Minggu, 05 Agustus 2012
Jam
Di rumah kami ada sebuah jam dinding. Satu-satunya jam dinding. Jam dinding itu sengaja kugantung di ruang tengah. Alasannya sederhana, agar aku mudah melihatnya setiap kali hilir mudik di dalam rumah. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari jam dinding itu. Biasa-biasa saja. Bentuknya pun seperti jam dinding kebanyakan, bundar dengan warna putih yang dominan kecuali bingkainya yang berwarna merah, dan berdetak tiap detik.
Saat kuperhatikan, sekilas jam itu tampak normal. Dan siapapun yang memerhatikan, pasti juga akan berpikir demikian. Aku sendiri tidak yakin kalau jam itu ternyata terlambat satu jam. Awalnya kusadari ketika azan magrib. Aku sontak terkejut melihat jam itu baru menunjuk pukul setengah enam, padahal biasanya azan magrib berkumandang sekitar pukul setengah tujuh. Karena tak percaya, aku segera memeriksa jam di ponsel. Ternyata memang benar, terlambat satu jam.
Memang, sebelum aku benar-benar menyadari bahwa jam dinding itu terlambat satu jam, perkara-perkara ganjil kerap kutemui. Jika biasanya aku tiba di kantor paling awal, justru sekarang menjadi terbalik, aku malah terlambat satu jam. Untuk sekali dua, bos masih bisa maklum. Mengingat sebelumnya aku tidak pernah telat masuk kerja. Tapi kejadian itu terus berulang, aku selalu terlambat satu jam. Bos mana yang bisa tahan melihat anak buahnya selalu datang terlambat? Termasuk bosku, pemilik biro peminjaman uang tunai tempat aku bekerja.
Berhari-hari aku terlambat datang ke kantor. Bos mulai menunjukkan rasa tidak sukanya. Setiap kali bertemu, wajahnya kecut dan sering membentak. Untung saja aku segera menyadari bahwa semua itu gara-gara jam dinding yang terlambat satu jam. Ya, jam dindingku saja rupanya yang salah.
Istriku, ia memang tak terlalu banyak berurusan dengan jam dinding. Wajarlah jika ia juga tak menyadarinya. Ia punya jam biologis sendiri. Azan subuh mengalun, ia bangun. Setelah selesai shalat, ia akan mengerjakan pekerjaan rumah apa saja yang bisa ia lakukan. Sampai malam. Jadi istriku tidak pernah repot dengan jam dinding, kecuali aku.
Lalu kenapa sampai sekarang jam dinding itu masih telat satu jam, itu pun ada ceritanya. Ketika aku sadar bahwa jam dinding itu terlambat, aku langsung mengambil kursi untuk mengambil dan memperbaikinya.
“Habis baterai ya, Kang?” tanya istriku ikut memerhatikan ketika aku membuka tutup baterai dan melepasnya.
“Iya nih, barangkali. Soalnya selalu telat satu jam,” jawabku singkat, lalu meminta agar ia mengambilkan baterai baru di dalam lemari. Setelah baterai kuganti, dan waktunya kusesuaikan dengan jam di ponsel, jam dinding itu kugantung lagi. Sempurna. Tidak ada lagi masalah pada jam dinding itu. Aku pun lega. Besok tidak akan lagi aku telat ke kantor. Pada bos akan kuceritakan penyebab keterlambatanku selama beberapa hari ini.
Besok paginya, tanpa kusangka, kembali aku terlambat tiba di kantor. Kali ini, bos marah besar. Aku hanya diam dan khawatir jika seandainya ancamannya benar terjadi. “Bila kamu masih suka telat, saya tidak akan segan-segan memecat kamu!”
Sepulang dari kantor, segera kuperiksa jam dinding di rumahku. Ternyata, lagi-lagi jam itu terlambat satu jam. Aku heran. Kuperiksa baik-baik. Tidak ada yang rusak. Jarum detiknya masih berdetak dengan normal. Kucek, berapa lama waktu yang diperlukan jam dinding itu untuk menggeser jarum penunjuk menit dari angka 12 ke angka 1. Jam di ponsel kujadikan acuan. Tepat lima menit! Berarti masih normal. Lalu kucoba mengecek jarum penunjuk jamnya. Istriku tampak heran melihat aku yang satu jam lebih hanya memandangi jam dinding. Waktunya tepat satu jam! Berarti tidak ada yang bermasalah. Lalu di mana letak kesalahannya? Atau jangan-jangan saat tengah malam jam itu mati selama satu jam, lalu hidup lagi? Bisa jadi. Ah, tapi aneh. Namun semua keanehan ini tak kuceritakan pada istriku. Nanti bisa dikiranya aku tidak waras.
Malamnya, sebelum tidur, kucek sekali lagi, apakah jam dinding itu masih sesuai dengan jam di ponsel. Benar, masih sama-sama pukul sepuluh lewat lima menit. Aku pun tidur. Keesokan paginya, aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan keanehan jam tersebut dari istriku. Lagi-lagi jam itu terlambat satu jam!
“Akang yakin?” tanya istriku dengan dahi berkerut.
Aku kesal. “Kamu tidak percaya?”
“Percaya, kok. Mungkin jamnya memang rusak. Ya sudah, nanti di pasar aku beli jam yang baru saja,” jawabnya santai sambil berlalu ke arah dapur.
Aku sedikit lega. Namun tetap saja kebingunganku tidak terjawab. Kenapa selalu terlambat satu jam? Benarkah pada tengah malam jam itu mati selama satu jam lalu hidup lagi? Ah, sudahlah, yang penting pagi ini aku menyadari kesalahan jam itu. Setidaknya, aku bisa ke kantor tepat waktu.
Sepulang kerja, sebuah jam dinding baru telah kudapati menggantikan jam dinding sebelumnya. Kulihat jam di ponsel. Sama. Semoga saja jam dinding baru ini tidak punya masalah seperti jam dinding sebelumnya.
Besok paginya, aku tercengang tidak percaya.
“Jamnya terlambat dua jam!!!!”
Teriakan itu menyeret istriku ke ruang tengah dengan langkah tergopoh-gopoh. Ia tak kalah heran dan cuma melongo menatap jam dinding itu. Seterang ini, baru pukul 5 pagi!
“Kamu beli yang murah kali.”
“Mungkin,” giliran istriku disusupi pertanyaan besar di kepalanya.
“Ya sudah, aku saja nanti yang cari jam baru. Langsung di toko jam aja. Yang mahal sekalian.”
“Kita cari sama-sama aja, Kang. Kita kan sudah lama tidak jalan-jalan.”
Malamnya sesudah shalat magrib kami jalan-jalan. Tujuan utama tentulah ke toko jam. Aku memilih yang bingkainya terbuat dari kayu jati, dan istriku setuju.
Besoknya, istriku membangunkanku. Sayup-sayup terdengar azan subuh dari masjid di depan komplek tempat kami tinggal.
“Kang, coba lihat jamnya…”
Sambil mengucek mata, kulangkahkan kaki ke ruang tengah.
“Apa?! Masih jam dua?!”
Pagi itu, sambil sarapan, kami berunding. Keputusannya, tidak perlu lagi beli jam. Kami pakai jam yang pertama saja, soalnya terlambatnya cuma satu jam. Namun untuk mengetahui waktu, jam di ponsel sebagai gantinya.
Beberapa hari aku tidak lagi melihat jam dinding. Yang kulihat untuk mengetahui waktu kini adalah ponsel. Ajaib, jam dinding itu tetap terlambat satu jam. Seharusnya jika memang berputar hanya 23 jam dalam sehari, mestinya semakin hari semakin bertambah keterlambatannya. Namun ini tidak. Apakah sudah kembali normal?
Pada istriku kujelaskan hal tersebut. Ia menyarankanku menyesuaikan jam dinding itu. Tanpa ragu kusesuaikan jam tersebut ke waktu yang semestinya. Esok paginya, kembali jam dinding itu terlambat satu jam! Bangsat!
Kami pun pasrah. Itulah ceritanya mengapa jam dinding di rumahku terlambat satu jam. Puncak peristiwa ini adalah ketika ponselku tertinggal di kantor. Karena buru-buru, tanpa sadar aku kembali melihat ke jam dinding. Hari itu adalah hari yang membuatku seperti orang tolol. Lagi-lagi aku terlambat tiba di kantor. Bisa ditebak, bos kembali marah dan kali ini ancamannya tidak main-main. Aku akan dipecat jika sekali lagi terlambat. Sialnya, ia tak percaya dengan cerita jam dinding yang terlambat satu jam itu. Alasan saja, katanya.
Tapi itu tak lagi jadi masalah, karena sekarang aku punya pekerjaan baru yang tidak lagi mementingkan ketepatan waktu, yaitu jadi anggota dewan. Dengan menjual sepeda motor dan sebidang tanah warisan orangtua, uangnya kujadikan modal untuk mencalonkan diri lewat salah satu partai yang baru berdiri.
O, ya. Semenjak aku jadi anggota dewan itu, muncul keanehan baru. Jam ponselku ikut-ikutan terlambat, kadang satu jam, kadang dua jam, kadang lima jam. Herannya lagi, kadang tanggalnya juga mulai nyeleneh, ikut-ikutan terlambat. Seperti halnya jam dinding kami di rumah, berkali-kali aku ganti ponsel baru sesuai trend, namun tetap saja jamnya telat. Sayangnya, kecuali istriku, tidak ada yang mau percaya dengan perkara jam itu. Apalagi rakyat! Emangnya, tahu apa mereka?! []
Puntik Dalam, 19 Desember 2011
(Media Kalimantan, Minggu, 29 Juli 2012)
(Lelaki Dilarang Menangis, Penakita Publisher, Juni 2014)
Rabu, 04 Juli 2012
Bikin Film Yuk!
Dari jaman kecil sampe sekarang saya sudah suka banget sama film. Entah itu cuma nonton, lihat orang shooting sampe komentarin film. Tapi ada 1 hal yang baru kesampaian baru-baru ini, yaitu bikin film sendiri. Sebenernya udah dari jaman dulu mau mulai tapi terbentur waktu, alat, cerita dan pemainnya. Tapi beruntunglah saya karenabertemu orang-orang yang mensupport saya dari cerita, alat sampai pemainnya. Apalagi di jaman sekarang, film bukan lagi hal yang susah untuk dibuat, pakai kamera handphone & pemain seadanya aja bisa jadi film kok. Eits! film handphone yang saya maksud bukan film format 3gp yang biasa dibikin anggota DPR loh ya, hehe. Trus, apa aja sih susah dan serunya bikin film? Ok, saya "umbar" sesuai yang pernah saya kerjakan bersama teman-teman saya.Persiapan
![]() |
| Cari ide baru |
![]() |
| Naskah film "KOIN The Movie" |
Setelah berkutat dengan naskah apalagi berikutnya? Cari alat, pemain, kru, property dan lokasi. Ya, setidaknya itu saja dulu. Dan memang mencari 5 hal ini susah-susah gampang. Untuk alat setidaknya kita memiliki kamera yang berkualitas baik. Hindari penggunaan kamera handphone walaupun kualitasnya sudah sebaik camcorder tapi percayalah, kamu akan kesulitas untuk beberapa teknik pengambilan gambar dan beberapa angle. Lalu alat berikutnya adalah sound recorder. Alat ini wajib dimiliki kalau mau buat film yang ada dialognya. Di semua camcorder sudah tersedia microphone yang tertanam atau bisa ditambahkan mic lagi. Tapi sayangnya, untuk beberapa lokasi yang berisik akan mengurangi kualitas suaranya. Jadi bagaimana penyelesaiannya? mungkin bisa di dubbing saat post produksi nanti.
Lalu komputer untuk mengeditnya. Kalau tidak ada ini juga film ngga akan di produksi, jadi pastiin minimal ada yang punya komputer dan bisa mengoperasikan software editing. Kalau saya sih, daripada mengandalkan orang lain yang belum tau kualitasnya saya lebih baik mempelajarinya sendiri.
![]() |
| Camcorder JVC "KOIN" & "6" |
![]() |
| Camcorder Canon "KOiN jilid 2" |
![]() |
| Software edting Sony Vegas Pro 9 |
Lalu komputer untuk mengeditnya. Kalau tidak ada ini juga film ngga akan di produksi, jadi pastiin minimal ada yang punya komputer dan bisa mengoperasikan software editing. Kalau saya sih, daripada mengandalkan orang lain yang belum tau kualitasnya saya lebih baik mempelajarinya sendiri.
![]() |
| Kru dan pemain film "6" |
![]() |
| Nyiapin property "KOIN The Movie" |
Eksekusi
![]() |
| Shooting film "6" |
![]() |
| Trik untuk pemain yang lupaan |
![]() |
| Mobil patroli minta jatah |
Post Produksi
![]() |
| Mengedit film "KOIN The Movie" |
Setelah editing selesai, pastinya kita bangga dengan hasil karya kita selama beberapa minggu ini. Tapi saya bilang seperti tadi, jangan cepat puas. Yang pasti film itu kita buat bukan cuma untuk koleksi sendiri atau di tonton sesama kru dan pemain aja kan? Bagaimana kalau kita ajak orang-orang nonton karya kita? Malu? Ga pede? Ya itu wajar untuk pertama kalinya, tapi apa salahnya? Seburuk film kita ngga akan merugikan orang lain kan? Jadi bagaimana supaya mereka tau dan tertarik dengan film kita? Ya promosi dong. Caranya? Saya sih biasanya membayangkan kalau saya sedang produksi film sungguhan jadi promosi itu penting. Mulai dari buat poster, bikin trailer film dan pemutaran perdana. Sepertinya agak berlebihan ya? tapi masa bodoh lah, toh dari awal saya memang mau bersenang-senang dan melampiaskan hasrat terpendam saya sebagai pembuat film. Malah saya pernah membuat sayembara pemilihan poster di FB. Dan yang membuat saya terkejut adalah antusia dari teman-teman bukan cuma kru tapi juga yang tidak dikenal ikut berpartisipasi. Sebagai penghargaan pada teman-teman saya akhirnya saya mendapat ide untuk mengadakan acara kumpul sesama kru sekaligus pemutaran film perdana. yang akhirnya menjadikan acara akhir pekan yang ngga biasa kan?
Selesai film pertama, pasti akan ada keinginan membuat yang kedua-ketiga-keempat dan seterusnya. Usahakan film kamu bisa menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Dan kalau kamu berani, cobalah ikutkan film kamu ke festival film independent. Dari situ kita bisa lihat seberapa kualitas film kita dan setinggi apa penghargaan orang lain terhadap karya kita. Ngga usah malu untuk memperlihatkan hasil karya, karena siapa tau karya kita yang terlihat "unik" menjadi trend berikutnya.
| Poster "6" |
![]() |
| Poster KOIN The Movie |
![]() |
| Poster KOiN jilid 2 |
![]() |
| Iklan film "6" di FB |
![]() |
| Film KOIN diikutsertakan ke festival |
![]() |
| Premiere Invitation KOiN jilid 2 |
Selesai film pertama, pasti akan ada keinginan membuat yang kedua-ketiga-keempat dan seterusnya. Usahakan film kamu bisa menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Dan kalau kamu berani, cobalah ikutkan film kamu ke festival film independent. Dari situ kita bisa lihat seberapa kualitas film kita dan setinggi apa penghargaan orang lain terhadap karya kita. Ngga usah malu untuk memperlihatkan hasil karya, karena siapa tau karya kita yang terlihat "unik" menjadi trend berikutnya.
Telling The Truth
Ya, jujur sekali lagu ini menurut saya. Dengan liriknya yang lugas dan sangat membuka mata. Ditambah iramanya yang easy listening membuat saya langsung menyukai lagunya. Mungkin ini lagu pertama dari Keane yang membuat saya menyukai band asal Inggris ini. Dan saya juga sangat suka dengan video klipnya yang sangat cocok dengan judulnya : Everybody's Changing. Bagian yang saya suka adalah pada saat lyric berikut :
"Everybody's changing and I don't feel the same"
Mungkin maksudnya : semua orang berubah dan aku merasa tak sama (seperti dulu) lagi. Tapi sebenarnya kita ngeh ngga sih kalau memang kita akan dan sudah berubah? Entah itu berubah menjadi lebih baik atau mungkin ke arah yang buruk? Ya mungkin itu yang mau di ceritakan Keane di lagu ini walaupun saya masih belum mengerti apa arti dari cover albumnya seperti yang disamping. Kalau penasaran sama lagunya, bisa lihat video dibawah ini :
Solo Backpacker - Backpacker-an Sendirian? Siapa Takut?
Buat yang suka travelling pasti bahagia banget kalo ada kesempatan untuk jalan-jalan apalagi bisa berhari-hari. Ya, memang dari jaman nenek moyang manusia memang di takdirkan sebagai petualang. Sayangnya kadangkala ga selamanya kita bisa travelling bersama sahabat, keluarga atau kenalan dikarenakan kesibukan yang berbeda. Tapi kenapa harus korbanin waktu luang kita karena mereka nggak bisa nemenin kita? Dengan berpetualang sendirian juga asik kok, malah lebih menantang. Nah, buat yang mau cobain untuk pertama kalinya travelling sendirian, ini tips dari saya yang pernah saya jalani beberapa waktu lalu.
Persiapan
- Pastiin kamu sudah tau tempat yang mau kamu kunjungi, baik itu domestik/internasional.
- Biar lebih pasti bisa cari di buku atau browsing di google entah itu lokasi wisata, tempat nginap, transportasinya dll. Saya biasanya selalu buka google maps untuk nentuin lokasi yang mau dituju dan transportasinya. Kalau di LN (contoh:Singapore) biasanya bisa lebih jelas harus naik bus apa dan MRT apa, tapi untuk domestik sebaiknya cari angkot mana saja yang melewati lokasi yang dituju. Hindari naik taksi karena kita sedang jadi backpacker untuk menghindari banyak pengeluaran. Taksi dan ojek dibutuhkan pada saat terdesak saja. Setelah tahu mau kemana saja, naik apa saja dan menginap dimana, sebaiknya tuliskan rencana itu atau dengan kata lain buatlah itinerary semua terjadwal dan tidak kebingungan harus kemana lagi.
- Rajin cari tiket promo di internet, sukur-sukur kalo dapet gratisan hehe. Beli jauh-jauh hari tiketnya biar bisa lebih murah, kalau domestik mau naik kereta juga bisa beli 90 hari dari tanggal keberangkatan supaya nggak kehabisan tiket & ga repot antri.
- Untuk Internasional pastiin pasport masih hidup dan udah tau soal peraturan visa. Jangan beli tiket pesawat dulu kalau visa belum disetujui karena terlalu riskan. Kartu identitas lengkap jangan sampe kurang dan sebaiknya di fotocopy untuk menghindari kehilangan di tempat.
- Untuk pemula, sebaiknya jangan terlalu nekat untuk mencari penginapan di tempat, karena bisa jadi semua penginapan penuh dan kita tidak ada waktu untuk mencari tempat lain yang berakhir tidur di terminal, untuk pemula ini sangat berbahaya. Jadi lebih baik siapkan uang lebih untuk booking jauh hari. Untuk domestik bisa mencari hotel melati atau kost harian, sedangkan untuk Internasional bisa di hostel karena harganya cukup murah dan bisa diseuaikan dengan budget. Karena harganya yang tidak mahal jadi jangan berharap mendapat fasilitas terbaik, minimal tempat tidur layak, kamar mandi bersih sudah cukup. Untuk beberapa hostel di LN biasanya sudah termasuk sarapan dan free wifi.
- Tas ransel yang cukup untuk membawa keperluan beberapa hari seperti pakaian, makanan kecil, dan barang-barang yang dipakai selama perjalanan (sesuaikan besar tasnya dan jumlah pakaian yg dibawa sesuai lama kita pergi) dan tas kecil untuk membawa barang yang diperlukan sewaktu-waktu seperti dompet, kamera, iPod, obat2an, alat tulis dan pasport (kalau ke LN). Siapkan uang dalam berbagai pecahan supaya ngga repot waktu bayar nanti, dan biasakan sisihkan uang lebih di kantong rahasia untuk jaga-jaga ada hal yang tidak diinginkan misalnya uang hilang, uang kurang atau bisa dipakai belanja waktu mau pulang nanti.
- Dan siapkan apa saja yang dikenakan pada saat berangkat supaya perjalanan nyaman seperti : Pakaian yang nyaman (Hindari memakai pakaian yang ribet dan tebal untuk menghindari kelelahan karena berat dan pengap) sepatu (lebih bagus sepatu olahraga karena memang didesign untuk aktifitas tinggi), jam tangan, topi, sunglasses, dan jaket (sebaiknya dibawa untuk menghindari cuaca yang tidak bersahabat)
Sudah siap dengan persiapan awal? Ok, sebelum memulai perjalan berdoa dulu supaya tidak terjadi hal yang diinginkan. Sudah selesai berdoanya? OK, waktunya kita berangkat, ini tipsnya.
Keberangkatan
- Jangan sampai terlambat bangun sesuai dengan itinerary yang sudah dibuat. Kalo terlambat bisa berabe semua, selain tiketnya harus beli lagi, jadwal juga semuanya mundur akhirnya berimbas jadi mood yang udah ga mau pergi lagi, jangan sampe gini deh.
- Pastiin sampai di terminal (airport/bus/kereta) 1 jam sebelum keberangkatan untuk mengurus semuanya (check-in dll). Lebih cepat lebih baik sih, karena kita bisa jalan-jalan dulu untuk pemanasan lihat kondisi sekitar terminal, bisa ngobrol yang siapa tau dapet barengan hehe.
- Biarpun ngobrol dan lihat situasi tapi mata & kuping tetap waspada ya, karena kita juga harus dengerin pengumuman entah itu disuruh langsung naik pesawat/kereta atau malah delay (paling males nih kalo udah delay, bisa-bisa itinerary berantakan)
- Ikutin tata cara yang berlaku. Tau sendiri orang Indonesia suka melanggar hal-hal kecil seperti; ngga mau antri, melompati tali pembatas, gak mau pakai sabuk pengaman,
pipis sembarangandll, tapi kita jangan begitu, sebaiknya ikuti aturan sekecilnya dan petugas juga ngga segan untuk bantu kita kalo ada yang kurang jelas. - Biasanya perjalanan yang memakan waktu lebih dari 2 jam akan sangat ngebosenin selain melihat ke luar jendela. Biasanya saya buang waktu dengan membaca buku atau dengerin lagu di iPod, tapi kalau memang masih lama juga mendingan tidur aja hehe.
- Begitu sampai di tempat, pastikan ga ada barang yang ketinggalan makanya jangan suka meletakkan barang di kursi atau meja supaya tidak tertinggal pada saat turun dan itulah gunanya tas kecil untuk keperluan mendesak seperti itu.
- Ada hal sepele tapi cukup menyenagkan menurut saya, yaitu mengucapkan "Terima Kasih" pada waktu turun kepada petugas/pramugari
sekalian minto nomor HP nya. Memang sih itu sudah jadi pekerjaan dia, tapi apa salahnya?
Petualangan Dimulai
- Setelah menyelesaikan semua administrasi (imigrasi airport) kita akan keluar dari airport/terminal, dan pada saat inilah petualangan dimulai. Segera pasang mata dan telinga dan waspada untuk segala macam tindakan. Karena kita belum tau medannya jadi jangan mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. Kalau masih ragu dan mumpung masih di daerah terminal, jangan malu untuk bertanya ke petugas/polisi yang bertugas disana.
- Biasanya bahasa, suasana dan kebiasaan tempat yang kita datangi agak berbeda, atau bahkan berbeda sama sekali. Ada baiknya kita tahu sedikit banyak bahasa atau panggilan di tempat itu, misal jika kita ke Bandung kita bisa panggil Kang atau jika di Bali kita panggil Bli untuk panggilan laki-laki dan sebagainya. Untuk yang ke LN, usahakan kita bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris, lebih baik lagi bisa bahasa lokal sana supaya kita lebih dihargai. Tapi dengan berbekal bahasa Inggris saja tidak cukup, seperti pengalaman saya di Chinatown Singapore pelayan makanan tidak bisa bahasa Inggris, jadi jalan tengahnya pakai bahasa Tarzan haha.
- Sebaiknya lebih banyak berjalan jika posisi lokasi yang kita tuju tidak terlalu jauh (1-2km) supaya kita juga bisa lihat keadaan sekitar yang sayang untuk dilewatkan karena kita sedang jalan-jalan dan bukan datang ke rapat dengan buru-buru kan? Selain itu bisa mengambil foto sebanyak-banyaknya di spot yang tak terduga dan bisa dipamerkan di facebook nanti hihi.
- JANGAN PERNAH RAGU/MALU untuk bertanya karena kita Turis, pasti ada saatnya kebingungan. Begitu logat kita berbeda dengan penduduk lokal, pasti mereka tau kita turis jadi mereka akan mencoba membantu kita. Tapi sebaiknya lihat dulu siapa yang ditanya, jangan ke preman pinggir jalan bisa-bisa jadi santapan gratis dia. Paling aman sih cari polisi
tidur, tapi kalau tidak ada bisa cari penduduk lokal, saran saya kalau domestik tanya pedagang, sopir angkot, atau pejalan kaki yang penampilannya ramah, dan untuk LN biasanya tidak banyak polisi berkeliaran seperli di dalam negeri, jadi saya mencari penjaga toko atau pejalan kaki tapi jangan salah pilih, jangan-jangan pejalan kaki itu turis juga malah jadi sama-sama bingung nanti haha. - Untuk urusan makan, tolong lupakan rasa dan kenyamanan standard restaurant. Namanya juga mau irit pastinya nggak bisa dapatin itu semua dong. Yang penting masih layak dimakan dan bersih itu sudah cukup. Dan untuk yang ke LN yang beragama muslim, sebaiknya lihat atau tanya dulu apakah makanan itu Halal? Untuk beberapa negara biasanya di tempel logo HALAL didepannya. Karena kita sedang tidak "dirumah", maka sebaiknya cicipi makanan khas tempat itu walaupun mungkin tidak suka, setidaknya kita tahu.
- Adakalanya kita ingin sekali mencoba masuk ke beberapa tempat hiburan di lokasi yang kita datangi, tapi coba di cek dulu apakah budget kita masih mencukupi untuk kita bisa masuk? Misal kamu sedang di Singapore mau masuk
rumah bordilUniversal Studios, sebaiknya kamu hitung lagi apakah pengeluaran kamu masih cukup untuk sekedar membeli tiket masuk? (Sebaiknya hitung biaya tambahan + 30% untuk spare) jika ya, boleh lah sekali-sekali merasakan liburan ala orang kaya, tapi kalau mepet sebaiknya tidak usah, toh masih banyak lokasi menarik yang lebih murah atau malah GRATIS. - Setelah lelah berjalan seharian pasti kita harus beristirahat agar bisa melanjutkan aktifitas diesok harinya. Manfaatkan semua fasilitas di penginapan dengan sebaik-baiknya. Untuk hostel di LN biasanya tersedia fasilitas internet atau wifi, jadi setelah mandi dan sebelum tidur sempatkanlah berkirim pesan via email atau chat dengan orang rumah untuk memberitahu bahwa kamu baik-baik saja di sini. Dan sebagai turis yang baik, tetap ikuti aturan walaupun mungkin teman sekamar kita (hostel) tidak menyenangkan, tapi cukup menarik untuk jadi cerita waktu pulang nanti kan?
- Setelah berjalan-jalan, cari kuliner khas dan memasuki lokasi yang dituju tibalah saat yang tidak menyenangkan yaitu pulang. Kenapa tidak menyenangkan? karena besok setelah membuka mata kita kembali ke kehidupan nyata haha. Jadi sebelum pulang sempatkanlah berjalan-jalan sebentar untuk terakhir kalinya atau lebih baik lagi kita berbelanja sebagai oleh-oleh atau bahkan pengingat kita bahwa kita pernah sampai ke sana.
Memang travelling sendirian terlihat seperti kesepian, tapi coba lihat sisi lainnya. Dengan berjalan sendiri tanpa disadari kita bisa lebih mengenal siapa kita sebenarnya karena mau tak mau kita harus survive seorang diri tanpa menggantungkan diri ke orang lain. Selain itu kita jadi lebih peka untuk peduli dengan orang lain, seperti berani untuk berkomunikasi lebih baik lagi dengan orang asing. Dan untuk pertama kali melakukannya pasti sungguh berat. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita bisa? bagaimana nanti kalau...? Oleh karena itu segala persiapan baik itu mental, fisik dan informasi sebanyak apapun harus di ketahui supaya tidak terjadi hal yang di takutkan. Jadi sebelum memulai selalu berdoa dan belajar dari orang lain yang pernah mengalaminya. Bagaimana? tertarik untuk solo travelling?
Tips Lokasi Solo Travelling untuk pertama kalinya
Domestik : Bandung, Yogya, Bali
Internasional : Singapore, Malaysia, Thailand
Selasa, 26 Juni 2012
Solo Travelling - Bandung
Sejak pertama kalinya saya berkunjung ke kota ini beberapa tahun lalu, ada rasa yang berbeda dan membuat saya ingin kembali kesini lagi. Selain iklimnya yang lebih nyaman, keramahan orang Bandung lah yang membuat saya terpesona. Mereka akan dengan senang hati membantu dan merekomendasikan hal terbaik di kotanya. Dengan perasaan kangen yang tak bisa dibendung lagi akhirnya saya putuskan kembali ke kota kembang ini.
Perjalanan Menuju Bandung
Sebelum memulai perjalanan seperti biasa saya selalu browsing segala sesuatu yang perlu diketahui di tempat tujuan saya nanti. Untuk kali ini ke Bandung, saya perlu mencari spot terbaik untuk dikunjungi, transportasi, tempat makan, penginapan hingga tempat membeli oleh-oleh. Dan saya agak kecewa setelah menemukan banyak sekali tulisan di internet yang menyebutkan Bandung tidak seperti dulu lagi. Mulai dari lalu lintas yang macet, supir angkot dan taksi yang suka berbohong, dan kacaunya sistem transportasi disana. Saya hampir mengurungkan niat saya, tapi "ngidam" saya dengan kota Bandung tak menyurutkan niat saya untuk kembali kesana. Karena saya hanya punya waktu 1 hari, jadi harus menemukan transportasi yang mudah dan cepat. Entah mengapa saya mengetik : "Ojek Bandung" di mbah Google dan menemukan jasa ojek online dengan tarif Rp.20ribu/jam. Memang jatuhnya lebih mahal dibanding naik beberapa kali angkot, tapi efisiensi waktu dan ketepatan menuju tempat tujuan lebih berharga (halah, apa sih?) dan saya memutuskan untuk menggunakan Ojek Online.
| Antrian loket Sta. Gambir |
Dimulai pagi hari pukul 5.30 pagi berangkat dari rumah menuju stasiun kereta Gambir supaya tidak ketinggalan kereta pukul 8.20. Berbekal tas ransel andalan berisi beberapa roti dan botol minum saya memulai perjalanan. Saya sampai di Gambir tepat pukul 7.00 pagi lalu segera menukarkan tiket online saya di loket tiket terdekat. Saya melihat antrian yang tidak terlalu panjang. Syukurlah saya tidak perlu capek antri. Gambir yang saya lihat sekarang sudah jauh berbeda karena fasilitas dan kebersihan yang sudah sangat baik. Tak berapa lama mengantri akhirnya saya menyerahkan kertas booking saya dan...voila! kertas berubah menjadi tiket kereta api Argo Parahyangan.
| Ini loh tiketnya |
Karena ini adalah kali pertama saya naik kereta lagi (terakhir naik kereta waktu Lebaran umur 5 tahun) menjadikan hal yang menarik buat saya. Karena gengsi saya berusaha untuk tidak terlihat canggung. Sudah berusaha tidak melakukan kesalahan, tapi tetap saja kejadian. Waktu menaiki tangga untuk ke jalur 3 saya melewati pintu untuk commuter dan sudah pasti terkunci. Terdengar bunyi "BEEP" cukup keras dan lampu menjadi merah. Saya berusaha membukanya sambil menekan tombol yang ada disitu tapi tetap tidak berhasil. Alamak, malu banget, tapi untungnya orang Jakarta tidak ada yang peduli. Dengan wajah cuek saya berbalik arah menuju kursi dan melihat keadaan. Terlihat orang dengan santai naik di tangga turun untuk naik ke jalur 3. Ternyata sesimple itu! kenapa cara naik MRT di Singapore saya terapkan disini? sudah pasti salah (tepok jidat). Tapi yasudah lah, toh orang lain tidak ada yang lihat. Saya ikuti naik melewati tangga itu dan terlihatlah beberapa jalur kereta dan herannya mengapa saya menunggu di kursi atas? padahal kereta masih 1 jam lagi. Setelah ngeh akan kebodohan saya akhirnya saya putuskan untuk turun kembali. Tak perlu waktu lama saya sudah beradaptasi dengan keadaan sekitar. Dengan berbekal watu kurang dari 30 menit kedatangan kereta saya berkeliling dan menemukan sinyal wifi dimana-mana. Tahu begini saya tunggu disini saja (tepok jidat pakai tembok). Saya melirik ke jam saya, sudah pukul 8.10, sebaiknya saya ke toilet dulu daripada nanti malu cari toilet di kereta. Saya mencari-cari ternyata ada di lantai bawah, sial.
| Lumayan bisa nonton TV |
Tak lama menunggu, kereta berjalan. Yes, akhirnya saya naik kereta, dan tak lama kemudian petugas tiket memeriksa tiket. Dengan PEDE nya saya menyerahkan tiket dan chop! tiket saya dilubangi. Sesampainya di bekasi, kereta berhenti untuk mengambil penumpang lagi. Disaat saya sudah nyaman dengan kursi saya tiba-tiba beberapa orang mengklaim bahwa itu kursinya. Saya langsung diminta mengecek kembali nomor kursinya. "Maaf pak, A2 ada dibelakang" kata salah satu petugas. Oalah, dan dengan berat hati saya pindah ke kursi saya yang sebenarnya yang berada di belakang sebelah kanan. Sesampai dikursi saya, barulah saya menyadari ada nomor kursi di bagian bawah rak tas. Ah, memalukan (tepok jidat pakai apa lagi ya?)
| Sta. Bandung |
Perjalanan panjang dan mengerikan menuju Bandung. Kenapa mengerikan? karena beberapa kali lewat jembatan tinggi yang dibawahnya jurang. Malah saking tingginya ada bagian yang tinggi selevel bukit di seberangnya. Ditambah lagi terowongan yang cukup panjang (kira-kira 4 menitan). Dan saat pengumuman Stasiun Bandung sudah dekat, semangat saya tumbuh lagi.
Sampai Di Stasiun Bandung
| Warung nasi di Sta. Bandung |
| Nasi goreng rasa Asin Pedas |
Saatnya Jalan-jalan
Begitu naik ke tunggangan pak ojek saya langsung memintanya mengantar saya ke BSM (Bandung Super Mall). Sepanjang jalan saya juga ngobrol dengan si kang ojek. Itulah yang saya suka dari warga Bandung, mereka menjawab dengan sopan dan ramah bahkan tanpa diminta pun mereka bisa menjadi guide. Ternyata memang Bandung sudah menjadi kota macet, tapi untungnya iklimnya masih tidak sepanas Jakarta jadi suasana hati tidak cepat panas. Karena beberapa ruas jalan macet akhirnya saya diputar di jalan lain yang membuat saya tahu jalan lain di Bandung. Sepanjang jalan terlihat berjejer tempat makan dan beberapa FO walaupun mrip jalan di Barito tapi suasanya beda.
Durasi 20 menit saya sudah sampai di kompleks BSM dan terlihatlah (yang katanya) Hotel bintang 6 termewah se-Indonesia. Tapi tujuan saya bukan ke hotel itu, tapi ke Trans Studio. Sebenarnya sih cuma penasaran aja, apa sih jenis entertainment yang dijual disini sampe harganya Rp.200.000 ? Memang sih dari depan keliatan track roller coaster (yang katanya lagi) tercepat dan cuma ada 3 di dunia. Saya lanjutkan menuju dalam, ternyata pintu masukya ada di 1 lantai atas tapi beli tiketnya di bawah. Dengan harga Rp.200.000 + Rp.10.000 (kartu) dompet saya langsung kurus. Niat saya bukan untuk naik wahana ekstrim karena saya sudah pernah mencoba yang lebih ekstrim di Dufan dan Universal Studios Singapore (USS). Saya cuma pingin lihat Trans Theatre, Special Effect, Science Center, Broadcast Museum, Marvel 4D dan beberapa wahana yang sepi pengunjung saja. Dan syukurlah saya cukup menikmatinya walaupun ada beberapa wahana yang membuat saya tertawa, nanti saya ceritakan secepatnya.
Durasi 20 menit saya sudah sampai di kompleks BSM dan terlihatlah (yang katanya) Hotel bintang 6 termewah se-Indonesia. Tapi tujuan saya bukan ke hotel itu, tapi ke Trans Studio. Sebenarnya sih cuma penasaran aja, apa sih jenis entertainment yang dijual disini sampe harganya Rp.200.000 ? Memang sih dari depan keliatan track roller coaster (yang katanya lagi) tercepat dan cuma ada 3 di dunia. Saya lanjutkan menuju dalam, ternyata pintu masukya ada di 1 lantai atas tapi beli tiketnya di bawah. Dengan harga Rp.200.000 + Rp.10.000 (kartu) dompet saya langsung kurus. Niat saya bukan untuk naik wahana ekstrim karena saya sudah pernah mencoba yang lebih ekstrim di Dufan dan Universal Studios Singapore (USS). Saya cuma pingin lihat Trans Theatre, Special Effect, Science Center, Broadcast Museum, Marvel 4D dan beberapa wahana yang sepi pengunjung saja. Dan syukurlah saya cukup menikmatinya walaupun ada beberapa wahana yang membuat saya tertawa, nanti saya ceritakan secepatnya.
| Ticket Booth |
| Senyum dong mbak |
| Pintu masuknya |
| Big Screen |
| TVnya banyak, minta dong 1 |
| Rp.200.000 cuma dapat ini |
Sesampai didalam sudah terlihat antrian di roller coaster dan wahana baru Marvel. Untung saya sudah mengambil peta dan jadwal pertunjukan (benar-benar meniru theme park sekelas Universal Studios) jadi saya tahu harus kemana setelahnya. Untuk permulaan saya ikut antri di wahana Mervel. Terlihat petunjuk "60 minutes from here" di pintu antrian. Saya lihat jam tangan saya sudah pukul 1 dan jadwal Special Effect pukul 14.30. Berarti selesai main Marvell langsung menuju ke Special Effect, rencana yang bagus sekali. Antrian tepat 60 menit dan saya menikmati sajian film 4D (yang agak meniru antara Transformers the Ride tapi kok malah lebih mirip Shrek 4D?) dengan getaran di kursi dan beberapa kali cipratan air dan semburan angin dan bisa dinikmati dengan kacamata 3D. Saya pikir, untuk permulaan sudah OK. Dengan durasi kurang dari 10 menit saya sudah ada di luar pintu Marvel. Jam masih menunjukkan pukul 14.00 saya pun penasaran dengan Broadcast Museum. Begitu melihatnya saya hanya tertawa, tidak seperti perkiraan saya sebelumnya. Tempatnya kecil dan peralatan yang seadanya. Hanya bertahan 5 menitan saya lanjutkan melihat keadaan sekitar sambil menuju panggung Special Effect, dan saya mendapatkan antrian seperti mengantri minyak tanah. Wow, apakah sebagus itu sampai di antri orang seBandung? Takut kehabisan tempat saya pun ikut antrian dan hanya menunggu 10 menitan kami pun berbondong-bondong masuk mencari tempat duduk. Karena mengalah terus akhirnya saya hanya kebagian duduk di kursi paling belakang di bagian paling atas. Menurut saya ini meniru konsep LIGHTS, CAMERA, ACTION! di USS tapi kok malah mirip WATERWORLD nya ya? antara bingung dan aneh tapi nikmati sajalah.
| Peta & Jadwal Pertunjukan |
| Marvel the Ride |
| Broadcast Museum |
| Vertigo, ga tertarik |
| Mirip Panggung Maxima Dufan |
| Magic Corner, Awas Dikegetin! |
Tepat pukul 14.30 pertunjukan dimulai, dan seperti biasa di tambahkan embel-embel obrolan ga penting dengan penonton dulu, typical acara TVnya. Sebagai perkenalan, dipertunjukkan free style motor dengan berbagai jenis. Setelah perkenalan barulah pertunjukan yang sebenarnya. Mirip dengan WATERWORLD, pertunjukannya terdapat cipratan air dan beberapa kali ledakan yang mengluarkan efek api. Biarpun skalanya tidak sebesar WATERWORLD tapi tetap saja membuat adrenalin naik, saya bertepuk tangan untuk yang satu ini.
| Antriannya kayak antri minyak |
| Mino Cooper nembus tembok |
| Ada ledakannya juga loh |
Selesai dari Special Effect saya lanjutkan perjalanan saya, karena takut tidak kebagian kursi seperti tadi saya langsung menuju antrian Trans Theater untuk menonton Kabayan Goes To Hollywood. Awalnya saya pesimis dengan judulnya, jangan-jangan cuma lawakan garing selama 1 jam tapi bukankah saya kemari untuk melihat pertunjukan semacam ini? Antrian yang panjang tapi untunglah tidak terlalu lama, dan saya langsung mencari kursi sedekat mungkin dengan panggung. Inilah asiknya jalan sendiri, tak perlu repot mencari beberapa kursi berderet dengan teman. Begitu dapat kursi kosong langsung tempati saja, dan saya dapat di kursi baris kedua dari depan, perfect! Seperti biasa floor director memberikan arahan untuk tidak jaim dan bebas tertawa serta tidak menggunakan flash saat mengambil foto atau video.
| Briefing dulu |
| Musik pembukanya |
| Pendukung Acara |
Dan operet pun dimulai. Masih skeptis saya menyaksikannya, tapi begitu pembuka acara dimulai saya langsung takjub. Dibuka dengan aksi panggung ala Agnes Monica (tapi bukan) dengan tata cahaya dan musik yang baik. Ok, what next? ternyata pembukanya sukses membuat saya penasaran. Dimainkan oleh orang-orang teater Trans yang rata-rata orang Bandung (kelihatan dari wajahnya nu kasep jeung geulis tea) membuat saya betah nontonnya. Dengan aksi panggung yang agak lebay tapi buktinya beberapa kali saya tertawa. Hingga pada suatu bagian cerita sang emak Kabayan menelepon anaknya. Ternyata sang emak menelepon Kabayan yang ada di atas panggung sedang berada tepat di sebelah saya dan menumpang di kursi saya sambil merangkul saya. Lantas saja sorotan lampu menuju ke saya dan ratusan pasang mata menuju ke saya. Entah harus malu atau bangga? haha.
Dari situ saya hanya tinggal memiliki 1 jam lagi sebelum saya harus pulang karena jam travel hanya hingga pukul 19.30. Saya langsung menuju Science Center dan langsung menyukainya. Sebenarnya banyak pengetahuan bagus disini, tapi sayang tempatnya kecil dan alat peraganya sudah ada beberapa yang tidak berfungsi.
| Science Center |
| Ruang Kimia |
| Ruang Biologi |
| Tingkatan intesitas suara |
| Magic Triangle |
| Ilusi Reverse Mask |
| Tuh, sepi kan? |
Setelah selesai keluar dari rumah-horor-norak itu saya putuskan untuk segera pulang karena sudah pukul 18.00 dan waktunya saya menelepon tukang ojek tadi untuk menjemput saya.
Waktunya Pulang :(
Sekitar pukul 18.20 saya dijemput tukang ojek online saya menuju Jl. Djunjunan. Tapi sialnya si ojek tidak begitu hafal jalan, jadi sepanjang jalan saya hanya berputar-putar di daerah dago dan braga. Dari awal naik juga saya agak ragu karena setiap kali melewati persimpangan si supir selalu tengok kiri kanan seperti tidak yakin. Tukang ojek yang saya naikin ini bukan tukang ojek tadi siang. Katanya sih mereka segrup, jadi siapa yang ada di lokasi terdekat dialah yang bertugas. Beberapa menit sekali saya melirik jam tangan, jangan sampai perjalanan yang cuma 20 menit ini jadi lebih dari 1 jam. Selain biayanya jadi dobel, booking travel saya bisa saja di cancel. Karena tidak sabaran saya mengeluarkan HP saya dan berharap bisa dapat informasi menggunakan GPS. Tapi memang sedang sial, sinyal putus-putus membuat GPS tidak berfungsi ditambah batere yang tinggal 2 bar. Sambil melihat ke arah jalan, saya mengingat-ingat harus kemana. Berharap saya ingat jalannya dan menginformasikan pada si supir yang sedang kehilangan arah ini (apa sih?). Begitu melihat jembatan layang menuju Pateur, saya seperti tertolong. "Nah! ini dia jalannya! lurus aja kang!" kata saya tak sabaran. Dengan pede si supir menarik gas nya dan, syukurlah masih cukup waktu. Karena agak kasihan akhirnya saya menambahkan ongkosnya menjadi Rp.25.000 dan berpesan padanya : "saya tambahin supaya ngga nyasar lagi ya.". Tanpa menunda waktu saya langsung mencari lokasi travelnya dan ternyata tidak jauh di tempat saya berhenti. Saya segera memesan 1 tiket menuju Meruya-Jakarta. Memang dasar orang rumah tahu saja kalau saya sudah mau pulang, mereka langsung memesan oleh-oleh. Karena uang saya terbatas dan kebetulan ada toko oleh-oleh di sebelah travel, saya putuskan untuk membeli beberapa makanan. Hujan yang datang tiba-tiba membuat mobil travel saya agak terlambat datang, yang tentu saja mengakibatkan saya pulang lebih malam lagi. Mobil datang pukul 20.10 dan segera berangkat menuju Jakarta. Sampai di Jakarta pukul 23.15 dan tentu saja sulit mencari taksi jam segini. Walaupun ditawari oleh supir travel yang bersedia mengantar saya dengan harga Rp.50.000 saya menolaknya karena dengan taksi saya hanya cukup membayar 30ribuan saja. Dan untunglah ada 1 taksi baik hati bersedia mengantar saya dengan total tarif Rp.27.750 tapi tetap saya beri Rp.30.000 saja. Dan sialnya begitu merogoh ke semua kantung celana dan jaket untuk membayar, uang saya sudah lenyap semua. Sial! mungkin tertinggal di kursi mobil travel. Yah, mungkin sudah rejeki supir travel tadi, biarlah. Dan keseluruhan total jenderal biaya 1 hari penuh saya diBandung Rp.500.000 (karena hilang sisa uang saya di mobil). Tapi inilah hidup, setelah seharian tersenyum bisa saja keadaan membuat kita "agak" bersedih.
Itulah yang saya suka dari travel, kadang walaupun rencana sudah matang ada saja kejadian diluar rencana tapi membuat cerita yang dramatis dalam hidup (haduh, apa lagi sih?)
Langganan:
Postingan (Atom)

















