Senin, 07 Maret 2011

Inception (2010)


Ada lagi film yang akan membuat anda berpikir sepanjang film. Salah satu film bergenre science fiction serumit Matrix kalau boleh saya bilang. Bila Matrix memanipulasi dunia nyata dengan dunia komputer, sedangkan Inception akan memainkan pikiran Anda dengan mimpi Anda sendiri. Awalnya agak sulit untuk mengerti maksud dari ceritanya. Apalagi dimulai dengan latihan misi yang belum jelas. Tapi jika mengikuti jalan ceritanya perlahan akan mengerti walaupun masih sangat jauh dari pikiran awam, setidaknya itu yang saya tangkap.Dan yang bisa dipastikan, apabila Anda orang yang tidak sabaran atau terlewat awalnya, saya yakin Anda tidak akan mengerti maksud penting cerita ini.

Permainan Leonardo DiCaprio yang menurut saya biasa saja dan pantas saja dirinya tidak dinobatkan nominasi OSCAR tahun 2011. Tapi seperti halnya awal booming film Matrix, kita akan disuguhkan gambar yang fantastis walaupun menurut saya hal itu tidaklah baru jika Anda juga sering menonton Discovery Channel atau National Geographic. Mungkin saya terlalu mengharapkan sesuatu yang berlebihan saat ingin menontonnya, karena seperti review www.imdb.com yang memberikan nilai 8.9/10 agaknya terlalu berlebihan. Saya akui konsep yang ditawarkan sangat bagus dan orisinil, tapi masih jauh dari kenyataan. Tapi saya akui, setelah menonton film ini membuat saya paranoid juga jika meghadapi sesuatu dan langsung berpikir "ini mimpi atau nyata?". Ya setidaknya film ini bisa menanamkan maksudnya di pikiran luar sadar saya, haha menyeramkan juga.

Dan sekali lagi, menilai film tidak seperti mengukur panjang sebuah penggaris tapi lebih ke sense dan selera. Dan dengan ini saya memberi nilai : 7.3/10 (Lebih baik tunggu di TV sajalah...)

-Didiet Triquetra-

Minggu, 27 Februari 2011

Social Network (2010)

Ada lagi film yang dinobatkan sebagai nominasi OSCAR 2011 kategori Best Picture dan Actor In Leading Role. Sejak trailernya tersebar di internet, saya berpikir : Apakah ini kisah nyata dari seorang Mark Zuckerberg si empunya Facebook itu? Nyatanya tidak walaupun sekilas memang mirip kisah sebenarnya yang menyebutkan nama Google, Napster dan MySpace di filmnya. Ceritanya diambil dari "Accidental Billionaire" yang memang jelas tertulis di credit title waku opening. Tidak ada sesuatu yang menarik pun dalam trailernya. Tapi karena saya adalah satau satu dari jutaan pemakai Facebook, jadi sepertinya saya wajib menonton film ini.

Dari 5 menit awal saya memikirkan para penonton awam yang tidak mengerti apa itu istilah IT mengenai bit, hex, delphi dan sebagainya. Ditambah lagi oleh logika dan analogi pemrograman, pasti langsung mengecap film ini akan membosankan. Ceritanya yang berat dan "agaknya" bertele-tele membuat film ini menurut saya kurang gereget. Ya, mau dikata apa lagi... memang kenyataannya ini film drama. Memang, hikmah yang bisa diambil dari film ini sungguh baik tapi sayangnya hanya bisa dinikmati oleh beberapa kalangan saja. Peran Jesse Eisenberg yang tidak terlalu fantastis cukup membuat saya heran, mengapa OSCAR memasukkan namanya dalam nominasi aktor terbaik.

Entahlah, untuk kali ini saya tidak bisa menyetujui rating yang dibuat imdb.com yaitu 8.1/10 di web nya menurut para penonton di Amerika. Sungguh, tidak ada yang istimewa di film ini walaupun saya akui maksud ceritanya yang menarik. Dari total durasi 2 jam, mungkin saya hanya menikmati inti ceritanya yang hanya kurang dari 1 jam. Dan hal ini membuat saya agak sulit untuk menilai.

Dan akhirnya saya setuju memberi nilai : 6.3/10 (Tunggu di TV saja)

-Didiet Triquetra-

Sabtu, 26 Februari 2011

Buried (2010)

Begitu melihat posternya, saya langsung penasaran karena tidak terlalu jelas apa yang diceritakan di posternya tetapi terdapat beberapa pujian dari kritikus terpampang di posternya. Apakah kritikus bisa dipercaya? Oleh karena itu saya membuktikannya. Dengan hunting sinopsis ke beberapa web, terlihat jalan cerita yang tidak terlalu berat karena hanya memiliki satu masalah saja. Justru, film dengan satu masalah yang bisa menjadi besar itulah yang menjadi daya tarik tersendiri. Akhirnya saya mendapatkan trailernya yang agaknya... masih tidak terlalu jelas. Saya berpikir, mungkin ada sesuatu yang disembunyikan dan harus menonton filmnya agar tahu jalan ceritanya.

Berawal dari rasa penasaran dan rasa haus akan film berkualitas lainnya dari Lionsgate, akhirnya saya putuskan untuk menontonnya. Sejak credit title di opening, penonton masih dibuat penasaran oleh animasi tulisan dan musik kontemporer khas film suspense. Diawali blackout pada screen dari menit pertama saja sudah membuat penonton gelisah. Pada saat itu pula saya sudah merasakan dampak film ini, keren. Suara engahan Ryan Reynolds dan gemeretak kayu sangat nyata terdengah membuat suasana makin mencekam. Saya bisa mengira apa yang dirasakan oleh penonton yang phobia dengan ruang sempit, pasti film ini sangat menakutkan.

Saya tak akan membahas jalan cerita filmnya disini, karena memang sangat unik dan tidak bisa diceritakan. Tatanan suara dan gambar yang menawan sangat membuat saya terperangah. Lighting yang sangat kreatif menyempurnakan film ini. Walaupun memang tetap saja ada kekurangan tapi dapat ditutupi oleh permainan actor kelas Hollywood ini. Musik khas suspense sangat tepat menemani keseraman film ini. Bila Anda melewatkan 5 menit awal film ini, pasti tidak akan nyaman karena runutan cerita yang saling berkaitan. Bagi yang mengharapkan tembak-tembakan, kejar-kejaran ataupun cium-ciuman mohon lupakan dulu karena tidak akan ditemukan di film ini. 

Dengan ini saya memberi nilai : 8,3 WAJIB DIKOLEKSI! 

Seperti yang saya tulis diatas, lupakan cerita standard (tembak-tembakan, kejar-kejaran ataupun cium-ciuman) untuk menikmati film ini.

-Didiet Triquetra-

Jumat, 31 Desember 2010

Gulliver's Travel (2010)

Di penghujung tahun 2010, saya menyempatkan menonton di bioskop setelah seharian berkutat membuat laporan tahunan dikantor. Tapi kali ini saya beruntung karena mendapatkan tiket gratisan dari salah seorang teman saya. Tapi sayangnya saya tidak bisa begitu saja memilih film apa yang ingin saya tonton. Ya...mungkin karena gratisan harus rela berdesakan mencari tempat kosong tanpa tahu film apa yang saya tonton nantinya. Begitu panggilan masuk ke dalam studio berbunyi, saya baru sadar kalau saya akan nonton film Gulliver's Travel. Oh tidak, ternyata memang itu kejadiannya. Karena merasa tidak enak dengan teman saya akhirnya dengan berat hati saya ikut bergerombol masuk ke dalam. Selama menunggu film dimulai rasa pesimis akan film ini makin terasa.

10 hingga 15 menit awal saya disuguhkan background cerita dari pemeran utamanya, seorang petugas surat di sebuah media massa. Rasa pesimis makin menjadi setelah melihat permainan dari Jack Black. Ya, saya tersenyum sepanjang film, tapi bukan senyum bahagia atau karena lucu. Saya tersenyum karena heran, bagaimana bisa film ini dijadikan untuk penutup tahun sekaligus liburan natal? Saya pun sesekali saling melirik ke teman saya setiap kali lelucon "garing" muncul di film itu. Ya, kami setuju kalau film ini tidak layak kami tonton.

Berbekal spesial efek standard dan sound effect yang tidak terlalu wah, sepertinya film ini terlalu dipaksakan. Ya maklum saja, cerita dari tahun 1977 yang di kemas sedemikian rupa oleh produsen 20th Century Fox di tahun 2010. Film ini tertolong karena sudah berformat 3D, jadi penonton agak sedikit melupakan jalan ceritanya yang tidak berbobot. Dari trailer dan poster filmnya saja saya sudah bisa memperkirakan jalan ceritanya, dan ternyata memang benar.

Sungguh 90 menit yang memuakkan walaupun saya berusaha menikmatinya karena tak ada hal baru dan pemain yang seadanya. Mungkinkah ini film dengan budget murah? Seharusnya dengan special effect seperti itu bisa di kembangkan apabila diberi cerita yang menantang. Bukannya saya tidak suka film komedi, tapi jika dimainkan oleh pemain yang tidak tepat sama saja mempermalukan diri sendiri. Sayang sekali untuk kali ini 20th Century Fox gagal membuat saya puas.

Dengan ini saya memberi nilai : 3/10 (Tunggu di TV saja)

-Didiet Triquetra-