Kamis, 08 Mei 2014

Have a Good Time in Kuala Lumpur, Malaysia (Day 2)

Bukit Bintang pagi hari
Pagi hari jam 7 saya sudah terbangun dari tempat tidur saya. Segera saya mandi supaya ngga antri kamar mandi karena saya sempat lihat di meja resepsionis hostel sudah fully booked hari itu. Saya pikir karena fully booked akan banyak orang bangun pagi untuk mandi tapi dugaan saya salah. Karena kebetulan turis yang menginap kebanyakan dari barat, maka ngga banyak yang bisa bangun pagi. Seperti kita tau perbedaan waktu di barat dan di daerah timur itu diatas 5 jam. Jadi ngga heran kalo mereka masih jetlag dan selalu bangun siang. Tapi karena saya tpe backpacker yang ga mau rugi, buang-buang waktu sama aja buang uang. Jadinya jam 7 itu udah dibatas ambang kesiangan buat saya haha. Setelah mandi jam 7, dilanjutkan sarapan jam 7.30 dan basa-basi sebentar. Jam 8.30 kami baru keluar dari hostel dan segera menuju KL Sentral untuk menuju destinasi pertama di hari kedua kami.

Terpesona dengan Batu Cave
Patung Dewa Murugan
Monyet penyambut kami
Batu Cave menjadi tujuan utama saya selama di Kuala Lumpur. Saya sudah melihat beberapa foto dan video di internet yang membuat saya penasaran dengan tempat ini. Monyet, burung, patung emas besar dan lansdcape megah membuat saya terpancing mendatangi tempat ini. Jujur saja, saya lebih suka lokasi bersejarah, landscape unik dan modern kalau saya berpergian kemanapun. Makanya, kenapa saya bilang Batu Cave ini jadi tujuan utama saya bahkan ini tujuan favorit saya di KL. Sesampai di KL Sentral kami segera menuju terminal KTM komuter. Untuk tiket satuan harganya cuma RM 2, tapi karena saya sudah punya kartu Touch 'n Go jadinya tinggal tap saja. Syukurlah masih terlalu pagi dan ngga terlihat antrian berdesakan di komuter line. Andai komuter line di Jakarta sebersih, sedingin dan seharum disini mungkin orang yang pakai kendaraan pribadi bakal berkurang. Perjalanan dari KL Sentral ke Batu Cave cuma memakan waktu +-20 menit dan pemandangan yang disuguhkan juga cukup menarik. Perbedaan suasana perkotaan sampai ke pinggiran terlihat jelas. Batu Cave adalah pemberhentian terakhir komuter. Begitu keluar stasiun, langsung terlihat bukit besar dan patung emas yang berdiri kokoh seolah menyambut kami. Kami segera turun dari stasiun dan begitu menuju pintu masuk sudah banyak penjual souvenir dan minuman menawarkan barang dagangannya. Makin masuk kedalam makin saya terkejut karena sekumpulan burung dan monyet seolah bermain-main di halaman depan kuil. Terus terang saja, saya terkejut bukan karena takut, tapi karena kegirangan melihat mereka bebas bermain dan bisa sangat dekat dengan saya. Mengingatkan saya pada Monkey Forrest yang ada di Ubud, Bali. Sebaiknya lepaskan kacamata, anting dan aksesoris menggantung yang mudah diambil monyet disini. Walaupun monyet disini terlihat jinak, tapi lebih baik nggak memancing mereka untuk bertindak nakal.

Patung Anoman hijau
Narsis dikit
Patung yang menyambut kami pertama kali adalah patung besar Anoman berwarna hijau. Saya agak heran kenapa penampakan Anoman disini berbeda dengan Anoman di Bali ya? Di Bali kita biasa melihatnya berwarna putih, kenapa disini hijau? Entahlah, saya kurang mengerti sejarah agamanya, saya hanya bisa mengagumi saja. Selama disini sebaiknya kita menghormati orang-orang yang sedang ibadah disini, seperti ngga sembarangan masuk kuil, tertawa keras dan ngga berbicara kasar/jelek disini. Walaupun disini masuk tempat wisata, tapi kesakralan kuil masih tetap terjaga disini. Saya teringat waktu ke kuil Buddha di Singapore, kami diperbolehkan masuk selama kami sopan. Ah, indahnya toleransi disini. 

Berfoto di depan patung Dewa Murugan

Sampailah kami di pintu utama Batu Cave. Patung emas dewa Murugan menyambut kami dengan tongkatnya. Di beberapa kerumunan tiba-tiba saja saya mendengar bahasa yang ngga asing untuk saya, beberapa bicara bahasa Jawa dan bahasa Jakarta. Wah, bisa-bisa ketemu tetangga saya disini haha. Di halaman tengah pintu utama ada atraksi beri makan burung yang sangat diminati anak-anak, karena biasanya burung akan berdatangan waktu mereka mengambil makanan di tangan. Saya juga sempat melihat burung berputar-putar di tengah halaman, sungguh penampakan yang jarang terjadi. Dan FYI kita harus berhati-hati di setiap langkah, karena banyak kotoran burung di jalan. Bukan hanya berhati-hati menginjak jalan, tapi juga kalau kita "beruntung" akan di anugerahi "krim putih" dari langit alias kotoran burung haha.


Ritual berikutnya setelah bermain dengan burung, monyet dan berfoto di depan dewa Murugan, adalah naik dan menghitung jumlah tangga menuju atas bukit. Ada 3 jalur tangga disini untuk memudahkan kita naik dan turun. Karena tangganya terbuat dari semen/beton sebaiknya tetap berhati-hati diwaktu hujan karena bisa saja sangat licin. baru di hitungan 60, saya sudah diberkahi "krim putih dari langit". Untung saya memakai topi, jadi ngga langsung kena kepala saya. Segera saya
Hati-hati banyak burung berseliweran
mengambil tissue basah dari tas saya dan membersihkannya. Bukan cuma saya, ternyata teman saya juga diberkahi yang sama di kaki celana kanannya waktu dia melangkah naik. Kami pun hanya bisa tertawa karena skor kami 1-1. Makin tinggi udara makin tipis dan membuat menanjaki anak tangga menjadi lebih berat. Untuk yang belum terbiasa naik tangga sebanyak ini, sebaiknya berhenti di bagian yang lebih lebar setiap beberapa anak tangga. Kalau kira-kira ngga bisa naik dengan cepat, sebaiknya bergeser ke pinggir untuk menyediakan tempat orang yang mau mendahuli kita. 

Patung Murugan Tertinggi
Pemandangan dari atas Batu Cave
Setelah 272 anak tangga barulah kita merasa lega karena kita berhasil super amazing. Kita bisa melihat orang yang awalnya semangat lalu kelelahan di tengah jalan, ada yang sudah naik turun lagi beberapa kali (biasanya untuk keperluan joging) dan ada juga yang walaupun lambat tapi tetap konsisten naik. Mungkin disini kita bisa melihat beberapa karakter orang dan memahami sebaik apakah kita? Kami lanjutkan masuk ke dalam dan segera tercium bau dupa, keringat dan sedikit bau sampah. Ya, bau itu bercampur di dalam gua. Ternyata cobaan "anak tangga" belum selesai sampai di angka 272, karena kita masih harus naik anak tangga lagi. Saya ngga menghitungnya kali ini, tapi sekitaran 30an anak tangga lagi. Disitu juga masih terdapat 2 kuil lagi. Saya ngga tau apa bedanya kuil dibawah, dan keduanya diatas sini. Saya juga sempat mengambil melihat ibadah yang sedang berlangsung dan memberikan sedikit donasi yang kotak amal depan kuil.
sampai di atas bukit dan bisa melihat kebawah yang terlihat

Makan dulu...
Puas bermain di atas akhirnya kami putuskan untuk kembali turun dan segera menuju destinasi berikutnya. Kembali berhadapan dengan 272 anak tangga lagi tapi kali ini turun. Terasa agak ringan dibandingkan naik. Dan begitu sampai di bawah, penjual ras India dengan mainan menawarkan dagangannya kepada kami, dia bilang : "Mas, mainan buat adiknya. Sayang adik." What? dia panggil saya apa? Mas? Kok dia bisa tau saya dari Indonesia? apakah karena saya pakai baju garis merah? Saya hanya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya kami mau aja membeli souvenir, tapi rasanya ngga ada hal yang unik disini dan akhirnya kami skip belanja disini dan segera menuju lokasi berikutnya karena waktu sudah agak siang.


Awas banyak "krim" berjatuhan
Sebelum naik
Sedikit lagi sampe!













Jalan panjang ke Genting Highlands
GPS selalu menemani saya
Rencananya, setelah Batu Cave kami menuju ke Putrajaya. Tapi karena cuacanya lagi hujan gerimis sepanjang hari makanya kami tukar jadwalnya menjadi ke Genting Highlands dulu dan mengganti jadwal Putrajaya keesokan harinya. Setelah kembali ke KL Sentral kami langsung mencari loket tiket bus menuju Genting Highlands. Bingung mencari, akhirnya kami bertanya ke bagian informasi. Seperti yang saya pernah bilang sebelumnya, di KL hari rajin bertanya karena papan petunjuk kurang lengkap atau malah tersembunyi. Dengan sopan saya bertanya "Excuse me, where I can purchase bus ticket to Genting Highlands?" tapi sayangnya entah karena mood sedang jelek, kelelahan atau memang tipikalnya, jawabannya cuma singkat dan agak judes : "Upstairs, turn left!" saya sampai bertanya 2 kali karena kurang jelas "I'm sorry?" dan kembali dengan jawaban yang sama "Upstairs, turn left!" Saya sambil tersenyum hanya menjawab "OK, thank you." dan segera ngeloyor keatas. Setelah mencar-cari dengan agak kesusahan akhirnya ketemu juga. Letak loket nya terpencil agak ke pojok. Kami segera memesan untuk tiket pulang pergi supaya ngga repot beli disana. Bus ke Genting cuma disediakan 1 bus per 30 menit. Jadi kalo kita beruntung kita bisa dapat tiket yang jam nya berdekatan dengan waktu pemesanan. Jam di tangan saya baru jam 12.20 waktu KL, tapi untuk jam segitu sudah full jadinya baru bisa dapat tiket jam 13.30. Kami membeli tiket pulang pergi beserta tiket Skyway alias kereta gantung. Karena masih cukup lama akhirnya kami makan siang dulu disitu. Burger King menjadi pilihan karena dimana-mana rame. Budget makan siang yang agak over untuk kali ini, tapi ya harus bagaimana lagi?

Saya pilih ini
RM 10/pc mau?
Sedang asik makan, tiba-tiba lengan kanan saya dicolek seorang pemuda ras China. Saya menoleh ke arahnya, dia hanya tersenyum dan memberikan kartu berisi tulisan berbahasa Melayu dan Inggris. Intinya dia menjual souvenir seharga RM 10 untuk yayasan bisu tuli. Souvenirnya sih ngga istimewa, cuma ukiran kayu kecil untuk gantungan HP, tapi karena saya merasa iba akhirnya saya beli juga. Setelah saya memilih souvenir dan membayarnya, dia mengucapkan terimakasih dengan isyarat tangannya sambil tersenyum. Tapi setelah beberapa menit kemudian saya merasa : Apakah saya sedang ditipu? Teman saya pun tertawa dan bilang : Ahaha.. mau aja lo ditipu!. Saya pun hanya tertawa dan menjawab : "Ya udah lah, yang penting gue ikhlas ngasihnya, itu urusan dia sama Tuhan". Kami pun kembali tertawa sambil menghabiskan makan siang kami yang agak mahal itu.

Tiket bus ke Genting
Jam tangan menunjukkan jam 13.10 kami segera menuju tempat bus genting di bawah KL Sentral. Bus nya berwarna merah maroon dengan tulisan resort world dan iklan acara di genting. Ngga seperti stasiun monorel atau komuter, di parkiran bus ini kami cuma disediakan 2 kursi panjang berkapasitas 20 orang aja, jadi yang ga kebagian kursi ya siap-siap berdiri nunggu bus. Bukan cuma nunggu bus yang bikin ga nyaman, karena lokasinya di dalam ruangan jadinya asap knalpot dan bus dan mobil yang lewat bercampur membuat mata perih dan dada sesak. Saya sampai menutup hidung saya pakai sapu tangan karena sesak dan harus menunggu 20 menit lagi. Sambil menunggu bus, saya melihat ada sederet loket tiket dan salah satunya adalah loket tiket bus ke genting. Tau disini ada loketnya kenapa kami susah payah cari didalam? haha.. Sekali lagi perhatikan segala hal detail di KL.

Perjalanan menuju Genting
Perjalanan dari KL Sentral ke Genting Highlands memakan waktu 1 jam. Jadi yang mau kesini sebaiknya persiapkan waktu lebih banyak karena perjalanan dan jadwal keberangkatan yang ga bisa dipastikan. Perjalanan melewati jalan tol dan naik ke bukit seperti halnya perjalanan tour ke daerah puncak, Bogor. Jalan yang berkelok-kelok dan suguhan pemandangan perbukitan membuat perjalanan menyenangkan. Setelah 1 jam perjalanan, ternyata kita masih harus naik lagi ke atas bukit menuju resort. Karena kami masih pertama kali kesini, jadinya kami cuma ikuti orang-orang lain saja karena ngga tau harus menuju kemana lagi. Tapi ternyata setelah mengikuti mereka, kami sampai di depan toliet. Loh kok? toilet? Mana jalan menuju kereta gantungnya? Makanya hati-hati kalo mau ikutin orang haha. Masih agak kebingungan kami lihat ke sekeliling mencari papan petunjuk. Ada 1 papan petunjuk yang kurang jelas, tertulis : Genting Skyway 3rd floor, this way. Papan itu tertulis di luar pintu yang tertutup. Pintu itu bukan pintu masuk melainkan seperti pintu keluar emergency di mall. Apa iya kita masuk dari sini? Karena ngga ada seorang pun masuk lewat pintu itu. Celingak-celinguk kami melihat keadaan. Apa mungkin kita dijemput lagi untuk naik ke atas? Kami mencari penumpang yang 1 bus bersama kami, tapi rasanya sudah ngga ada lagi. Lho, kemana mereka pergi? Lewat mana? Setelah lama mondar-mandir seperti anak hilang akhirnya saya mencari orang yang bisa ditanyai. Ada loket bus disitu, saya bertanya lokasi Skyway dan ternyata ada di pintu kecil belakang resto. What? Bagaimana bisa pintu sepenting itu ketutupan resto? 20 menit yang terbuang sia-sia. Kami segera menuju pintu itu dan mengikuti papan petunjuk. kali ini kami harus berhati-hati melihat papan petunjuk karena kurang jelas arah dan petuunjuknya. 

Kereta gantung alias Skyway
Kami dibawa petunjuk itu menuju 2 pintu lift menuju lantai 3. Begitu sampai di lantai 3 barulah terlihat ada kehidupan. Tempatnya seperti mall tapi agak sepi dan di jendela terlihat kereta gantung yang sedang di antri puluhan orang. Karena kami ngga dapat tiket kereta gantung waktu beli di KL Sentral, akhirnya kami harus membeli di loket terdekat. Ternyata loketnya ngga bersebelahan dengan pintu kereta gantungnya. karena sudah ngga percaya sama papan petunjuk, kami langsung bertanya ke security sitau aja. Ternyata harus turun 1 lantai dulu dan beli tiketnya. Haduh, ga praktis banget sih? Repot! Setelah ber repot-repot ria naik turun tangga, akhirnya kami ikut antrian kereta gantung. Begitu sampai di petugas tiket, ada 2 orang (ngga tau turis atau warga lokal sana) menyerobot antrian kami. Tiket kami sudah di tangan petugas dan menunggu dipersilahkan lewat. Melihat ada pengantri yang menyelak antrian, petugas itu marah dan berteriak. "Wait! wait! wait! Tunggu sekejap!" saya yang saat itu sedang berada didepan petugas hanya bisa terdiam dan melihat ke penyusup itu. Setelah penyusup itu kena omelan, kami pun dipersilahkan masuk. Wah, ternyata ngga di Jakarta ngga di KL masuk aja ada yang nyelak antrian. Semua mata tertuju ke petugas itu.

1 Kereta gantung bisa diisi sampai 4 penumpang dan siapa cepat dia dapat. Begitu naik kereta bergerak pelan sampai di satu waktu akan menanjak kecepatan tiba-tiba bertambah dan wush! kami serasa naik roller coaster berkecepatan pelan haha. Waktu naik adalah saat-saat yang mendebarkan karena di bawah kami adalah hutan belantara dengan pepohonan lebat disertai kabut tebal. Agak ngeri melihat ke bawah kami terus menanjak dan rintik hujan menambah kengerian kami. Sekitar +-20 menit kami sampai di resort dan mengakhiri kengerian kami. Sebenarnya sih seru karena pemandangannya keren, tapi bercampur ngeri karena ketinggian dan cuaca yang hujan. Sampai di genting resort kami langsung disuguhi mainan anak ala Timezone dan toko souvenir. Makin kedalam cuma sekumpulan cafe mewah dan hotel berbintang yang saling menunjukkan gengsinya masing-masing. OK, kami kemari bukan untuk belanja, makan atau menginap tapi mau cari suasana. Di dalam gedung yang mirip seperti Trans Studi Bandung terlihat roller coaster indoor dan panggung kecil di tengah ruangan dan sedang berlangsung pertunjukan sulap. Ngga ada yang istimewa disini. Saya mencari pintu menuju taman bermain outdoor ternyata sedang ditutup. begitu kecewanya kami setelah melihat theme park outdoo nya sedang di renovasi. Ngga ada roller coaster, ngga ada danau buatan, ngga ada taman Jurassic. Cuma 1 kata untuk genting sat itu ; MENGECEWAKAN!

Tipuan konyol di Ripleys
Karena bingung ngga tau mau kemana lagi akhirnya kami menghibur diri di musim Ripleys Believe it Or Not yang harga masuknya RM 22. Dari sekian banyak yang diperlihatkan hanya ada 1 atraksi yang menurut saya keren, yaitu lorong lingkaran di pintu keluar. Ngga sampai 2 jam kami disana dan segera memutuskan untuk kembali ke KL Sentral. Perasaan kecewa dan agak lelah kami harus menikmati perjalanan bus ke KL Sentral dengan agak mual karena pak supir rada ugal bawa bus nya.

Bus pulang udah nunggu
Sesampai di KL Sentral kami langsung pulang ke Bukit Bintang dan mampir untuk membeli souvenir. Pilihannya jatuh ke Sungei Wang yang ngga jauh dari pintu keluar monorel Bukit Bintang. Sungei Wang ini sangat mirip dengan Lucky Plaza di Singapore. bententuk mall ITC yang menjual banyak souvenir dan barang elektronik. Sayangnya ngga banyak souvenir khas malaysia disini, jadinya ngga jauh dari beli kaos, pajangan dan coklat. Melihat harganya yang cukup murah saya pun membeli beberapa souvenir tapi ternyata saya kurang perhitungan. Saya lupa besok masih ada 1 hari lagi dan ga mungkin saya menghabiskan uang saya sekarang, padahal belanjaan saya ga mungkin dikurangi lagi bisa-bisa orang rumah kecewa saya ngga bawa apa-apa sepulang nanti. Melihat saya kekurangan uang cash, si penjaga toko melihat peluang lain. Dia menawarkan pembayaran pakai kartu kredit atau bias dengan Rupiah atau Singapore dollar. Karena uang rupiah saya cuma cukup untuk ongkos taksi pulang besok jadinya saya memilih opsi bayar pakai kartu Kredit. Yah, ternyata kebobolan juga kartu saya. +- RM 70 atau sekitar 250ribuan terpakai dari Kartu Kredit saya. Tak apalah, karena akhirnya orang rumah, tetangga dan beberapa teman kedapatan oleh-oleh dari saya termasuk subscriber saya yang beruntung di quiz Youtube saya.

Mencoba Makan di Jalan Alor
Street Food @ Jalan Alor
Jalan Alor
Cukup lama juga kami berbelanja karena mencari barang yang bagus dan tawar menawar yang cukup alot. Tak terasa jam 21.45 dan toko sudah mau tutup. Segera kami kembali ke hostel hanya untuk menaruh belanjaan di loker karena kami penasaran untuk makan malam di Jalan Alor yang tersohor itu. Ragu dengan diri sendiri akhirnya kami menanyakan letak Jalan Alor oleh cleaning service hostel. Dan ternyata letaknya cuma 2 blok di belakang hostel. Kami berjalan menyusuri beberapa fast food antara lain Mcd, Burger King dan KFC, lalu menyeberang ke kiri dan voila! tebentang Jalan Alor dengan lampion dan ribuan orang di jalan. Jam menunjukkan pukul 10 malam lebih tapi suasananya masih rama saja. kami mulai meyusuri jalan dan mencari makanan Halal. FYI, untuk yang harus makan makanan Halal harus selalu cek & ricek logo Halal di resto tempat kita makan karena disini banyak sekali makanan non-Halal. Memang sih ngga banyak makanan Halal disini, tapi setidaknya masih ada. Karena penasaran teman saya ingin mencoba es krim Turki. Bentuknya lebih liat dan ngga gampang cair. Saya mengharapkan ada atraksi kecil seperti di TV, tapi sayangnnya ternyata ngga ada. Es krim Turki kalo ngga salah harganya cukup mahal RM 7 atau 25ribuan untuk 1 cup.

Mau beli DVD bajakan disini?
Kentang goreng ajib!
Suasana disini ngga beda jauh seperti di dalam negri. banyak penjual es, buah segar, gorengan, sampai DVD bajakan terang-terangan jualan disini. Kami mencari makanan Halal sepanjang jalan. Ada Chinese food, Thai food, Korean food tapi ngga ada logo Halal nya. Ada satu tempat yaitu Thai food yang pelayannya merayu kami untuk makan ditempatnya : "Tuan, sila makan disini. Makanan Halal lah..". Kami melihat ke arah restonya, jelas saja Halal toh semua makanannya sayuran haha. Masih belum dapat makanan yang sreg sampai kami harus berbalik arah karena sudah sampai ujung ngga ketemu logo Halal (sudah tutup atau kita ngga lihat?). Akhirnya di tengah jalan (di sebelah kiri) ada tempat makan China-Melayu dan ngga jauh makanannya dari Kwetiau, Nasi goreng dan sebangsanya. Karena sudah capek dan lapar akhirnya kami pilih ini saja, dan sudah jelas terpampang logo Halal versi MUI Malaysia. Kami pun langsung memilih meja dan memesan Nasi goreng beef dan ice lemon tea. Cari yang gampangnya saja. Yah setidaknya rasa makanannya masih OK disini. Untuk 1 porsi nasi goreng dan es teh lemon itu kami harus membayar RM 7, seharga es krim Turki tadi haha.

Ada yang mau kodok goreng?
Nasi goreng + Ice lemon tea RM 7










Selesai makan kami segra bergegas pulang ke hostel. malam itu Jumat malam, dan weekend sudah pasti jalanan ramai sampai tengah malam. Sayangnya kaki kami sudah lelah dan sudah ngga semangat menyusuri malam di Bukit Bintang. Kami pun segera menemui kasur kesayangan kami selama di KL dan berharap esok hari bisa lebih baik dari hari itu. Apa lagi keseruan kami di hari ke-3? Baca terus yaa... :)

Senin, 05 Mei 2014

Have a Good Time in Kuala Lumpur, Malaysia (Day 1)

Terminal 3 Keberangkatan
Bulan april sudah tiba, saatnya saya liburan lagi. Asyik! Awalnya saya bingung menentukan destinasi liburan saya kali ini, apakah ke Bangkok atau ke Kuala Lumpur? Dan saya berpikir untuk bertahap saja. Saya memulai traveling keluar negeri pertama saya ke Singapura tahun 2012 lalu (sampai 2 kali) dan kali ini seharusnya urutan yang benar ke Malaysia dulu. Saya berpikir selain harga tiketnya lebih murah dibanding ke Bangkok, kebetulan tahun 2014 ada event Visit Malaysia Year 2014. Banyak yang saya harapkan dari event ini. Dengan pertimbangan itu akhirnya di bulan Mei 2013 saya sudah memesan tiketnya jauh dari hari keberangkatan saya. Dan, you know what? saya dapat tiket promo dari AirAsia (as always) seharga Rp.20ribu! tapi sayangnya untuk tiket pulang saya ngga dapat harga promo termurah lagi (walaupun masih tetap harga promo). Dan total harga tiket yang harus saya tebus PP adalah Rp.699.000++. Banyak yang ngga percaya saya dapat harga segitu di tahun 2014. Tapi, percayalah :)

E-ticket
Dimulai perjalanan dari rumah jam 5.30 pagi menuju airport terminal 3 dan sampai jam 6.20. Ada yang baru kali ini. Biasanya saya harus repot-repot merogoh tiket saya untuk tanda masuk di pintu utama, tapi kini saya cukup usap-usap HP saya dan langsung menunjukkan e-ticket saya yang saya sudah simpan di HP. And it' works like a charm! Pak security cuma intip sebentar lalu saya dipersilahkan masuk. Haha... maklum saya masih baru pertama kali pakai aplikasi ini. Begitu masuk seperti biasa saya urus administrasi airport tax yang harganya masih Rp.150ribu dan pengecekan barang bawaan. Langsung saya menuju pintu masuk airport. 

Ruang tunggu boarding
Begitu menunggu di ruang tunggu rasanya agak bete juga ya menunggu seorang diri. Apalagi di kursi sebelah saya ada sekumpulan anak muda yang akan ke KL juga dan mereka terlihat bahagia sekali bisa jalan-jalan bareng teman-temannya. Pasti seru kalo bisa jalan rame-rame seperti itu pikir saya. Ah, ngga mau kalah saya mengeluarkan handycam saya dan mulai merekam perjalanan solo saya kali ini. Tapi tetap saja saya iri melihat mereka bisa tertawa lepas haha. Setelah menunggu kurang lebih 1,5 jam akhirnya panggilan boarding terdengar. Pesawat Air Asia Malaysia yang saya tumpangi ternyata ngga terlalu jauh dari pintu keluar terminal. Baru saja masuk hal yang ngga menyenangkan sudah terjadi. Waktu memesan tiket saya sengaja memesan kursi di jendela. Maksud saya supaya saya dengan leluasa merekam penerbangan dari balik jendela, tapi begitu saya sampai di nomor kursi yang sudah saya pesan sudah diduduki seorang anak kecil yang ditemani ibunya di bagian tengah. Ngga tau apakah saya bodoh atau kasihan akhirnya saya izinkan anak itu duduk di kursi saya. Tapi ya oh darn. Bukan saya namanya kalo ngga mendapatkan hikmah dibalik kesengsaraan (apa sih?) Karena saya duduk di pinggir jadinya saya bisa leluasa pergi ke toilet.
Dapat duduk di Aisle
Dan YES! akhirnya saya mencoba toilet pesawat hahaha... norak saya makin kronis. Dan ada hal yang lucu karena pesawat yang saya naiki adalah pesawat Malaysia, jadi semua bahasa yang dipakai di pesawat itu adalah bahasa Malaysia dan bahasan Inggris. Sesekali saya tersenyum membaca bahasanya. Sudahlah mengalah dari anak kecil toh masih kebagian kursi kok. Saya pikir masih bisa merekam dari kursi saya menuju jendela, tapi ternyata selama perjalanan anak itu menutup jendelanya..

Perjalanan ke Kuala Lumpur +-45 menit lebih lama dibanding ke Singapore. Dari estimate 2 jam 5 menit, tapi nyatanya sampai lebih lama kira-kira 2 jam 15 menit. Dan selama perjalanan ternyata seorang ibu di bagian tengah ini sedang pilek oh darn (again). Sebentar-sebentar dia menggosokkan minyak  balsem ke hidungnya. Spontan suasana serasa naik kereta malam karena bau balsem sepanjang jalan. Saya rasa ibu ini sudah puas menghukum saya (mengambil kursi dan pakai balsem) ternyata masih ada hukuman terkejam lain. Tiba-tiba dia bersin dan cipratannya mengenai lengan saya. WHAT?! Tanpa basa-basi minta maaf di cuma mengelap hidungnya dan pura-pura membaca majalah. Ok, ini udah agak keterlaluan, tapi saya ngga akan mempermalukan diri saya. Dengan sabar saya kembali ke toilet dan mencuci tangan saya. Padahal sepanjang pagi itu hidung saya juga sudah mulai mampet karena gejala flu dari 3 hari sebelum berangkat.

Penderitaan selama 2 jam itu akhirnya berakhir. Pesawat sudah landing dan saya segera bergegas mengambil tas saya dan pergi meninggalkan kursi saya. Begitu turun dari pesawat yang adem itu, panas menyengat langsung membuat saya mengernyit. Gila! kenapa panasnya sama seperti di Jakarta? Saya kira lebih sejuk karena secara geografis posisi KL lebih jauh dari garis equator jadi saya pikir setidaknya agak lebih sejuk seperti di Singapore. Panas terik matahari (karena sampai sana jam 11.45 MAL atau 10.45 WIB) dan udara pengap jalanan terminal di bandara membuat sambutannya kurang enak. Apalagi saya masih harus berjalan +-400 meter kedalam menuju imigrasi dan keluar dari bandara. Suasana airport yang agak redup dan maaf lebih terkesan seperti terminal bus. Setidaknya airport budget di Jakarta masih lebih bagus. Saat menuju jalan keluar saya sempat berpikir untuk membeli kartu gsm untuk saya pakai selama 3 hari, tapi saya urungkan karena saya ngga terlalu butuh. Karena sudah siang saya berpikir untuk mencari makan dulu sebelum sampai ke KL yang masih harus menempuh perjalanan selama 1 jam lagi. 

Ada hal yang ngga terduga terjadi. Saat saya mencari restoran yang akrab dengan selera saya, ada seseorang yang ngga asing. Sesekali saya melihat dia dan dia pun melihat ke saya. Dan dari saling liat-liatan itu (ciyeee, apa coba?) tiba-tiba kami langsung saling ingat, dia adalah salah satu teman baru saya yang ketemu di terminal Jakarta setahun lalu waktu mau traveling ke Singapore. Tanpa menghiraukan orang disekitar situ kami pun saling menghampiri dan berteriak memanggil nama kami sambil tertawa lepas. Saya bertanya bagaimana bisa ketemu lagi disini? Ternyata dia pernah melihat tulisan saya di salah satu website backpacker yang mana saya mencari teman untuk bepergian bareng. Tapi dia mengira saya baru datang esoknya dan berharap bisa bertemu saya di KL.Tanpa berpikir lagi kamipun langsung mengobrol panjang lebar. Saya hampir lupa kalo harus makan dulu karena sudah siang. Dia naik pesawat Air Asia Indonesia dan 1 jam lebih dulu sampai. Karena sudah lebih dulu keliling airport jadi dia sudah tau dimana saja restoran yang enak dan yang ngga, loket tiket bus, dan tempat mengambil peta. Sungguh berguna dia datang duluan haha.

KFC pakai Nasi Lemak
Sambil menemani saya makan dia menceritakan rencananya di KL. Ya, 11-12 dengan saya isi itinerary nya. Karena bingung cari makan siang akhirnya saya putuskan makan di KFC. Ada yang aneh di menunya, karena saya memesan nasi (ya, menu nasi ada kok) tapi begitu datang kok pake cup? Begitu cup nya saya buka ternyata nasi lemak. Dan ada cup kecil yang saya kira puding, ternyata kentang tumbuk, what the..? Tanpa bisa menikmati saya hanya memasukkan ke mulut supaya cepat kenyang dan bisa pergi dari situ. Dan FYI harga 1 paket KFC yang saya makan ngga pake nafsu itu harus saya bayar seharga RM 14,75.

Tiket 2 ways Aerobus RM 14
Tiket bus ke KL Sentral yang saya beli adalah 2 ways karena lebih murah. Kalau 1 way harganya RM 8, kalau 2 ways jadi RM 14. Lumayan lah untuk backpacker kere seperti saya. Apalagi saya cuma punya budget RM 385. RM 350 hasil saya beli sendiri (RM 1 = Rp.3.530) dan yang RM 35 hasil pemberian boss saya yang kebetulan baru pulang dari KL juga. Nah, dengan budget segitu setidaknya saya harus bisa bertahan hidup selama 3 hari 2 malam + beli oleh-oleh. Selama disini setidaknya untuk orang Indonesia ngga akan direpotkan soal bahasa, karena ngga tau darimana mereka bisa tau kalo kita orang Indonesia dan akan pakai bahasa Melayu untuk komunikasi. Pernah saya menanyakan arah di airport pada security yang ras India dengan bahasa Inggris tapi dia hanya melongo dan bilang "Awak nak kemane?" lah... bilang dari tadi kek pak ga bisa bahasa Inggris kan ga usah belepotan pake bahasa Inggris. 

Koin Rapid KL & Kartu Touch 'n Go
Pas 1 jam kami sampai di KL Sentral naik Aerobus, dan ngga terlalu terkesan dengan yang kami lihat. Suasananya masih 11-12 dengan Jakarta. Kami seperti ngga terasa keluar negeri. FYI juga, KL Sentral ini adalah terminal pusatnya di KL. Ya seperti terminal Blok M di Jakarta deh. Tempatnya juga sama-sama terintegrasi dengan mall. Jadi mau kemanapun semua berpusatnya di KL Sentral. Ada 4 moda transportasi murah yang bisa ditemukan di KL Sentral, yaitu LRT, Monorel, Komuter dan Bus. Untungnya saya sudah membeli kartu Touch 'n Go di airport. Harga kartunya RM 5 untuk 5 tahun. Saya cuma top up RM 10 untuk percobaan. Waktu membeli kartunya di sodorkan 2 design, yaitu gambar bendera Malaysia dan Doraemon. Spontan saya memilih Doraemon! Duh, saking excited saya menunjuk ke kartunya, begitupun teman saya. Mudah-mudahan makcik ga tersinggung ya design bendera Malaysia nya ngga kepilih hihi..

Menuju Hostel
Meja resepsionis Sunshinebedz KL
Seperti biasa sebelum traveling saya selalu mempersiapkan segalanya mulai dari tiket, akomodasi, uang, sampai pengetahuan dasar lokasi tujuan saya. Saya sempat mencari-cari tempat menginap yang dekat lokasi yang akan dituju, bersih, nyaman tapi harganya masih masuk akal. Dan akhirnya pilihan jatuh ke Sunshinebedz KL. Dengan harga RM 30 permalam saya sudah mendapatkan kamar dorm kapasitas 4 orang. Walaupun waktu menemukan lokasinya saya agak underestimate. Lokasi hostel ada di lantai 2, dan untuk masuk ke atas cuma ada pintu tangga kecil yang terjepit antara ruko-ruko di bawahnya. Lokasinya yang strategis berada di Bukit Bintang dan bertebaran resto cepat saji dan minimarket membuat tempat ini diserbu backpacker. Untunglah saya masih sempat dapat 2 tempat. Begitu ada tempat lowong saya langsung memesan untuk 2 orang melalui www.hostels.com dan hebatnya lagi cuma dikenakan booking fee 10% dari total malam yang dipesan dan bebas biaya administrasi YEAH!. Jadinya saya cuma membayar booking fee sebesar  RM 6 alias kurang dari Rp.22ribu. Fasilitas yang saya dapat antara lain kasur yang nyaman, hostel bersih, kamar mandi yang rapih dan yang paling penting ada wifi YEAH! Sesampai disana kami disambut resepsionis yang ramah (walaupun bahasa Ingrisnya agak susah diteima kuping saya atau kuping saya yang norak?) tapi dia sabar sekali. Karena sudah agak siang jadi kami hanya menaruh bawaan kami di loker dan langsung cuss menuju tujuan pertama kami.

Mesjid Jamek dan Dataran Merdeka
Stasiun Monorel

Tujuan pertama kami menuju Dataran Merdeka lewat stasiun Masjid Jamek. Karena bangunan disana unik dan lebih menggambarkan Malaysia yang sebenarnya, supaya waktu update status di Path jadi percaya saya diluar negeri haha. Begitu jalan menuju Masjid Jamek sudah ada tetesan air hujan, jadinya kami menambah kecepatan jalan kami. Setelah berjalan +-300 meter akhirnya ketemu juga bangunan-bangunan itu. Serasa di luar negeri sekarang haha. Sebelum menyeberang ke Dataran Merdeka kami sempat berfoto sebentar di gedung Kementrian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia. Entah karena hujan, karena sudah siang atau memang sedang sepi turis lokasi ini kok sepi ya? Di lokasi ini kami cuma berfoto-foto dan numpang ngadem sebentar di KL City Gallery. Begitu mau keluar baru ngeh kalo ada tulisan FREE WIFI segede gaban di pintu depan. Ga mau rugi kami masuk lagi untuk sekedar update status haha. Biar ga malu saya juga sekalian beli air minum seharga RM 1,5.

Foto pahlawan
Gedung Sultan Abdul Samad


Icon I Love KL
Miniatur Meajid Jamek












Jalan Kasturi, KL Tower dan KLCC
Es Teler 77 di Kasturi
Ga jauh dari Dataran Merdeka kami berjalan menuju Central Market. Melewati sungai kecil saya melihat aktifitas warga sekitar sana. Ngga beda jauh seperti di Jakarta. Orang jualan di pinggir jalan, tempat parkir motor yang selalu penuh dan sekumpulan anak muda ngegosip di pinggir jalan. Kami hanya cekikikan saja melihat itu semua, sambil sesekali saling bertanya : "Ini di luar negeri kan ya?" haha.. Sesampai di jalan kasturi kami melihat keadaan supaya waktu saat nanti belanja oleh-oleh sudah tau mau kemana saja. Tapi, loh kok begini amat ya? Barangnya ngga beda jauh yang ada di Blok M. Ngga ada ciri khas Malaysia nya sama sekali. Malah kebanyakan jualan barang elektronik, tas, sepatu KW. 

KL tower dari jauh
Tanya supir taksi

Kami melanjutkan sampai ke Petaling, memang lebih rame tapi ya sama aja. Sesampai di ujung jalan dan ngga menemukan yang kami cari akhirnya kami memutuskan menuju ke KL tower lewat stasiun terdekat. Kami turun di stasiun Dang Wangi dan meneruskan jalan sampai ke KL tower. Tapi bodohnya kami, seharusnya kami turun di stasiun Bukit Nanas supaya ngga jalan kejauhan. Tapi ya sudahlah, namanya juga baru pertama kali. Sudah setengah jalan tapi kami kebingungan, menaranya sudah kelihatan jelas tap ngga tau dimana pintu masuknya. Sambil beristirahat sebentar kami duduk di kursi jalan sambil menikmati pemandangan jalan macet KL di sore hari. Ada seorang bapak supir taksi di sebelah kami, karena masih bingung kamipun bertanya kepada beliau. Dia bilang masih harus berjalan 2 blok lagi lalu belok kanan. Karena bahasa kami
KL sore hari
masih sama beliau pun bertanya : "Adik dari mana?" kami jawab "Dari Jakarta" dan dengan mengejutkan dia bilang "Wah, jauh banget!" dengan logat yang aneh. Sontak kami berdua tertawa. Dia juga bercerita kalau dia juga pernah ke Jakarta. Dia suka makanan nya, murah dan enak tapi nnga suka traffic nya yang macetnya dari pagi sampai pagi lagi. Sayang kami lupa bertanya nama beliau karena beliau langsung pergi setelah taksinya di carter orang. 


Kami pun melanjutkan perjalanan ke KL tower yang ternyata masih +-800 meter lagi. Sesampainya di pintu masuk security menanyai kami. "Hey you two! Where were you going?" saya hanya menjawab "KL Tower!" dia balas "Get in the car!". Ia menunjuk ke mobil yang ada didekatnya untuk segera naik. Karena naluri "backpacker kere" kami sedang "on" langsung terpikir "nah loh, harus naik itu ya? berapa duit lagi? ngga jadi deh" akhirnya kami sepakat untuk membatalkan naik ke atas "No thanks!" kami pun berbalik badan dan melanjutkan jalan kami. Karena teman saya sudah kelaparan akhirnya kami melipir sebentar ke resto terdekat, dan lagi-lagi nyangkutnya di KFC. Ngga mau mengulan makanan tadi siang, saya cuma memesan burger dan Milo yang harganya memang mahal RM 16. Sudah kenyang mengganjal perut, kami lanjutkan perjalanan kami menuju KLCC. Langit makin gelap tapi dari kejauhan menara kembar ini sudah berkilauan. Makin dekat kami ke menara kembar itu makin tinggi pula kelihatannya. Kami sampai mendongak tinggi sekali dan mengagumi kecantikan bangunan ini. Terasa sekali kemegahan bangunan ini. Setelah mendapat posisi yang bagus kami langsung mencari angle yang bagus untuk memotret diri kami di depan petronas tower ini. Karena terlalu tinggi susah sekali kami mencari angle yang bagus karena serendah apapun angle kami pasti selalu terpotong. Akhirnya saya berinisiatif berjalan ke seberang jalan dan, that's it! ini baru pas. Saya langsung memasang tripod kecil dari tas saya ke kamera SLR saya. tripod saya pasang sampai mentok ke jalan baru bisa dapat angle yang bagus. Dan ngga lama kami dapat beberapa foto, turis lain mulai berdatangan dan langsung menempati posisi kami. Ah, coba kami ngga berisik, pasti posisi ini aman buat kami haha.

Petronas tower
Gedungnya bercahaya










Posisi andalan










Mencoba Bukit Bintang Walkway
Mungkin belum banyak yang tau jembatan ini. Jembatan ini baru dibangun awal 2012 lalu. Kami pun sempat bertanya ke security ras India disana (yang mayoritas ngga bisa bahasa Inggris duh!) dan selalu dapat jawaban yang ngga meyakinkan. Kami dibuat berputar-putar gedung ga jelas. Akhirnya di pertanyaan terakhir ada security agak bule, dan syukurlah dia berbahasa Inggris ternyata dia tau lokasi Bukit Bintang Walkway. FYI, Bukit Bintang Walkway ada di pintu keluar dari Aquaria KLCC. Jadi kalo kita dari dalam KLCC tinggal turun sampai lantai dasar, lalu cari atm Maybank, terus ikuti jalan dan cari petunjuk jalan menuju Aquaria. Begitu ketemu Aquaria, kita tinggal cari pintu keluar dan nengok ke kanan. Voila! jembatan besi dengan eskalator sudah nunggu disana. Jarak tempuh dari KLCC menuju Bukit Bintang kira-kira 1,5km lebih. Kalo masih kuat sih sekali-sekali boleh coba.

Sesampai diBukit Bintang sudah jam 21.30 MAL.Karena sudah lelah kami putuskan kembali ke hostel. Banyak pelajaran yang saya dapat di hari pertama disini antara lain : Selalu ada berkah setelah menderita, ternyata ngga selalu rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, dan yang perlu diingat papan petunjuk di KL ngga semudah dan sejelas di Singapore jadi jangan ragu untuk sering bertanya (walaupun saya selalu pakai GPS).

Sambil beristirahat dan menghubungi orang rumah via skype, saya mengakhiri hari pertama. Semoga di hari kedua bisa punya pengalaman lebih mengejutkan lagi. Baca terus lanjutannya ya...

Minggu, 04 Mei 2014

The Amazing Spider-Man 2 : The Rise of Electro (2014)

Akhirnya sequel dari Spider-man "versi baru" sudah rilis. Kenapa saya bilang "versi baru"? Karena saya sudah menonton filmnya sampai seri ke 3, dan sejak tahun lalu kembali ke seri pertama dengan tambahan "The Amazing" di awal judulnya. Memang sejak versi "The Amazing" ini filmnya terkesan lebih berat dan megah dalam penggambaran. Jujur saja, saya agak skeptis sejak melihat posternya yang terkesan "komik banget" ini. Jangan-jangan sepanjang film akan disuguhi animasi CG seperti film Avatar, tapi saya salah.

Yah memang sekali lagi, jangan mudah menilai hanya dari tampilan saja. Saya akui agak terkejut karena ternyata filmnya melebihi ekspektasi saya. Saya menilai begitu karena saya sudah melihat seri 1 nya, dan saya masih lebih suka versi lamanya yang dimainkan Tobey McGuire. Tapi untunglah seri keduanya ngga sekelam seri pertamanya yang saya bilang agak mirip dengan film Batman.
Di seri keduanya tetap berbobot (ngga seringan versi Tobey) karena ada beberapa twist dan penggambaran imajinasi yang harus perlahan dipahami, tapi sejauh ini masih bisa ditangkap penonton yang mau berpikir. 

Animasi visual efek yang menawan, tapi masih terlalu komik (menurut saya) ini yang saya khawatirkan dari awal. Kalau terlalu banyak akan serasa menonton Avatar, tapi kalau terlalu sedikit akan mengurangi keseruan filmnya. Dan menurut saya masih OK walau ada yang agak lebay di beberapa bagian. Permainan para artisnya juga sudah lebih baik. Ada hal yang membingungkan disini dimana Harry baru bertemu lagi dengan Peter setelah 10 tahun ngga ketemu, tapi di versi Tobey, mereka adalah teman sekolahnya, mana yang menurut komik paling autentik? Sayangnya saya bukan penggemar komik Spider-Man, jadinya agak bingung mau menangkap versi yang mana.

Actionnya sudah lebih "penuh" dan menegangkan ditambah sound fx yang bikin jantung deg-degan sepanjang film. Ngga ada lagi buang-buang waktu "becanda" seperti di versi Tobey. Untuk bagian drama rasanya kurang digali sedikit lagi, jadinya untuk dibagian akhir (saya ngga akan spoiler disini) klimaksnya belum terlalu terasa. Apakah tim skenarionya yang kurang jeli atau kah kekurangan durasi? Coba Anda simpulkan sendiri.

Dan dari semua kelebihan dan kekurangannya saya memberikan nilai : 7.3/10 (Cocok Untuk Koleksi)

Review: The Old Man and The Sea (Novel Ernest Hemingway)

The Old Man and The Sea - lelaki tua dan laut - ernest hemingway
Judul: The Old Man and The Sea
Penulis: Ernest Hemingway
Penerbit: Selasar Publishing
Tahun: 2009
Tebal: 132 halaman

Ketika mendengar nama Ernest Hemingway, yang pertama terlintas pastilah The Old Man and The Sea yang merupakan karya masterpiece penulis ledendaris yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri tersebut.
The Old Man and The Sea berkisah tentang seorang tua bernama Santiago yang selama 84 hari tidak pernah mendapatkan ikan. Sebelumnya ia dibantu seorang bocah bernama Manolin, namun setelah 40 hari mereka tak juga mendapatkan ikan, orangtua si bocah menyuruh anaknya ikut dengan nelayan lain yang lebih beruntung. Namun meski tidak lagi membantu di laut, si bocah tetap membantu Santiago menyiapkan dan membereskan peralatan, juga memberinya makanan. Mereka berdua biasa berbincang soal pertandingan bisbol.
Santiago selalu berpikir bahwa setiap hari adalah hari baru. Ia yakin, 85 adalah angka keberuntungan. Di hari ke-85, ia mencari ikan lebih ke tengah dengan hanya berbekal sebotol air karena ia yakin akan pulang saat matahari tenggelam, dan optimis akan mendapatkan ikan besar. Sambil berbicara dengan dirinya sendiri, tiba-tiba seekor ikan besar mematuk umpan dan kailnya, membuktikan keyakinannya akan keberuntungan di hari ke-85. Karena cukup dalam, ia tidak tahu sebesar apa ikan itu, yang pasti, ikan itu mampu menyeret perahunya semakin jauh dari daratan selama berhari-hari setelahnya. Di hari kedua, saat ikan itu melompat ke udara untuk menghirup oksigen, barulah Santiago tahu ukuran sebenarnya ikan itu: dua kali lipat lebih besar dari perahunya! Seekor ikan marlin yang belum pernah ia lihat dengan ukuran sebesar itu, bahkan tak akan ada yang pernah membayangkannya. Santiago hanya bisa berharap ikan itu lengah dan ia bisa membunuhnya. Bahkan, saat ia akhirnya mampu menaklukkan ikan marlin raksasa itu, ia masih harus berjuang melawan kawanan hiu yang menggerogoti tangkapan besarnya itu.
Cerita selama berhari-hari penaklukan ikan marlin raksasa itulah, serta dialog-dialognya dengan diri sendiri selama di laut yang menjadi inti cerita ini.
Kebersahajaan, kesabaran, kekuatan hati, serta semangat yang tak pantang menyerah pada keadaan. Itulah yang bisa saya ambil dari novel yang memenangkan Pulitzer Prize tahun 1953 dan membawa Ernest Hemingway menjadi peraih nobel sastra tahun 1954 ini.
Novel ini, tentu saja, masuk dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die. []

Sabtu, 03 Mei 2014

Memang Tidak Pintar (Catatan tentang Ujian Tengah Semester)

Senin
Aku pulang ke rumah. Ibu bertanya apakah hari ini tidak ada kuliah. Kujelaskan bahwa mulai hari ini hingga empat hari ke depan adalah minggu tenang, sebelum Ujian Tengah Semester.
Sebenarnya bukan itu penyebab aku pulang ke rumah, melainkan kondisi keuanganku yang habis, bahkan minus, gara-gara beberapa hari sebelumnya jalan-jalan ke Teluk Tamiang. Tapi aku tak perlu menjelaskan itu pada Ibu, Ibu sudah tahu tanpa aku harus mengatakannya.
“Jangan lagi jalan-jalan! Menghabiskan uang! Belajar, nanti tidak bisa menjawab soal ujian! Jangan jalan-jalan lagi, ya! Jangan jalan-jalan!”
“Inggih, Ma,” jawabku.

Selasa
Seperti setiap kali pulang ke rumah, aku mengambil sebuah novel tipis yang mungkin untuk diselesaikan dalam satu hari dan membacanya. Kali ini aku membaca The Old Man and The Sea karya masterpiece Ernest Hemingway yang, tentu saja, masuk dalam 1001 Books You Must Read Before You Die. Aku membacanya dari pagi, dan selesai sore.
Karena sepanjang hari kuhabiskan hanya membaca novel, Ibu kembali berang. “Kalau mau ulangan itu belajar, jangan baca ‘buku cerita’ terus!”
“Catatannya di kontrakan, Ma. Ulun mau ke Banjarmasin, tapi tidak ada uang.” Sebenarnya, kalau aku memang ingin belajar, bisa saja mencari bahannya dengan mencolok modem.
Lalu Ibu kembali memulai ceramahnya, soal gajian, soal bagaimana cara beliau berhemat, soal pentingnya hemat, dan soal jangan jalan-jalan.

Rabu
Rencana aku ke Banjarmasin siang, atau sore. Menunggu waktu itu, aku kembali membaca novel, kali ini Women at Point Zero (Perempuan di Titik Nol) karya penulis hebat Mesir, Nawaal El Saadawi yang juga masuk list 1001 Books You Must Read Before You Die, berkisah tentang pelacur yang akan dihukum gantung.
Lalu siangnya, sebelum novel itu selesai kubaca, Ayah memberiku uang untuk beberapa hari (bukan untuk sebulan karena belum tanggal gajian) dan Ibu menyiapkan sekantung beras dan beberapa butir telur bebek untuk makanku di kontrakan nanti.
Sore hari, aku kembali ke kontrakan. Hujan. Berteduh di Handil Bakti di rumah saudaraku, dan malamnya barulah aku tiba di kontrakan. Aku tahu, Ibu memintaku cepat kembali ke kontrakan agar aku bisa belajar, tapi karena UTS masih dua hari lagi, aku bersantai saja malam ini.

Kamis
Dari pagi hingga sore, aku masih belum belajar. Malas, itu saja. Baru sehabis shalat ashar aku ke kontrakan temanku, Rizky, untuk melengkapi materi yang harus dipelajari. Di kontrakan Rizky, aku justru main catur, hingga hampir magrib. Baru pada malam harinya aku sedikit membaca-baca materi. Tidak terlalu banyak, karena kemudian aku tertidur.

Jumat
Ini adalah hari yang berat, hari pertama dari dua hari Ujian Tengah Semester. Tapi aku tetap tersenyum sebelum ujian berlangsung meskipun aku tidak begitu siap.
“Aku memang tidak pintar,” kataku pada Rizky, “tetapi selalu beruntung.”
Ada dua mata kuliah yang diujikan hari ini, Keperawatan Gawat Darurat, dan Disaster Nursing. Hal yang tak terduga terjadi pada soal mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Ada dua dosen yang mengajar pada mata kuliah tersebut, Pak Zaenal dan Pak Imanuddin. Karena Pak Imanuddin jarang masuk, dan beliau tidak memberikan materi (beberapa hari perkuliahan beliau hanya berupa diskusi), kami tentu hanya mempelajari bahan Pak Zaenal. Ternyata, soal yang diujikan hanya soal Pak Imanuddin. Aku tertawa, karena merasa beruntung dengan tidak menghabiskan banyak waktu membolak-balik materi Pak Zaenal.
***
Sehabis shalat Jumat, aku ke rumah saudaraku, meminjam uang untuk membayar uang setor buku pada Bang Harie yang sudah habis kubelanjakan. Menggali lobang untuk menutup lobang lain. Siang ini aku memang berencana ke Banjarbaru meskipun besok masih ada ujian. Selain untuk menyetor uang buku dan mengembalikan buku-buku titipan Bang Harie yang tersisa (aku dulu jualan buku, banyak kawan yang menitip bukunya padaku untuk dijualkan, Bang Harie adalah salah satu yang paling banyak menitip, karena ia ‘pernah’ punya penerbitan, pernah punya toko buku, dan punya banyak buku-buku yang juga titipan), aku akan menghadiri acara lounching novel Kak Nanda, Kebisingan Hati, di halaman PUSTARDA Banjarbaru jam empat sore. Yang kedua inilah tujuan utamanya, karena saat Kak Nanda mengundang, aku sudah berjanji akan datang.
Saat akan berangkat, suara Ibu kembali terdengar di telingaku, “Jangan lagi jalan-jalan! Belajar!”
Lalu hujan turun, lebat, seolah alam juga berada di pihak Ibu. Aku bisa saja menerobos hujan, aku biasa melakukannya. Tapi itu akan membuat basah sekardus buku-buku titipan Bang Harie.
Lewat jam empat sore, barulah hujan mereda. Aku tetap berangkat. Masih sempat. Ini soal janji. Dan memang benar, begitu aku tiba di Kopi Kepo di halaman PUSTARDA Banjarbaru, acara baru memasuki sesi bincang-bincang dengan peserta. Bang Hari berada di samping Kak Nanda sebagai moderator. Tentu saja, karena Bang Harie-lah manajer para novelis yang berada di bawah naungan On-Off Solutindo.
Usai acara, aku mengobrol dengan Bang Harie soal buku titipan dan uang setoran. “Tapi karena uang ulun tidak banyak, sekarang ulun baru bisa setor separuhnya, Bang.”
Bang Harie bilang tak apa.
“Gimana novelmu?” tanyanya.
Aku hanya bisa tertawa getir menanggapinya.
Bang Harie juga memintaku membantunya malam ini mengangkut rak buku bekas taman bacaan beserta komik-komiknya yang baru saja ia borong.
Aku seharusnya pulang secepatnya, tapi tak mungkin menolak permintaan Bang Harie. Jadilah malam ini aku layaknya kuli kasar.
Pelajaran moral nomor 1: melanggar larangan orangtua bisa mengakibatkan kau menjadi pekerja kasar yang bahkan tidak digaji.
Perlu dua kali balik untuk mengangkut semua komik dan 5 raknya dengan mobil pick-up. Tiga rak bisa diangkat oleh dua orang, namun dua sisanya, 4 orang saja kewalahan. Dan kami hanya mengangkatnya 3 orang, aku, sopir pick-up, dan Bang Harie yang bertubuh mungil. Bukan hal aneh jika rak itu tidak stabil di tangan kami saat menaikkannya ke dalam pick-up. Sialnya, Gendhis, anak Bang Harie yang ikut menonton, berada tepat di lokasi rak itu akan jatuh. Gendhis hanya tertawa-tawa. Bang Harie sebagai seorang Ayah tentu memarahi anaknya karena Gendhis tak mau ketika disuruh menjauh. Beruntung, rak itu tidak roboh. Secara fisik, Gendhis selamat, namun entah dengan psikologisnya setelah Bang Harie marah sedemikian rupa. Sekali lagi, ini hari yang berat, sungguh-sungguh berat, juga dalam makna yang sebenarnya.
Pekerjaan itu baru selesai menjelang jam 11 malam. Meski kebanyakan komik, ada juga beberapa novel dari dua pick-up buku tersebut. Aku meminta dua novel, Nemesis karya Agatha Christie, dan Omera karya Mario Puzo. Dari wajahnya, kulihat Bang Harie tidak ikhlas. Tapi dua novel tersebut tetap kubawa. Bahkan dua novel tersebut tidak akan lunas membayar tenagaku malam ini.
Lewat dini hari barulah aku tiba di kontrakan. Aku belajar sebentar, sebagai ucapan maafku pada Ibu karena melanggar pesannya, kemudian tertidur sampai pukul 3 pagi. Aku tak bisa tidur lagi kemudian karena efek kopi yang kuminum saat di rumah Bang Harie tadi. Aku mandi, shalat isya, kemudian belajar.
Aku membuat semacam kerpean tentang Keperawatan Kritis, karena menurutku materi pelajaran akan lebih meresap jika ditulis, tidak hanya dibaca. Beruntung bila catatan tersebut nantinya bisa dijadikan contekan.
Catatan tersebut selesai ketika sampai waktu subuh. Aku shalat subuh, mencharge ponsel di colokan di luar kamar, lalu tidur, dengan damai...

Sabtu
Saat aku terbangun, cahaya matahari yang menerobos lewat jendela telah memenuhi kamarku. Aku gelagapan. Aku segera keluar kamar untuk meraih ponsel. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan dua sms dari Tri, menanyakan di mana aku, dan memberitahukan bahwa ibu pengawas ujian sudah masuk. Namun yang penting ialah jam di ponselku: sudah pukul 10!
Aku cepat mencuci muka, mengganti baju, mengeluarkan motor dari gudang, lalu memacunya sekencang mungkin. Ada dua mata kuliah yang diujikan hari ini, yang pertama Keperawatan Kritis, pukul 8.30, dan yang kedua Keperawatan Transkultural, pukul 10.00. Aku jelas tak bisa mengikuti yang pertama, dan hanya bisa berharap tidak terlambat untuk yang kedua.
Kontrakanku yang sekarang cukup jauh dengan kampus, paling cepat 20 menit baru bisa sampai. Sepanjang jalan, aku mengutuki diriku sendiri. Andai ada Ibu di dekatku, aku akan berlutut memohon maaf padanya.
Pelajaran moral nomor 2: jangan tidur di subuh menjelang ujian.
Aku tiba di ruang ujian. Beruntung Ibu Isna, dosen yang mengawas ujian di ruanganku masih mau memberikan soal ujian. Ia dosen baru, dan sangat baik. Saat aku duduk, ia memanggil lagi. “Kenapa jam pertama tadi tidak masuk?” tanyanya.
“Ketiduran, Bu,” jawabku.
“Ini, kerjakan sekalian.” Ia menyerahkan soal ujian jam pertama: Keperawatan Kritis.
Aku senang sekali. Kuucapkan terimakasih padanya. Masalahku teratasi dengan kebaikannya yang luar biasa!
Kedua soal mata kuliah itu berupa soal essai, aku tidak yakin mampukah aku menyelesaikan keduanya dengan waktu yang hanya tersisa sedikit ini. Dengan dosen pengawas sebaik itu, tanpa pikir panjang kukeluarkan kerpean yang telah kubuat, dan mulai menyalin.
Ibu Isna duduk jauh di belakang, tak akan melihat apa yang kulakukan. Saat Ibu Isna mulai berjalan-jalan untuk mengambil lembar jawaban yang telah selesai, aku menutup kerpeanku, dan mengerjakan soal Keperawatan Transkultural. Aku tak punya catatan tentang mata kuliah ini, dan soal memang berupa hasil pemikiran, bukan hapalan atau ingatan. Dengan waktu yang hampir habis, aku menjawab seadanya. Lalu ketika Ibu Isna di belakang, aku kembali melanjutkan menjawab soal-soal Keperawatan Kritis. Saat itulah, tahu-tahu Ibu Isna sudah ada di belakangku untuk meminta kartu ujian dan menyerahkan absen untuk ditandatangani. Aku cepat menutup kerpean itu di balik kertas-kertas yang lain. Namun terlambat, Ibu Isna sudah melihatnya.
Ia mengambil semua kertas-kertas di mejaku, mengambil kertas contekanku dan mengembalikan yang lain setelah kartu ujianku ia tandatangani.
“Kerjakan sendiri sisanya, ini Ibu ambil,” katanya tanpa ekspresi. Kebaikannya yang luar biasa padaku justru kunodai, siapa yang tidak marah?
Keperawatan Keritis apa 4 soal. Aku sudah nyaris menyelesaikan 3 soal padahal, tapi itu tidak akan ada artinya lagi. Dengan pelanggaran yang kulakukan, tidak akan ada nilai untukku. Lalu kujawablah yang sisanya dengan seadanya.
Pelajaran moral nomor 3: berhati-hatilah saat membuka contekan di ujian, meskipun pengawasnya baik.
Ketika mengumpulkannya ke meja Ibu Isna, aku hanya bisa tertunduk.
“Ini tidak Ibu kembalikan,” katanya padaku sambil memegangi kertas catatanku tadi, wajahnya masih tanpa ekspresi. Kemudian, ia tersenyum. “Tenang, tidak akan Ibu laporkan...”
Aku terlonjak, tenggorokanku seperti tercekat. Aku terdiam dan tak bisa berkata-kata.
“Terimakasih bu, terimakasih..., terimakasih banyak...,” kataku akhirnya. Hanya itu yang bisa kukatakan.
Aku berjalan keluar ruangan. Teman-temanku yang sudah lebih dulu keluar asyik berbincang-bincang di bangku.
“Aku tadi berencana mau ke kontrakanmu setelah ini, kukira kamu kenapa-kenapa, ternyata ketiduran!” sungut Tri, ia memang teman yang bisa diandalkan.
Aku tidak memberitahunya bahwa aku ketiduran, tapi rambut dan wajahku yang berantakanlah yang mengatakannya.
“Aku sudah berpikir yang macam-macam...” kali ini Reno.
Lalu kuceritakan tentang soal Keperawatan Kritis yang tetap diberikan Ibu Isna. Mereka tidak berkomentar karena sudah tahu soal itu. Lalu kuceritakan lagi soal catatanku yang kedapatan namun tidak dilaporkan. Mereka langsung menyumpah-nyumpah! Aku hanya bisa tertawa.
“Terbukti kata-katamu, Zian...,” kata Rizky, saat sumpah-serapah itu mereda. “Memang tidak pintar, tetapi selalu beruntung!” []