Minggu, 14 Juli 2013

Be Proud of Who You Are

Awal dengar lagu ini di tv commercial FOX channel, langsung aja nempel di kuping. Irama & lyric reffrainnya yang gampang diingat resanya klik banget. Tapi waktu awal denger ini, terkesan si Mika (penyanyinya) lagi mengelu-elukan seseorang. Siapa dia? Artis? Rockstar? atau President? ternyata eh ternyata, si Mika lagi memotivasi kita (pendengar lagu ini) untuk harus tetap bangga menjadi diri sendiri. Itupun baru saya ngerti setelah mendengar keseluruhan lagu ini. Rasanya kalo lagu ini diputar setiap kita lagi down bisa bikin semangat hidup up lagi. Jadi, ngga usah iri sama kehidupan orang lain karena apapun yang kita miliki dan kita lakukan, just do it because the real is... everybody wanna live your life.

Lyrics to Live Your Life :
You've got the whole world in your pocket
But you just don't know
Everybody's smilin' at you everywhere you go
It's like you've got that secret
That everybody else wants to know

Anywhere you are is just like home to you
From the beaches in Manila
Down to Katmandu

Yeah you've got that secret
That everybody else wants to know
But you won't ever let it go oh

Everybody wanna hold your hand
Everybody wanna shine that bright
Everybody wanna say they can
Everybody wanna live your life

Everybody wanna talk like you
Only wanna do the things you do
'Cause they always gonna turn out right
Everybody wanna live your life

We take a whole room full of strangers
And we make them friends
We do it all around the world
Just so it never ends
It don't matter where we're coming from or going to
You're the only one that ever turns a grey sky blue
And everybody needs a friend like you

Everybody wanna hold your hand
Everybody wanna shine that bright
Everybody wanna say they can
Everybody wanna live your life

Everybody wanna talk like you
Only wanna do the things you do
'Cause they always gonna turn out right
Everybody wanna live your life

SOMOS CIUDADANOS DEL MUNDO, ASI
YO SIEMPRE A TU LADO Y TÚ JUNTO A MI
EL MUNDO ESTÁ EN TUS MANOS, NO LO SABES YA
COMO UN DIAMANTE SIEMPRE BRILLARA

Everybody wanna hold your hand
Everybody wanna shine that bright
Everybody wanna say they can
Everybody wanna live your life

Everybody wanna talk like you
Only wanna do the things you do
'Cause they always gonna turn out right
Everybody wanna live your life


Senin, 08 Juli 2013

Seorang Tante yang Anti Uang Receh

uang receh
Pernah bertemu orang yang begitu anti dengan uang receh? Saya mengalaminya, beberapa hari lalu.
Seperti biasa, pukul 6 sore saya ke warung makan langganan saya buat makan malam, sebuah warung masakan Padang yang berada di daerah Sultan Adam. Saya lebih suka dibungkus, lalu menyantapnya di rumah. Begitu pula hari itu. Saya dilayani oleh anak si pemilik warung, sementara ibunya, pemilik warung, melayani seorang tante yang baru saja selesai makan di sana bersama suaminya dan mau bayar.
Tante itu menyodorkan uang seratusan ribu. Pemilik warung pun membuka lacinya, mencari-cari uang kembalian. Tapi rupanya ia tidak menemukan uang yang pantas, sehingga mau tak mau menghitung uang receh yang ada untuk kembalian. Melihat itu, si tante langsung mengeluh, "Aduh... uang receh...!"

Ia mendatangi suaminya yang sudah duduk di atas motor untuk minta uang yang lebih kecil agar tidak perlu mendapat kembalian uang receh. Setelah itu si tante kembali ke kasir lalu menyerahkan uang yang lebih kecil tadi.
Namun rupanya uang yang lebih kecil itu pun masih mengharuskan si pemilik warung memberi kembalian uang receh yang besarnya dua ribu rupiah. Si tante anti uang receh tidak terima dan kesal. Saya yang berdiri di sampingnya jelas geram. Uang dua ribu receh saja kok dipermasalahkan?! Ingin saya berikan saja selembar uang dua ribu biar tante ini segera diam, atau kalau perlu saya ceramahi: ngapain sih uang dua ribu receh dipermasalahkan, kalo nggak suka ya masukin aja ke kotak sumbangan! (Kebetulan di warung tersebut memang standby kotak sumbangan untuk rumah sakit dhuafa).
"Tunggu ya mbak, saya cari ke dalam...," kata si pemilik warung.
Sementara pemilik warung ke dalam dan tante tadi menunggu di samping saya, pesanan saya beres.
"Berapa mas?" tanya saya pada si anak sambil mengeluarkan uang dari saku. Ada selembar sepuluh ribu dan dua lembar dua ribuan.
"Sepuluh mas," jawabnya dengan seulas senyum.
Saya serahkan selembar sepuluh ribuan. Tersisa empat ribu. Saya segera tahu akan saya apakan uang empat ribu tersebut. Dengan wajah seolah tak tahu apa yang terjadi, saya masukkan uang empat ribu itu ke kotak sumbangan.
Saya segera naik ke motor. Sebelum menekan tombol starter, saya tengok tante tadi. Ia tampak mengambil uang dari dompetnya kemudian memasukkannya ke kotak sumbangan.
Saya tersenyum, lalu menyalakan motor dan meninggalkan warung tersebut. Saya tidak tahu lagi bagaimana soal uang dua ribu tadi, namun saya puas, bisa mengajari tante tadi di mana tempat yang bagus buat menyimpan uang receh.[]

Minggu, 30 Juni 2013

Hal Aneh yang Menimpaku 25 Juni Lalu

Ulang tahun, tidak menyangka itu juga terjadi padaku. Ternyata aku juga bisa ulang tahun! Ada banyak sekali yang mengucapkan "HBD" di wall facebook, bahkan hingga sulit membalasnya satu-satu. Beberapa teman dekat juga mengirim ucapannya lewat pesan singkat.

Aku belajar banyak hal pada peristiwa langka ini. Di antaranya, orang yang ulang tahun itu harus berharapkan bisa lebih baik lagi daripada usia sebelumnya, lebih serius kuliah, jualan tambah laris, rezeki tambah banyak, ibadah lebih rajin, dan yang pasti lebih dewasa.
Orang ulang tahun juga diharapkan mentraktir makan teman-temannya, tak peduli itu bulan muda atau bulan tua. Beruntung teman-teman yang memintaku mentraktir itu jauh-jauh semua, jadi ada alasan untuk mengelak. :)
Aku juga belajar bahwa ketika ulang tahun, yang paling kamu pikirkan bukanlah siapa yang memberimu ucapan ulang tahun, melainkan siapa yang tidak. Kamu berharap beberapa orang tertentu mengucapkan selamat, namun ternyata tidak. Ulang tahun memang aneh.

Minggu, 23 Juni 2013

Have a Good Time In Yogyakarta (Day 3)

Dan akhirnya sampai juga di hari terakhir petualangan kami di Yogyakarta. Seperti janji saya dari awal ke teman-teman yang lain : Kalau mau belanja di hari terakhir aja. Dan terjadilah "balas dendam" belanja. Kami mulai keluar kamar hotel menuju pasar Beringharjo untuk belanja pada jam 9.30 pagi. Agak telat untuk sarapan, tapi ya sudah lah. 

Makan sarapan sekaligus makan siang di Malioboro, kami memilih rumah makan yang menjual gudeg. Entah memang sudah kecanduan gudeg atau memang doyan? Seperti biasa, parkir disini harus extra usaha. Selain tempatnya terbatas, areanya juga sempit. Masih lebih baik dibanding cari parkir di Kuta, Bali. Untunglah para penjaga parkir disini sangat ramah, jadinya kami lupa kalau cari parkir disini susah. Ngga tau apakah karena mereka sedang melayani turis, atau memang beneran baik ya? Karena sepanjang kami lewat dan berbelanja disana semua penjaganya baik hati dan murah senyum. Memang sih ngga semuanya, ada juga beberapa penjual yang agak judes, tapi sepanjang jalan masih lebih baik orang-orangnya.


Belanja Gila-Gilaan.
Kalau belanja disini harus jaga iman, karena biarpun kelihatannya murah meriah tapi kalau over budget bisa masalah juga nantinya. Seperti yang saya alami, untuk budget belanja saya pikir 150ribu saja sudah cukup, tapi ternyata saya harus mengorek lebih dalam isi dompet saya (ngga di korek sih, yang bnernya ambil di atm haha). Over budget 200ribu, jadi total saya keluar hampir 350ribu saya keluarkan untuk sekedar belanja oleh-oleh. Jadi budget total saya yang saya perkirakan cuma habis 500ribuan, harus keluar 750ribu. Wah, rugi bandar haha. Tapi tetap aja saya puas dengan perjalanan kali ini, karena kurang dari 1juta Rupiah (sudah termasuk tiket kereta PP, hotel 2 malam, makan dan belanja) saya bisa menikmati petualangan yang tak terlupakan. Di tambah lagi bersama teman-teman yang memang sehati.

Kembali ke belanja, jangan lewatkan beli panganan khas Yogyakarta ; Bakpia pathuk. Harganya berkisar 25-28ribuan, tergantung merknya. Selain bakpia ada juga wingko babat, dan  lainnya. Belanja kali ini benar-benar melelahkan, karena banyak toko yang kami datangi dan berusaha mendapatkan harga terbaik (bilang aja ngga mau rugi haha). Sekedar tips untuk belanja di pasar Beringharjo, seperti hal nya belanja di pasar tradisional lainnya tawarlah harga setengah harga dari harga yang diberikan. Walaupun agak lama bertransaksi, tapi justru disinilah seni belanja yang sebenarnya. Tapi jangan sampai kalap kalau dapat harga murah, nanti bisa beli yang ngga perlu.

Pulang Menuju Jakarta
Blangkon Hotel - Jl. Prawirotaman No. 17
Setelah kelelahan belanja berkeliling jalan Malioboro dan beli bakpia pathuk langsung di pabriknya, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 15.30 waktunya kami bersiap menuju stasiun kereta karena kereta kami berangkat pukul 18.00. Kami masih harus kembali ke hotel untuk mengambil barang kami dan segera ke stasiun. Untunglah hotel yang kami tempati sangat pengertian dengan kami. Karena barang bawaan kami banyak dan harus check out pukul 14.00, kami minta titip barang kami, dan mereka mengizinkan tanpa dipungut biaya. Asiknya lagi, semua barang bawaan kami disimpan di 1 kamar, dan kami boleh menggunakan fasilitas kamar itu selama barang kami titip, wah makasih mbak resepsionis (yang ngga mau menyebutkan namanya, panggil saja Bunga). Untuk rasa terimakasih kami, saya meminta semua petugas hotel untuk berfoto bersama kami di luar hotel. Padahal saya sudah bilang mau tulis ulasan hotel ini ke blog saya (dan terbukti kan?) tapi mbak Bunga tetap ngga mau diajak foto, jadinya petugas yang lain ikut-ikutan ngga mau deh. Ya sudah, kami numpang foto aja di depan hotel.

Selesai foto, mengambil barang, kami pun pamit ke semua petugas hotel. Sudah seperti keluarga dan sahabat aja kami selama 3 hari ini. Untuk perjalanan berikutnya kalau mau ke Jogja lagi, saya fully recommended ke hotel ini. Nama hotelnya Blangkon Hotel, Jalan Prawirotaman No. 17. Untuk kamar rombongan yang non AC harganya 40ribu (45ribu high season) dan 75ribu AC. Semoga harganya ngga naik kalau kita kesana lagi haha.

Menunggu kereta datang (Stasiun Tugu)
20 menit kemudian kami sudah sampai di Stasiun Tugu menggunakan motor sewaan kami. Kok bisa ke stasiun bawa motor sewaan? itu lah enaknya di hotel ini, semua bisa diatur. Tinggal bilang ke penjaganya kita akan pakai sampai stasiun, mereka mengijinkan. Yah, kasih sedikit tips aja biar semua senang, beres kan? Kira-kira sampai stasiun jam 17.00 itu artinya tinggal sejam lagi kami berangkat kembali ke Jakarta. Menunggu kereta di peron sambil bercanda dengan teman-teman itu seru banget. Sayangnya moment seperti ini ngga bisa didapat setiap hari, apalagi kalau jalan-jalan seperti ini jadi harus dinikmati selagi bisa. Ternyata bukan cuma kami aja yang pulang serombongan, banyak juga yang akan kembali ke Jakarta dengan rombongan masing-masing. Untunglah kami masih kebagian tiket.

Jam 17.45 kereta sudah datang, kami langsung berhamburan menuju kereta mencari kursi masing-masing sesuai nomor tiket. Memang energi teman-teman saya ini ngga ada habisnya, karena selama perjalanan mereka masih aja ketawa ketiwi, main kartu, mondar-mandir. Tapi akhirnya mereka tepar juga setelah jam menunjukkan pukul 23.00. Mungkin karena sudah bosan juga. Gimana ngga bosan? perjalanan 8-9 jam.

Welcome Home to Jakarta.
Stasiun Senen sudah tampak di jendela kereta kami, saatnya kami pulang. Jam 3.20 pagi kami sampai di stasiun Senen Jakarta. Dan sampai di stasiun Senen lagi lah kebersamaan ini harus selesai. Kami pun kembali ke tempat tinggal masing-masing. Ada yang dijemput pacaranya, ada yang naik taksi, ada juga yang naik angkot termasuk saya haha. Sungguh perjalanan 5 hari (Kamis malam sampai Senin Pagi) yang takkan terlupakan. Kota Yogyakarta yang membuat kangen (malah saya buat tulisan ini sudah pingin kesana lagi haha), dan teman-teman yang super. Bisa ngga kita ulangi moment seperti ini lagi? Semoga... Secepatnya... :)

Mau lihat serunya? Nonton ini dulu ya :

Credit Title
Tim Plesir :
Wahyu - Liya - Nia - Haya - Novan - Indra - Wijaya - Feybert - Ria - Heny - Didiet

Special Thanks to
Additional :
Tea - Miko

Minggu, 16 Juni 2013

Have a Good Time In Yogyakarta (Day 2)

Kurang tidur karena semalaman di kereta & jalan seharian di hari 1, saya pikir akan membuat semuanya bangun kesiangan. Tapi ternyata nggak! Mereka udah pada bangun dan siap "tempur" lagi jam 7 pagi. Gilak! para pecinta liburan ini emang ga ada matinya. Setelah semua sudah bangun, kami ngobrol dan review lagi jalan-jalan kemarin. Karena ada beberapa dari kami yang memutuskan untuk mengunjungi tempat lain, akhirnya kami jadi tau apa aja yang seru ditempat lainnya. Tapi hari ke 2 ini kami sudah sepakat untuk konvoi bersama menuju taman nasional Gunung Merapi dan diteruskan menuju Candi Mendut dan Candi Borobudur. 

Petualangan Dimulai Lagi!
Perjalanan dimulai jam 8.15 pagi, kami sudah siap di depan hotel. Dengan bermodalkan tumpangan masing-masing (motor sewaan) kami siap untuk konvoi hari ini. Sebelumnya kami sempatkan untuk sarapan di depan Pasar Bringharjo. Pecel lontong dan teman-temannya rasanya enak banget pagi itu. Apakah memang beneran enak atau memang kami lagi lapar banget ya? Pecel lontong ditemani es teh manis paduan yang ajib, sayang saya lupa harganya, tapi tenang aja, masih dalam level aman (alias murah) kok.

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan. Awalnya masih bingung karena belum tau darimana kami mulainya? Karena kami juga ngga tau jalan menuju kesananya. Dan... lagi-lagi GPS dan HP butut saya berjasa banget kali ini. Tinggal tunjuk tujuan, dan udah ketauan jalur mana aja yang harus kami ambil menuju taman nasional Gunung Merapi. Karena saya yang pegang setir (supir kalee..) jadinya Nia (teman saya) yang jadi navigator, walaupun beberapa kali salah baca arah peta (haha, sorry ya Nia). Modal GPS dari HP butut dan navigator pemula, semua teman-teman yang konvoi ikut di belakang kami. Wah, kalo nyasar bisa berabe nih haha. Tapi untunglah warga Yogyakarta itu baik banget, karena pada satu tempat GPS saya ngga berfungsi (mungkin sinyalnya putus) dan harus bertanya ke orang lain. Saking baiknya, dia sampai rela menunjukkan jalannya. Wah, makasih yah bu.. 

Bukan itu aja, untunglah Nia bisa menghubungi temannya yang tinggal di Jogja yang bersedia untuk mengantar kami. Dengan janjian di Universitas Gadjah Mada, kami lanjutkan perjalanan, tapi kali ini full speed haha. Kelihatannya alam lagi ngga bersahabat pagi itu, karena langit makin lama makin gelap dan awannya makin tebal. Sepanjang jalan kami berharap supaya ngga turun hujan. Tapi... benar juga, alam lagi ngga bersahabat, jadinya kami harus beberapa kali menepi supaya ngga kehujanan. Tapi memang dasarnya petualang sejati semua, ngga mau kalah sama alam akhirnya kami putuskan tetap jalan walaupun pakai jas hujan. Naik gunung, "agak" ngebut, hujan-hujanan, rame-rame, benar-benar hal yang nga bisa dilupakan. Rasanya boleh kapan-kapan kita coba lagi ya guys! haha...

Taman Nasional Gunung Merapi
Sampai di dekat gunung merapi, kami berhenti sejenak di lereng sebelah kiri jalan. Ngga tau namanya apa, tapi pemandangannya Amazing banget. Karena jalannya basah setelah hujan, beberapa teman saya ngga berani turun sampai ke ujung lereng. Kalo saya sih, emang dasarnya suka yang beginian jadi hajar terus haha.  Kami cuma berfoto-foto di sekitar lereng lalu melanjutkan perjalanan yang masih +-1km lagi untuk sampai ke taman nasional gunung merapi. Setelah sampai, saya agak kecewa, kok gini ya? Kenapa saya bilang "kok gini ya?" kaerna setiap jengkalnya jadi daerah komersil.

Mulai dari masuk kompleks taman nasional, kami sudah di cegat untuk bayar masuk (lagi-lagi saya lupa harganya...maaf ya), lalu harus rela memarkirkan motor kami di depan yang berarti kami harus berjalan kaki untuk meneruskan perjalanan. Untuk naik keatas kita harus berjalan kaki yang +-2km baru sampai ke museum gunung merapi, atau menyewa motor trail seharga RP.50ribu atau mobil Jeep seharga Rp.650ribu. Awalnya kami memutuskan untuk jalan kaki saja, tapi lagi-lagi hujan turun lebih deras. Kami menunggu sampai hujan reda sambil makan siang di warung sekitar situ. Tapi rasanya sudah ngga ada waktu lagi, kami pun mengurungkan niat untuk naik keatas. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.30, dan kamipun balik badan bubar jalan.

Menuju Candi Borobudur
Untuk mengejar waktu ke Borobudur yang masih +-40km lagi, akhirnya kami tinggalkan gunung merapi dengan kekecewaan. Untunglah cuaca sudah agak lebih baik dan kami langsung memacu motor kami. Tampaknya perjalanan kembali dari gunung merapi lebih harus berhati-hati, karena jalanannya cenderung turunan tajam yang membuat motor kami ngacir lebih cepat. Perjalanan kami bisa lebh cepat karena sepertinya jalan terlihat lengang, atau mungkin teman Nia (namanya Miko) menunjukkan kami jalan pintas ya? Jalan yang kami lalui terlihat banyak kebun salak di kiri dan kanan. Pasti sudah tau kelanjutannya kan? Ya, kami berhenti sejenak untuk membeli salak haha. Saya pun sesekali makan salak "sample" gratisan dan mbok nya, lumayan...enak...gratis lagi... 

Ngga jauh dari perjalanan setelah membeli salak, hujan harus turun lagi. Kampiun memutuskan kembali memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan. Hujan, terang, hujan, terang, cuaca yang labil. Makin mendekati jalan Borobudur, jalan makin macet. Dan hal yang ngga saya inginkan terjadi, terpisah dari konvoi (Aduuuh!!) Tapi naluri "supir" saya langsung on dengan cara mengikuti petunjuka jalan, mudah-mudahan ngga kesasar.  Ditambah lagi ada jalan alternatif ke Borobudur yang ditunjukkan warga sana. Sampai beberapa ratus meter mengikuti jalan, kami masih terpisah dnegan teman-teman kami. Akhirnya sang GPS pun turun tangan. Ternyata jalan yang kami ambil sudah benar, tapi kok masih belum ketemu teman-teman yang lain ya? Berinisiatif menelpon "kawanan" yang lain, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di Candi Mendut. Kira-kira 20 menit kemudian akhirnya kami bertemu lagi. Makin dekat dengan kawasan Borobudur membuat kami makin semangat, karena akhirnya kami sampai juga.

Di depan pintu Borobudur, jalan makin padat. Ternyata ratusan bahkan ribuan orang berebut masuk ke dalam Borobudur untuk mengikuti jalannya perayaan Waisak. Wah, ternyata orang sedunia datang kesini semua. Memang bisa dibilang Borobudur ini Ka'bah nya orang Buddha. Setelah mendapatkan tempat parkir (yang susssssah banget dicarinya) kami langsung menuju pintu masuk utama. Banyak polis berjaga-jaga di depan pintu masuk. Ternyata pintu masuk sudah ditutup untuk umum, cuma peserta ritaul aja yang boleh masuk lewat sana. Tanpa pikir panjang lagi kami langsung mencari pintu lainnya. Dan, sudah bisa diduga, ribuan orang sudah mengantri di pintu yang sama. Kami mengantri seperti mengantri nonton konser. Ditambah dikiri dan kanan kami banyak orang yang berbeda bahasa ngomong berbarengan. Ada bahasa Jawa, Jakarta, Inggris, Jerman, Jepang, Mandarin. Wah, serasa nonton konser beneran haha.

Berdesak-desakan seperti ikan teri di kantong plastik, saling dorong tapi untungnya masih tertib. Ditengah antrian hujan rintik rintik mulai turun, what a perfect situation. Tapi karena ditengah kerumunan orang banyak, jadinya gerimis pun ngga berasa. Bisa dibayangkan, untuk melewati 1 pintu kami harus rela mengantri selama 30-40 menit. Dan pintu yang harus dilewati ada 3, ya ngga salah liat, ada 3. Mulai antri jam 17.00, kami sampai di dalam jam 19.15. Harap-harap cemas semoga hujan ngga turun lebih deras lagi, karena tujuan kami kemari di malam hari cuma untuk menyaksikan pelepasan 1000 lampion. Setelah menunggu lama (kerena Menteri Agama telat datang, tipikal orang Indonesia) akhrinya acara ditunda sampai pak Menteri datang. Dan...lagi-lagi hujan mulai rintik-rintik lagi sampai deras. Payung mulai bermunculan di tengah kerumunan membuat kami ngga bisa melihat ke depan. Kami yang masih penasaran masih bertahan di tengah lapangan manusia. Hujan yang makin deras sepertinya ngga ada tanda untuk berhenti. Beberapa dari kami mulai mundur hingga akhirnya ngga ada yang sanggup bertahan lagi. 

Di tengah hujan kami keluar dari kompleks Borobudur. Ngga pakai payung, ngga pakai jas hujan, kami menuju pintu keluar yang jaraknya +-1km. Basah luar dalam (bener-bener sampai dalam haha). Setelah insiden mandi hujan itu, kami putuskan untuk makan yang hangat-hangat, Mie Bakso jadi pilihan. Makan lahap karena perut lapar setelah jalan jauh & kehujanan. Setelah sudah siap untuk pulang, akhirnya kami segera meninggalkan Borobudur, lagi-lagi dengan kekecewaan.

Perjalanan Pulang Yang Menegangkan
Sampai kami pulangpun hujan masih deras. Perjalanan ditangah hujan di tengah malam saja sudah cukup menegangkan. Tapi yang ini, Pulang malam hari, hujan, kecepatan 60km/jam (kalo ngga segini bisa ketinggalan), ngga tau jalan ditambah angin yang kadang bertiup kencang. Mungkin kalo cuma ngebayangin biasa aja, silahkan dicoba deh haha. Yang bikin makin susah, saya harus membuka mata waktu ngedarain motor disaat air hujan masuk kemata dan tiupan angin menerbangkan jas hujan kami. Jalan gelas banget, bagaimana kalo ditengah jalan ada lubang? duh, ngga kebayang deh.

Perjalanan 1,5 jam rasanya 1,5 hari (agak lebay sih). Hati mulai tenang waktu melihat tulisan "Selamat Datang di kota Yogyakarta". Ditambah hujan sudah berhenti, akhirnya cobaan itu lewat juga haha.. Sesampainya di hotel, langsung pada berebut untuk pakai kamar mandi. Baju basah membuat mereka ngga betah pingin segera mandi. Tapi jangan kira setelah sampai hotel mereka mandi langsung tidur, ternyata masih ada juga yang masih sanggup untuk nonton Final Liga Champion, haha edan. Saya pun diajak untuk mencoba minum susu jahe di angkringan dekat hotel. Saya pikir cuma sebentar, Ok lah, tapi ternyata kami lupa waktu sampai pukul 3.15 pagi haha.

Segera kembali ke hotel dan berbaring di tempat tidur, ahhh surga dunia. Dan beberapa menit kemudian saya sudah kealam mimpi haha.

Mau lihat serunya perjalanan kami? Lihat video berikut ini

Keseruan masih berlanjut di Hari 3. Baca terus yuk...