Sabtu, 31 Mei 2014

Serangan Balik

Malam kemarin, kepercayaan diriku benar-benar diuji, kepercayaan diri di hadapan paman penjual sate.
Cerita ini sebenarnya dimulai sejak beberapa minggu, atau beberapa bulan yang lewat. Aku tidak tahu kapan tepatnya. Itu adalah malam pertama kalinya aku membeli sate di tempat paman sate yang kumaksud di atas. Paman sate itu kelihatan masih cukup muda dan sepertinya masih lajang. Ia biasa memakai baju kotak-kotak. Dan rambutnya gondrong. Kita namai saja dia Paman Sate Berambut Gondrong.
Berapa tusuk biasanya kalau kamu beli sate? Bisa kupastikan jawabanmu adalah 10. Karena memang itulah angka kebiasaan seseorang bila ingin membeli sate untuk satu porsi. Tapi bagiku, yang cuma bisa mengharap uang 'jatah bulanan' dari orangtua sehingga harus hidup sehemat-hematnya, 10 tusuk rasanya terlalu banyak. Sebenarnya, kalau cuma untuk satu kali makan, 7 tusuk pun sudah cukup buatku. Jumlah itulah yang kupesan beberapa minggu, atau beberapa bulan yang lalu ketika pertama mencoba beli sate di tempat Paman Sate Berambut Gondrong.
"Tujuh, Man," pesanku.
"Hah?" tanyanya meyakinkan pendengarannya, seolah tidak percaya ada yang memesan 'cuma' 7 tusuk.
Aku merasa tidak enak. Pikiran cepatku mengatakan tak apalah menambah 3 tusuk lagi daripada terlihat memalukan, toh hanya menambah beberapa ribu rupiah. Pesanan pun kuralat. "Eh, sepuluh aja, Man."
"Sepuluh?" tanyanya lagi.
"Iya."
Sepuluh potongan kecil daging ayam yang ditusuk pun ditaruh di atas tungku. Si Paman Sate Berambut Gondrong mengipas-ngipasnya hingga matang. Sate yang sudah matang dibungkus, lengkap dengan sambal kacangnya.
"Pakai lontong?"
"Tidak." Tentu saja tidak. Aku punya nasi sendiri di kontrakan. Aku biasa memasak, dengan beras yang kubawa sendiri dari kampung hasil bertani orangtuaku.
Aku bertanya berapa, Paman Sate Berambut Gondrong menyebutkan harganya, aku membayar, Paman Sate Berambut Gondrong menyerahkan sate pesananku.
Tiba di kontrakan, sate dan sambalnya kutuang ke piring. Piring itu lalu kupenuhi dengan nasi hasil masakku. Aku makan. Dan seperti yang kupikirkan sebelumnya, 10 tusuk sate ini kebanyakan. Bahkan 5 tusuk pun sebenarnya sudah cukup.
Peristiwa itu kulupakan, hingga malam kemarin...
Entah mengapa--mungkin karena bosan dengan menu rutin yang selalu berupa telur dadar, tiba-tiba malam kemarin aku ingin beli sate lagi, di tempat Paman Sate Berambut Gondrong. Saat itulah aku kembali mengingat-ingat peristiwa beberapa minggu, atau beberapa bulan yang lewat. Ketika itu pula aku menyadari, bahwa pertanyaan 'Hah?' Paman Sate Berambut Gondrong hanyalah senjata yang ia siapkan jika menghadapi orang-orang sepertiku, orang-orang yang memesan di bawah angka 10 tusuk. Dengan kesadaran yang baru muncul itu, aku menggas motor matic-ku ke tempat Paman Sate Berambut Gondrong. Sekarang hanya soal kepercayaan diri, demikian ucapku berulang-ulang dalam hati.
Beberapa saat, motor matic-ku sudah tiba di tujuan.
"Tujuh, Man," pesanku.
"Hah?" serangnya, seolah mengatakan: tidak pernah ada saya menemui orang yang memesan 'cuma' 7 tusuk, kamu miskin atau apa?
Tapi kali ini aku sudah siap. "Tujuh," tangkisku percaya diri.
"Tujuh?" tembaknya lagi, mencoba meruntuhkan kepercayaan diriku.
"Iya, tujuh," jawabku lagi, semakin mantap.
Aku menang, ia kalah. Benar-benar budeg bila masih saja si Paman Sate Berambut Gondrong bertanya berapa tusuk.
Tapi ternyata, ia masih punya senjata cadangan. "Tujuh apa?" tanyanya seperti orang bingung. Memangnya 7 apa lagi?!
"Tujuh tusuk, Man," jawabku tenang.
"Oh... tujuh tusuk..."
"Iya, 'tujuh' tusuk." Aku memberi penekanan pada kata tujuh.
Dengan lesu, Paman Sate Berambut Gondrong itu pun lalu meraih tusukan-tusukan satenya yang masih mentah kemudian meletakkannya di panggangan.
Tapi aku belum puas. Sekarang, giliranku menyerang balik. "Bisa kan, 'cuma' tujuh tusuk?" Aku memberikan penekanan pada kata cuma.
Ia menjawab pelan, nyaris tidak kedengaran, "Iya, bisa..."
Aku tersenyum, tapi tertawa dalam hati. Lain kali, akan kucoba memesan 5 tusuk saja... []

Kamis, 29 Mei 2014

Ennichisai 2014

Mungkin belum banyak yang tau apa itu Ennichisai? untuk arti dari kata Ennichisai juga saya kurang paham karena sudah googling beberapa kali masih belum dapat arti sebenarnya. Tapi Ennichisai disini adalah sebuah festival kebudayaan Jepang yang di adakan setiap tahunnya di kawasan Blok M Square, Jakarta. Dari pagi hari (jam 10.00) kawasan Blok M square sudah disulap seperti halnya sebuah pasar di Tokyo. Kalau di Singapore ada Chinatown, di Kuala Lumpur - Malaysia ada Hong Kong Station, di Jakarta ngga mau kalah ada yang namanya Little Tokyo. Para pecinta kebudayaan Jepang pasti akan bahagia sekali datang kemari karena akan dimanjakan dengan makanan, minuman, mainan dan apapun yang berbau khas Jepang. Bukan cuma jualan segala yang berbau Jepang aja, tapi ada juga hiburan di 2 pangguna yang akan diisi artis dari Jepang, bahkan pengunjung yang datang juga ngga sedikit yang orang Jepang. Kenapa saya bialng begitu? karena beberapa kali saya berpapasan dengan sekumpulan orang berbahasa Jepang. 

Berapa tiket masuknya? tenang aja, masuknya GRATIS. Tapi belanjanya ya bayar. Sepertinya harus bawa budget lebih, karena harga yang dijual disini agak mahal daripada harga biasanya. Sebut saja kue Taiyaki (kue berbentuk ikan dengan isi kacang merah atau coklat) di banderol seharga Rp.10ribu. Saya juga mencoba Mie Ramen dengan harga per porsinya Rp.30ribu belum termasuk minum. Tapi lupakan dulu soal budget, yang penting kita bisa berbaur dengan pecinta budaya Jepang disini. 

Acara ini diadakan 2 hari (24 dan 25 Mei 2014) mulai dari pukul 10 pagi sampai 10 malam. Acaranya ada Ekiden (lari jarak jauh seperti marathon), Mikoshi (sejenis kendaraan yang di tandu beberapa orang berkeliling venue), pameran kebudayaan  Jepang dan ada Cosplay juga. Pokoknya semua yang berbau Jepang bercampur jadi satu disini. Dijamin acara akan berjalan terus sampai malam. Rancananya setiap tahunnya akan diadakan di tempat yang sama. Berikut beberapa hasil jepretan saya selama di acara ini.
Kantor Panitia
Mikoshi
Sudah mirip di Tokyo?
Makin sore makin rame
Giant & Suneo
Mainan robot Doraemon
Pengisi acara
Dari anak-anak sampai dewasa
Pembawa acara asli orang Jepang. Serasa nonton Takeshi Castle ya :)
Kato Takumi, Pemukul Taiko Terbaik Dunia
Mainnya full banget
Bedug dari Jepang, namanya Taiko
Lapar? Tenang, berjejer penjual makanan khas Jepang disini.
Ramen ini seporsinya Rp.30ribu.
Sudah mau selesai pun masih rame
Salah satu pengisi acara diwawancarai wartawan dari Jepang
Semoga kita bisa ketemu lagi tahun depan ya :)

Open Your Eyes

Siapa yang ngga tau band satu ini? RAN kali ini berkolaborasi dengan penyanyi baru bernama Tulus. Saya ngga akan ngebahas penyanyinya karena semua sudah tau siapa mereka, tapi akan ngebahas lagunya yang inspiratif banget. Lagu ini pertama kali saya dengar di salah satu radio di Jakarta. Sambil bermacet-macet ria di dalam mobel dengerin lagu ini, dan seketika itu juga semangat saya langsung tumbuh. Bukan cuma lirik nya yang catchy tapi lagu nya juga easy listening tapi ngga kacangan. Pesan yang dibawa mengena banget untuk para galauers (yang kebetulan suasana hati saya juga sempat galau saat itu). Dan setelah mendengar keseluruhan lagu ini, hati jadi agak lebih tenang. Ada 1 kalimat yang sangat mengena seperti :


Tak semua orang bisa punya kesempatan yang sama,
andaikan engkau dapat membuka mata

Hilangkan perasaan tidak puas akan segala sesuatu yang ngga sesuai rencana, karena Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih baik. Hilangkan juga sifat mengeluh, karena pengeluh hanya untuk para pemalas. Dengar lagu ini serasa dengar lagu sambil di beri motivasi. Memang banyak lagu yang memberi motivasi, tapi masih sangat jarang yang se-asik dan se-mengena ini. Mau tau lagunya seperti apa? cek video dibawah ini ya.


Sabtu, 17 Mei 2014

Review: Frankenstein (Novel Mary Shelley)

Frankenstein - Mary Shelley
Judul: Frankenstein
Penulis: Mary Shelley
Penerjemah: Anton Adiwiyoto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ke-4 (November, 2012)
Tebal: 312 halaman
Ukuran: 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-5096-1

“Konstruksi jiwa kita memang sangat aneh. Kita hanya dihubungkan oleh ikatan yang sangat tipis menuju kebahagiaan atau kehancuran.” -Mary Shelley, Frankenstein

Frankenstein, novel karya Mary Shelley ini sebenarnya saya beli dengan tanpa sengaja. Waktu itu saya punya janji dengan seorang teman untuk ngobrol di Coffee Toffee, tapi ternyata kawan saya ini tak bisa datang tepat waktu sementara saya sudah terlanjur berangkat, saya terus ke Toko Buku Gramedia di Jalan Veteran. Waktu itu ada bazar buku murah di tempat parkirnya. Di situlah pandangan pertama saya dengan novel Frankenstein. Saya tertarik membelinya karena covernya yang menurut saya keren; hitam polos dengan hanya ada tulisan judul, nama penulis, logo penerbit, dan gambar stempel zaman dulu. Juga, karena harganya yang sangat murah, cuma Rp 15.000! Ketika saya cek, ternyata novel Mary Shelley ini juga masuk list 1001 Books You Must Read Before You Die, saya merasa sangat beruntung. Sambil menunggu teman saya datang, saya mulai membaca novel ini di Coffee Toffee. Sudah beberapa bab saat teman saya muncul. Saya stop membaca, dan tidak meneruskan membacanya lagi, hingga kemarin lusa. Ada empat bulan jarak antara pertama saya membacanya, dan kemarin lusa. Karena ingatan saya yang tidak terlalu bagus, terpaksa saya membaca dari awal lagi. Dan... tadi sore, saya selesai membacanya.

Untuk novel yang pertama kali terbit tahun 1818, ide dan cerita dalam novel ini sungguh luar biasa, yaitu tentang seorang jenius yang menciptakan manusia buatan. Hal tersebut menjadi meyakinkan dengan teknik bercerita melalui tokoh utama yang menceritakan kisahnya kepada tokoh lain. Namun jangan menyangka novel ini seperti novel-novel fiksi ilmiah, ini novel tahun 1800-an! Emosi yang sarat justru menjadi warna dasar cerita dalam novel ini; cerita banyak diwarnai kesedihan para tokohnya.
Seperti kebanyakan novel-novel tahun 1800-an, cerita bergerak lambat, dengan dialog-dialog panjang yang sepertinya tidak realistis dan narasi yang bertele-tele. Isinya lebih banyak telling daripada showing. Hal inilah yang membuat saya tidak meneruskan membacanya empat bulan lalu. Tapi saya merasa cukup puas setelah selesai membacanya karena karya legendaris ini ditulis dengan sangat rapi dan apik.

Novel dimulai dengan surat-surat Robert Walton yang dikirim kepada adiknya, Margaret. Walton menceritakan tentang ekspedisinya dalam rangka mencari penemuan baru di Kutub Utara, sesuatu yang sejak lama ia cita-citakan. Ia menyewa kapal beserta awak-awaknya yang bisa diandalkan. Semakin ke utara, kapal Walton terjebak di tengah-tengah lautan yang membeku. Saat itulah, ia melihat sesuatu yang tidak masuk akal di kejauhan: seorang manusia bertubuh besar di atas kereta salju yang ditarik beberapa ekor anjing. Beberapa jam barulah es pecah. Keesokan paginya, ia kembali menemui hal aneh. Ia menemukan seseorang terapung di atas bongkahan es yang hanyut ke kapalnya. Orang ini jauh berbeda dengan monster yang dilihatnya satu hari sebelumnya. Walton menolong orang ini dan merawatnya di kapal. Orang inilah Viktor Frankenstein, si jenius yang menjadi tokoh utama novel ini. Saat kondisi Frankenstein membaik, akhirnya ia menceritakan kisah hidupnya kepada Walton. Bab satu pun dimulai...
Frankenstein adalah warga Jenewa yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Ia punya orang-orang yang sangat menyayanginya dan sangat ia cintai: Ayah, Ibu, dua adiknya, Ernest dan William, saudara angkat yang cantik bernama Elizabeth, seorang sahabat bernama Henry Clerval, dan Justine Moritz, seorang pelayan yang sudah ia anggap seperti adik sendiri. Tidak ada sedikit pun cacat dalam kasih sayang di antara mereka.
Saat Frankenstein akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Ingolstadt, hal buruk menimpa keluarganya. Elizabeth sakit berat, ibunya merawat Elizabeth dengan penuh ketekunan bahkan tanpa memedulikan kesehatan sendiri. Elizabeth akhirnya sembuh, namun justru ibunya yang akhirnya sakit, dan berujung kematian. Setelah mereka lepas dari kesedihan yang mendalam, rencana Frankenstein yang tertunda dipikirkan kembali. Sahabatnya Clerval padahal ingin sekali ikut belajar ke Ingolstadt menemaninya, namun ayah Clerval, seorang pedagang yang berpikiran dangkal tidak mengizinkannya.
Didikan orang-orang hebat di perguruan tinggi serta kegigihannya yang luar biasa membuat Frankenstein maju pesat. Ia menjadi orang nomor satu di perguruan tinggi. Lewat penelitiannya, ia bahkan menemukan sesuatu yang tak pernah berhasil ditemukan ilmuwan mana pun, yaitu memberikan kehidupan pada benda mati. Dengan penemuannya itu, ia berambisi menciptakan manusia lewat mayat-mayat manusia yang sudah mati. Karena berbagai pertimbangan, ia membuatnya dengan ukuran yang besar.
Frankenstein bekerja keras tanpa kenal lelah, bahkan tanpa sempat mengirimkan surat pada keluarganya. Akhirnya, ia berhasil. Makhluk ciptaannya hidup. Namun dengan kondisi makhluk ini yang buruk rupa dan mengerikan layaknya monster, Frankenstein justru merasa jijik. Ia kecewa dengan hasil kerja kerasnya, dan pergi ke kamar tidur untuk menenangkan pikiran. Saat Frankenstein terbangun tengah malam karena mimpi buruk, makhluk mengerikan ciptaannya sudah ada di depannya. Makhluk itu mencoba berbicara dan tersenyum. Tapi itu justru membuat Frankenstein ketakutan. Ia lari keluar apartemen.
Keesokan paginya, di stasiun kereta, ia dikejutkan dengan kedatangan sahabatnya Clerval. Clerval pergi ke Ingolstadt untuk mengetahui kondisinya yang tak pernah memberikan kabar lewat surat, juga untuk belajar sastra di perguruan tinggi. Ayahnya sudah mengizinkannya. Beruntung makhluk ciptaannya tadi sudah tidak ada di apartemennya. Tapi Frankenstein jatuh sakit karena beban batin yang ia tanggung. Clerval merawatnya hingga ia pulih kembali. Saat ia sudah pulih, kabar buruk ia terima dari surat ayahnya: adiknya William meninggal. Seseorang dengan kejam telah mencekik lehernya ketika ia sedang bermain di luar rumah. Frankenstein pun pulang ke Jenewa. Ia sampai di Jenewa pada tengah malam, tidak bisa masuk karena pintu gerbang sudah ditutup. Ia berjalan-jalan dan tanpa sengaja melihat makhluk besar ciptaannya. Saat itulah ia tahu, siapa yang membunuh adiknya.
Pagi harinya ia pulang ke rumah. Dari keluarganya, ia tahu bahwa Justine Moritz dituduh sebagai pelaku karena saat kejadian tidak ada di rumah, menujukkan sikap yang aneh, dan sebuah barang bukti yang ditemukan di pakaian yang ia pakai saat kejadian, yaitu sebuah kalung yang sebelumnya dikenakan William. Tapi Frankenstein tak bisa apa-apa. Ia tak mungkin menceritakan soal makhluk ciptaannya, tidak akan ada yang percaya, dan dirinya hanya dianggap orang gila. Justine akhirnya diberi hukuman mati. Semua penghuni rumah seperti diterpa badai kesedihan yang tidak ada habisnya. Frankenstein merasa sangat bersalah, ia sadar ialah sebenarnya penyebab kematian William dan Justine. Kemarahannya pada makhluk ciptaannya semakin menjadi.
Untuk menenangkan pikiran, ia pergi ke lembah. Di situ, ia bertemu dengan makhluk ciptaannya itu. Makhluk itu memintanya menciptakan pasangan, seorang perempuan yang sama buruk rupanya dengannya. Dengan itu ia tak akan kesepian lagi, dan berjanji tidak akan lagi muncul di hadapan manusia. Bila tidak, makhluk itu bersumpah akan membuat hidup Frankenstein menderita, sebagaimana penderitaan yang ia rasakan. Setelah perdebatan yang panjang, makhluk itu akhirnya bisa menceritakan kisahnya kepada Frankenstein.
Makhluk itu mengembara dari hutan ke hutan sambil belajar tentang makanan dan api. Ia beberapa kali menolong manusia, namun manusia justru menganggapnya monster. Ketika ia berada di perkampungan, orang-orang ketakutan dan menyerangnya. Saat musim dingin, ia menemukan sebuah kandang kosong yang menempel di sebuah rumah. Di situlah ia tinggal tanpa diketahui penghuni rumah. Penghuni rumah adalah orang-orang yang baik, ia mengetahui itu dari pengintaiannya melalui sebuah lubang. Dari pengintaiannya itu pula, ia belajar berbahasa dan belajar tentang kebajikan. Pelajarannya akan bahasa semakin mudah ketika keluarga itu kedatangan seorang perempuan Turki cantik yang pernah mereka tolong dan tinggal di rumah itu. Felix, pemuda penghuni rumah itu yang juga kekasih si perempuan Turki, mengajarkan perempuan Turki itu bahasa para penghuni rumah.
Ia sebenarnya sangat ingin menunjukkan diri kepada para penghuni rumah dan berbagi persahabatan serta kebaikan, namun ia masih tak berani mengingat rupanya yang buruk. Ia harus lebih banyak belajar lagi, agar saat menampakkan diri nanti para penghuni rumah akan memercayainya dan tidak memedulikan rupanya yang mengerikan. Maka ia pun hanya bisa memberikan kebaikan lewat jalan mengumpulkan kayu bakar saat malam hari sambil mencari makan di hutan. Kayu bakar itu ia tumpuk di depan rumah dan penghuni rumah hanya bisa menganggap itu sebuah keajaiban. Felix tidak lagi harus repot-repot mencari kayu bakar. Atau menyekop tumpukan salju di muka rumah. Suatu malam ia menemukan tas berisi beberapa pakaian dan tiga buah buku. Ia membawanya dan mempelajari isi buku itu.
Kemudian tibalah waktunya ia menunjukkan dirinya pada penghuni rumah untuk memulai persahabatan dan saling berbagi kebaikan. Tetapi, sesuatu yang selama ini ia takutkan terjadi. Para penghuni rumah langsung menjerit ketakutan dan Felix menyerangnya. Ia pun lari. Sejak itu, ia benci dengan manusia.
Kini ia benar-benar kesepian. Tujuannya kemudian adalah mencari penciptanya. Ia mendapat petunjuk lewat kertas catatan penciptanya di baju yang ia bawa dari apartemen tempat pertama ia hidup. Ia pergi ke Jenewa, membunuh William saat ia tahu William adalah keluarga Frankenstein, serta dengan cerdas memasukkan kalung yang dipakai William ke pakaian seorang gadis yang berteduh di sebuah kandang yang saat itu sedang tidur.
Karena takut kehilangan keluarganya, Frankenstein akhirnya menyetujui perjanjiannya dengan makhluk itu. Ia membuat alasan agar diperbolehkan ke Inggris, di sana ia akan menciptakan lagi seorang makhluk mengerikan meski dengan sangat terpaksa. Ia juga berjanji pada ayahnya akan menikah dengan Elizabeth sekembalinya nanti. Clerval ikut bersamanya. Frankenstein kemudian meminta Clerval agar berpisah sehingga ia bisa melakukan pekerjaannya tanpa diketahui siapa pun. Frankenstein pergi ke sebuah pulau terpencil dan mulai menciptakan satu lagi makhluk mengerikan. Tapi saat pekerjaannya hampir selesai, ia berubah pikiran. Menurutnya, satu orang makhluk saja sudah banyak menimbulkan kejahatan, apalagi jika nanti ada dua. Ia pun menghancurkan makhluk yang belum selesai itu. Si monster yang terus mengintai dan mengikutinya secara sembunyi-sembunyi marah besar. Mereka kembali terlibat perdebatan sengit. Makhluk itu bersumpah akan datang saat malam pernikahan Frankenstein nanti kemudian ia pergi.
Beberapa hari kemudian Frankenstein berlayar untuk pulang. Tanpa kompas, angin membawa perahunya ke sebuah daratan yang tidak ia kenali. Tapi orang-orang di pulau itu membencinya tanpa ia tahu kenapa. Ternyata, ia menjadi tersangka tindak pembunuhan di pulau itu. Ia dibawa ke hakim setempat. Saat hakim itu menyuruhnya melihat wajah korban untuk mengetahui reaksinya, Frankenstein langsung jatuh lunglai dan pingsan. Orang yang dibunuh dengan cekikan itu ternyata Clerval, sahabatnya sendiri.
Beberapa bulan dalam tahanan, akhirnya kondisi Frankenstein membaik. Ditambah dengan kedatangan ayahnya. Di persidangan, Frankenstein diputuskan tidak bersalah karena terbukti pada saat kejadian berada di sebuah pulau.
Bersama ayahnya ia pulang ke Jenewa. Sesuai janjinya, diaturlah tanggal pernikahan dengan Elizabeth. Ia gembira karena akan menikah dengan orang yang sangat disayanginya dan sangat menyayanginya, namun juga sangat sedih. Ia tahu, malam pernikahannya nanti makhluk itu akan mendatanginya, mereka akan duel. Itulah malam penentuan, apakah dirinya atau makhluk itu yang akan menemui ajal. Tapi ia tidak goyah. Pernikahan tetap dilangsungkan, dan ia berjanji akan menceritakan rahasianya itu pada Elizabeth sehari setelah pernikahan mereka nanti. Setelah pernikahan dilangsungkan, mereka pergi ke sebuah penginapan yang berada di tepi danau. Malam itu hujan. Frankenstein belum menceritakan rahasianya pada isterinya, ia hanya bisa menyuruh Elizabeth masuk ke kamar dan ia berjaga-jaga dengan pistol di tangan. Katanya, malam ini akan terjadi sesuatu yang mengerikan.
Ia menduga akan bertemu dengan makhluk itu, tapi yang kemudian ia temukan adalah pekikan keras dari kamar tempat isterinya berada. Saat ia menghambur ke kamar, Elizabeth sudah tidak bernyawa. Ia pun jatuh pingsan. Ayahnya yang sudah renta, yang mengetahui kabar itu, tak sanggup lagi menanggung tekanan, dan kemudian meninggal.
Hari-hari Frankenstein lalu dihabiskan dengan pengejarannya terhadap makhluk yang telah merenggut nyawa orang-orang yang ia cintai itu. Sampai ke bagian utara bumi.
Di kapal Walton, dengan kondisi kesehatan yang merosot, Frankenstein menutup matanya untuk selama-lamanya tanpa sempat menunaikan hasratnya. Sebelum meninggal, ia hanya bisa meminta Walton agar membalaskan dendamnya.
Walton bertemu dengan makhluk itu ketika makhluk itu mendatangi jenazah Frankenstein. Tapi ia tidak jadi membunuhnya sebagaimana yang dipesankan Frankenstein. Makhluk itu berjanji padanya untuk bunuh diri di kutub utara dengan cara membakar diri, agar tidak ada yang menemukan tubuhnya dan memanfaatkannya untuk diteliti. Setelah itu ia melompat dan mendarat di bongkahan es, ombak membawanya menjauh lalu lenyap di kejauhan.

Nah, menurutmu, apa yang bisa dipetik dari cerita Frankenstein ini? []

Kamis, 15 Mei 2014

Review: Perempuan di Titik Nol (Novel Nawal el-Saadawi)

perempuan di titik nol - women at point zero - nawal el-saadawi


Judul: Perempuan di Titik Nol (Women at Point Zero)
Penulis: Nawal el-Saadawi
Penerjemah: Amir Sutaarga
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan: Ke-10 (Juni, 2010)
Tebal: xiv + 156 halaman
Ukuran: 11 x 17 cm

“Saya tahu bahwa profesi saya telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka denga harga tertentu, dan bahwa tubuh paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak.”

Novel Perempuan di Titik Nol bercerita tentang Firdaus, seorang pelacur sukses yang kini menunggu hukuman mati di Penjara Qanatir karena telah membunuh seorang laki-laki. Ia menolak semua pengunjung dan tidak mau berbicara dengan siapa pun. Ia biasanya tidak menyentuh makanan sama sekali dan tidak tidur sampai pagi hari. Ia bahkan menolak menandatangani permohonan keringanan hukum dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan. Ia telah benar-benar siap untuk mati. Lalu, kepada seorang peneliti, ia akhirnya mau menceritakan kisah hidupnya, sebelum ia diseret untuk hukuman mati.
Firdaus lahir dari keluarga miskin, parahnya, ayahnya merupakan seeorang egois pemarah yang hanya memikirkan perutnya sendiri. Firdaus, saudara-saudaranya, dan ibunya tak lebih dari para budak bagi ayahnya. Saudara-saudara Firdaus satu demi satu meniggal karena kelaparan.
Pengalaman seksual Firdaus dimulai sejak ia masih anak-anak, yaitu dengan teman bermainnya di ladang bernama Muhammadain. Orang kedua ialah pamannya, yang kerap menggerayangi tubuhnya.
Paman Firdaus kuliah di Kairo, ketika ayah dan ibu Firdaus juga meninggal, ia membawa Firdaus ke Kairo dan menyekolahkannya. Paman Firdaus menikah dengan puteri gurunya ketika Firdaus memasuki sekolah menengah. Tanpa Firdaus ketahui mengapa, suatu hari Paman dan isterinya marah kepadanya. Akhirnya Firdaus dimasukkan ke asrama sekolah.
Firdaus merupakan murid yang cerdas. Ia rajin membaca. Hingga kemudian ia lulus dari sekolah menengah dan pamannya membawanya pulang. Namun tak mungkin bagi pamannya untuk menyekolahkannya ke perguruan tinggi, atau mencarikannya pekerjaan hanya dengan modal ijazah sekolah menengah.
Isteri pamannya, yang tidak suka dengan keberadaan Firdaus di rumah mereka, mengusulkan untuk mengawinkan Firdaus dengan pamannya yang duda, Syeikh Mahmoud. Firdaus kemudian menjadi isteri Syeikh Mahmoud, seorang tua berumur enam puluh tahun lebih yang di dagunya terdapat bisul yang selalu mengeluarkan aroma busuk.
Hidup Firdaus jauh lebih tersiksa ketika menjadi isteri Syeikh Mahmoud. Syeikh Mahmoud suka memukulinya sampai berdarah hanya karena masalah sepele. Akhirnya Firdaus kabur dari rumah Syeikh Mahmoud, dan bertemu seorang lelaki bernama Bayoumi yang bersedia menampungnya. Mereka bercinta, dan Bayoumi tak pernah memukulnya. Sampai kemudian mereka bertengkar, Bayoumi memukul Firdaus dengan begitu keras, di wajah dan perut. Firdaus pingsan.
Bayoumi mengurungnya di sebuah kamar. Setiap malam Bayoumi ‘menindih’-nya, dan Firdaus hanya bisa terpejam tanpa bisa merasakan apa-apa. Kemudian bukan hanya Bayoumi yang ‘menindih’-nya, tapi juga teman-teman Bayoumi. Beruntung pada suatu hari tetangganya melihatnya lewat kisi-kisi pintu. Tetangganya itu menolongnya, dan ia akhirnya bisa keluar dari rumah Bayoumi.
Firdaus kemudian bertemu Sharifa, perempuan yang memberinya tempat tinggal yang nyaman, kamar yang wangi, kasur yang lembut, dan pakaian yang indah. Juga, para lelaki yang datang secara bergantian, yang ‘kuku-kukunya pun bersih dan putih, tidak seperti kuku Bayoumi, yang hitam seperti gelapnya malam, juga tidak seperti kuku Paman dengan tanah di bawah ujung kukunya’. Firdaus tidak sadar, bahwa dirinya telah dimanfaatkan Sharifa untuk menghasilkan uang. Salah seorang lelaki yang mendatangi kamarnya itulah yang kemudian menyadarkannya. Sekali lagi, Firdaus kabur dari tempatnya tinggal.
Waktu itu tengah malam. Di luar, seorang polisi ‘memakai’-nya dengan iming-iming satu pon serta ancaman dibawa ke kantor polisi jika menolak. Setelah polisi itu meninggalkannya tanpa memberinya uang satu pon yang telah dijanjikan, hujan turun. Kemudian seorang lelaki bermobil menawarkan tumpangan. Lelaki itu membawa Firdaus ke rumahnya yang mewah, memandikannya, dan menidurinya. Pagi harinya, saat Firdaus akan pergi, lelaki itu memberinya sepuluh pon. Uang pertama yang ia hasilkan dari ‘pekerjaan’-nya.
Berkat sepuluh pon itu, keberanian dan kepercayaan diri Firdaus mulai tumbuh. Ia mulai berani menolak dan memilih lelaki yang diinginkannya, dan memasang harga yang mahal atas tubuhnya. Firdaus merasa memiliki kebebasan, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan selama dua puluh tahun hidupnya. Ia kemudian menjadi pelacur yang sukses, yang memiliki sebuah apartemen, seorang koki, seorang ‘manajer’, rekening bank yang terus bertambah, waktu senggang untuk bersantai atau jalan-jalan, serta kawan-kawan yang ia pilih sendiri.
Lewat diskusinya dengan salah seorang kawan, Firdaus mulai mengerti arti “tidak terhormat”, dan terus memikirkannya. Hidupnya lalu berubah drastis lewat sepatah kalimat pendek itu.
Dengan ijazah sekolah menengah serta kesungguhannya, Firdaus mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan industri besar. Karena gajinya yang kecil, ia hanya bisa menyewa sebuah bilik kecil tanpa kamar mandi di sebuah gang kumuh. Di perusahaan tempat ia bekerja, terjadi kesenjangan yang lebar antara karyawan berpangkat tinggi dan karyawan rendahan. Banyak karyawati yang merelakan tubuh mereka pada para atasan agar lekas naik pangkat atau agar tidak dikeluarkan. Namun Firdaus tidak akan menghargai dirinya semurah itu, terlebih karena pengalamannya yang biasa dibayar dengan harga sangat mahal. Tidak seorang pun di perusahaan itu yang bisa menyentuhnya.
“Saya menyadari bahwa seorang karyawati lebih takut kehilangan pekerjaan daripada seorang pelacur akan kehilangan nyawanya. Seorang karyawati takut kehilangan pekerjaannya dan menjadi seorang pelacur karena dia tidak mengerti bahwa kehidupan seorang pelacur menurut kenyataannya lebih baik dari kehidupan mereka. Dan karena itulah dia membayar harga dari ketakutan yang dibuat-buat itu dengan jiwanya, kesehatannya, dengan badan, dan dengan pikirannya. Dia membayar harga tertinggi bagi benda-benda yang paling bernilai rendah.”
Karena jual mahalnya itulah, para penguasa perusahaan itu justru mempertahankannya. Bahkan mereka justru berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
Di perusahaan itu juga ia kenal dengan salah seorang karyawan bernama Ibrahim, seorang revolusioner, memimpin komite rovolusioner yang memperjuangkan hak-hak karyawan rendahan. Mereka saling mengungkapkan cinta, bahkan tidur bersama. Firdaus menjadi cerah oleh cinta yang melenakannya. Namun perasaannya itu mendadak amblas ketika Ibrahim bertunangan dengan putri presiden direktur. Ini penderitaan paling sakit yang pernah ia rasakan. Selama menjadi pelacur, perasaannya tak pernah ambil bagian, namun dalam cinta, perasaanlah yang jadi pemain utama.
Firdaus memutuskan keluar dari perusahaan itu. Ia kembali menjadi pelacur. Pelacur yang sukses.
“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh terlalu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan.”
Tapi kemudian ia didatangi germo bernama Marzouk yang mengancamnya. Firdaus pergi ke polisi untuk mencari perlindungan, namun ternyata Marzouk punya hubungan yang baik dengan para polisi. Ia lalu mencoba lewat prosedur hukum, tapi ternyata undang-undang menghukum pelacur. Maka kemudian germo itu pun memperoleh bagian dari penghasilan Firdaus, bahkan jauh lebih besar.
Firdaus tidak tahan, ia mencoba pergi jauh, namun di depan pintu, Marzouk mencegatnya. Terjadilah perkelahian. Saat Marzouk menampar mukanya, Firdaus membalasnya. Keberanian yang selama ini tidak pernah ia miliki. Dengan keberanian itu pulalah, ketika Marzouk ingin mengambil pisau dari kantungnya, Firdaus cepat mendahuluinya, dan menikamkan pisau itu dalam-dalam ke leher Marzouk, mencabutnya, menusukkan ke dada Marzouk, mencabutnya lagi, lalu menusukkan lagi ke perut Marzouk, lalu menusukkannya ke hampir seluruh bagian tubuh Marzouk. Dengan perasaan lega, Firdaus meninggalkan tempatnya.
Di sudut jalan, seorang lelaki dengan mobil mewah mengajaknya ikut. Firdaus menolak. Lelaki, yang mengenalkan diri sebagai seorang pangeran Arab itu terus mendesaknya, terjadi tawar-menawar, hingga bertemu pada harga tiga ribu.
Selama di ranjang, pangeran Arab itu terus bertanya “Apakah kau merasa nikmat?”
Bagi Firdaus, itu pertanyaan yang sangat bodoh, namun ia tetap menjawab “Ya.”
Tetapi karena pertanyaan itu terus diulang, Firdaus tidak tahan, akhirnya ia menjawab “Tidak.”
Firdaus masih marah ketika pangeran Arab itu menyerahkan uang. Maka uang itu ia cabik-cabik menjadi serpihan-serpihan kecil. Pangeran Arab itu heran, dan menduga bahwa Firdaus seorang puteri. Mereka terlibat perdebatan dan berujung pertengkaran. Pangeran Arab itu berteriak sampai datang polisi. Firdaus diborgol dan dibawa ke penjara.
Firdaus menolak untuk mengirim surat permohonan keringanan hukum karena menurutnya ia bukan pejahat, para lelakilah yang penjahat.

Dengan bahasa yang tajam, serta metafora-metafora yang indah, novel ini berhasil membuat saya terkagum-kagum pada kelihaian penulisnya, Nawal el-Saadawi, seorang dokter kebangsaan Mesir. Wajar jika karya ini juga masuk dalam 1001 Books You Must Read Before You Die.
Membaca novel ini, mau tidak mau, membuat kita memikirkan lagi berbagai kekurangan dan ketidakadilan yang masih menimpa hak-hak dan kedudukan perempuan di negeri kita dalam masyarakat kita sekarang. []

Selasa, 13 Mei 2014

Just Make Your Dreams Come True

Mungkin ngga banyak yang tau band bernama Imagine Dragons sebelum keluar lagu hitnya yang berjudul Radioactive. Saya pun baru tau dari film The Incredible Burt Wonderstone. Band dari negeri amrik sana ini memberikan musik yang bikin semangat meraih mimpi kita datang lagi. Lagunya inspiratif banget dan bisa mem"provokasi" kita untuk tetap berjuang mendapatkan semua impian kita. Kata 'On Top Of The World" disini bukan cuma berarti kita ada di atas gedung atau gunung tinggi, tapi bisa juga diartikan kita bisa diatas kesuksesan seperti yang kita impikan dari kecil. Di lyric yang bilang : "If you love somebody, better tell them while they’re here ’cause they just may run away from you" bisa juga diartikan ; jangan menunda yang kamu inginkan karena kesempatan akan cepat berlalu kalau terlalu lama berdiam diri. Ya, setidaknya saya menangkapnya begitu. ada juga beberapa kata yang sangat inspiratif seperti : "And I know it’s hard when you’re falling down, And it’s a long way up when you hit the ground, Get up now, get up, get up now" kata-kata yang memberi semangat ketika kita jatuh dan tetap berusaha untuk bangun lagi. Biasanya lagu-lagu pemberi semangat seperti ini selalu saya putar setiap pagi di kantor supaya bisa "menghipnotis" saya untuk selalu hidup optimis. Bagaimana dengan kamu? sudah ada lagu ini di daftar lagu kamu?


Minggu, 11 Mei 2014

Review: Orang Asing (Novel Albert Camus)

Orang Asing - The Outsider - Albert Camus

Judul: Orang Asing (L’Etranger/The Outsider/The Stranger)
Penulis: Albert Camus
Penerjemah: Apsanti Djokosujatno
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia 
Cetakan: Pertama (November, 2013)
ISBN: 978 979 4618 62 2

Bagaimana jika hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kasusmu justru memberatkan kasusmu dan membuatmu dihukum gantung? Itulah yang terjadi pada Meursault, tokoh utama dalam novel Orang Asing (L’Etranger/The Outsider/The Stranger) karya Albert Camus. Seseorang yang terasing dengan lingkungannya, seseorang yang tanpa emosi, dan menganggap wajar apa yang sudah terjadi.
Cerita diawali dengan kabar kematian ibu Meursault yang berada di panti wreda. Alasan Meursault menitipkan ibunya ke panti wreda karena penghasilannya memang tak cukup untuk membiayai ibunya, lagipula di panti wreda ibunya tidak akan kesepian.
Meursault pun cuti kerja dan berangkat ke panti wreda. Meursault ditawari untuk melihat wajah jenazah ibunya, namun ia bilang itu tidak perlu. Meursault cukup tabah. Ia bahkan tidak menangis dan tidak menunjukkan emosi kesedihan.
Malam itu ia menunggui jenazah ibunya di sebuah ruangan di panti wreda. Teman-teman ibunya sesama penghuni panti wreda berdatangan. Meursault merokok, dan menerima kopi susu yang ditawarkan penjaga panti wreda karena ia sangat mengantuk. Meursault tertidur karena tidak kuat menahan kantuk yang menderanya. Keesokan harinya jenazah ibunya dikuburkan. Meursault masih tenang dan tabah.
Sehari setelah pemakaman ia bertemu dengan Marie, dan mereka berkencan.
Meursault juga mau tidak mau terlibat dalam masalah Raymond, tetangganya. Raymond menceritakan bahwa ia punya pacar yang suka berbohong dan ia memukulnya. Raymond memintanya menuliskan surat kepada pacarnya itu agar ia mau datang, dan mereka bisa bercinta untuk terakhir kali, juga agar Raymond bisa memukulnya untuk terakhir kali. Saat pacar Raymond itu datang, Raymond memaki dan memukulinya. Lalu datanglah polisi, dan Raymond ditahan. Raymond meminta Meursault untuk memberi kesaksian, maka Raymond pun dibebaskan.
Setelah bebas, Raymond mengajak Meursault dan Marie ke pantai ke sebuah rumah pantai milik teman Raymond. Di pantai itulah mereka bertemu saudara mantan pacar Raymond beserta teman-temannya dan mereka terlibat perkelahian. Raymond terluka dan mereka kembali ke rumah pantai. Raymond ingin membalasnya dengan mengambil sebuah pistol. Tapi Meursault mengambil pistol itu karena takut terjadi hal buruk.
Meursault kembali ke pantai sendirian, dan ia bertemu dengan salah satu yang menyerang mereka tadi. Meursault mengalami disorientasi karena panas dan silau. Dalam kondisi disorientasi itu, ia melihat orang tadi mencabut pisau. Ia pun menembaknya dengan pistol yang ia sita dari Raymond. Karena silau, ia kembali menambah empat tembakan pada orang tadi.
Meursault akhirnya disidang karena pembunuhan itu. Selama persidangan, Meursault lebih banyak diam. Penuntut memanfaatkan itu untuk menggambarkan kepribadiannya yang buruk. Ia dianggap bukan orang baik karena mengirim ibunya ke panti wreda, tidak ingin melihat wajah ibunya yang meninggal, tidak sedih saat pemakaman ibunya, merokok,  menerima tawaran kopi susu, dan tertidur saat menunggui jenazah ibunya, dan berkencan sehari setelah kematian ibunya. Meursault juga dianggap pembunuh yang kejam, tenang dan jitu dengan penuh perencanaan karena setelah satu kali tembakan, ia kembali menambah empat tembakan.
Hakim akhirnya memutuskan hukuman gantung atas Meursault. Ia digantung atas hal-hal yang ia lakukan tanpa sengaja. Bahkan ia, tetap tabah atas kematian yang akan mendatanginya itu.
Novel tipis yang menggunakan sudut pandang orang pertama ini terdiri dari dua bagian, masing-masing bagian terdiri dari 6 dan 5 bab. Terbit pertama kali dalam bahasa Prancis dengan judul L’Etranger pada tahun 1942, kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Outsider dan The Stranger. Novel filsafat yang mengusung tema absurd dan eksistensi ini secara permukaan tidak menghadirkan pergolakan emosi yang mengaduk-aduk, namun sesungguhnya memiliki makna yang sangat mendalam. Orang Asing juga menjadi kritik Albert Camus atas hukuman mati yang saat itu diterapkan.
Novel ini masuk dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die. []

Have a Good Time in Kuala Lumpur, Malaysia (Day 3)

Packing
Bunkbed
Hari ke-3 dimulai. Isi tas saya sudah penuh karena membeli souvenir semalam. Padahal masih ada beberapa orang yang belum saya belikan, semoga tas saya masih cukup menampung beberapa souvenir lagi. Jam take off di tiket adalah jam 18.55 jadi kami masih bisa berkeliling sampai tengah hari. Sesuai rencana, hari ke-3 ini akan kami habiskan di Putrajaya lalu diteruskan membeli souvenir di Petaling, Central Market atau Jalan Kasturi. Semoga waktunya masih cukup hingga tengah hari nanti. 

Pagi hari kami sudah packing bawaan kami. Karena saya hanya membawa 1 backpack jadinya isi tas saya menggembung. Beratnya sih ngga seberapa, mungkin cuma bertambah beberapa kilo tapi bentuknya sudah ngga karuan haha. Barang-barang yang masih bisa dipegang atau dimasukkan tas kecil saya pisahkan dari dalam backpack saya. Inilah yang saya ngga suka dari pulang backpacker-an, sudah tahu saya backpacker kenapa dong harus belanja? Besok-besok saya akan menolak belanja pesananan karena memang niat saya buat jalan-jalan bukan belanja. Menginap 3 hari di hostel ini sangat membuat saya nyaman. Kru hostel pun sudah seperti teman atau keluarga sendiri. Selama 2 malam sebelum tidur biasanya kami bercengkerama dengan kru hostel ini walaupun dengan bahasa Inggris saya yang pas-pasan haha. Dengan seringnya kami bercengkerama saya jadi tahu kalau salah satu resepsionisnya punya teman dari Yogjayakrta, dan dia juga menceritakan senang sekali pernah berkunjung ke Indonesia khususnya ke Yogyakarta karena memang saat itu dia sedang berkunjung kesana. Anggapan saya terhadap orang Malaysia yang angkuh dan tidak bersahabat ke turis Indonesia sepertinya harus saya hapuskan. Mereka ramah kok. Lagipula, tampilan kita dan mereka hampir sama, makanya banyak turis bertanya jalan kepada kami karena dikira kami warga sana. Waktu di Singapore juga begitu. Saya ngga tahu, apakah mereka benar-benar ramah ataukah karena kami turis yang menghasilkan untuk mereka? Semoga saja keramahan mereka itu sungguhan.
backpack

Jam 9 pagi kami sudah bersiap check out dan seperti biasa setiap menginap di hostel, kami para tamu diharuskan membereskan handuk dan selimut kami untuk meletakkan di keranjang depan resepsionis. Pasti yang pernah menginap di hostel (setidaknya hostel di Singapore dan Malaysia) tahu peraturan ini. Setelah meletakkan handuk dan selimut kani lalu mengabsen daftar check out, seperti di tempat sebelumnya saya selalu menerapkan ritual foto bersama. Ya, saya meminta respsionos berfoto bersama kami untuk kenang-kenangan. Kebetulan yang sedang jaga pagi itu adalah Ms, Ludy yang kebetulan membantu kami saat check in 3 hari yang lalu. Dengan agak canggung dia meng-iyakan. Begitu dia mengizinkan saya harus mencari 1 orang untuk
Speed internet hostel
memfoto kami dan kebetulan sekali ada turis Indonesia (kalo ngga salah dari Samarinda) sedang duduk sendiri. Dengan sopan saya meminta dia memfoto kami "Mbak, bisa tolong foto kita ngga?" dan dengan senang hati dia membantu kami. Yah, dari hal kecil itu pun bisa menambah teman. FYI menambah teman yang sama-sama dari Indonesia lebih sulit daripada berteman dari negara lain saat kita traveling di luar negeri. Ngga tau kenapa sepertinya mereka malu bertemu dengan kerabat negeri sendiri. Setelah berfoto dan sebentar berbasa-basi kami pun resmi meninggalkan hostel ini. Untuk rekomendasi, hostel yang saya tempati ini bernama SUNSHINEBEDS KL yang websitenya bisa dilihat di www.sunshinebedz.com.my/. Tarif permalamnya cuma RM 30 dan kita bisa dapat fasilitas yang memuaskan seperti kamar mandi bersih, sarapan, loker, dan yang paling penting untuk saya ada WIFI (walaupun speednya dibatasi) GRATIS. 
Untuk yang mau menginap di Bukit Bintang saya recommend hostel ini. Salah satu peraturan disini adalah para tamu wajib melepas sepatunya di rak sepatu depan pintu masuk. Mungkin karena aturan ini jadinya hostel ini bersih sekali dan buat saya betah berlama-lama disini. Pada saat kami memakai sepatu, ternyata ada salah seorang turis Indonesia yang melihat saya meminta di foto kan di dalam tadi dan bertanya "Dari mana mas?". Wah, lumayan nambah 1 teman lagi. Ternyata dia dari Yogyakarta yang sedang solo Traveling dan akan mengunjungi temannya. Dari situ kami bertanya banyak untuk lokasi yang mungkin recommended. Tapi ternyata lokasi yang direkomendasikan sudah kami datangi semua. Yah memang  di KL ini 11-12 di Jakarta, ngga ada yang spesial, tapi dia merekomendasikan Malaka. Mungkin next time bisa dipertimbangkan.

Sarapan terakhir
Loker. Jangan lupa bawa gembok














Me, Ms. Ludy, Dudi
 
Siap-siap berangkat













Menuju Putrajaya
Senyum kekecewaan
KLIA Transit
Mungkin beberapa tahun lalu belum banyak yang tahu ada kawasan modern bernama Putrajaya. Ya karena sebenarnya Putrajaya itu adalah daerah perkantoran pemerintahan dan bukan kota wisata. Tapi karena suasana dan lokasinya yang bagus hingga menarik turis untuk mengunjugi tempat ini. Ada 2 cara menuju ke sana yang saya tahu, antara lain naik Bus E1 yang ada dekat Central Market atau yang ngga mau repot nunggu bisa naik KLIA Transit yang ada di KL Sentral. Karena waktu kami ngga banyak akhirnya kami pilih KLIA Transit dengan tiket seharga RM 9,50 untuk sekali jalan menuju Putrajaya Sentral. Kereta datang setiap 30 menit sekali dan waktu tempuh cuma 15-20 menit. Kereta yang kami naiki menuju Putrajaya sungguh bersih dan sepi. Mungkin karena masih pagi jadinya belum banyak orang yang menggunakan kereta ini. Ngga lama kereta datang dan kami langsung naik. Setelah 20 menit kami sudah sampai di Putrajaya Sentral. Berbeda dengan KL Sentral, di Putrajaya Sentral ini lebih mirip terminal bus dan bukan mall seperti di KL Sentral. Seperti yang saya bilang sebelumnya, papan petunjuk di sini ngga begitu rapih dan agak membingungkan. Tujuan bus pun dibagi beberapa rute dan menurut saya agak membingungkan. Ngga ada peta petunjuk bahkan brosur pun kosong. Cuma ada papan petunjuk rute besar yang saking putus asa nya sampai saya foto supaya saya tahu harus kemana dan naik bus yang mana. Waktu menanyakan peta di bagian informasi, ada seorang tour guide menawarkan jasanya untuk kami berkeliling. Dengan sopan kami menolak dan bilang kalau kami cuma sebentar jadi hanya ingin mampir ke 2-3 tempat saja. Awalnya yang wajahnya bersemangat langsung merengut setelah mendengar penjelasan kami, mungkin kecewa "dagangan"nya ngga laku. Kami pun mencari loket tiket bus. Karena bingung dengan pilihan bus yang banyak, saya bertanya ke loket untuk menuju Putrajaya Perdana Putra, Putrajaya Int'l Convention Centre, dan Putrajaya Lake saja. Ternyata ngga pake tiket, cukup membayar RM 1 untuk menuju lokasi lalu untuk naik bus menuju lokasi berikutnya cuma 50 sen aja. Tuh, murah sekali kan dibanding pakai jasa tour guide? Tapi ternyata menuju tempat itu ngga segampang yang saya kira. Waktu kedatangan bus yang setiap 30 menit sekali membuat perjalanan ini lebih berat karena waktu yang serba mepet. Ya setidaknya kami dapat 1 lokasi saja supaya ngga penasaran lagi. 30 menit kami menunggu dan datanglah sebuah bus rutenya menuju Perdana Putra, tapi ternyata ada kejadian diluar dugaan. Ingat tour guide yang saya tolak tadi? ternyata dia sudah mencarter bus itu. Saya sudah naik di pintunya tapi dengan wajah marah sambil melotot dia mencegah kami naik ke dalam bus. "Kamu orang mau kemana? Tadi kamu tak nak ikut tour saya!" Masih bingung saya bertanya balik "Saya tak ikut tour, saya cuma mau naik bus ini". Dia membalas "Ya tak boleh lah, awak cari bas lain saja." Dengan perasaan kecewa saya turun dari bus dan melihat bus tertera tulisan bahwa bus itu sudah di sewa. Sial! masa harus menunggu 30 menit lagi? Karena mood kami sudah ngga enak dan waktu terus berjalan akhirnya kami urungkan niat kami berkeliling Putrajaya. Kami pun segera kembali ke stasiun KLIA Transit dan menuju Central Market dengan kecewa.

Belanja dan Makan Siang Terakhir di KL
Central Market alias Pasar Seni
Jalan Petaling
Ngga mau berlarut-larut dalam kekecewaan kami berusaha menikmati perjalanan kami menuju Central Market. Dari stasiun monorel Central Market kami menyeberang dan segera masuk ke dalam gedungnya. Panasnya siang hari itu cukup membuat kulit kami terbakar. Di dalam Central Market ternyata ngga istimewa juga, dan lagi-lagi mirip ITC bedanya barang yang dijual kebanyakan berasal dari daerah-daerah di Malaysia. Ada ukiran, pakaian sampai makanan khas daerah sana ada semua. Harganya yang kurang bersahabat membuat saya cuma bisa melihat-lihat. Saya hanya bisa membeli beberapa coklat dan sepasang pasmina seharga RM 45 untuk mama saya. Dan saya ingatkan, sebelum berbelanja di hari terakhir (yang biasanya akhir dari persediaan uang) sebaiknya hitung baik-baik apakah uang kita masih cukup untuk sekedar makan dan transport ke airport? Seperti yang saya alami dengan teman saya kali ini. Setelah belanja saya baru ingat uang simpanan saya sudah menipis dan setelah dihitung (termasuk uang koin) cuma tersisa +-RM 25. Memang sih masih cukup tapi harus irit sekali. Saya teringat restoran nasi kandar di belakang Central Market dan ingin mencobanya, sambil berdoa semoga uang kami masih cukup untuk makan siang dan kalau beruntung masih cukup untuk coba jajanan disana. Bahagia sekali kami begitu melihat harga yang terpampang besar ONLY RM 5.50. Tanpa berpikir panjang kami langsung masuk kedalam dan memesan. Pelayan menawarkan aneka makanan arab lainnya yang harganya sekitar RM 15 - 20. Saya tanpa malu membalik gambar menu dan menunjuk daftar makanan seharga RM 5.50 tadi "No, thanks. We'll order this." Saya menunjuk ke nasi goreng beef + es teh lemon, dan teman saya nasi onion beef + es teh lemon. Pelayan tadi hanya tersenyum dan segera mengambilkan pesanan kami. Ngga usah malu deh, memang budget kami sudah tipis haha. Lahap menghabisi pesanan kami (rasanya biasa aja sih) dan segera membayarnya. Alangkah malunya saya ketika teman saya membayar pesanannya (per orang kami membayar masing-masing RM 7.20) dengan beberapa koin. Dia beralasan ngga mau kebanyakan koin di dompetnya. Dengan pede saya datangi kasir dan membayarnya. Sambil tersenyum si kasir bertanya "Terimakasih Tuan. Makannya habis?" saya hanya menjawab sambil tersenyum "Oh, habis!" dan dijawab kembali "OK, sila datang lagi ya." Saya tersenyum dan pergi.
Gaya doang

Nasi goreng beef + ice lemon tea











Onion Beef + Ice lemon tea
Total kerusakan RM 14.40









 Sebenarnya masih ada lokasi yang menarik menurut saya, yaitu Tugu Peringatan Negara atau juga dinamakan Monumen Nasional. Lokasinya ngga jauh dari tempat kami, tinggal menyeberang ke stasiun Kuala Lumpur lalu naik bus 1 kali. Tapi saya harus menghargai teman saya yang budgetnya sudah di ambang batas akhirnya kami ngga jadi kesana. Akhirnya kami pulang menuju airport pada jam 15.30.

Pulang...
Terminalnya sempiiiiit
Pesawatnya
Setelah lelah berpetualang 3 hari ini akhirnya kami pulang. Kembali kami harus menaiki bus menuju LCCT KLIA. Karena kami sudah membeli tiket pulang-pergi jadinya untuk tiket pulang bisa dibilang kami ngga usah pusing keluar uang lagi. Karena kami tahu lama perjalanan bisa sampai 1 jam, jadinya kami pulang lama sebelum waktu boarding. Melihat menara Petronas dan KL tower dari kejauhan agak menyedihkan juga, karena dalam 3 hari ini kami mengalami pengalaman yang menyenangkan dan mengecewakan di kota ini. Walaupun kota ini ngga membuat saya tertarik untuk datang lagi tapi setidaknya ada cerita baru yang bisa saya ceritakan kepada teman-teman saya sepulang ke Jakarta nanti. Dari tengah kota yang dikepung bangunan besar, hingga akhirnya menuju airport yang dikelilingi pohon kelapa sawit. Saya juga akhirnya sempat melihat Stadion Bukit Jalil dan Sirkuit Sepang walaupun cuma dari kejauhan. Turun dari bus kami langsung merasakan panas menyengat dan hiruk pikuk nya terminal budget. Karena kami turun di terminal budget jadinya kami masih harus berjalan lagi menuju ke dalam terminal menuju pelepasan antara bangsa. Di terminal budget ini terlihat sekali kalau fasilitasnya sangat kurang. Banyak yang ngga dapat kursi untuk sekedar duduk dan ngga masalah duduk di lantai. Pada saat mau check in e-tiket saya lecek ngga karuan dan saya agak malu memberikan e-ticket ini ke teller. Untunglah ada fasilitas kios check in. Saya cukup meng-scan barcode yang ada di HP saya dan voila! kertas ticket tercetak dari mesin. Saking norak saya sedang kambuh, saya sampai print 2 kali untuk souvenir ahahaha.

Foto didepan pesawat parkir
Wifi di LCCT
Di bagian imigrasi ada hal yang agak memalukan sebenarnya. Karena bosan menunggu dan kebetulan kamera DSLR saya gantung di leher, saya iseng-iseng memotret beberapa bagian gedung di bagian imigrasi. Begitu saya maju ke meja imigrasi saya langsung di interogasi petugasnya "Berapa banyak awak bidik gambar?" Karena ngga paham maksudnya saya bertanya lagi "Maaf?" petugas bertanya lagi "Awak bidik gambar kan? Berapa banyak?". Oh ternyata ada larangan memoret di tempat imigrasi. Yah, seperti saya sudah bilang berkali-kali, ngga ada papan pengumuman jelas disini. Dengan perasaan deg-degan saya menunjukkan hasil foto saya. Terlihat gambar bertuliskan "Foreign Passport" dan dia bilang "Hapus!" saya pun menghapusnya. Klik lagi terlihat angle lain lagi "Hapus!" Kira-kira ada 4 gambar yang dilarang dan disuruh hapus. Saya pun meminta maaf atas kesalahan saya karena takut kamera saya diambil. Begitu lolos dari imigrasi saya lega sekali. Jadi untuk yang suka iseng tangannya mau motret terus, liat-liat lokasi dulu ya haha... Masih ada 1 tempat lagi yang bikin deg-degan, yaitu pintu scanner. Banyak penumpang yang kedapatan bawa makanan berupa makanan kaleng dan botol minuman yang disita. Untunglah saya ngga bawa barang aneh-aneh jadinya lolos-lolos aja. 

Ngintip ah
Sunset
Menunggu di ruang tunggu LCCT ngga seasik di terminal 3 Cengkareng, apalagi terminal 1 Changi. Rangannya sempit, orangnya banyak, dan yang paling menyebalkan WIFI nya selalu putus. Akhirnya kami menunggu di pintu lain sampai akhirnya panggilan kami harus berlari menuju pintu boarding kami. Perjalanan menuju pesawat juga agak jauh, -+400meter dari pintu. Karena teman saya meminta saya untuk memotret drinya didepan pesawat sebelum pulang, jadinya kami agak berlari untuk dapat gambar yang bagus. Dan ternyata hasilnya sepadan, dia dapatkan foto di depan pesawat yang selama ini ga pernah dia punya, kasihan hahaha... Kembali saya menaiki pesawat Air Asia Malaysia dan bertebaran tulisan bahasa Melayu dan greeting pilot dengan bahasa Melayu dan Inggris. Sayang langit sudah agak gelap dan keterlambatan penerbangan membuat langit sudah sangat gelap jadinya saya ngga bisa mengambil sedikit gambar sunset dari jendela saya. 2 jam sudah saya lalui dan terlihat kota Jakarta di atas ratusan meter berkelap kelip. Pendaratannya juga mulus yang membuat tak terasa saya sudah kembali di Jakarta. Setelah keluar pesawat, bus jemputan Air Asia mengantar kami ke pintu masuk imigrasi. Kesimpulan dari perjalanan 3 hari adalah kenyataannya negara tetangga yang 1 ini ngga lebih baik dari negara sendiri. Mungkin promosi mereka yang terlihat bagus tapi kenyataannya cuma begini saja. Program Visit Malaysia 2014 ngga membuatnya lebih bagus, malah terkesan cuma tempelan saja. Sekali lagi maaf Malaysia, tidak bagus!.Hanya butuh beberapa menit kami sudah keluar airport. Kami pun saling berpamitan dan segera merencanakan perjalanan berikutnya. Kemana lagi perjalanan kami berikutnya? Tunggu ya... :)
 
Sisa-sisa perjuangan
Koin KL Rapid & Kartu Touch n Go




Kamis, 08 Mei 2014

Have a Good Time in Kuala Lumpur, Malaysia (Day 2)

Bukit Bintang pagi hari
Pagi hari jam 7 saya sudah terbangun dari tempat tidur saya. Segera saya mandi supaya ngga antri kamar mandi karena saya sempat lihat di meja resepsionis hostel sudah fully booked hari itu. Saya pikir karena fully booked akan banyak orang bangun pagi untuk mandi tapi dugaan saya salah. Karena kebetulan turis yang menginap kebanyakan dari barat, maka ngga banyak yang bisa bangun pagi. Seperti kita tau perbedaan waktu di barat dan di daerah timur itu diatas 5 jam. Jadi ngga heran kalo mereka masih jetlag dan selalu bangun siang. Tapi karena saya tpe backpacker yang ga mau rugi, buang-buang waktu sama aja buang uang. Jadinya jam 7 itu udah dibatas ambang kesiangan buat saya haha. Setelah mandi jam 7, dilanjutkan sarapan jam 7.30 dan basa-basi sebentar. Jam 8.30 kami baru keluar dari hostel dan segera menuju KL Sentral untuk menuju destinasi pertama di hari kedua kami.

Terpesona dengan Batu Cave
Patung Dewa Murugan
Monyet penyambut kami
Batu Cave menjadi tujuan utama saya selama di Kuala Lumpur. Saya sudah melihat beberapa foto dan video di internet yang membuat saya penasaran dengan tempat ini. Monyet, burung, patung emas besar dan lansdcape megah membuat saya terpancing mendatangi tempat ini. Jujur saja, saya lebih suka lokasi bersejarah, landscape unik dan modern kalau saya berpergian kemanapun. Makanya, kenapa saya bilang Batu Cave ini jadi tujuan utama saya bahkan ini tujuan favorit saya di KL. Sesampai di KL Sentral kami segera menuju terminal KTM komuter. Untuk tiket satuan harganya cuma RM 2, tapi karena saya sudah punya kartu Touch 'n Go jadinya tinggal tap saja. Syukurlah masih terlalu pagi dan ngga terlihat antrian berdesakan di komuter line. Andai komuter line di Jakarta sebersih, sedingin dan seharum disini mungkin orang yang pakai kendaraan pribadi bakal berkurang. Perjalanan dari KL Sentral ke Batu Cave cuma memakan waktu +-20 menit dan pemandangan yang disuguhkan juga cukup menarik. Perbedaan suasana perkotaan sampai ke pinggiran terlihat jelas. Batu Cave adalah pemberhentian terakhir komuter. Begitu keluar stasiun, langsung terlihat bukit besar dan patung emas yang berdiri kokoh seolah menyambut kami. Kami segera turun dari stasiun dan begitu menuju pintu masuk sudah banyak penjual souvenir dan minuman menawarkan barang dagangannya. Makin masuk kedalam makin saya terkejut karena sekumpulan burung dan monyet seolah bermain-main di halaman depan kuil. Terus terang saja, saya terkejut bukan karena takut, tapi karena kegirangan melihat mereka bebas bermain dan bisa sangat dekat dengan saya. Mengingatkan saya pada Monkey Forrest yang ada di Ubud, Bali. Sebaiknya lepaskan kacamata, anting dan aksesoris menggantung yang mudah diambil monyet disini. Walaupun monyet disini terlihat jinak, tapi lebih baik nggak memancing mereka untuk bertindak nakal.

Patung Anoman hijau
Narsis dikit
Patung yang menyambut kami pertama kali adalah patung besar Anoman berwarna hijau. Saya agak heran kenapa penampakan Anoman disini berbeda dengan Anoman di Bali ya? Di Bali kita biasa melihatnya berwarna putih, kenapa disini hijau? Entahlah, saya kurang mengerti sejarah agamanya, saya hanya bisa mengagumi saja. Selama disini sebaiknya kita menghormati orang-orang yang sedang ibadah disini, seperti ngga sembarangan masuk kuil, tertawa keras dan ngga berbicara kasar/jelek disini. Walaupun disini masuk tempat wisata, tapi kesakralan kuil masih tetap terjaga disini. Saya teringat waktu ke kuil Buddha di Singapore, kami diperbolehkan masuk selama kami sopan. Ah, indahnya toleransi disini. 

Berfoto di depan patung Dewa Murugan

Sampailah kami di pintu utama Batu Cave. Patung emas dewa Murugan menyambut kami dengan tongkatnya. Di beberapa kerumunan tiba-tiba saja saya mendengar bahasa yang ngga asing untuk saya, beberapa bicara bahasa Jawa dan bahasa Jakarta. Wah, bisa-bisa ketemu tetangga saya disini haha. Di halaman tengah pintu utama ada atraksi beri makan burung yang sangat diminati anak-anak, karena biasanya burung akan berdatangan waktu mereka mengambil makanan di tangan. Saya juga sempat melihat burung berputar-putar di tengah halaman, sungguh penampakan yang jarang terjadi. Dan FYI kita harus berhati-hati di setiap langkah, karena banyak kotoran burung di jalan. Bukan hanya berhati-hati menginjak jalan, tapi juga kalau kita "beruntung" akan di anugerahi "krim putih" dari langit alias kotoran burung haha.


Ritual berikutnya setelah bermain dengan burung, monyet dan berfoto di depan dewa Murugan, adalah naik dan menghitung jumlah tangga menuju atas bukit. Ada 3 jalur tangga disini untuk memudahkan kita naik dan turun. Karena tangganya terbuat dari semen/beton sebaiknya tetap berhati-hati diwaktu hujan karena bisa saja sangat licin. baru di hitungan 60, saya sudah diberkahi "krim putih dari langit". Untung saya memakai topi, jadi ngga langsung kena kepala saya. Segera saya
Hati-hati banyak burung berseliweran
mengambil tissue basah dari tas saya dan membersihkannya. Bukan cuma saya, ternyata teman saya juga diberkahi yang sama di kaki celana kanannya waktu dia melangkah naik. Kami pun hanya bisa tertawa karena skor kami 1-1. Makin tinggi udara makin tipis dan membuat menanjaki anak tangga menjadi lebih berat. Untuk yang belum terbiasa naik tangga sebanyak ini, sebaiknya berhenti di bagian yang lebih lebar setiap beberapa anak tangga. Kalau kira-kira ngga bisa naik dengan cepat, sebaiknya bergeser ke pinggir untuk menyediakan tempat orang yang mau mendahuli kita. 

Patung Murugan Tertinggi
Pemandangan dari atas Batu Cave
Setelah 272 anak tangga barulah kita merasa lega karena kita berhasil super amazing. Kita bisa melihat orang yang awalnya semangat lalu kelelahan di tengah jalan, ada yang sudah naik turun lagi beberapa kali (biasanya untuk keperluan joging) dan ada juga yang walaupun lambat tapi tetap konsisten naik. Mungkin disini kita bisa melihat beberapa karakter orang dan memahami sebaik apakah kita? Kami lanjutkan masuk ke dalam dan segera tercium bau dupa, keringat dan sedikit bau sampah. Ya, bau itu bercampur di dalam gua. Ternyata cobaan "anak tangga" belum selesai sampai di angka 272, karena kita masih harus naik anak tangga lagi. Saya ngga menghitungnya kali ini, tapi sekitaran 30an anak tangga lagi. Disitu juga masih terdapat 2 kuil lagi. Saya ngga tau apa bedanya kuil dibawah, dan keduanya diatas sini. Saya juga sempat mengambil melihat ibadah yang sedang berlangsung dan memberikan sedikit donasi yang kotak amal depan kuil.
sampai di atas bukit dan bisa melihat kebawah yang terlihat

Makan dulu...
Puas bermain di atas akhirnya kami putuskan untuk kembali turun dan segera menuju destinasi berikutnya. Kembali berhadapan dengan 272 anak tangga lagi tapi kali ini turun. Terasa agak ringan dibandingkan naik. Dan begitu sampai di bawah, penjual ras India dengan mainan menawarkan dagangannya kepada kami, dia bilang : "Mas, mainan buat adiknya. Sayang adik." What? dia panggil saya apa? Mas? Kok dia bisa tau saya dari Indonesia? apakah karena saya pakai baju garis merah? Saya hanya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya kami mau aja membeli souvenir, tapi rasanya ngga ada hal yang unik disini dan akhirnya kami skip belanja disini dan segera menuju lokasi berikutnya karena waktu sudah agak siang.


Awas banyak "krim" berjatuhan
Sebelum naik
Sedikit lagi sampe!













Jalan panjang ke Genting Highlands
GPS selalu menemani saya
Rencananya, setelah Batu Cave kami menuju ke Putrajaya. Tapi karena cuacanya lagi hujan gerimis sepanjang hari makanya kami tukar jadwalnya menjadi ke Genting Highlands dulu dan mengganti jadwal Putrajaya keesokan harinya. Setelah kembali ke KL Sentral kami langsung mencari loket tiket bus menuju Genting Highlands. Bingung mencari, akhirnya kami bertanya ke bagian informasi. Seperti yang saya pernah bilang sebelumnya, di KL hari rajin bertanya karena papan petunjuk kurang lengkap atau malah tersembunyi. Dengan sopan saya bertanya "Excuse me, where I can purchase bus ticket to Genting Highlands?" tapi sayangnya entah karena mood sedang jelek, kelelahan atau memang tipikalnya, jawabannya cuma singkat dan agak judes : "Upstairs, turn left!" saya sampai bertanya 2 kali karena kurang jelas "I'm sorry?" dan kembali dengan jawaban yang sama "Upstairs, turn left!" Saya sambil tersenyum hanya menjawab "OK, thank you." dan segera ngeloyor keatas. Setelah mencar-cari dengan agak kesusahan akhirnya ketemu juga. Letak loket nya terpencil agak ke pojok. Kami segera memesan untuk tiket pulang pergi supaya ngga repot beli disana. Bus ke Genting cuma disediakan 1 bus per 30 menit. Jadi kalo kita beruntung kita bisa dapat tiket yang jam nya berdekatan dengan waktu pemesanan. Jam di tangan saya baru jam 12.20 waktu KL, tapi untuk jam segitu sudah full jadinya baru bisa dapat tiket jam 13.30. Kami membeli tiket pulang pergi beserta tiket Skyway alias kereta gantung. Karena masih cukup lama akhirnya kami makan siang dulu disitu. Burger King menjadi pilihan karena dimana-mana rame. Budget makan siang yang agak over untuk kali ini, tapi ya harus bagaimana lagi?

Saya pilih ini
RM 10/pc mau?
Sedang asik makan, tiba-tiba lengan kanan saya dicolek seorang pemuda ras China. Saya menoleh ke arahnya, dia hanya tersenyum dan memberikan kartu berisi tulisan berbahasa Melayu dan Inggris. Intinya dia menjual souvenir seharga RM 10 untuk yayasan bisu tuli. Souvenirnya sih ngga istimewa, cuma ukiran kayu kecil untuk gantungan HP, tapi karena saya merasa iba akhirnya saya beli juga. Setelah saya memilih souvenir dan membayarnya, dia mengucapkan terimakasih dengan isyarat tangannya sambil tersenyum. Tapi setelah beberapa menit kemudian saya merasa : Apakah saya sedang ditipu? Teman saya pun tertawa dan bilang : Ahaha.. mau aja lo ditipu!. Saya pun hanya tertawa dan menjawab : "Ya udah lah, yang penting gue ikhlas ngasihnya, itu urusan dia sama Tuhan". Kami pun kembali tertawa sambil menghabiskan makan siang kami yang agak mahal itu.

Tiket bus ke Genting
Jam tangan menunjukkan jam 13.10 kami segera menuju tempat bus genting di bawah KL Sentral. Bus nya berwarna merah maroon dengan tulisan resort world dan iklan acara di genting. Ngga seperti stasiun monorel atau komuter, di parkiran bus ini kami cuma disediakan 2 kursi panjang berkapasitas 20 orang aja, jadi yang ga kebagian kursi ya siap-siap berdiri nunggu bus. Bukan cuma nunggu bus yang bikin ga nyaman, karena lokasinya di dalam ruangan jadinya asap knalpot dan bus dan mobil yang lewat bercampur membuat mata perih dan dada sesak. Saya sampai menutup hidung saya pakai sapu tangan karena sesak dan harus menunggu 20 menit lagi. Sambil menunggu bus, saya melihat ada sederet loket tiket dan salah satunya adalah loket tiket bus ke genting. Tau disini ada loketnya kenapa kami susah payah cari didalam? haha.. Sekali lagi perhatikan segala hal detail di KL.

Perjalanan menuju Genting
Perjalanan dari KL Sentral ke Genting Highlands memakan waktu 1 jam. Jadi yang mau kesini sebaiknya persiapkan waktu lebih banyak karena perjalanan dan jadwal keberangkatan yang ga bisa dipastikan. Perjalanan melewati jalan tol dan naik ke bukit seperti halnya perjalanan tour ke daerah puncak, Bogor. Jalan yang berkelok-kelok dan suguhan pemandangan perbukitan membuat perjalanan menyenangkan. Setelah 1 jam perjalanan, ternyata kita masih harus naik lagi ke atas bukit menuju resort. Karena kami masih pertama kali kesini, jadinya kami cuma ikuti orang-orang lain saja karena ngga tau harus menuju kemana lagi. Tapi ternyata setelah mengikuti mereka, kami sampai di depan toliet. Loh kok? toilet? Mana jalan menuju kereta gantungnya? Makanya hati-hati kalo mau ikutin orang haha. Masih agak kebingungan kami lihat ke sekeliling mencari papan petunjuk. Ada 1 papan petunjuk yang kurang jelas, tertulis : Genting Skyway 3rd floor, this way. Papan itu tertulis di luar pintu yang tertutup. Pintu itu bukan pintu masuk melainkan seperti pintu keluar emergency di mall. Apa iya kita masuk dari sini? Karena ngga ada seorang pun masuk lewat pintu itu. Celingak-celinguk kami melihat keadaan. Apa mungkin kita dijemput lagi untuk naik ke atas? Kami mencari penumpang yang 1 bus bersama kami, tapi rasanya sudah ngga ada lagi. Lho, kemana mereka pergi? Lewat mana? Setelah lama mondar-mandir seperti anak hilang akhirnya saya mencari orang yang bisa ditanyai. Ada loket bus disitu, saya bertanya lokasi Skyway dan ternyata ada di pintu kecil belakang resto. What? Bagaimana bisa pintu sepenting itu ketutupan resto? 20 menit yang terbuang sia-sia. Kami segera menuju pintu itu dan mengikuti papan petunjuk. kali ini kami harus berhati-hati melihat papan petunjuk karena kurang jelas arah dan petuunjuknya. 

Kereta gantung alias Skyway
Kami dibawa petunjuk itu menuju 2 pintu lift menuju lantai 3. Begitu sampai di lantai 3 barulah terlihat ada kehidupan. Tempatnya seperti mall tapi agak sepi dan di jendela terlihat kereta gantung yang sedang di antri puluhan orang. Karena kami ngga dapat tiket kereta gantung waktu beli di KL Sentral, akhirnya kami harus membeli di loket terdekat. Ternyata loketnya ngga bersebelahan dengan pintu kereta gantungnya. karena sudah ngga percaya sama papan petunjuk, kami langsung bertanya ke security sitau aja. Ternyata harus turun 1 lantai dulu dan beli tiketnya. Haduh, ga praktis banget sih? Repot! Setelah ber repot-repot ria naik turun tangga, akhirnya kami ikut antrian kereta gantung. Begitu sampai di petugas tiket, ada 2 orang (ngga tau turis atau warga lokal sana) menyerobot antrian kami. Tiket kami sudah di tangan petugas dan menunggu dipersilahkan lewat. Melihat ada pengantri yang menyelak antrian, petugas itu marah dan berteriak. "Wait! wait! wait! Tunggu sekejap!" saya yang saat itu sedang berada didepan petugas hanya bisa terdiam dan melihat ke penyusup itu. Setelah penyusup itu kena omelan, kami pun dipersilahkan masuk. Wah, ternyata ngga di Jakarta ngga di KL masuk aja ada yang nyelak antrian. Semua mata tertuju ke petugas itu.

1 Kereta gantung bisa diisi sampai 4 penumpang dan siapa cepat dia dapat. Begitu naik kereta bergerak pelan sampai di satu waktu akan menanjak kecepatan tiba-tiba bertambah dan wush! kami serasa naik roller coaster berkecepatan pelan haha. Waktu naik adalah saat-saat yang mendebarkan karena di bawah kami adalah hutan belantara dengan pepohonan lebat disertai kabut tebal. Agak ngeri melihat ke bawah kami terus menanjak dan rintik hujan menambah kengerian kami. Sekitar +-20 menit kami sampai di resort dan mengakhiri kengerian kami. Sebenarnya sih seru karena pemandangannya keren, tapi bercampur ngeri karena ketinggian dan cuaca yang hujan. Sampai di genting resort kami langsung disuguhi mainan anak ala Timezone dan toko souvenir. Makin kedalam cuma sekumpulan cafe mewah dan hotel berbintang yang saling menunjukkan gengsinya masing-masing. OK, kami kemari bukan untuk belanja, makan atau menginap tapi mau cari suasana. Di dalam gedung yang mirip seperti Trans Studi Bandung terlihat roller coaster indoor dan panggung kecil di tengah ruangan dan sedang berlangsung pertunjukan sulap. Ngga ada yang istimewa disini. Saya mencari pintu menuju taman bermain outdoor ternyata sedang ditutup. begitu kecewanya kami setelah melihat theme park outdoo nya sedang di renovasi. Ngga ada roller coaster, ngga ada danau buatan, ngga ada taman Jurassic. Cuma 1 kata untuk genting sat itu ; MENGECEWAKAN!

Tipuan konyol di Ripleys
Karena bingung ngga tau mau kemana lagi akhirnya kami menghibur diri di musim Ripleys Believe it Or Not yang harga masuknya RM 22. Dari sekian banyak yang diperlihatkan hanya ada 1 atraksi yang menurut saya keren, yaitu lorong lingkaran di pintu keluar. Ngga sampai 2 jam kami disana dan segera memutuskan untuk kembali ke KL Sentral. Perasaan kecewa dan agak lelah kami harus menikmati perjalanan bus ke KL Sentral dengan agak mual karena pak supir rada ugal bawa bus nya.

Bus pulang udah nunggu
Sesampai di KL Sentral kami langsung pulang ke Bukit Bintang dan mampir untuk membeli souvenir. Pilihannya jatuh ke Sungei Wang yang ngga jauh dari pintu keluar monorel Bukit Bintang. Sungei Wang ini sangat mirip dengan Lucky Plaza di Singapore. bententuk mall ITC yang menjual banyak souvenir dan barang elektronik. Sayangnya ngga banyak souvenir khas malaysia disini, jadinya ngga jauh dari beli kaos, pajangan dan coklat. Melihat harganya yang cukup murah saya pun membeli beberapa souvenir tapi ternyata saya kurang perhitungan. Saya lupa besok masih ada 1 hari lagi dan ga mungkin saya menghabiskan uang saya sekarang, padahal belanjaan saya ga mungkin dikurangi lagi bisa-bisa orang rumah kecewa saya ngga bawa apa-apa sepulang nanti. Melihat saya kekurangan uang cash, si penjaga toko melihat peluang lain. Dia menawarkan pembayaran pakai kartu kredit atau bias dengan Rupiah atau Singapore dollar. Karena uang rupiah saya cuma cukup untuk ongkos taksi pulang besok jadinya saya memilih opsi bayar pakai kartu Kredit. Yah, ternyata kebobolan juga kartu saya. +- RM 70 atau sekitar 250ribuan terpakai dari Kartu Kredit saya. Tak apalah, karena akhirnya orang rumah, tetangga dan beberapa teman kedapatan oleh-oleh dari saya termasuk subscriber saya yang beruntung di quiz Youtube saya.

Mencoba Makan di Jalan Alor
Street Food @ Jalan Alor
Jalan Alor
Cukup lama juga kami berbelanja karena mencari barang yang bagus dan tawar menawar yang cukup alot. Tak terasa jam 21.45 dan toko sudah mau tutup. Segera kami kembali ke hostel hanya untuk menaruh belanjaan di loker karena kami penasaran untuk makan malam di Jalan Alor yang tersohor itu. Ragu dengan diri sendiri akhirnya kami menanyakan letak Jalan Alor oleh cleaning service hostel. Dan ternyata letaknya cuma 2 blok di belakang hostel. Kami berjalan menyusuri beberapa fast food antara lain Mcd, Burger King dan KFC, lalu menyeberang ke kiri dan voila! tebentang Jalan Alor dengan lampion dan ribuan orang di jalan. Jam menunjukkan pukul 10 malam lebih tapi suasananya masih rama saja. kami mulai meyusuri jalan dan mencari makanan Halal. FYI, untuk yang harus makan makanan Halal harus selalu cek & ricek logo Halal di resto tempat kita makan karena disini banyak sekali makanan non-Halal. Memang sih ngga banyak makanan Halal disini, tapi setidaknya masih ada. Karena penasaran teman saya ingin mencoba es krim Turki. Bentuknya lebih liat dan ngga gampang cair. Saya mengharapkan ada atraksi kecil seperti di TV, tapi sayangnnya ternyata ngga ada. Es krim Turki kalo ngga salah harganya cukup mahal RM 7 atau 25ribuan untuk 1 cup.

Mau beli DVD bajakan disini?
Kentang goreng ajib!
Suasana disini ngga beda jauh seperti di dalam negri. banyak penjual es, buah segar, gorengan, sampai DVD bajakan terang-terangan jualan disini. Kami mencari makanan Halal sepanjang jalan. Ada Chinese food, Thai food, Korean food tapi ngga ada logo Halal nya. Ada satu tempat yaitu Thai food yang pelayannya merayu kami untuk makan ditempatnya : "Tuan, sila makan disini. Makanan Halal lah..". Kami melihat ke arah restonya, jelas saja Halal toh semua makanannya sayuran haha. Masih belum dapat makanan yang sreg sampai kami harus berbalik arah karena sudah sampai ujung ngga ketemu logo Halal (sudah tutup atau kita ngga lihat?). Akhirnya di tengah jalan (di sebelah kiri) ada tempat makan China-Melayu dan ngga jauh makanannya dari Kwetiau, Nasi goreng dan sebangsanya. Karena sudah capek dan lapar akhirnya kami pilih ini saja, dan sudah jelas terpampang logo Halal versi MUI Malaysia. Kami pun langsung memilih meja dan memesan Nasi goreng beef dan ice lemon tea. Cari yang gampangnya saja. Yah setidaknya rasa makanannya masih OK disini. Untuk 1 porsi nasi goreng dan es teh lemon itu kami harus membayar RM 7, seharga es krim Turki tadi haha.

Ada yang mau kodok goreng?
Nasi goreng + Ice lemon tea RM 7










Selesai makan kami segra bergegas pulang ke hostel. malam itu Jumat malam, dan weekend sudah pasti jalanan ramai sampai tengah malam. Sayangnya kaki kami sudah lelah dan sudah ngga semangat menyusuri malam di Bukit Bintang. Kami pun segera menemui kasur kesayangan kami selama di KL dan berharap esok hari bisa lebih baik dari hari itu. Apa lagi keseruan kami di hari ke-3? Baca terus yaa... :)