Senin, 04 Mei 2015

Explore Loksado: Hari 2, Pemandian Air Panas Tanuhi, Air Terjun Kilat Api, Bendungan Batu Laki

Bendungan Batu Laki, Padang Batung, HSS
Hari 2: Pemandian Air Panas Tanuhi, Air Terjun Kilat Api, Bendungan Batu Laki -- Pagi ini kami disuguhkan sarapan dan setelahnya langsung menyusun rencana. Bang Yudis kami hubungi untuk menanyakan rencananya. Katanya Bang Yudis, ia dan teman-temannya mau ke Bukit Langara, tapi itu pun mereka harus menunggu satu teman lagi. Maka jelas kami tak bisa mengikuti rencana Bang Yudis.
Ide selanjutnya adalah ke Air Terjun Rampah Menjangan.
Masalah 6: kami tidak punya pemandu jalan. Ansari, keponakanku itu sebenarnya pernah ke sana, namun ia tak hapal jalannya.
Lalu Ansari mengenalkan kami pada tetangganya yang masih seumur SD, atau mungkin SMP, yang sudah tiga kali ke Air Terjun Rampah Menjangan dan dengan mantap mengatakan hapal jalannya.
Masalah 7: anak itu tak punya motor sendiri, siapa yang membawanya? Dua motor kami sudah penuh.
Rencana ke Air Terjun Rampah Menjangan pun terpaksa dibatalkan. Masalah 6 dan masalah 7 teratasi...
Ansari menjelaskan alternatif-alternatif lain. Lalu diputuskanlah: Pemandian Air Panas Tanuhi, Air Terjun Kilat Api, dan bendungan di Desa Batu Laki, kec. Padang Batung.

Lalu tanpa buang waktu lagi kami berangkat ke tujuan pertama kami: Pemandian Air Panas Tanuhi. Tidak sulit menemukannya karena aku sudah pernah sekali ke tempat tersebut. Untuk masuk kami harus membayar retribusi sebesar Rp 3.000,-. Katanya itu tarif anak-anak, tarif dewasa sebenarnya Rp 5.000,-, tapi karena ini bukan akhir pekan tak apalah pakai tarif anak-anak. Saat kami masuk (bahkan sampai kami pulang), pengunjung lain di sana hanya ada dua orang, sepasang suami-istri yang setelah kami berbincang-bincang ternyata sang istri adalah dosen di STIKES Sari Mulia.
Di sini kami mencoba mandi di kolam air panas. Waww... panas sekali. Badan rasanya seperti direbus.
Pemandian Air Panas Tanuhi, Loksado, Kalimantan Selatan

Kami juga mencoba berenang di kolam renang yang saat itu kotor sekali. Kamu tidak bisa protes air kolam renang yang kotor dengan hanya membayar Rp 3.000,-.
Setelah cukup lama di sana, kami berkemas. Di parkiran, sesudah membayar biaya parkir sebesar Rp 5.000,- per motor, aku bertanya pada si penjaga parkir lokasi Air Terjun Kilat Api.
"Ah, dekat sekali. Paling satu menit sampai. Jalan kaki pun bisa."
"Baiknya bagaimana, Mang? Pakai motor atau jalan kaki?" tanyaku.
"Terserah aja. Tapi kalau pakai motor di sana kamu nanti bayar parkir lagi."
Kami pun memutuskan jalan kaki saja.
Waw, sudah 15 menit lebih kami belum juga sampai. Barangkali nilah satu menit versi penduduk sini.
Untuk sampai ke air terjun tersebut kita harus menyeberang sungai. Dulu ada jembatan, namun saat ini jembatan tersebut sudah roboh dan tidak ada lagi. Kami pun berjalan menyeberangi sungai yang dalamnya di atas lutut. Bodohnya kami karena saat itu tidak terpikir menyeberang menggunakan lanting yang sudah disediakan di sana. Akibatnya celana basah sampai ke paha.
Air Terjun Kilat Api, Loksado, Kalimantan Selatan

Namun semua itu, semua keluhan itu, mendadak sirna saat Air Terjan Kilat Api tampak di depan kami. Yang ada di pikiran hanya tersisa satu: foto-foto.
Air Terjun Kilat Api, Loksado, Kalimantan Selatan

Setelah puas, barulah kami berjalan kembali ke tempat motor kami diparkir di depan Pemandian Air Panas Tanuhi.
Saat itu sudah tengah hari. Di sebuah warung teh kami mampir untuk mengisi perut. Lalu perjalanan berlanjut. Tri dan dr. Teguh mendahului di depan.
Cukup jauh untuk akhirnya kami menyadari Tri dan dr. Teguh tidak ada lagi di depan kami. Mereka tak mungkin terlalu laju untu hilang dari penglihatan. Satu-satunya hal yang terpikir adalah: mereka salah belok!
Iqbal yang saat itu menyetir di depan kusuruh memutar balik. Di persimpangan, aku menelepon Tri.
"Di mana kalian? Lama sekali kami nunggu tidak ada muncul-muncul?" cerocos Tri langsung di telepon.
"Di mana?! Kalian salah jalan! Cepat, balik!" sahutku.
***
Kami kembali singgah untuk makan nasi, dan sekitar jam 2 siang kami telah kembali ke rumah sepupuku, kami langsung berbaring dan tidur. Capek.
***
Tepat jam 3 sore, aku membangunkan teman-temanku. Masih ada satu spot yang harus didatangi: Bendungan di Desa Batu Laki. Ansari dan adiknya, Ujah, mengantar kami ke lokasi tersebut. Meskipun cukup jauh dan jalan yang tidak begitu mulus, namun hasilnya sungguh luar biasa. Pemandangan di sini sungguh menakjubkan. Dan hebatnya, masih belum banyak yang tahu tempat ini. Tempat sebagus ini.
Biasa, acara foto-foto mengisi waktu di sana.
bendungan di Desa Batu Laki, kec. Padang Batung, kalimantan selatan
bendungan di Desa Batu Laki, kec. Padang Batung, kalimantan selatan

Kemudian sebelum pulang, kami singgah di jembatan dan kembali foto-foto.
bendungan di Desa Batu Laki, kec. Padang Batung, kalimantan selatan

Jam 5 sore, barulah kami kembali ke rumah sepupuku.
Saat kami kembali, sepupuku yang lain sudah menunggu di sana. Sore itu kami kembali disuguhi makan. Aku menambah, nasinya enak sekali.
Selesai makan, barulah kami berpamitan, berterimakasih atas bantuan dan layanannya, serta minta rela jika ada yang salah. Kami pun pulang, mencoba jalan pintas yang ternyata jauh lebih dekat.
Di daerah Rantau, kami kembali singgah di rumah pamanku untuk numpang buang air dan shalat magrib. Di taman Martapura lagi-lagi kami berhenti guna mengistirahatkan sistem muskuloskeletal tubuh kami. Di sini kami cukup lama karena tempatnya yang nyaman. Hingga hampir jam 12 malam barulah perjalanan pulang kami lanjutkan. Jam satu malam kami tiba di Banjarmasin, dengan perasaan senang, capek, dan foto-foto yang siap dipamerkan.
***
Malam Minggu
Pemenang Lomba Selfie dengan Novel Sandi Firly 'Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu' diumumkan. Aku tak heran kalau fotoku ternyata menang.
Malam Senin
Kehidupanku kembali berlangsung seperti semula: LP (Laporan Pendahuluan), Askep (asuhan keperawatan), jurnal beserta analisisnya, dan resume keperawatan...[]

Explore Loksado: Hari 1, Bukit Langara

Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan
Hari 1: Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan -- Akhirnya aku punya satu minggu libur. Seperti biasa, aku dan Tri langsung merencanakan jalan-jalan. Setelah diskusi yang alot, akhirnya kami memutuskan tujuan liburan kali ini adalah Bukit Langara di Loksado, Kamis, 30 Mei 2015. Pertimbangannya adalah tugas laporan yang belum selesai dan belum dikonsulkan, serta dana yang terbatas.

Masalah 1: kami berdua tidak ada yang tahu jalan menuju Bukit Langara, dan jelas tidak mungkin pergi ke sana tanpa membawa penunjuk jalan.
Lalu dihubungilah Bang Yudis, orang yang mungkin tahu jalannya dan biasanya mau diajak. Ternyata Bang Yudis pun tidak tahu, ia belum pernah ke sana tapi katanya ia sudah tahu jalannya.
Masalah 1 teratasi sebagian.
Tri lalu mengajak dr. Teguh, dokter asal Padang yang tugas pengabdian di Banjarmasin selama satu tahun, dan suka jalan-jalan. Dr. Teguh tidak bisa mengemudikan motor, apalagi punya motor, jadi sudah pasti ia nebeng dengan Tri.
Masalah 2: motorku tarikannya sudah lemah, dan tak mungkin sanggup menempuh jalan di Loksado yang penuh tanjakan. Aku berharap bisa pakai motor bang Yudis, tapi katanya motornya dipakai keluarganya.
Jadi, kami harus mengajak dua orang lagi agar aku dan Bang Yudis bisa menumpang. Beberapa orang dihubungi, namun hasilnya nihil. Bahkan teman Tri yang ia hubungi justru bilang ingin ikut, tapi mau nebeng dengan Tri. Ajakan itu pun langsung kami batalkan. Aku coba-coba mengajak Iqbal, beruntung, ia mau.
Masalah 2 teratasi sebagian.
Sekarang tinggal mencari yang bisa membawa Bang Yudis. Beberapa teman masih terus diajak, namun tidak ada yang berhasil. Hingga malam Kamis...
Bang Yudis mengabari Tri bahwa ada temannya yang bisa, tapi sore. Bagaimana?
Kami tak mau menunggu sampai sore. Akan banyak sekali waktu yang terbuang. Akhirnya kami memutuskan nekat berangat pagi, tanpa ada penunjuk jalan. Modal nekat kami adalah petunjuk dari sebuah postingan blog yang menceritakan pengalaman pemilik blog itu pergi ke Bukit Langara: di persimpangan menuju Batu Licin ada mesjid, nah di belakang mesjid itulah jalan masuk ke Bukit Langara. Sementara untuk jalan menuju Loksado tinggal bertanya dengan orang, beres.
Jam 9.30, Tri datang bersama dr. Teguh. Hanya dengan diinspeksi, dapat didiagnosa masalah 3: helmku yang satu, yang dipinjam dr. Teguh, tertinggal di rumah temannya di Dharma Praja.
Lalu kami susunlah intervensi: sebelum perempatan Jl. Veteran menembus lewat gang agar tidak ketemu polisi, lalu di Jl. Pramuka berbelok menuju jalan tembus ke Dharma Praja. Setelah dilakukan implementasi, hasil evaluasinya berhasil. Kami tidak ketemu polisi hingga dr. Teguh sudah mengenakan helm.
Masalah 3 teratasi.
Lalu di depan SMAN 7, ban motor Iqbal bocor. Masalah 4: ban bocor.
Ajaibnya, hanya beberapa meter dari situ, ada tukang tambal ban. Ban pun ditambal.
Masalah 4 teratasi.
Perjalanan berlanjut. Beberapa kali singgah untuk isi bensin, makan, shalat, menunggu Tri dan dr. Teguh yang menunggu di belakang--yang ternyata Tri dan dr. Teguh juga menunggu aku dan Iqbal karena dikira mereka kamilah yang di belakang, jam 4 sore kami akhirnya sampai di Kota Kandangan.
Aku mengajak teman-teman berhenti di sebuah warung teh untuk istirahat sejenak, padahal maksud utamaku adalah untuk main Ingress karena di situ ada portal yang harus kuhancurkan dan akusisi.
Di warung teh itu ada juga para bapak. Pas sekali, pikirku. Dengan mereka aku bertanya jalan menuju Loksado, dan dengan senang hati mereka menjelaskan, termasuk pilihan-pilihan jalan lain yang bisa ditempuh. Kami berterimakasih banyak pada mereka.
Masalah 1 teratasi sebagian.
Kurang lebih 20 menit istirahat, perjalanan kembali dilanjutkan. Dan tidak sampai 1 jam, kami sudah tiba di pertigaan menuju Batu Licin di Kec. Loksado. Sesuai petunjuk, di sana ada mesjid. Kami bertanya dengan salah seorang penduduk setempat, orang itu lalu menunjukkan jalannya, sekaligus menjagakan motor kami.
Masalah 1 teratasi.
Orang itu juga menceritakan pada kami bahwa pagi tadi ada kru My Trip My Adventure yang shooting di bukit itu. Ah, seandainya kami datang pagi tadi....
Kemudian dimulailah perjalanan mendaki Bukit Langara. Bukit tersebut sangat curam, jauh lebih curam dari bukit-bukit yang pernah kudaki. Hanya sebentar, napas sudah ngos-ngosan. Pertama masih tanah dan batu, lalu di atas hanya ada batu-batu yang tajam. Batu tajam + curam. Benar-benar medan yang luar biasa.
Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan

Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan

Namun semua itu lunas ketika sekitar setengah jam kemudian kami tiba di puncak. Pemandangan yang menakjubkan terpampang di depan mata. Ada Bukit Kentawan yang memiliki tiga puncak, serta Sungai Amandit yang berkelok di bawahnya.
Kami langsung foto-foto sepuasnya.
Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan
Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan


Aku segera berfoto dengan novel Sandi Firly terbaru yang mengisahkan seorang anak Loksado: Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu. Foto itu akan kuikutkan lomba Selfie dengan novel Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu yang diselenggarakan di FB-nya bang Sandi.
baca novel di Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan

Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan

Bukit Langara, Loksado, Kalimantan Selatan

Sampai adzan magrib berkumandang, barulah kami turun.
Orang yang tadi menjagakan motor kami naik menjemput karena takut kalau-kalau terjadi apa-apa. Sampai di bawah kami membayar orang itu secara suka rela.
Sekarang, masalah 5: di manakah kami akan menginap? Seandainya bersama Bang Yudis, kami bisa menginap di rumah temannya yang katanya tidak jauh dari sini.
Yang kupikirkan kemudian adalah sepupuku yang rumah beliau juga tak jauh dari sini. Rumah beliau di Desa Durian Rabung, aku pernah ke sana sekali, dan sudah lama sekali. Kurang lebih 15 menit, kami tiba di Desa Durian Rabung, Kec. Padang Batung. Di sana aku hanya perlu bertanya pada penduduk, dan mereka langsung tahu orang yang dimaksud, dan menunjukkan rumahnya.
Suami sepupuku dan anaknya, Ansari, terkejut dengan kedatanganku yang tanpa pemberitahuan. Kami berempat langsung disambut dengan hangat, secangkir teh hangat, serta kue yang tinggal pilih saja, karena sepupuku itu punya warung.
Masalah 5 teratasi.
Setelah minum teh dan berbincang-bincang, kami mandi di sungai. Selesai mandi, nasi dan lauk tersaji. Malam itu kami tidur nyenyak setelah beberapa putaran bermain domino.

Bersambung...






Have a Good Time in Bangkok & Pattaya, Thailand (Day 1)

Ndah, Saya, Amel, Dudi yang motret
Bulan April lagi... jalan-jalan lagi... lalala... yeyeye... #lho? -- skip -- Alhamdulillah masih ada rejeki buat liburan lagi. Setelah SG dan MY, sekarang saya mau ngebolang yang lebih jauh, yaitu TH (Thailand). Tapi karena saya maunya jalan santai dan murah tapi dapet banyak (maaf, saya backpacker ala kadar) jadinya sejak Juli tahun 2014 saya sudah mulai browsing tiket, penginapan dan segala sesuatu yang saya butuhkan disana. Mulai dari transportasi, makanan, sampe tempat belanja yang cihuy. Seperti yang sudah saya lakukan setiap mau pergi keluar negeri (saya juga sudah sempat tulis di blog ini, cari sendiri ya..) biasanya segala keperluan itu saya tulis lengkap di itinerary. Kebetulan negeri gajah putih ini masih asing untuk saya karena informasinya jarang saya dapatkan di web, tv dan radio (eh, radio ngga deng). Di tambah konflik internal mereka yang diberitakan beberapa hari sebelum saya booking tiket. Agak ragu juga awalnya memilih TH sebagai destinasi berikutnya, tapi kalo ngga dicoba ngga akan tau kenyataannya kan?

Kasian Dudi duduk diseberang
Setelah sudah siap dengan tiket dan pengetahuan soal kota Bangkok dan Pattaya, saya mulai membuka ajakan trip bareng lagi di website www.backpackerindonesia.com  dan www.kaskus.co.id. Sepertinya kota Bangkok jadi banyak pilihan beberapa traveller di banding kota tahun lalu yang saya datangi (baca : Kuala Lumpur). Banyak pertanyaan dan permintaan di forum yang saya posting, tapi kenyataannya? Yang jadwalnya sama cuma 3 orang. Saya sudah komit, berapapun yang ikut akan tetap berangkat walaupun sepait-paitnya saya jalan sendiri. Dan terpilihlah 3 komplotan traveller yang memang siap ikut bareng saya ke negeri seberang. Teman seperjalanan saya tahun lalu Dudi tetap setia menemani saya suka maupun duka di trip kali ini. 2 orang lainnya sebut saja Ndah dan Amel yang kebetulan nekat ikut trip bareng 2 pria kesepian belum dikenal ini haha... Yang saya salut dari beberapa teman baru saya ini, mereka ternyata juga pergi sendirian dari lokasi mereka tinggal. Sebut saja Ndah yang jauh-jauh dari Jepara lalu merantau (sebentar) ke Jakarta untuk langsung menuju Thailand bareng saya. Kalo mau kenal Ndah bisa klik blog nya disini : https://gajahndut.wordpress.com

Diapit pria pria tangguh :P
Agak sepi nih, mau ikut?

Jangan lupa isi ini ya..






















Setelah berkenalan beberapa bulan melalui WA dan email, akhirnya penantian itu datang juga. Berangkat dari rumah pukul 4 pagi dan akhrinya kami bertemu di Terminal 3 Soekarno Hatta. Dan belum lengkap rasanya kalo ngga main ceng-2an (walaupun baru kenal) hahaha... Dengan begitu saya bisa tau, apakah teman trip saya kali ini bakalan asik atau ngga. Walaupun agak canggung awalnya, tapi keadaan mengalir aja tuh. Saya jadi kenal seorang fans grup Rock bernama Amel dan seorang petualang bernama Ndah. Teman saya makin banyak, dan Insya Allah umur saya makin panjang, amin. 

Pertama Menginjakkan Kaki Di Negeri Gajah Putih
Baru nyampe nih
Pukul 6.55 kami mulai mengudara (bukan radio ya...) dan syukurlah ngga pake daly-delay an kayak maskapai sebelah. Itu lah yang saya suka selama beberapa tahun ini selalu pakai Air Asia untuk trip saya karena ketepatan waktu, informasi yang jelas dan pelayanannya cukup baik. Tapi yang paling penting harganya sudah tersertifikasi oleh dompet saya. Perjalanan 3 jam dari CGK ke DMK saya lewati dengan nonton film di tablet saya dan numpang molor sedikit karena saya kurang tidur takut ketinggalan pesawat. Waktu turun di airport Don Mueang ngga terlalu istimewa, malah saya sempat menyebutnya gedungnya seperti asrama, karena model nya jadul haha,,, maaf ya warga Bangkok. Tapi setelah turun dari pesawat dan di suguhkan fasilitas yang ternyata lebih baik dari T3 CGK, rasanya saya akan tarik kata-kata "asrama" saya tadi haha.. 




Stasiun BTS nya bersih mirip di SG
Tanpa membuang banyak waktu kami langsung mengikuti alurnya mulai dari cek imigrasi, ambil bagasi dan cari transportasi ke kota. Yang saya baca di banyak blog, ada beberapa pilihan transportasi yaitu bus dan taksi. Pasti sudah tau pilihan saya yang mana kan? Ojek! #duh garing. Menurut admin hostel yang saya tempati, saya bisa menggunakan bus no 105 untuk langsung ke hostel, tapi ngga seru kalo pake cara gampang, saya mau pake cara yang "kurang" gampang, jadi saya pilih bus A1. Saya pikir bus A1 sebagus bus transJakarta, tapi nyatanya ngga juga. Bus Bianglala atau PPD AC rasanya masih lebih bagus. Harga bus A1 dari DMK ke Mo Chit seharga THB 30 (agak mahal memang) kami lalui selama +-25 menit. Pemandangan dari airport ke stasiun BTS Mo Chit mengingatkan saya pada daerah Kebayoran Lama, Jakarta. Panas, agak gersang, jembatan layang, dan pengendara motor terliaht beberapa kali. Sekilas saya berpikir "Yah, jangan2 kayak jalan tahun lalu ke KL, ga beda jauh sama Jakarta." Sesampainya dari turun bus, kami melanjutkan ke tengah kota pakai BTS (Bangkok Mass Transit System). Dari BTS Mo Chit harusnya saya pilih ke BTS National Stadium, tapi karena masih oon... saya beli tiketnya ke BTS SIam. Hampir aja kami nyelonong naik kereta yang ke National Stadium, bisa-bisa kita ngga bisa keluar karena salah beli tiket. Untuk kali pertama, maafkan saya teman-teman hihi... 

GBK-nya Bangkok
Akhirnya sampai juga di National Stadium setelah turun di SIam dan beli tiket lagi ke Nat. Stadium. Karena belum tau lokasi halte bus terdekat kami pun berjalan sampai halte yang jauhnya +- 700 meter dari pintu masuk Nat. Stadium. Panas yang menyengat tak menyurutkan semangat kami yang sebenarnya sih sudah lapar juga karena sudah siang haha.. Setelah sampai di halte dengan bercucuran keringat dan air mata saya pun masih ragu nomor bus yang harus kami naiki untuk sampai ke Khaosan lokasi hostel kami. Saya baca katanya banyak warga Bangkok yang ngga ngerti English sama sekali. Biar ngga malu saya tes dulu nih.. Ada seorang bapak2 sipit lagi nunggu bus juga, kaliatannya sih kayak bukan asli Thailand karena sepanjang jalan saya lihat penduduk asli sini ga sesipit dan seputih bapak ini (sotoy level 8). Excuse me, do you speak English?. Bapaknya jawab "Ya.." ngga yakin sama jawabannya, saya tanya lagi "Do you speak English?" kata bapaknya "Ya.." mungkin di pikir tuh bapak : iye guweh bisa, ga percaya amat sih?. Lalu saya mengeluarkan hp saya dan menunjukkan foto Democracy Monument yang kebetulan kami niatnya mau foto-foto disitu dulu sih. "Do you know this place? What bus to get there?" trus si bapaknya manggut-manggut sambil jawab "Ah.. number 47 or 15 (ah, nambeh foti seben o fiftiyn).  Dengan berisik kendaraan lalu lalang dan Thai-English yang masih asing di kupign saya akhirnya saya paham. Saya pun berterimakasih dan ngga lama bus 47 nongol. Langsung aja kami naik, eh bapak itu ikut juga ternyata haha.. Waktu naik bingung juga, harga bus nya berapa nih? bayarnya sama siapa? kuda makannya apa? #lho? Ngga lama seorang ibu-ibu pakai seragam putih hitam bawa kaleng panjang menghampiri dan orang-orang bayar ke ibu iitu. Saya ngga bisa kihat berapa uang yang dikasih orang-orang untuk bayar bus, karena saya belum hafal pecahan koin disana. Biar ngga bingung saya kasih THB 10, mudah-mudahan cukup. Eh taunya masih kembali recehan. Saya dikembalikan uang THB 3,5 dan tiket kertas yang setelah ditilik lebh dalam (halah apa coba) tertera tulisan 6.5. Oh, harganya cuma THB 6,5 untuk jauh dekat. Memang sih bus nya ga AC tapi coba deh iseng bandingin harga bus itu sama Metro Mini yang di Jakarta, lebih mahal mana?

Cuek aja lah...(Democracy Monument)
Seperti biasa, kalo di tempat baru saya selalu mengandalkan GPS saya. Apalagi kami juga kelupaan ngambil map di airport. Dan buat jaga-jaga pun saya pakai jurus kayak di halte lagi, menunjukkan foto Democracy Monument dan minta turun disitu. Dengan english seadanya "Excuse me, this place yah.." dan ibu-ibu itu manggut-manggut. Emang sih ibu kondektur ngasih tau udah sampe monumen, tapi dia pake bahasa Thai, mana sayah ngerti bu? Untung saya sigap #prett  dan lihat monumen dari jendela dan segera berdiri menunggu halte berikutnya untuk turun. Dan inilah bangunan yang selfiable pertama di Bangkok yang kami pake buat selfie ga jelas haha.. Di tengah panas, jalan raya, kami nekat nyeberang supaya bisa keliatan jelas monument nya dan foto-foto disana. Mungkin orang2 sana nganggap kami norak, bodo amat lah, gak kenal ini hahaha....

Mencari Makan Di Bangkok
Semangat nyeberang
Selesai selfie ga jelas, kami lanjutkan jalan menuju hostel. Dasar sok tau, ga mau liat peta atau GPS kami pun akhirnya kesasar lumayan jauh. Panas, capek, laper, ngga ngerti tulisan cacing, nanya orang juga susah karena ngga bisa English dan paling parah ngga bisa baca huruf alfabet. Oh no! we're lost! Eits... tapi tunggu, ternyata dari sebanyak itu yang cuek sama kami, ada loh yang mau bantuin kita cari lokasi hostelnya. Seorang wanita setengah baya dengan English cadel yang susah di tangkap, tapi mau berusaha bantuin kami. Karena kami kesulitan untuk ngerti ucapannya akhirnya dia bilang "Ok, follow me" Hah? folow dia? duh, aman ga nih? bayar berapa nih? inget loh ini Bangkok. Tapi setelah jalan beberapa puluh meter akhirnya ketemu juga. "You follow this street, and turn left. Ok? Bye" lalu ngeluyur pergi. Hah? that's it? dia nganterin kami for free? Oh my GOD. Emang rejeki anak soleh, baru beberapa jam kami di Bangkok udah ketemu orang baik hati. Dan setelah ikutin petunjuknya baru keliatan SUNETA di pinggir jalan yang ternyata udah kami lewatin karena salah ambil jalur jalan. Duh, maaf ya teman-teman #jilid2.

Spicy Garlic Fried Chicken THB 75 (bumbunya asyem)
Setelah selesai dengan urusan check-in hostel, kami segera cari makan karena sudah siang banget dan jadwal kami harusnya sudah pindah ke tempat lain lagi. Cari makan siang yang ada logo HALAL nya di jalan Khaosan ngga segampang cari warteg di tengah Jakarta. Ada sih fast food merk internasional macam KFC, McD, Burger King dan Subway merajalela, tapi kok ga ada logo HALAL? Cari makan india, kok kayaknya ragu ga cocok sama lidah & perut ya? Makanan timur tengah, kok ga cocok sama isi dompet ya? AKhirnya kami coba cek ke Burger King ternyata ada bacon ah skip. Subway juga gitu. McD ga ada bacon sih tapi masih ragu. KFC? menunya ayam semua sih, tapi gimana ya? Dengan tekad cari makan murah dan HALAL, akhirnya kami dengan BISMILLAH masuk ke KFC. Kami disuguhkan menu serba ayam. Dan yang unik, pelayannya bernama Abdulloh yang ternyata cucok cyin (melambai gitu deh cyin..) yang membuat kita agak yakin semoga makanan disini HALAL. Dan ternyata mbak..eh, mas Abdulloh bisa bahasa melayu cyin gara-2 denger kami diskusi mau makan apa. Dengan baik hati dan tetap cucok kami pun dilayani walaupun beberapa kali ralat menu karena sudah habis haha.. tapi ngga apa2, Abdulloh tetap cucok cyin.

Explore Kota Bangkok
Victory Monument
Alhamdulillah, perut udah keisi, tenaga keisi lagi, waktunya explore kota Bangkok. Lokasi berikutnya adalah Victory monument. Kali ini ngga boleh salah lagi. Kami kembali ke Nat. Stadium pakai bus 47, lanjut naik BTS ke Victory Monument. Cita-cita mau cobain jajan buah di Bangkok akhirnya kesampaian walaupun awalnya susah nyarinya. Buah potong kami temukan setelah jalan sekitar 300 meter menuju Santhipap Park. Dan ternyata rasanya... biasa aja hahaha... Saya beli melon THB10, Dudi beli mangga (agak asem) THB15 dan Ndah beli jambu klutuk paling mahal THB30 (ga tau di bohongin abangnya apa ngga). Setelah nyantai sebentar sambil liat ABG Bangkok joging, kami lanjutkan perjalanan ke daerah Chit Lom mau lihat 4 face Buddha. Setelah beberapa kali pindah lokasi kami jadi terbiasa karena memang sudah terbiasa naik transport macam MRT atau Monorail di SG dan MY. 

Kelakuan ABG Bangkok, jalan bukan pada tempatnya

Kalo di Jakarta jadi santapan pak polisi nih
Melon THB10, Mangga THB15, Jambu THB30

Santhipap Park sore hari

Jambu Bangkok, sama aja kayak jambu Jakarta

Four Face Buddha
Sampai di depan Erawan Hotel sudah banyak orang yang berkumpul untuk berdoa di depan patung emas. Uniknya lokasi persembahan ini tepat di pinggir jalan. Jadi semua orang bisa lewat dan lihat kegiatan keagamaan disini. Tanpa mengganggu jalannya ibadah saya pun mencoba mengambil foto, bukan cuma upacaranya aja sih... yang berdoa juga saya foto hihi... Setelah puas lihat kegiatan keagamaan dan sesak karena menghirup banyak asap dupa akirnya kami lanjutkan pindah lokasi. Terminal 21 menjadi pilihan berikutnya karena katanya mall ini keren banget. Keren karena di desain mirip airport dan tiap lantainya punya tema masing-masing negara. Tapi emang dasar saya bukan anak mall, jadi saya lihat nya ya biasa aja tuh karena mall Jakarta bisa lebih bagus dari ini. Tapi ada 1 hal yang bikin saya betah di mall ini, apalagi kalau bukan WIFI gratisan haha... Tapi untuk bisa akses wifi disini ga sembarangan, kita harus registrasi dulu di reseosionis yang seragamnya mirip pramugari dan memperlihatkan passport untuk di tukar kode wifi. Awalnya males juga sih, tapi begitu lihat mbak-mbak pramugari..eh resepsionis nya jangankan passport, KTP, SIM, BPJS juga saya kasih deh hahaha...

Tuh, rame kan...
Sebenernya wifi gratisnya bisa sampe 2 jam, tapi makasih deh udah kenyang haha.. Kami pun langsung lanjut ke lokasi dekat sana. Sebenernya agak deg-degan juga sih lewat red district takut kena scam atau apalah. Tapi karena berame-rame hajar aja lah. Kami memasuki sebuah gang bernama Soi Cowboy. Bisa cek di google apa aja isinya. Saya ngga berani ambil foto disitu, udah grogi duluan hahaha... Tapi sayangnya belum terlalu malam jadinya Soi Cowboy masih sepi, ya udah deh kita numpang lewat aja. Karena sudah capek dan ingin istirahat kami kembali ke hostel sambil cari makan. Dengan rute yang sudah kami hafal seperti siang tadi jadi ngga ada hambatan dan lancar jaya. 

Malam hari kehidupan di Khaosan Road mulai rame. Dari jauh aja udah kedengeran musik adu kencang sampe ngga jelas yang mana yang mau didengar. Mulai dari tukang kaos, tattoo, daging babi panggang, bir, apa aja ada disini. Karena niatnya cuma cari makan, kami langsung masuk ke KFC dan memesan nasi dan ayam aja untuk dibawa ke hostel. Kami pun lewati Khaosan yang menurut saya mirip dengan Legian di Bali tapi disini backpacker nya lebih variatif. Banyak bahasa yang lewat di kuping saya, ngga tau itu bahasa Thai, Jepang, Korea, Arab, tapi kebanyakan Inggris. Dengan sisa-sisa tenaga kami sampai di hostel dan segera beristirahat untuk kembali berpetualang keesokan harinya. Bagaimana keseruan kami di hari 2? Lanjut baca ya disini...



Rabu, 04 Maret 2015

Ingress, Game yang Mengubah Hidup Saya

game Ingress

Sungguh, saya bukan orang yang suka game. Sebisa mungkin dalam hidup saya tidak melakukan hal-hal yang membuang waktu seperti ngegame. Ketika umur SD teman-teman saya berjam-jam di rental PS, saya justru membaca buku di rumah. Ketika orang-orang asik dengan Get Rich dan Clash of Clans di gadget android mereka, saya justru browsing membaca karya-karya sastra. Hidup saya benar-benar serius.
Saya langsung mengabaikan ketika Aya, teman saya saat di pesantren dulu menceritakan tentang game seru yang dimainkan Qori, teman saya yang lain saat di pesantren.
Aya menjelaskan bahwa game tersebut menggunakan dunia nyata dan si pemain harus mendatangi tempat-tempat tertentu untuk mengambil alih tempat tersebut. Kedengaran sangat menarik, dan sulit dipercaya. Ya, saya tidak percaya ada game semacam itu, tidak hingga kemudian Qori langsung yang menceritakannya. Namun bahkan saat Qori sendiri yang menjelaskan tentang game itu saya tetap mengabaikannya.
Dan hidup saya terus berlanjut, dengan serius.
Lalu pada suatu pagi Ahad, satu bulan yang lalu, saya merasa benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bukan, saya bukannya tidak punya pekerjaan yang harus dilakukan. Tugas laporan praktik di rumah sakit menunggu untuk ditulis, pakaian kotor menumpuk di sudut kamar, motor mio kesayangan sudah tak jelas warnanya karena cipratan becek, dan ada buku-buku bagus yang ingin sekali saya baca.
Saya hanya stress, perlu sesuatu yang baru yang mungkin menarik guna melepas stress, lalu saya kirimlah sebuah pesan melalui jejaring BBM pada Qori, sesuatu yang beberapa minggu kemudian akan sangat saya sesali karena akhirnya saya justru semakin stress.
"Apa nama game yang kamu tawarkan dulu?"
"Ingress," jawab Qori. "Pilih kubu biru, biar kita battle," tambahnya.
***


Saya tidak lantas mencari game tersebut di Play Store alih-alih mengunduhnya. Saya masih bertahan dengan pendirian tidak akan membuang-buang waktu hanya untuk sebuah game yang tidak jelas apa manfaatya untuk hidup saya.
Saar dinas di rumah sakit, saat itu sedang tidak ada tindakan yang dikerjakan, teman-teman di kelompok asik membicarakan game COC. Saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun agar tetap bisa bicara yang tak jauh meleset dari tema, bertanyalah saya pada mereka.
"Kalian tahu game Ingress?"
Mereka bingung dan menggeleng. Sudah diduga.
Lalu saya jelaskanlah seingat saya. "Di game ini kita saling mengambil alih kekuasaan suatu tempat. Tapi tempatnya menggunakan dunia nyata. Biasanya berupa tugu, patung, dan sebagainya."
Salah satu dari mereka langsung tertarik, dan langsung mencarinya.
"Ini?" Tanyanya sambil menunjukkan layar hp.
Saya, yang belum mencobanya tentu saja bingung, tapi langsung saya iyakan, sambil diam-diam mendownloadnya juga.
"Wah, OS hapeku tidak mendukung."
Saya lega, itu menghindari pertanyaan lebih lanjut yang sudah tentu saya tidak bisa menjawabnya.
Download selesai, saya buka game tersebut, lalu muncullah tahap-tahap pendaftaran, di tahap memilih kubu, saya memilih biru seperti saran Qori (pilihan yang saya sesali, karena di Banjarmasin sudah banyak pemain biru).
Lalu, mulailah babak baru dalam hidup saya....
Babak di mana banyak hal menjadi berubah: jam tidur, rute menuju rumah sakit, tempat makan, waktu sampai ke suatu tempat, kecepatan habisnya bensin, dan yang paling mencemaskan adalah tugas-tugas laporan yang tak lagi bisa ditoleransi. Ingress, mengubah hidup saya...

Selasa, 24 Februari 2015

Melihat Kecantikan Danau Biru di Pengaron, Banjar

Danau Biru, Simpang Empat Pengaron, Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar


Ahad, 8 Februari 2015, pukul 10 pagi, lewat satu jam dari waktu yang telah disepakati, Tri dan dr. Teguh datang ke kontrakanku. Sekarang giliranku menjemput Bang Yudis, sang penunjuk ke jalan kebenaran, yang rumahnya hanya sekitar 100 meter dari kontrakanku. Kemudian, meluncurlah kami berempat dengan aku membonceng Bang Yudis, dan Tri membonceng dr. Teguh.
Tujuan kami adalah Danau Biru yang ada di daerah Simpang Empat Pengaron, Kabupaten Banjar. Danau yang sebenarnya merupakan bekas galian tambang batu bara. Di perempatan Jl. Veteran, kami berbelok ke kiri, ke jalan menuju Sungai Tabuk (jalan dalam) karena menurut teori jalan tersebut lebih dekat dibanding Jl. A. Yani (jalan luar). Namun di luar perhitungan, kami terjebak macet lantaran ada acara perkawinan sementara lebar jalan sangat sempit. Maka tak ada pilihan lain selain ikut merayap di antara kepadatan kendaraan, debu, dan cuaca panas yang membakar kulit. Setelah sekian lama, akhirnya kami terbebas dari macet. Kami pun melaju di atas jalanan lapang.
Namun hal itu tidak berlangsung lama,  selanjutnya kami disambut genangan banjir sehingga menahan dua motor yang kami tunggangi untuk melaju. Dengan tarikan gas seadanya tadi, akhirnya sampailah kami di kota intan, Martapura. Kerumunan santri dengan peci, sarung, baju putih, dan kitab yang terpegang di depan dada seolah menyambut siapa saja yang datang ke kota ini.
Perjalanan terus berlanjut. Sekitar satu jam dari Kota Martapura, tibalah kami di Simpang Empat Pengaron, di sini kami berbelok ke kanan, ke arah Benteng (dinamai demikian karena di sana terdapat benteng peninggalan Belanda).

Kami berhenti untuk membeli bensin dan nasi bungkus. Aku dan Bang Yudis bertukar posisi, ia yang di depan, aku yang di belakang. Dari sinilah kehadiran Bang Yudis, sang penunjuk jalan, dibutuhkan. Dengan mengandalkan ingatannya, kami meneruskan putaran roda motor.
Kami berbelok memasuki kawasan pertambangan. Beberapa ratus meter, tampaklah danau biru. Tapi ternyata danau biru yang dimaksud bukan itu, itu danau biru kecil, sedangkan yang kami tuju lebih besar dari itu. Kami berkali-kali berbelok, dan kemudian, terjadilah apa yang kutakutkan: Sang penunjuk jalan lupa akan jalan... Tapi kemudian dengan instingnya, Bang Yudis memilih-milih jalan. Ajaib, Si Danau Biru akhirnya ditemukan!!!
Danau Biru - Pengaron - Banjar

Ketika kami tiba, di sana sudah banyak pengunjung meski tidak terlalu ramai. Dan sesuai teori, di mana ada keramaian, ada pula dua hal ini: warung, dan parkir liar. Kami memarkir motor, duduk di warung, memesan es teh, dan membuka nasi bungkus yang tadi kami beli. Setelah itu semua, barulah kami berjalan ke Danau Biru untuk foto-foto. Sementara kami ngobrol dan makan tadi, tampaknya pengunjung terus bertambah, jadi untuk foto-foto di titik yang bagus kami harus bergantian.
Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar


Puas berfoto-foto, dan itu perlu berjam-jam, barulah kami sepakat untuk pulang.
Aku tidak hapal jalan pulang, maka sang penunjuk jalan kembali menyetir di depan. Lalu sesuatu yang mencemaskan kembali terjadi, jalan yang kami lalui sekarang terasa asing, tidak seperti jalan kami masuk tadi. Tapi kami tetap meneruskan. Lagi-lagi ajaib, kami keluar lewat jalan berbeda!!!
Di perjalanan pulang kami singgah di Kota Martapura untuk mengistirahatkan tubuh dan menikmati suasana tamannya, lalu singgah di warung makan dengan menu khas Nasi Samin. Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami kembali lewat 'jalan dalam' karena berdasar info dari sosial media, Jalan A. Yani tepatnya di daerah bandara macet total akibat banjir. Sementara di 'jalan dalam', sesuai insting Bang Yudis, banjir tadi siang telah surut. Tepat ketika adzan magrib berkumandang dari mic musalla, kami sampai di kontrakanku, dengan membawa foto-foto yang siap dipamerkan. :D
Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar

Danau Biru - Pengaron - Banjar