil menulis walau satu cerpen. Itulah yang membuatku sangat terganggu dengan cerpen ini. Aku tak akan segusar ini jika seandainya ini hanya cerpen jelek, seperti yang selalu kuterima. Sebab kalau hanya cerpen jelek, aku pun pasti bisa membuatnya. Dan siapakah penulis misterius ini?
Cerpen yang ditulisnya berjudul 'Jam yang Menuju Diam'. Bukankah itu sangat memukau? Tidak klise. Apalagi untuk para santri yang tak tahu apa-apa tentang cerpen. Cerpen ini menceritakan tentang jam dinding di kelas, tentang semua hal yang pernah terjadi pada jam dinding itu, benda yang menjadi pusat perhatian saat jam pelajaran terakhir. Diceritakannya bagaiman para ustadz sering terkecoh karena ulah santri yang sengaja mempercepat jam tersebut. Ya, cerita yang sederhana. Tapi bahasanya, teknik berceritanya, metafora-metafora yang digunakan si penulis, sungguh luar biasa!
Aku benar-benar iri. Bagaimana mungkin di pesantren ini ada yang bisa menulis dengan pencapaian estetik sehebat ini? Aku tak percaya ini memang karya santri. Bisa jadi ini hanya jiplakan, itulah kenapa si penulis enggan mencantumkan namanya. Takut jika nanti ketahuan. Untuk memastikan itu, aku browsing lewat hape yang kubawa diam-diam karena membawa barang elektronik tentunya dilarang di pesantren ini, terutama hape. Kucoba mengetik setiap kalimat yang tertulis dalam cerpen misterius ini di mesin pencari. Semuanya nihil.
Atau, bisa juga ia menjiplaknya dari sebuah buku. Tapi aku sudah membaca ribuan cerpen dari ratusan buku kumpulan cerpen, aku ingat semuanya, tak ada yang seperti ini. Kecuali kalau memang kebetulan aku belum membacanya.
Lalu kubaca lagi cerpen itu. Ceritanya memang sangat khas pesantren tempat kami belajar. Jam di kelas kami memang selalu diperlakukan seperti itu. Meski berat, harus kuakui cerpen ini memang karya orisinil, sebab selain santri di pesantren ini tak mungkin bisa menceritakan persis seperti itu. Berarti, siapapun dia, penulisnya adalah penulis yang hebat. Orang biasa yang hanya iseng menulis tak akan bisa memikirkan hal sesepele jam dinding menjadi cerita yang luar biasa, terlebih diceritakan dengan teknik yang menawan begini.
Semakin memikirkan cerpen tersebut, semakin aku penasaran siapa yang telah menulisnya. Setelah berpikir panjang, akhirnya aku menemukan cara agar mengetahuinya. Akan kubuat pengumuman di mading. Kepada si penulis cerpen tersebut agar mendatangiku ke asrama untuk mengambil hadiah berupa tiga buah buku kumpulan cerpen. Aku yakin cara ini akan berhasil. Saat bertemu nanti, sepertinya aku harus jujur mengakui kehebatannya. Berbagai cara akan kugunakan agar ia mau bercerita bagaimana bisa menulis cerpen sebagus itu. Diam-diam, aku akan belajar darinya, tentu saja.

***

Hari ini aku menunggu di asrama seharian. Hadiah yang kujanjikan sudah siap, namun belum juga ada yang datang mengambil. Barangkali besok, pikirku. Namun  tetap tidak ada yang datang dan mengakui kalau ia si penulis yang sedang kutunggu, bahkan hingga pagi Jumat berikutnya. Aku semakin penasaran!
Malam tadi setelah shalat Isya aku iseng memeriksa kotak mading, barangkali ia akan mengirim cerpen lagi untuk pekan ini. Tapi aku tak menemukannya, bahkan aku tidak menemukan satu pun karya berupa cerpen. Walau demikian, pagi Jumat ini aku mencoba mengecek kotak mading lagi. Dan kali ini jantungku berdebar hebat. Cerpenis misterius itu mengirimkan cerpennya lagi! Mungkin cerpen ini dikirim di atas jam 8 malam, bahkan mungkin tengah malam.
Cerpen baru ini ditulis dengan bahasa yang sangat puitis dan segar. Cerpen kali ini bahkan tak kalah baik dengan cerpen yang ia kirim sebelumnya. Ia ceritakan tentang santri putra yang menjalin kisah cinta dengan santri putri yang asrama mereka hanya dibatasi tembok tinggi berkawat. Mereka saling berkirim surat melalui buku tulis agar tidak mencurigakan. Di halaman buku tulis itulah surat itu mencatatkan perasaan, dan di halaman buku itu pula balasan diwakilkan. Buku itu lantas diantar oleh seorang kurir profesional yang punya tarif sendiri atas jasanya. Kurir itu seorang anak ustadz yang masih kecil sehingga bebas keluar masuk pesantren putra dan putri tanpa dicurigai satpam. Lalu diceritakannya pula bagaimana santri putra itu agar bisa mendengar suara kekasihnya. Kedua santri yang mabuk perasaan itu rela melanggar peraturan pondok pesantren. Mereka saling menyimpan hape dan sepakat digunakan pada jam-jam tertentu.
Aku sungguh kagum dengan cara penulis misterius itu bercerita. Seandainya ditulis oleh santri lain, pasti mereka akan menceritakan dengan cara yang biasa, mudah ditebak bahkan klise. Tapi penulis misterius itu seperti mengetahui bagaimana cerpen seharusnya ditulis. Bukan asal bercerita dan membuat pembacanya bosan.
Sudah empat kali aku membaca ulang cerpen misterius itu. Kali ini aku memerhatikan tema yang ditulisnya. Aku sungguh iri sekali. Apa yang ditulisnya juga pernah kulakukan. Aku bahkan juga pernah mencoba menuliskannya ke dalam cerpen. Sayangnya, hanya beberapa paragraf aku tak bisa lagi meneruskan cerpen itu, bingung memilih kalimat apa yang mesti kutuliskan. Namun ada satu hal yang membuatku semakin penasaran, mungkinkah ada santri lain yang memiliki cerita asmara sama persis denganku? Atau ia sengaja memperolokku setelah mengetahui kalau aku pernah berhubungan dengan salah seorang santriwati dengan cara yang kubilang sangat unik. Setahuku, hanya teman-teman terdekat yang tahu rahasia ini. Mungkinkah penulis misterius itu salah satu dari mereka? Tapi bisa juga mereka menceritakannya kepada santri lain, dan si penulis misterius itu mendengarnya. Akh..!

***

Kegelisahanku semakin menjadi-jadi. Jika semula aku hanya menduga kalau cerpenis misterius itu teman dekatku sendiri, sekarang aku bisa memastikannya. Setelah membaca cerpen ketiga yang dikirimnya pada malam Jumat berikutnya, bisa kupastikan ia adalah salah satu di antara mereka, teman-teman terdekatku. Buktinya cerpen ketiga kali ini persis menceritakan tentang diriku. Tokohnya seorang santri yang terpaksa nyantri agar tidak lagi dimarahi ibunya yang pemarah. Tapi ternyata meski sudah jauh dari ibunya, tokoh itu masih saja mendapat kemarahan ibunya ketika datang ke pesantren dan memergoki si tokoh tak ikut shalat berjamaah di mushalla. Aku ingin meremas kertas itu ketika selesai membacanya. Semua ini tentang diriku kemarin sore.
Ceritanya, aku tidur siang. Aku memang selalu mengantuk di siang hari, bagaimanapun aku harus tidur siang. Lalu adzan Ashar berkumandang. Aku terbangun sebentar, lalu melanjutkan tidurku. Kami para ketua asrama sedikit memiliki kebebasan untuk tidak shalat berjamaah. Peraturannya memang tidak boleh. Jika kami berani melanggar itu karena kami tahu tidak akan ada yang memberi hukuman. Selama ini kamilah yang menghukum para santri yang tak ikut shalat berjamaah.
Aku terbangun saat mendengar langkah kaki dan kegaduhan teman-teman dekatku sehabis dari mushalla. Bersamaan dengan datangnya mereka, ternyata ibuku juga datang. Aku tak tahu Ibu akan datang menjenguk. Ibu memang tak pernah bilang-bilang kalau mau datang. Melihat aku hanya tiduran di dipan, Ibu lantas marah besar di hadapan teman-temanku sendiri.
Siapa lagi yang tahu cerita itu kalau bukan penghuni asrama ini, teman-teman dekatku sendiri? Tapi masalahnya, tidak ada seorang pun dari mereka yang bisa menulis cerpen!

***

Baiklah, tak peduli siapapun cerpenis misterius itu, harga diriku harus dikembalikan! Dengan semua yang telah kupelajari, harusnya akulah cerpenis terhebat di pesantren ini. Aku akan menulis cerpen malam ini. Aku telah lama sekali ingin menjadi cerpenis hebat, setidaknya, aku harus berhasil menulis satu cerpen yang bisa kubanggakan, yang bisa menyaingi karya si penulis misterius itu. Cerpen itu akan selesai malam ini, dan akan kupajang di mading besok pagi.
Kuambil kertas HVS dan pulpen. Kubuat secangkir kopi agar tidak mengantuk. Kudongakkan kepala agar bisa berpikir lebih cepat. Lalu aku seperti menceburkan diri dalam kepalaku sendiri, menyelam di kedalaman, mencari-cari ide untuk cerpen yang akan kutulis malam ini. Kemudian gelap.
Aku terbangun jam tiga dini hari. Kukucek mataku. Kemudian menguap. Di tanganku masih ada pulpen. Saat melihat kertas HVS di depanku, aku tersentak. Sebuah cerpen sudah tertulis rapi di sana. Aku bingung. Kuduga ini hanya mimpi, tapi ternyata tidak. Kubaca cerpen itu. Isinya cerita tentang seorang santri yang memiliki kepribadian ganda, yang selalu mengantuk pada siang hari karena kepribadian keduanya itu bangun setiap tengah malam, dan menulis cerpen setiap malam Jumat. []

Sultan Adam, Malam Jumat, 21-8-2014
(cerpen ini kupersembahkan untuk Bunda Ninin Susanti: Berhentilah mengurus mading! Menulislah, dan wujudkan mimpi itu!) 

(Radar Banjarmasin, 21-9-2014)

Selasa, 16 September 2014

Traveling Hemat Se-hemat hematnya!

Percaya ngga kalo tiket PP ke Singapore cuma butuh 300ribuan? Percaya ngga narsis di depan Petronas biayanya bisa lebih murah dibanding narsis di pantai Kuta? Setelah di posting yang lalu saya membahas bagaimana caranya backpacker ngirit, kali ini saya mau kasih tips & trik untuk kamu yang suka berburu tiket murah dan membuat liburan kamu ngga bikin kantong tipis, ini dia tips nya.


1. Cara beli tiket pesawat
Sebelum pergi adabaiknya kita persiapkan ini dulu, tiket. Kalo ngga ada kepastian dapat tiket tiket ngga bakal kita bisa pergi, jadi sebaiknya carilah tiket dulu baru rencanakan hal yang lainnya. Usahakan cari penerbangan yang bukan weekend. Cari tau juga bulan-bulan low season, high season dan peak season di lokasi tujuan kita. Biasanya negara ASEAN low season : Februari-Maret, high season : April - Agustus, dan peak season : September - Januari. Hindari pembelian di travel agent offline. Selain kena charge, kadang harga yang diberikan ngga terlalu murah juga. Sebaiknya beli sendiri di maskapai yang bersangkutan. Jangan takut ngga punya kartu kredit karena maskapai lokal bisa pakai debit/atm kok. Sebelum menentukan "ini harga termurah" sebaiknya jauh hari sebelum berburu cari tau dulu harga standard di bulan tertentu. Beli di travel agent online (wego, traveloka, expedia) juga kadang membantu tapi tetap beberapa agent mengenakan charge untuk pemesanannya. Jadi bisa dipertimbangkan mana yang lebih murah, beli online langsung di maskapainya atau agent? Itu tergantung situasi dan harga yang ditawarkan.

Nah, trik yang biasa saya gunakan kalo beli online, saya selalu menggunakan mode incognito atau private pada browser di PC saya. Kenapa begitu? karena setiap kali kita browsing pada wesite maskapai, maka cookies di browser akan menyimpan dn memberitahukan kepada website kalo kita sering membuka web dan tujuan pergi yang sama. Makin kita sering membukanya jadi makin naik harganya. Nah, dengan mengaktifkan incognito ata private jadinya kita seolah seperti pengunjung baru terus. Trik ini sudah saya pakai berkali-kali hehe.. Atau coba juga untuk browsing ke website maskapai negara tujuan. Misalnya kita mau ke Bangkok, coba browsing ke maskapai lokal mereka (Lion Thai, Silk Air dll) yang memang mampir ke Indonesia. Kalau beruntung harga yang di tawarkan bisa setengahnya maskapai sini lho.

2. Penginapan murah
Kalo bisa hindari yang namanya HOTEL. Padahal kalo kita sedikit berusaha cari, hostel juga menawarkan fasilitas setara hotel bintang 3 kok. Ya tentunya tanpa kolam renag, kamar mandi pribadi & sarapan mewah. Tapi hey, memangnya kita liburan cuma untuk tidur-tiduran di kamar? Kamar itu cuma untuk  taruh barang dan tidur di malam hari bukan? Tapi walau begitu tetap keamanan dan kenyamanan jadi prioritas. Ngga ada salahnya pesan kamar dormitory, siapa tau dapat kenalan baru dari luar negeri. Dan untuk memesan hostel memang agak ribet karena biasanya harus pakai kartu kredit. Tapi kalo masih di ASEAN, coba deh ditanya ke adminnya, apakah mereka punya rekeneing bank lokal Indonesia supaya pembayaran booking bisa via atm/debit? Hal ini pernah dilakukan teman saya waktu harus memesan hostel sendirian di Singapore, dengan sedikit usaha bertanya ternyata pihak hostel memberikan nomor rek BCA untuk di transfer booking fee.

Untuk pemesanan hostel saya juga biasanya langsung ke webnya. Tapi ngga semua hostel punya fasilitas booking di web nya. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya mereka memberikan link agent untuk memesan tempat seperti agoda.com, hostel.com dll. Pastikan juga kalo harga kamar yang ditawarkan sama dengan yang ada di agent. Disini saya sudah jadi langganan tetap agent bernama www.hostelworld.com kalo memang ngga ada fasilitas booking di web nya. Kenapa saya pilih hostelworld? agoda kan lebih populer. Ya, populer ngga menjamin harga lebih murah, kalo mahal sudah pasti. Saya pilih hostelworld.com karena harga yang dipasang itu sama dengan harga web hostel,da yang terpenting saya terbebas dari booking fee (yang biasanya 2-5 US dollar) luayan kan ngirit 30-60ribu? hehe...

3. Ngirit waktu jalan-jalan
Seperti di postingan saya sebelumnya, hindari taksi. MRT ok sih tapi masih lebih mahal dibanding bus. Memang naik bus agak repot dan bisa buang waktu di jalan jadi untuk kali ini MRT masih lebih baik Jalan juga bisa jadi alternatif kalo jaraknya ngga lebih dari 2km, lumayan bisa lihat suasana baru. Kalo ngga perlu banget kurangi jajan lebih baik kenyangkan diri waktu sarapan dan makan siang. Dan pilihlah tempat makan bukan asal murah tapi juga bersih dan sehat, karena kita ngga mau gara-gara makan murah kita jadi sakit kan? Pilih prioritas lokasi berbayar mana yang memang paling worth untuk dimasuki? Minimal kalo untuk menunjukkan kita pernah datang ke suatu tempat, kita bisa kok berfoto di pintu masuknya aja, seperti Universal studios, Royal Grand palace, atau mungkin Disneyland. Tapi kalo memang setelah diperhitungkan budgetnya cukup dan memadai, boleh lah kita coba masuk, toh tujuan kita memang berwisata kan? Tapi jangan salah, banyak juga kok lokasi gratisan yang ngga kalah bagus, kenapa ngga dimanfaatkan?

credit : Gory
Trik saya, coba cari penawaran diskon untuk tiket wisata di hostel tempat kita menginap. Saya pernah membeli tiket USS di Indo yang memang sedikit lebih murah tapi ini ngga rekomen karena rawan pemalsuan. Lebih aman membeli tiket promo di hostel atau agent dekat hostel. Kalo beruntung dengan harga yang sama kita bisa dapat kupon makan siang dan souvenir juga, lumayan kan? Dan untuk oleh-oleh ngga usah yang terlalu mahal, asalkan berkesan orang yang kita beri akan senang kok. Selain itu jangan dibuang hal-hal yang berhubungan selama perjalanan(peta, tiket, boarding pass, kartu MRT dll) karena itu adalah souvenir buat kita haha

Nah, kira-kira itu dulu tips & trik travel hemat se-hemat hematnya dari saya. Jangan pernah beranggapan keluar negeri itu cuma untuk orang kaya, ke luar negeri itu boros, keluar negeri itu ngga bermanfaat. Kamu salah! justru keluar negeri itu bisa murah kok, ngga cuma orang kaya aja bisa keluar negeri dan yang terpenting keluar negeri itu jelas bermanfaat karena pikiran kita jadi terbuka dan bisa kenal kebudayaan lain selain negeri sendiri. Kita juga jadi bisa mengenal diri kita sendiri yang mana disaat sendirian di negeri orang apakah kita bisa bertahan atau ngga, dan yang pasti ini bisa jadi bekal pelajaran hidup yang biayanya lebih mahal dari tiket PP+akomodasi+belanja yang kita keluarkan selama beberapa hari di negeri orang. Jangan selama hidup kita cuma disitu-situ aja seperti katak dalam tempurung karena diluar sana dunia masih luas terbentang. Sampai ketemu di luar negeri :)

Jumat, 05 September 2014

Drama

Satu pekan ini, hidupku seperti drama. Semacam jalinan antara kesialan dan keberuntungan. Itu dimulai soal skripsi.
Karena penguji 1 dan 2 sudah dosen luar, kupikir penguji 3 sidang skripsiku nantinya dosen dalam seperti kawan-kawan yang lain, bukan orang lahan (perawat yang bekerja di tempat kami penelitian). Itulah kenapa aku memberanikan diri melakukan hal terakhir setelah jalan buntu selalu menyambutku: manipulasi data. Ternyata aku keliru. Saat aku mendaftar sidang, ternyata penguji 3-ku orang lahan! Maka hari-hari sejak aku tahu penguji 3 adalah orang lahan sampai tanggal sidang yang telah disepakati adalah hari-hari penuh kekhawatiran.
Penguji 3-ku itu adalah kepala ruangan yang terkenal punya dedikasi tinggi. Beliau bahkan hapal semua pasien di ruangan beliau. Ditambah aku yang tak pernah menampakkan diri di ruangan itu (karena aku mencari data hanya di Instalasi Rekam Medik), maka kemungkinan terbesar data manipulasiku itu akan ketahuan beliau. Itu berarti, aku harus penelitian lagi dari awal. Itu berarti, aku tak akan bisa ikut wisuda gelombang pertama!
Sebenarnya itu salahku kenapa memilih judul skripsi dan metode pengumpulan data yang memang susah. Tapi aku punya alasan tersendiri kenapa judul itu tetap kupertahankan. Ada cerita, yang karenanya aku semangat mengerjakan skripsi ini. Akhirnya, memang benar, data yang kuharapkan tidak kudapatkan. Setelah mencoba semua usaha yang bisa dilakukan, jumlah sampel minimal 30 pasien tak tercapai. Sampel yang kudapat hanya 2. Sementara tanggal terus bergeser mendekati deadline. Kebiasaanku menulis fiksi pun akhirnya tertuang pada lembaran-lembaran skripsi. Ah, mana ada skripsi yang sepenuhnya jujur, hiburku dalam hati. Dan kini, semuanya harus dipertanggungjawabkan di hapadan penguji 3.

Rabu, 27 Agustus 2014
Aku sidang dua kali, karena penguji 2 hanya bisa pada hari Sabtu. Inilah hari sidang pertama, di mana penguji 3 akan membongkar semua hal-hal fiksi dalam skripsiku. Jam 3 siang, penguji 1 dan 3 telah datang, juga fasilitator. Sidang dimulai. Skripsi kupresentasikan dengan kegugupan yang tak biasanya. Lalu berlanjut pada sesi pertanyaan dan saran dari penguji, dimulai dari penguji 3. Pertanyaan bertubi-tubi pun kuhadapi. Sebagian kujawab dengan baik, sebagian tidak. Lalu saran-saran yang begitu banyak untuk direvisi. Mungkin ini bukan sidang yang mulus, tapi aku senang. Sangat senang. Karena tak ada pertanyaan soal data yang kudapatkan!

Jumat, 29 Agustus 2014
Revisi berdasarkan saran-saran dari penguji 1 dan 3 sudah kukerjakan. Pagi-pagi aku menyalin semuanya ke flashdisk dan membawanya ke tempat jasa print karena aku tak punya printer. Kemudian naskah skripsi yang telah kuperbaiki itu kubawa ke Banjarbaru untuk diserahkan pada penguji 2 yang akan menyidangku besok.
Jam 12 siang barulah aku tiba kembali di kontrakan. Dua temanku di kontrakan ini, Kamal dan Iqbal tidak ada di kontrakan. Mungkin sedang dinas di Rumah Sakit. Aku berbaring beberapa menit mengistirahatkan tubuh setelah perjalanan ke Banjarbaru. Setelahnya langsung mandi dan berangkat ke mesjid.
Pulang dari mesjid, aku singgah di salah satu kios membeli mie instan. Mie instan itu segera kumasak begitu tiba di kontrakan. Pintu kamar Iqbal yang sebelum berangkat ke mesjid tadi tertutup kulihat terbuka. Berarti tadi dia sempat balik ke kontrakan dan sekarang mungkin masih di mesjid. Mie instan matang. Aku membawanya ke kamar agar bisa makan sambil nonton One Piece yang beberapa hari sebelumnya ku-copy dari teman.
Sampai di dalam kamar, aku langsung terkejut. Laptop yang tadinya kutaruh di atas meja tidak ada. Aku mencari ke ruang tengah, tidak ada. Ke kamar Iqbal, mungkin ia meminjamnya, tapi tidak ada, bahkan Iqbalnya sendiri juga tidak ada. Aku panik. Aku mencari ponselku untuk menghubungi Iqbal atau Kamal. Ponsel itu sebelum ke mesjid tadi kutaruh sembarang di kasur. Dan ternyata ponsel itu juga raib! Itu ponsel yang baru saja dibelikan Ayah… Dua benda hilang sekaligus, tidak ada kemungkinan lain selain pencurian!
Aku teringat kamar Iqbal yang sebelum aku ke mesjid tadi pintunya tertutup dan kini terbuka. Kucek ke kamarnya. Sebuah netbook yang biasanya ada di mejanya juga hilang tanpa bekas. Kucek juga ke kamar Kamal, tapi kamarnya dikunci. Sebuah keberuntungan buatnya karena punya kebiasaan mengunci kamar, berbeda dengan aku dan Iqbal. Iqbal selalu membiarkan kamarnya tidak dikunci, sementara aku parah lagi, aku bahkan selalu membiarkan pintu kamarku terbuka.
Aku benar-benar panik kali ini. Aku harus memberitahukan masalah ini kepada dua temanku itu terlebih dahulu. Kucari ponselku yang satunya di dalam tas, beruntung ponsel itu tidak ikut lenyap. Pulsanya habis. Dan sialnya, saat itu uangku benar-benar sedang habis, bahkan minus. Aku tidak sempat berpikir ataupun mengecek bagaimana dan lewat apa maling itu masuk ke kontrakan kami. Yang kupikirkan hanya bagaimana memberitahu dua temanku itu terlebih dahulu. Lalu dengan motor yang bensinnya hanya tersisa sedikit, aku ke Handil Bakti ke rumah kakakku untuk meminjam uang. Dengan uang itu aku membeli pulsa. Sambil memacu motorku kembali ke kontrakan, aku mencari-cari nomor Kamal dan Iqbal. Lagi-lagi sial, nomor mereka berdua tidak ada di ponselku yang ini.
Sampai kontrakan, beruntung Kamal sudah ada di sana. Berarti hanya perlu memberitahu Iqbal, dan Kamal pastilah punya nomor Iqbal. Aku segera menceritakan kejadian barusan padanya. Ia tampak lega karena kamarnya dikunci, sehingga barangnya tidak ada yang dicuri. Sekarang tinggal menghubungi Iqbal. Tapi Iqbal tidak mengangkat ketika kami telepon, pastilah ia sedang sangat sibuk karena lagi dinas di Rumah Sakit. Pesan pendek kukirim kepadanya, menyuruhnya segera pulang karena ada suatu masalah di rumah.
Aku dan Kamal mengecek lewat mana maling itu masuk. Ternyata ia masuk lewat jendela kamar yang kami jadikan gudang. Jendela itu memang berada di sudut yang cukup terlindung. Di jendela itu juga ada bekas dicongkel dengan linggis. Satu jendela lagi juga tampak terbuka, kutebak itu jalan ia keluar (setahuku, ada aturan bagi maling bahwa jalan masuk dan keluar tidak boleh sama).
Iqbal masih tidak membalas pesan singkatku, hingga jam 4 sore. Ia segera pulang.
“Ada masalah apa, Kak?” tanyanya begitu tiba di depan pintu.
“Cek kamarmu, apa saja yang hilang,” jawabku.
Ternyata memang netbooknya yang hilang. Dan ia beruntung karena hanya itu yang hilang, uang yang ia taruh di lemari bahkan tidak dicuri si maling. Berarti akulah yang paling sial dalam insiden ini. Tapi aku beruntung, karena skripsiku sempat kusalin ke flashdisk tadi pagi. Aku juga beruntung karena tulisan-tulisanku sebagian sudah kuposting di blog, meskipun sisanya, juga data-data penting lainnya tak selamat.

Sabtu, 30 Agustus 2014
Ini sidang skripsiku yang kedua. Jam 11 aku maju sidang. Kali ini sidangku benar-benar lancar. Aku tampil dengan sangat percaya diri. Memangnya apa lagi yang bisa membuatku gugup? Penguji 2-ku ini tak akan tahu soal data yang kumanipulasi. Selain itu, karena aku sudah pernah sekali mempresentasikannya, maka semuanya telah kukuasai. Sidangku berlangsung dengan sangat singkat. Penguji 2-ku itu bahkan tampak sekali kebingungan mencari kekurangan skripsiku. Selesai sidang, aku memohon pada fasilitator agar mau memperlihatkan nilaiku. Nilaiku tinggi, di atas rata-rata.

Selasa, 2 September 2014
Aku baru menginap di rumah Bang Harie karena ada beberapa urusan di Banjarbaru, salah satunya meminta tanda tangan pada penguji 2-ku. Pulangnya aku mampir ke rumah Pak Aliansyah karena aku sudah janji kalau ke Banjarbaru akan mampir ke rumah beliau untuk memperbaiki setting Ms. Word beliau yang bermasalah. Tapi ternyata masalah itu sudah teratasi.
Saat kuceritakan soal insiden kemalingan di kontrakanku, beliau langsung mencari-cari sesuatu di lemari.
“Aku punya laptop, tapi rusak. Tidak mau nyala. Keyboardnya juga rusak. Buat kamu aja. Tinggal diperbaiki.”
Tentu saja pemberian itu kuterima dengan suka cita. Katanya, sudah dua tahun yang lalu laptop itu rusak, tidak bisa nyala. Beliau juga malas memperbaikinya karena kata beliau mengetik di laptop sangat tidak nyaman. Pointer sering terpindah sendirinya karena tangan tidak sengaja menyentuh touchpad.  Layaknya barang rusak, anak-anak beliau bahkan menjadikannya buat mainan.
Aku menduga, itu hanya masalah baterai. Dan saat kucoba, memang benar. Hanya baterainya yang rusak. Itu tidak masalah karena seperti yang kawan tahu, tanpa baterai pun asalkan sambil dicolok ke listrik tetap bisa nyala. Lalu kucoba keyboardnya. Tidak rusak! Semua tutsnya berfungsi dengan baik.
“Memang rejeki kamu, Zian…” komentar istri Pak Aliansyah.

Kamis, 4 September 2014
Melengkapi keberuntunganku, kakakku memberiku uang. Cukup banyak. Untuk beli hp baru, katanya.
Hari ini, naskah skripsiku selesai dijilid, demikian pula dengan manuskripnya, dan file PDF-nya telah kuburning dalam keping-keping CD. Semuanya telah siap dikumpul. Setelah itu, hanya yudisium dan wisuda yang kutunggu.
skripsi zian armie wahyufi
Selesai juga akhirnya... :)