Senin, 23 Februari 2015

Jalan-jalan ke Bukit Lintang dan Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) di Pelaihari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan

Bukit Lintang - Bukit Rimpi
Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut
Bukit Lintang, Tanah Laut

Bukit Rimpi - Pelaihari - Tanah Laut
Bukit Rimpi, Tanah Laut


11 Januari 2015
Minggu, jam 7 pagi, saat di mana kehidupan belum benar-benar berlangsung di kontrakanku. Tapi tidak hari ini. Hari ini, aku, Tri dan Bang Yudis berencana akan ke Bukit Lintang dan Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies), dua bukit di daerah Pelaihari yang akhir-akhir ini ramai dikunjungi (orang Banjarmasin, beberapa bulan ini, memang sedang keranjingan naik bukit!). Rencana memang tidak sepagi ini, tapi aku harus ke acara perkawinan Ka Shinta, teman yang juga pelangganku saat jual buku dulu, pelanggan yang membeli buku dengan alasan yang unik: ia membeli buku-buku Ernest Hemingway karena anaknya akan ia beri nama Ernest, padahal saat itu ia belum menikah apalagi punya anak. Ka Shinta membeli nyaris semua buku-buku karangan Ernest Hemingway, dan aku sudah menyiapkan kado untuknya tepat satu tahun lalu, sebuah buku Ernest Hemingway yang sudah cukup langka dan bisa kupastikan ia belum punya.
Sekitar pukul 8 aku tiba di Martapura, di tempat acara, setelah sebelumnya beberapa kali bertanya jalan. Tidak butuh waktu lama untuk aku menyerahkan kado ke bagian penerima tamu, makan, bersalaman, lalu pamit. Lega rasanya, buku itu sudah diserahkan pada yang bersangkutan, sebab selama satu tahun ini buku itu terus menggoda untuk jadi milikku saja. Haha…
Dari Martapura, aku mengambil Jalan Cempaka, sampai di Simpang Tiga Bati-Bati, aku mampir di warung gorengan dalam rangka menunggu Tri dan Bang Yudis. Kukira mereka telah tiba di sana lebih dulu, ternyata aku harus menunggu, menunggu yang lama, karena perlu waktu hampir satu jam hingga mereka muncul. Saat mereka tiba, aku tak perlu bertanya untuk tahu jawaban atas keterlambatan mereka: Tri mengajak dua orang temannya, keduanya perempuan (yang belakangan aku tahu nama mereka Iin dan Desty), dan Bang Yudis mengajar tiga orang temannya, satu laki-laki dan dua perempuan (yang laki-laki bernama Agung, dan yang perempuan satunya bernama Rita, satunya lagi aku sudah lupa siapa namanya). Maka berdelapan, kami melanjutkan perjalanan ke arah Pelaihari.

Yang pertama dituju adalah Bukit Lintang. Kami berbelok ke kiri tepat sebelum Bukit Kayangan.
Jalan menuju Bukit Lintang
Jalan menuju Bukit Lintang

Beberapa ratus kilometer, jalan aspal, berganti jalan berbatu dan tanah, dan rumah-rumah penduduk berganti pohon-pohon kelapa sawit. Selain kami berdelapan, pagi itu banyak juga yang melalui jalan itu, yang jelas memiliki tujuan yang sama. Setelah beberapa kali menemui belokan, dan beberapa kali mampir untuk foto-foto, sampailah kami di kaki Bukit Lintang!



Ada banyak pengunjung di sini. Seperti biasa, di mana ada banyak orang, di situ ada warung. Kami istirahat sejenak, kemudian mulai mendaki. Dengan penuh semangat, aku memimpin di depan. Matahari begitu terik. Tapi saat ini tenagaku masih penuh-penuhnya. Beberapa kali stop untuk istirahat, lalu naik lagi. Matahari semakin terik, namun aku masih di depan, masih semangat. Di pertengahan antara puncak dan kaki bukit, Iin dan Desty mengibarkan bendera putih.
Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut
Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Dari sini, jalur pendakian semakin curam. Bahkan disiapkan tali tambang untuk membantu naik. Lalu, setelah beberapa puluh meter ke atas, semangatku yang tadi berapi-api, meleleh seperti lilin. Satu persatu teman-teman yang meneruskan naik melewatiku yang mengipasi semangatku. Tapi rupanya, panas matahari, dan perut yang tampaknya tengah bermasalah, membuat semangatku semakin meleleh habis. Akhirnya aku pun menyerah… Bukan, ini adalah sebuah kesadaran akan batas kemampuan…. Hehe.
Tidak ada pohon di tempat aku berhenti tersebut. Maka pilihan terbaik adalah turun, menuju tempat Iin dan Desty istirahat di mana di sana ada beberapa pohon untuk bernaung. Maka bertiga, kami menunggu lima orang pejuang yang tersisa sambil foto-foto, dan menghibur diri dengan merasa cukup puas dengan pemandangan dari “setengah perjalanan”.

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut
Bukan, itu bukan motor saya....

Bukit Lintang - Pelaihari - Tanah Laut

Cukup lama hingga akhirnya lima orang rombongan kami itu turun dan lantas memamerkan foto-foto dari puncak bukit. Kami kemudian turun, istirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan menuju Bukit Rimpi atau yang biasa disebut Bukit Teletubbies karena mirip dengan bukit-bukit di acara TV Teletubbies dengan skala yang lebih besar. Kami tiba di Kota Pelaihari, dan saat itu hari sudah hampir sore. Kami mampir di warung es nyiur di tepi jalan untuk istirahat, kemudian lanjut lagi.

Tidak jauh dari Kota Pelaihari, kami sampai di depan pintu masuk utama menuju Bukit Rimpi, di sini cukup ramai, dan banyak terparkir motor. Namun berdasarkan saran dari Bang Yudis, kami terus menuju pintu masuk kedua karena menurutnya, di sana hanya perlu bayar satu kali, yaitu buat parkir, sedangkan di pintu masuk utama tadi harus bayar dua kali, satu untuk parkir, dan satu untuk masuk.
Setiba di depan pintu masuk kedua, setelah menembus jalan setapak naik-turun, kami memang diminta bayar untuk parkir, 5 ribu rupiah, dan harus bayar di awal. Dan tidak seperti perkiraan, saat akan memasuki lokasi ternyata diminta bayar lagi, 4 ribu rupiah perorang. Memasuki Bukit Rimpi, kami takjub bukan main, bukan oleh pemandangannya, tapi oleh banyaknya orangnya!
Ini tidak seperti yang kubayangkan, di sini benar-benar sangat ramai, bersaing dengan Duta Mall. Dan yang lebih mengecewakan ialah rumput-rumput hijaunya yang karena terlalu sering diinjak, menjadi agak gundul, meninggalkan warna coklat tanah. Pemandangan tersebut jauh berbeda dengan dua bulan sebelumnya, saat Bang Yudis pertama ke sana dan memamerkan fotonya. Tapi tak apa, kami cukup senang, dibuktikan dengan seringnya kami berfoto ria di sana dengan senyum yang mengembang.


Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) - Pelaihari, Tanah Laut

Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) - Pelaihari, Tanah Laut

Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) - Pelaihari, Tanah Laut

Bukit Rimpi (Bukit Teletubbies) - Pelaihari, Tanah Laut

Sampai pukul enam sore, barulah kami turun. Sebelum pulang ke Banjarmasin, kami mampir di rumah Kak Rita untuk istirahat dan mandi, kemudian meneruskan perjalalan pulang, singgah di daerah Bati-bati untuk makan malam. []


Senin, 16 Februari 2015

Garut, Jawa Barat (Day 2)

Pagi hari di Pondok Saladah, tempat kemah kami sudah dibasahi air hujan yang turun semalaman. Rencana kami untuk naik ke Hutan Mati untuk melihat sunrise pun harus dibatalkan karena sangat riskan untuk naik diwaktu hujan. Terlebih kabut tebal membuat jarak pandang makin pendek. Akhirnya sekitar pukul 7 pagi kami baru keluar dari tenda dan bersiap untuk naik menuju Hutan Mati. Jalan licin dan berlumpur menghiasi perjalanan kami. Tapi karena kami adalah tim hore alias gembira di segala suasana jadinya jalan becek licin dan kotor itu tidak kami rasakan. Pokoknya hajar terus sampai atas ahaha... Lagi-lagi tak mau melewatkan kesempatan menarik ini saya langsung mengeluarkan kamera saya dan mulai merekam perjalanan naik ke Hutan Mati bersama teman-teman yang sudah bersemangat dari pagi. Ternyata kami tidak sendiri karena makin siang makin banyak yang naik ke Hutan Mati karena seharian kemarin hujan menghambat kami untuk terus naik. 

Tim hore selalu
Mulai jalan becek, berbatu sampai kubangan kami lalui dengan berani (halah). Walaupun ada di beberapa tempat mengalami kesulitan karena harus melompati celah besar dan berdiri di batu licin tapi akhirnya kami sampai juga di Hutan Mati. Setelah melihat hamparan hutan yang diisi pohon hitam karena terbakar hawa panas dari belerang, sepertinya melompati celah besar dan terperosok ke kubangan langsung lupa sejenak. Suasana takjub dan agak mistis membuat saya makin bersemangat. Lokasi ini sangat istimewa untuk dijadikan lokasi pemotretan. Andaikan saya juga bisa membuat film disini alangkah bahagia sekali. Batu putih dan batang kayu hitam seakan menambah kontras warna hutan ini. Pokoknya untuk yang ingin foto prewedding saya rekomendasikan kemari. 

Sepanjang hari kami habiskan waktu untuk berfoto dan bercanda di atas sana. Banyak spot bagus yang tidak boleh dilewatkan kalau kamu pecinta fotografi. Untunglah saya hobby fotografi dan teman teman saya bersedia menjadi model dadakan akhirnya bisa menambah koleksi foto saya. Seolah tidak mau pergi dari 1 tempat ke tempat lain karena masih mau meng eksplore satu tempat untuk di foto. Tapi ternyata makin naik, suasana berbeda dan pemandangan indah makin banyak. Sepertinya tidak akan habis kalau harus meng eksplore seharian disini. Dan puncaknya adalah di pinggir jurang yang mengharuskan saya menghentikan pemotretan. Ditambah hujan gerimis tiba tiba datang. Karena tidak ada pepohonan rindang di daerah sana kami harus sigap menyelamatkan bawaan kami dan segera memakai jas hujan. 














Karena waktu sudah tidak memungkinkan untuk terus naik ke Tegal Alun akhirnya kami putuskan untuk kembali ke pondok Saladah untuk segera packing dan turun. Siang hari kami harus packing di tengah hujan rintik rintik. Beruntunglah teman-teman baru kami sangat membantu dalam membongkar tenda. Terus terang karena saya baru pertama kali jadinya masih bingung untuk memasang dan bongkar tenda yang akhirnya kurang membantu mereka dalam segi kecepatan (maaf ya..). Setelah tenda dan barang-barang terbungkus rapih di dalam backpack kami pun segera turun. Sepertinya saya masih belum bersahabat dengan cuaca disini karena dari sepagian perut saya sakit sekali karena masuk angin dan itu membuat kesenangan saya kurang maksimal. Ditambah hujan menurunkan suhu lebih dingin lagi, dan pernah menyentuh angka 6 derajat Celcius. Bisa dibayangkan berendam di dalam air dengan es batu? Ya, 6 derajat Celcius kira-kira seperti itu. Tapi untunglah saya membawa jaket tambahan dan menggandakan jaket saya supaya lebih tebal. Malah tangan saya yang sejak pagi pakai sarung tangan tetap terasa kaku dan harus sesekali mengepal supaya sirkulasi darah lancar. Perut sakit, hujan, jalan licin dan dingin mensuk tulang menjadi drama baru seperjalaan kami turun. 

Sesampainya di Pos 2 hujan makin deras dan memaksa kami untuk berhenti sejenak di pondok yang ada di pos 2. Jalan makin licin dan genangan makin melebar. Perjalanan turun yang seharusnya lebih mudah dibanding naiknya sepertinya malah lebih sulit daripada naiknya. Jalan tanah yang licin membuat kami harus berjalan ekstra hari-hati agar tidak terpeleset. Dan sehati-hati apapun kalau lengah sedikt saja tetap membuat terpeleset. Seperti yang saya alami saat menuruni jalan berbatu. Saya sudah sangat hati hati berjalan selangka demi selangkah di bebatuan licin dan turunan. Tapi karena mata saya terhalang oleh tas yang saya gendong kedepan (ya, saya membawa 2 tas depan belakang) kahirnya saya terpeleset di salah satu batu bulat. Tidak keras sih tapi cukup membuat saya sedikit shock. Untunglah jalan yang saya lalui bukan di pinggir jurang. Beruntung saya memiliki teman-teman yang sigap sehingga saya merasa aman berada dekat mereka. Korban jatuh bukan cuma saya, karena teman saya yang lain ternyata jatuh di tempat yang lain, tapi untunglah tidak luka parah, cuma lecet saja seperti saya. 

Sesampainya di pos 1 kami beristirahat sebentar untuk saling introspeksi diri dan mengecek apakah ada yang mengalami cederas serius. Untunglah tidak terjadi apa-apa dan perjalanan kami lanjutkan kembali. Dan tidak sampai 30 menit kami sudah sampai di Camp David. Ada beberapa diantara kami yang menggigil karena ternyata bajunya basah, saya juga segera ke toilet karena perut saya sudah tidak tertahan sakitnya. Saking dinginnya saat itu, teh panas pun serasa teh hangat kuku saja, padahal jelas-jelas asap mengepul dari dalam gelas. 

Setelah dikira cukup, kami segera mencari mobil pick up untuk mengantar kami ke Cisurupan karena waktu sudah makin sore. Suasana persahabatan makin terasa hingga disaat pulang. Dengan berdempetan dalam pick up kami bercanda seolah sudah kenal lama. Bau kandang ayam yang terendus di dalam pick up tidak jadi penghalang, malah jadi bahan tertawaan kami haha... Dan sesampainya di Cisurupan saat saya menghidupkan HP saya, banyak pesan masuk dan diantaranya ada yang menawarkan peluang kerja. Alhamdulillah, apakah mungkin in iawal dari move on saya selama 5 tahun? Semoga saja.

Perjalanan pulang yang selalu bersama dari Garut hingga Kampung Rambutan membuat kami bukan hanya teman, tapi juga seperti saudara. Pertemanan kami juga tidak terhenti ke kampung rambutan, karena hingga hari ini kami masih saling melakukan kontak. Malah banyak yang datang ke pemutaran video trip yang saya buat ini, bahkan yang tidak sempat ikut ke papandayan sekalipun. Sungguh pengalaman yang akan membekas. Terimakasih teman teman atas pengalaman berharga ini.

Berikut adalah video nya.

Garut, Jawa Barat (Day 1)

Naik gunung. Ya, itu salah satu yang ingin saya lakukan dari dulu tapi sayangnya belum dapat waktu dan teman yang bisa diajak kesana. Dan penantian itu akhirnya berakhir pada 31 Januari 2015 lalu. Berawal dari ajakan iseng teman dan entah mengapa saya langsung meng-iya-kan ajakannya. Awalnya agak ragu juga karena saya belum pernah naik gunung dan camping sama sekali (yang di pramuka jaman SD ngga saya hitung ya, karena itu kan bukan di hutan beneran). Sedikit bimbang dan akhirnya saya yakinkan diri saya sendiri. Dan akhirnya gunung Papandayan Garut Jawa Barat ini mengawali cinta saya kepada gunung.
Resign, Hiking dan Move On
Hari itu tepatnya tanggal 30 Januari 2015 saya mengakhiri masa kerja saya di kantor lama saya. Setelah 5 tahun mengabdi akhirnya saya putuskan untuk keluar dari sana. Banyak hal yang terjadi, tapi yah... sudahlah. Sepulang dari sana saya langsung menyiapkan segala perlengkapan travel saya. Teman saya selalu mewanti-wanti kalau di gunung itu cuacanya agak extreme, apalagi masih di bulan Januari yang notabene musim hujan. Selain persiapan perlengkapan, saya juga harus membekali fisik saya agar selalu fit. Setelah direpotkan oleh urusan resign kantor, mungkin ini kesempatan saya untuk recharge diri saya agar lebih baik lagi. Persiapan mulai dari pakaian tebal, alas kaki hingga obat-obatan sudah saya persiapkan. Karena saya belum tahu medannya jadi saya memproteksi diri saya lebih dari trip biasa saya jalan-jalan di perkotaan. Lapisan plastik trash bag membungkus isi dari tas saya. Selain itu barang-barang yang rentan basah dan lembab juga saya bungkus dengan kantong plastik satu persatu. Dengan izin orang tua dan Bismillah, saya mulai perjalanan saya.
Malam itu pukul 20.00 kami berkumpul di tempat salah satu teman kami. Setelah berkumpul dan mempersiapkan segala sesuatunya kami langsung berangkat menuju terminal Kampung Rambutan. Perjalan menggunakan sepeda motor beramai-ramai memakan waktu -+ 1 jam. Perjalanan dimulai dengan tawar menawar harga bus hingga didapat harga Rp.50ribu sekali jalan menuju terminal Guntur, Garut. Bus yang kami naiki berangkat pukul 23.00. Perjalanan panjang kami isi dengan ngobrol, diskusi dan akhirnya tertidur hehe... Sekitar 4 jam kemudian kami sudah sampai di terminal Guntur dan bersiap untuk melanjutkan menggunakan angkot. Di terminal kami sempatkan membeli makanan dan ke toilet. Dan, lagi-lagi tawar menawar harga angkot dimulai. Untuk urusan tawar menawar kami serahkan teman wanita kami karena kami para lelaki ngga akan bisa menawar karena jujur... ngga tegaan haha... Setelah harga disepakati kami pun langsung berangkat 30 menit kemudian. Karena jumlah grup kami hanya 8 orang, jadinya kami harus berbagi  dengan grup lain yang jumlahnya 6 orang. Dengan semangat persaudaraan (halah) kami berbincang dengan grup lain tersebut dan... tadaaa... teman baru sudah didapat. Mudah sekali mencari teman disini karena semangat persaudaraan yang tinggi, beda sekali seperti... ah sudahlah.

Perjalanan dari terminal guntur menuju Cisurupan memakan waktu -+45 menit karena jalannya yang sepi dan masih tengah malam. Sesampainya di Cisurupan kami harus melanjutkan menggunakan mobil pick up. Karena sudah mendekati waktu sholat subuh akhirnya kami putuskan beristirahat sebentar, sholat subuh lalu lanjut ke Camp David. Inilah yang saya suka kalau keluar kota, suasana persaudaraan dan sopan santun warganya masih sangat terasa. Ya, walaupun tidak semuanya, tapi kebanyakan masih sangat baik. Selesai sholat subuh kami segera melanjutkan perjalanan ke Camp David menggunakan pick up yang tentu saja setelah melakukan tawar menawar sengit antara wanita super vs abang supir haha... Dan hal yang membuat seru adalah, rombongan pick up kami adalah rombongan yang sama seperti di angkot tadi. Dan inilah awal kami berteman hingga sekarang.

Perjalanan dari Cisurupan ke Camp David sekitar +- 30 menitan. Sepanjang jalan kami di suguhi pemandangan 3 gunung yang melingkari kami. Adalah gunung Guntur, Cikuray dan tentu saja Papandayan. Pemandangan dipercantik dengan terbitnya matahari di sisi dalam gunung Cikuray. Sungguh pemandangan yang Subhanallah. 

Pendakian Perdana Dimulai
Kebersamaan mulai dari awal
Sesampainya di Camp David kami langsung check in dan sarapan sebentar. Saya pun dengan segera menangkap beberapa pemandangan dengan kamera saya. Inilah yang saya ingin dapatkan kalau trip ke gunung. Dengan semangat 45 kami memulai perjalanan naik keatas yang tentu saja dimulai dengan berdoa sejenak untuk keselamatan kami. Langkah mantap kami memulai pendakian ke atas gunung Papandayan. Setelah beberapa meter dari Camp David jalan mulai berbatu walaupun masih landai. Banyak rombongan yang memulai pendakiannya bersama kami. Kiri kanan saya terlihat pendaki dengan backpack besar berwarna warni berjalan mendahului. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan saya dengan sigap mengambil beberapa gambar dengan kamera saya walaupun itu cukup menghambat tapi untunglah teman-teman saya berjiwa narsis tinggi, sehingga mereka rela menunggu saya yang agak lambat ini (maaf ya) untuk tetap bersama berjalan dalam track dengan syarat saya memotret mereka juga haha... Baru beberapa ratus meter saja pemandangan yang disuguhkan sudah sebegini indahnya, bagaimana diatas nanti? Kebetulah cuaca sedang cerah walaupun awan tebal siap menutup langit kapan saja. Langit biru, gulungan awan dan kepulan asap dari kawah belerang membuat foto saya terlihat "mahal". Tapi sayang, keindahan ini sedikit dirusak dengan corat-coret tangan jahil pendaki yang menuliskan namanya di atas batu.

Tetap narsis
Mulai dari jalan berbatu, kini jalan berubah menjadi tanah dan sedikit berlumpur. Untunglah cuaca saat itu sedang cerah jadinya lumpur sudah agak mengeras dan mudah untuk dilewati. Setelah melewati sungai kecil jalan mulai menanjak. Dan sangat disayangkan jalan tanah yang cuma segitu-gitunya harus dirusak dengan sepeda motor yang naik lewat tengah jalur. Jadinya tanah yang masih lembek itu menjadi terbelah dan terbentuklah seperti got di antara 2 jalan kecil. 
Bersama sahabat
Narsis juga ternyata

Amazing view
Kebersamaan

Menikmati awan
Kawah Papandayan


Istirahat dulu ah... capek
Ngasoo...




Pos 2 Pondok Saladah
Setelah beberapa jam kami sudah sampai di pos 2 dan harus melaporkan grup kami kembali. Sebenarnya kami bisa mulai mendirikan tenda disini, tapi karena lokasinya yang sudah mulai terisi banyak tenda akhirnya kami putuskan untuk terus naik hingga ke pondok Saladah. Perjalanan 30 menit lagi yang harus melewati hutan yang cukup rindang. Pemandangan yang saya dapat adalah hutan di sebelah kanan, dan jurang di sebelah kiri. Pemandangan sebelah kiri memang menggoda untuk dilihat karena terlihat pegunungan yang indah, tapi sebaiknya berhati-hati dan tetap fokus pada jalan. Sesampai di pondok Saladah kami seperti di sambut dengan banyaknya tanda yang sudah berdiri di beberapa tempat. Tanpa membuang waktu kami segera mencari lokasi strategis untuk mendirikan tenda. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di antara pohon dengan pertimbangan mempermudah pendirian tenda dan mengurangi resiko terkena angin kencang apabila cuaca buruk. Dan benar saja, baru kami mulai pendirian tenda, rintik hujan juga menambut kami. Kami percepat proses pembuatan tenda supaya barang-barang kami bisa selamat dahulu. Untunglah teman seperjalanan yang kami temui tadi pagi ikut bergabung dan membantu pendirian tenda. 





Makan malam bersama
Dari siang hingga sore hari hujan terus turun walaupun tidak deras. Tidak banyak yang bisa kami lakukan, jadinya kami hanya bisa mengobrol di dalam tenda. Karena bosan kami pun mulai bermaik gaple sampai nyanyi ngga jelas haha... Karena sudah lelah dan hujan belum ada tanda berhenti akhirnya kami putuskan untuk istirahat dulu dan tidur sebentar. Tidur siang di dalam tenda selama hujan gerimis itu ternyata nikmati loh haha... Oh iya, waktu mendirikan tenda sebaiknya dibuat jalur air supaya tidak membuat genangan di bawah tenda. Benar saja, setelah sore hari kami keluar dari tenda dan melihat trik ini berhasil membuang air yang kemungkinan bisa membuat tenda kami basah. Karena sudah sore akhirnya kami membatalkan untuk pendakian ke atas lagi dan berencana untuk naik esok pagi saja. Sepanjang sore hingga malam hanya bisa kami lakukan di sekitaran tenda saja. Ada yang dengar musik, masak, main gaple, apa sajalah yang penting bisa buang kebosanan.

Makin malam suhu pun mulai turun. Jaket tebal pun mulai tidak kuat menahan dingin dikarenakan gerimis menambah turunnya suhu malam itu. Tercatat suhu turun hingga 16 derajat Celcius (setidaknya itu yang terdeteksi di jam tangan saya). Hembusan nafas pun mulai menjadi uap air. Jaket tebal, kupluk hingga sarung tangan mulai dikerahkan. Hingga malam pun tiba kami beristirahat kembali ke dalam tenda. Baru 30 menit kami tidur, hujan mulai deras. Khawatir jalur air yang kami buat terlalu kecil dan bisa membuat basah tenda akhirnya salah satu teman kami dengan sigap keluar dari tenda dan mencari cangkul untuk membuat jalur yang lebih besar. Untunglah saya jalan bersama orang-orang yang sudah berpengalaman. Setelah got yang lebih besar terbentuk, kami menjadi lebih lega dan meneruskan tidur kami di malam dingin itu.




Bagaimana kelanjutan cerita ini? lanjut baca ya...

Ini video buktinya.



Selasa, 06 Januari 2015

Batu Belah Batu Bertangkup

Batu Belah Batu Bertangkup
Aku seperti melihat diriku yang lain di dalam cermin. Diriku yang ranum dan belum mengerti apa-apa. Namun saat mengulurkan tangan meraih bayanganku sendiri, aku selalu dihempas oleh masa lalu. Ingin sekali aku menembus ke balik dinding kaca, menjabat tangan seseorang yang teramat kukasihi dan membawanya kembali ke tempat ini. Namun hanya gigil tangis dan penyesalan yang tak berkesudahan selalu melucuti setiap jengkal ingatan. Aku rindu. Rindu sekali.

***


Aku belum belajar arti sebuah kehilangan. Seperti ketika Ibu kehilangan Ayah. Seandainya aku sudah dewasa saat itu, mungkin aku bisa berbagi pundak kepada Ibu. Bukan sebaliknya, aku seperti belati yang mengoyak jantung ibuku sendiri. Seandainya bisa, aku ingin mengadu kepada Yang Maha Kuasa. Mendatangi gua yang telah menelan ibuku dan meminta pertanggungjawaban darinya.
Ayah meninggalkanku di usia masih tujuh tahun. Kesedihan Ibu masih belum berarti apa-apa untukku. Saat Ibu berhasrat menghibur dirinya dengan pergi ke sungai untuk mencari ikan tembakul, aku dan Kak Inur ikut serta. Sementara ibu dan Kak Inur berbekal tangguk untuk menangkap ikan tembakul yang sesekali berlompatan ke darat, aku hanya bermain di dalam lumpur. Sampai akhirnya aku mendengar suara kegembiraan Ibu karena ada beberapa ikan yang didapat berukuran lebih besar dari yang lainnya.
“Pastilah banyak telurnya!” pekik Ibu dengan wajah sumringah. “Sudah lama Ibu ingin makan telur ikan tembakul,” gumamnya menunjukkan wajah penuh hasrat. Tak ada alasan aku memedulikan ucapannya itu. Terbayang olehku hanyalah secepatnya kembali ke rumah dan menyantap masakan Kak Inur.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam saja ketika Kak Inur terus mengajak Ibu bercanda. Sesekali ia membuat cerita lucu sehingga membuat Ibu terpingkal-pingkal. Aneh, pikirku. Padahal sebelum Ibu memutuskan mengajak kami pergi ke sungai, mereka terlihat sedang menangis. Tapi apa peduliku, karena aku memang belum belajar arti peduli.
Sampai di rumah, Ibu langsung berbagi tugas. Kak Inur menyiangi ikan dan memasaknya. Sedangkan Ibu pergi ke hutan untuk menambah persediaan kayu bakar yang hampir habis. Aku sendiri hanya mendapat pesan agar tidak bermain jauh-jauh dari rumah.
“Jika Ibu belum pulang sementara kalian sudah lapar, tidak perlu menunggu Ibu. Makanlah duluan, tapi sisakan Ibu telurnya sedikit,” pesan Ibu kepada Kak Inur saat di dapur.

***

Setiap kali aku ingin menceritakan kisah pilu masa laluku, aku selalu tak bisa menahan isak tangis. Kisah itu selalu dimulai oleh keganasan tuah Gua Batu Belah Batu Bertangkup yang terkenal. Gua yang memisahkan aku dan ibuku. Tak seorang pun yang berhasil keluar dari sana. Masih kuingat dengan jelas saat aku dan Kak Inur mengejar Ibu yang meluapkan segala kemarahannya dengan memasuki gua itu.
Kak Inur terus berteriak memanggil Ibu agar mengurungkan niatnya. Tak jelas bagiku kenapa Kak Inur terus berusaha menyalahkan dirinya. Kak Inur kemudian menangis. Sementara aku masih meninggalkan isak tangis dengan napas yang menderu karena lelah berlari mengikuti langkah Kak Inur.
Bagiku menangis adalah menangis. Aku belum bisa mengerti apa saja yang bisa membuat orang harus menangis. Aku hanya tahu satu hal, itu adalah ketika Ibu memarahiku. Setelah pulang dari hutan sambil memikul kayu bakar dengan cara mengikatnya dengan kain bahalai yang melilit di punggungnya, Ibu menyusul kami di dapur. Aku senang Ibu sudah pulang. Walau saat itu aku belum bisa memaknai arti kesejukan hadirnya seorang Ibu, aku selalu melihat kegembiraan wajah anak-anak seusiaku ketika melihat ibunya pulang ke rumah.
Aku gembira tanpa harus memikirkan sebabnya. Seperti rasa lapar yang kuderita karena Kak Inur ternyata memutuskan agar kami menunggu Ibu untuk makan bersama. Tapi setelah aku desak dengan merengek-rengek karena tak bisa lagi menahan lapar, akhirnya Kak Inur mengizinkan aku makan lebih dulu. Tanpa memedulikan Kak Inur yang tersenyum melihatku dengan lahap menyantap ikan tembakul beserta telurnya, aku telah menghabiskan jatah makananku dengan sangat rakusnya. Entah kenapa hari itu aku masih merasa lapar. Apalagi rasa telur tembakul masakan Kak Inur masih menari-nari di lidahku.
Kusodorkan kembali piring seng ke hadapan Kak Inur. Aku belum bisa menterjemahkan isyarat wajahnya saat itu. Kulihat ia ragu-ragu menerima piring dari tanganku.
“Ya sudah, kalau kau masih lapar, makan saja punya kakak,” ucapnya menawarkan kepadaku.
Dengan senang hati kulahap makanan jatah Kakak. Caraku menghabiskan makanan piring kedua tak secepat piring pertama. Setelah tandas, perutku sudah mulai terasa kenyang. Namun wangi masakan telur ikan tembakul membuatku ingin merasakannya lagi. Tanpa nasi. Tanpa memikirkan seberapa banyak yang sudah kumakan, aku meminta kepada Kak Inur untuk memberikannya kepadaku lagi. Kulihat masih ada sisa di dalam mangkuk. Aku masih kuat untuk menjejalkannya ke dalam perutku.
Kak Inur sempat menampik tanganku ketika meraih mangkuk. Ia melarangku mengambilnya karena itu jatah Ibu. Aku berusaha meerebutnya dari tangan Kak Inur. Mengikutinya dari belakang saat ia ingin menyimpannya ke atas lemari. Dengan tubuh mungilku tentu saja sulit untuk aku meraihnya.
Aku menangis. Kak Inur mencoba untuk menghiburku kalau besok masih ada waktu untuk mencarinya lagi ke sungai. Dia berjanji akan memasakkannya untukku lebih banyak lagi. Tapi aku tak peduli. Aku menginginkan telur ikan tembakul di dalam mangkuk. Mengenai esok, itu urusan lain lagi. Aku sengaja menangis sejadi-jadinya. Meraung dan bergulingan di lantai. Dengan wajah murung, Kak Inur akhirnya memberikan mangkuk itu kepadaku.
Untuk ketiga kalinya, aku menyantap masakan Kak Inur dengan lahap. “Sedap..!” seringaiku saat menghabiskan telur tembakul terakhir sembari mengusap perut.
Kuperhatikan Kak Inur hanya diam. Ia menjawab sekenanya saat kuajak bicara tentang janjinya untuk mencari telur ikan tembakul esok hari.
“Terimakasih, Kak. Masakanmu enak. Besok lagi ya!” Dengan perut kenyang aku menyandarkan punggungku ke daun pintu. Aku sempat terkejut ketika pintu itu kemudian bergerak. Ternyata Ibu mendorongnya dari luar. Aku bergeser membiarkan Ibu masuk dengan membawa kayu bakar di gendongannya.
“Apakah kalian sudah makan?” tanya Ibu dengan wajah letih. Kak Inur masih tetap diam. Aku kemudian memberitahu Ibu kalau masakan Kak Inur luar biasa enak. Ibu tersenyum dan itu adalah senyum terakhir yang kulihat sebelum ia menanyakan telur tembakul.
“Ibu jadi tidak sabar mencicipi telur tembakul masakan Inur!” Ucapnya segera duduk di meja makan dan meminta Kak Inur segera menyiapkannya.
Aku melihat wajah cemas Kak Inur. Dengan terbata-bata dan menahan rasa takut akhirnya Kak Inur berbicara juga. “Anu.... eee... Pekan menghabiskannya, Bu.” Kak Inur memandang ke arahku. “Sudah Inur larang, tapi Pekan terus memaksa,” lanjut Kak Inur menunjukkan tiga piring yang telah kosong.
Tak pernah kulihat Ibu semarah itu. Wajah Ibu memerah. “Aduh Pekan...!!! Tadi kan Ibu sudah pesan untuk menyisakan walau cuma sedikit?! Kamu tidak kasihan ya sama Ibu?! Kalian berdua memang tidak sayang sama Ibu! Buat apa Ibu terus merawat kalian jika kalian saja tidak sayang dengan Ibu. Ibu lebih baik pergi!” Bentak Ibu marah dengan urat leher yang mengencang.
Aku tak mengerti. Bukankah masalahnya cuma telur tembakul? Yang sudah-sudah Ibu tak pernah marah meski aku menghabiskan makanannya.
Namun Ibu rupanya tak main-main. Ia tumpahkan amarahnya dengan melempar ketiga piring seng yang diletakkan Kak Inur di atas meja. Kami tersentak. Ibu berbalik, bergegas ke pintu dan membukanya, lalu berlari.
Aku bingung. Aku panik. Aku sedih. Kak Inur segera mengejar. Ia berteriak-teriak memanggil Ibu. Aku pun berlari menyusul Kak Inur. Air mataku berjatuhan, tanpa tahu alasannya.

***

Aku seperti melihat diriku yang lain di dalam cermin. Diriku yang ranum dan belum mengerti apa-apa. Sosok dalam cermin itu adalah Dayah, buah hatiku bersama Kak Ridwan.
Ah, Kak Ridwan. Mengapa kau begitu cepat pergi? Mengapa kita tidak bersama-sama menyaksikan masa-masa pertumbuhan anak tunggal kita? Menyaksikannya bertambah dewasa hari demi hari, bertambah mengerti akan perasaannya dan perasaan orang lain.
Kini, semua seperti terulang lagi. Hanya saja, akulah kini yang menempati posisi sebagai Ibu. Seperti Ayah dulu, Kak Ridwan dipanggil Yang Maha Kuasa. Kepergiannya meninggalkan sedih yang mengiris, dan daftar hutang pada juragan Sarman, si lintah darat. Satu-satunya yang tersisa dan masih bisa diharapkan adalah rumah yang kami tempati sekarang ini. Itu pun jika terpaksa, aku akan menjual rumah ini untuk membayar hutang suamiku. Uang sisanya akan kugunakan untuk menyewa rumah dan melanjutkan hidup bersama Dayah.
Sekarang aku tahu bagaimana rasanya kehilangan, perasaan ketika dulu Ibu ditinggal Ayah. Rasa sakit begitu menggigit. Aku tahu bagaimana rasanya. Aku tahu kenapa Ibu dan Kak Inur menangis hari itu. Seperti halnya diriku yang tak mampu menahan rasa tangis. Dengan cepat kuusap air mataku yang masih mengalir di setiap lekukan pipi. Aku tak ingin di dalam diri Dayah yang masih begitu putih, merasakan pahit getir yang dirasakan oleh ibunya.
“Dayah perlu kertas lagi, Ma! Ada kapal yang harus diberangkatkan segera.”
“Buat apa, Dayah?” tanyaku memerhatikan sebagian pakaian Dayah telah basah. “Ibu sudah melarangmu agar tidak mandi hujan.”
Dayah tak menggubris kalimat terakhirku. Baginya kertas jauh lebih penting. “Untuk membuat kapal-kapalan, Bu. Tadi Dayah sudah membuatnya, tapi tenggelam,” sahut Dayah dengan suara cadelnya. Dayah yang begitu lucu dan menggemaskan selalu saja mampu membuatku tersenyum. Dialah kini satu-satunya pelipur lara dan sepi yang menyayat.
“Ibu tidak punya kertas, Dayah. Kau tidak harus membuatnya dengan kertas,” jawabku agar Dayah berhenti merengek-rengek. Akh, tunggu dulu. “Kau bilang sudah membuat kapal-kapalan. Lalu dari mana kau mendapatkan kertas, Dayah?” tanyaku penasaran.
“Dapat di lemari, Ma...”
Di lemari? Ya Tuhan! Aku panik. Dengan tergesa-gesa aku kembali menuju lemari kaca dan membukanya. Deg! Jantungku mendesir. Di kepalaku seperti ada yang berputar-putar. Dayah telah mengambil surat tanah untuk kapal-kapalan.
Dengan langkah cepat aku menghambur ke luar rumah. Hujan masih menyisakan tanah basah. Setelah berusaha mencari, kutemukan sisa kapal-kapalan kertas yang telah basah dan sobek di setiap lipatan kertasnya. Kuambil kapal-kapalan itu dan berharap masih bisa diselamatkan. Namun aku merasa hancur ketika bagian bawah kapal-kapalan kertas itu telah robek dan tulisannya pun tak dapat lagi dibaca.
Aku menangis dalam hujan. Luruh bersama tetes-tetes air sambil membayangkan juragan Sarman akan menyita rumah kami. Aku tak bisa lagi menjualnya dengan harga yang pantas.
Kali ini aku membiarkan Dayah melihat ibunya sedang menangis sesenggukan. Aku tak bisa lagi menyembunyikannya. Entah sejak kapan ia berdiri di mulut pintu sambil menatapku dengan wajah polosnya.
Sesekali terdengar guntur menggelegar. Ada kekuatan lain memaksa diriku untuk mengucapkan sesuatu. Ingin sekali rasanya agar guntur itu melumat tubuhku segera.
“Kenapa berdiri di sana, Bu? Di mana kertas yang kuminta?”
Amarah yang menggelegak seperti menggantikan rasa dingin dalam tubuhku. Ingin sekali rasanya kutumpahkan semua amarahku kepada gadis kecil di depan situ. Namun ada kekuatan lain yang membuatku tak berdaya melakukannya. Dengan cepat aku berlari dan menenggelamkan Dayah dalam pelukanku. Tangisku merembesi rambutnya yang dikepang dua.
Kini aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Surat tanah itu kini telah hancur. Kudekap Dayah lebih erat. Menciumi pipinya. Mendekapnya lagi.
“Ibu berjanji akan mencarikanmu kertas sebanyak mungkin, Dayah,” ucapku menahan isak tangis dalam hati yang remuk. Saat kupandangi matanya yang berkaca-kaca, aku seperti kembali melihat diriku yang begitu ranum saat mengejar Ibu ketika berlari menuju Gua Batu Belah Batu Bertangkup.
Kutuntun Dayah masuk ke dalam rumah. Memberinya pakaian kering. Menyisir rambutnya dengan pelan. Setelah aku berganti pakaian, kubaringkan Dayah di tempat tidur dengan berhati-hati.
Walau Dayah tak mengerti apa yang terjadi, namun aku yakin Dayah dapat merasakan ketika aku menyelimuti tubuhnya dengan pelukan. Kelak ia akan tahu bahwa aku telah mengandaikan hatiku seperti Batu Belah Batu Bertangkup yang lain. Walau terbelah, aku telah menangkupkan semuanya di dalam hatiku. Aku akan selalu menjaga dan menyayangi setiap harta yang telah tersimpan di dalamnya. Di situ ada Ibu, Ayah, Kak Inur, suamiku dan Dayah, anakku. []

Banjarbaru, 14 Oktober 2013

(Media Kalimantan, Minggu, 4 Januari 2015)

Minggu, 04 Januari 2015

Stand By Me Doraemon (2014)

Sepertinya ini film bioskop terakhir yang saya tonton di penghujung tahun 2014 ini. Rasa penasaran sejak trailernya di putar beberapa bulan sebelumnya yang membuat saya yakin untuk menontonnya. Dan akhirnya di akhir Desember lalu saya baru dapat kesempatan menontonnya di bioskop walaupun saya harus menontonnya di bioskop "bukan" langganan saya. Sangat jarang saya mau nonton film animasi di bioskop dan lebih untuk menunggu di TV saja. Walaupun harus berdesakan dengan penonton yang mayoritas sekeluarga, saya tetap teguh untuk tetap menontonnya. Dan sepertinya tidak teralalu mengecewakan.

Diawali penggambaran karakter konyol Nobita yang pemalas dan cengeng, sampai di ceritakan awal pertemuan Nobita dan Doraemon. Bahkan saya saja yang menonton serial Doraemon tiap minggu pagi jam 8 sejak SD (wah, ketauan deh umur saya haha) baru tau awal mula mereka bertemu. Dan memang di komiknya (ya, dulu saya juga pernah koleksi komiknya) juga ngga dijelaskan detil bagaimana mereka bertemu. Tapi ya sudahlah, intinya mereka bertemu dan berusaha merubah masa depan Nobita supaya... ah sudahlah, nanti spoiler, hehe..

Penggambaran karakter yang lucu dan konsisten dengan versi 2D nya membuat kita bernostalgia dengan tokoh-tokohnya. Semua tokoh utama (Nobita, Doraemon, Shizuka, Giant, Suneo, Jaiko, bahkan orang tua dan guru Nobita) dihadirkan disini. Dan yang membuat film ini menjadi lebih real adalah penggambaran lingkungan perumahan Jepang tempo dulu. Terlihat ibu-ibu sedang ngobrol, tukang sampah di pagi hari, sampai tukang pos dengan sepeda juga ada, haha.. detil sekali, Sound effect nya agak lebay tapi keren. Alat-alat yang pernah diceritakan sepanjang seri di TV dan komiknya secara garis besar di keluarkan. Tapi rasanya kurang puas kalau harus menonton film ini dengan durasi yang agak pendek, yaitu cuma satu setengah jam. Karena banyak konflik yang pastinya bisa diceritakan, tapi harus diringkas seringkas-ringkasnya.

Untuk bagian drama, mungkin sebagian besar orang yang "tersentuh" adalah yang masa kecilnya sangat kenal dengan Doraemon. Sebenarnya (menurut saya) bukan jalan ceritanya yang membuat tersentuh, tapi karena nostalgia dengan karakternya yang membuat kita ngga mau berpisah dengannya. Dan sudah bisa dipastikan mereka adalah orang yang lahir di tahun 80 - 90an haha.. Yah, tokoh Doraemon ini mengingatkan kita oleh seorang sahabat yang selalu membantu disaat susah, dan juga bisa diajak "nakal" kalo mau. Dalam satu setengah jam para penonton dibawa kembali ke 20 tahun yang lalu saat mereka kenal baik dengan robot kucing ini. Film ini cukup menggelikan sakaligus mengharukan untuk siapaun yang menontonnya. dengan ini saya memberi nilai 7,8/10 (Cocok untuk koleksi) dan rekomen untuk siapapun yang ingin merasakan bagaimana memiliki sahabat sejati.