Blog baru lagi...
Seperti yang sudah kuceritakan di blogku sebelumnya, zianxfly.wordpress.com, sekarang aku pindah rumah ke sini, zianarmie.blogspot.com.
Postingan ini sebagai pembatas untuk postingan-postingan hasil import dari blog sebelumnya dan postingan-postingan baru yang berikutnya akan diposting di blog ini.
Sabtu, 18 Januari 2014
Kamis, 02 Januari 2014
Lupa
Masalah pelupaku kali ini benar-benar sudah keterlaluan. Jika biasanya hanya lupa mencatat order, lupa mengambil gelas, lupa jadwal mencuci piring, lupa hari ini harus seragam apa, atau lupa makan, maka kali ini aku lupa mengambil kartu ATM.
Pagi tadi aku ke ATM dulu sebelum ke kampus, ambil uang. Aku memang buru-buru, sudah jam 8, aku sudah terlambat ke kampus--meski aku yakin dosennya juga belum masuk. Uang kuambil.
“Anda ingin melakukan transaksi lainnya?” tanya si ATM.
“Tidak,” jawabku.
Aku pun meninggalkannya. Saat sudah di luar bilik dan mau menyalakan motor, aku sempat berpikir, seperti ada yang terlupa. Tapi aku tak sempat mencerna apa itu yang terlupa. Aku buru-buru.
Aku tetap tidak menyadarinya, hingga sore tadi, ketika kembali akan mengambil uang di ATM yang sama, aku gelagapan mencari kartu ATM di dompet, satu-satunya tempat di mana aku biasa menaruh benda ajaib tersebut. Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui kartu ATM itu sudah tidak ada, karena dompetku tak banyak isinya. Pikiranku pun mulai menyusun keping-kepingnya. Soal buru-buru ke kampus pagi tadi, soal perasaan ada yang tertinggal, soal kebiasaanku yang ceroboh dan pelupa...
Kepada seorang kawan yang bekerja di bank, kutanyakan masalah tersebut lewat sms. Katanya perlu surat keterangan hilang dari kepolisian, KTP, dan buku tabungan. Untuk dua terakhir tidak ada masalah. Tapi yang pertama?
Aku tak mau ribet. Mungkin besok pagi bikin rekening yang baru lagi saja. Semoga para customer BukuMurah.net tidak terganggu dengan perubahan nomor rekening tersebut.
Sudah, itu saja catatan hari ini.
NB: ada yang tahu cara mengatasi kebiasaan lupa?
Pagi tadi aku ke ATM dulu sebelum ke kampus, ambil uang. Aku memang buru-buru, sudah jam 8, aku sudah terlambat ke kampus--meski aku yakin dosennya juga belum masuk. Uang kuambil.
“Anda ingin melakukan transaksi lainnya?” tanya si ATM.
“Tidak,” jawabku.
Aku pun meninggalkannya. Saat sudah di luar bilik dan mau menyalakan motor, aku sempat berpikir, seperti ada yang terlupa. Tapi aku tak sempat mencerna apa itu yang terlupa. Aku buru-buru.
Aku tetap tidak menyadarinya, hingga sore tadi, ketika kembali akan mengambil uang di ATM yang sama, aku gelagapan mencari kartu ATM di dompet, satu-satunya tempat di mana aku biasa menaruh benda ajaib tersebut. Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui kartu ATM itu sudah tidak ada, karena dompetku tak banyak isinya. Pikiranku pun mulai menyusun keping-kepingnya. Soal buru-buru ke kampus pagi tadi, soal perasaan ada yang tertinggal, soal kebiasaanku yang ceroboh dan pelupa...
Kepada seorang kawan yang bekerja di bank, kutanyakan masalah tersebut lewat sms. Katanya perlu surat keterangan hilang dari kepolisian, KTP, dan buku tabungan. Untuk dua terakhir tidak ada masalah. Tapi yang pertama?
Aku tak mau ribet. Mungkin besok pagi bikin rekening yang baru lagi saja. Semoga para customer BukuMurah.net tidak terganggu dengan perubahan nomor rekening tersebut.
Sudah, itu saja catatan hari ini.
NB: ada yang tahu cara mengatasi kebiasaan lupa?
Selasa, 31 Desember 2013
Minggu, 29 Desember 2013
Review Buku: Parangmaya (Kumpulan Cerpen Aliansyah Jumbawuya & LisMaulina)
Judul: Parangmaya
Penulis: Aliansyah Jumbawuya & Lis Maulina
Penerbit: Scripta Cendekia
Cetakan: I (2013)
ISBN: 979-17199-3-4
Tebal: iv + 124 halaman
Cerpen Parangmaya yang dipilih menjadi judul buku kumpulan cerpen ini tampak menyajikan banyak sekali konflik.
Konflik pertama ialah keharusan sang tokoh utama, Yusak, pergi ke kota meninggalkan kampung halamannya ‘yang tercinta’ demi memajukan kampungnya tersebut yang selama ini ‘tidak diperhatikan pemerintah’.
Ketika sekolah di kota, konflik muncul lagi. Ia sering diejek udik oleh teman sekolahnya, Ariel.
Konflik berikutnya ialah ditinggal Pak Setya, orang yang selama ini membiayai sekolahnya selama di kota dan yang selalu memberinya semangat.
Kemudian barulah konflik yang lebih berat, Yusak sudah kuliah dan menjadi aktivis. Yusak berencana “menyerang” Haji Badar, bos batubara yang ‘banyak mengakibatkan kerusakan dan merebut lahan’ yang ‘dibekingi petinggi kepolisian hingga menteri’. Akan tetapi, tidak ada teman aktivis Yusak yang berani membantunya.
Konflik selanjutnya semakin berat. Yusak dijebak ketika diundang menghadap Haji Badar. Haji Badar memancing emosinya, dan ia pun tersulut emosi. Sebuah mandau kemudian diletakkan di dekat Yusak lalu tiba-tiba polisi datang. Ia dituduh membawa senjata tajam dan telah mengancam keselamatan orang lain. Ia dihukum 2 tahun penjara.
Saat ia sudah keluar dari penjara dan pulang ke kampung halaman, konflik kembali terjadi. Yusak sudah bertekad ingin melawan Haji Badar dengan jalan primitif: parangmaya. Akan tetapi, ia sudah memeluk Islam. Hal itu ia ceritakan pada Kitai Mangin, sepupu yang ‘sudah ia anggap saudara sendiri’. Kitai Mangin melarangnya melakukan hal tersebut.
Di ending, tampaknya penulis ingin membuat tipuan. Dari koran yang dibawa Pak Setya, Yusak tahu Haji Badar mati mengenaskan karena parangmaya. Bukan ia yang melakukannya, melainkan Kitai.
Karena banyaknya konflik tadi, cerpen ini menjadi kehilangan bobotnya karena tiap konflik jadi tidak tergarap denga maksimal. Bisa dibilang, cerpen Parangmaya seperti novel yang diringkas sependek mungkin. Padahal ada perbedaan mendasar antara cerpen dan novel, dan itu bukanlah soal jumlah halaman. Kesimpulan saya, Parangmaya bukanlah cerpen terbaik Aliansyah Jumbawuya.
Selasa, 10 Desember 2013
Kutipan Novel-novel Khaled Hosseini
Langganan:
Postingan (Atom)



