Senin, 05 Mei 2014

Have a Good Time in Kuala Lumpur, Malaysia (Day 1)

Terminal 3 Keberangkatan
Bulan april sudah tiba, saatnya saya liburan lagi. Asyik! Awalnya saya bingung menentukan destinasi liburan saya kali ini, apakah ke Bangkok atau ke Kuala Lumpur? Dan saya berpikir untuk bertahap saja. Saya memulai traveling keluar negeri pertama saya ke Singapura tahun 2012 lalu (sampai 2 kali) dan kali ini seharusnya urutan yang benar ke Malaysia dulu. Saya berpikir selain harga tiketnya lebih murah dibanding ke Bangkok, kebetulan tahun 2014 ada event Visit Malaysia Year 2014. Banyak yang saya harapkan dari event ini. Dengan pertimbangan itu akhirnya di bulan Mei 2013 saya sudah memesan tiketnya jauh dari hari keberangkatan saya. Dan, you know what? saya dapat tiket promo dari AirAsia (as always) seharga Rp.20ribu! tapi sayangnya untuk tiket pulang saya ngga dapat harga promo termurah lagi (walaupun masih tetap harga promo). Dan total harga tiket yang harus saya tebus PP adalah Rp.699.000++. Banyak yang ngga percaya saya dapat harga segitu di tahun 2014. Tapi, percayalah :)

E-ticket
Dimulai perjalanan dari rumah jam 5.30 pagi menuju airport terminal 3 dan sampai jam 6.20. Ada yang baru kali ini. Biasanya saya harus repot-repot merogoh tiket saya untuk tanda masuk di pintu utama, tapi kini saya cukup usap-usap HP saya dan langsung menunjukkan e-ticket saya yang saya sudah simpan di HP. And it' works like a charm! Pak security cuma intip sebentar lalu saya dipersilahkan masuk. Haha... maklum saya masih baru pertama kali pakai aplikasi ini. Begitu masuk seperti biasa saya urus administrasi airport tax yang harganya masih Rp.150ribu dan pengecekan barang bawaan. Langsung saya menuju pintu masuk airport. 

Ruang tunggu boarding
Begitu menunggu di ruang tunggu rasanya agak bete juga ya menunggu seorang diri. Apalagi di kursi sebelah saya ada sekumpulan anak muda yang akan ke KL juga dan mereka terlihat bahagia sekali bisa jalan-jalan bareng teman-temannya. Pasti seru kalo bisa jalan rame-rame seperti itu pikir saya. Ah, ngga mau kalah saya mengeluarkan handycam saya dan mulai merekam perjalanan solo saya kali ini. Tapi tetap saja saya iri melihat mereka bisa tertawa lepas haha. Setelah menunggu kurang lebih 1,5 jam akhirnya panggilan boarding terdengar. Pesawat Air Asia Malaysia yang saya tumpangi ternyata ngga terlalu jauh dari pintu keluar terminal. Baru saja masuk hal yang ngga menyenangkan sudah terjadi. Waktu memesan tiket saya sengaja memesan kursi di jendela. Maksud saya supaya saya dengan leluasa merekam penerbangan dari balik jendela, tapi begitu saya sampai di nomor kursi yang sudah saya pesan sudah diduduki seorang anak kecil yang ditemani ibunya di bagian tengah. Ngga tau apakah saya bodoh atau kasihan akhirnya saya izinkan anak itu duduk di kursi saya. Tapi ya oh darn. Bukan saya namanya kalo ngga mendapatkan hikmah dibalik kesengsaraan (apa sih?) Karena saya duduk di pinggir jadinya saya bisa leluasa pergi ke toilet.
Dapat duduk di Aisle
Dan YES! akhirnya saya mencoba toilet pesawat hahaha... norak saya makin kronis. Dan ada hal yang lucu karena pesawat yang saya naiki adalah pesawat Malaysia, jadi semua bahasa yang dipakai di pesawat itu adalah bahasa Malaysia dan bahasan Inggris. Sesekali saya tersenyum membaca bahasanya. Sudahlah mengalah dari anak kecil toh masih kebagian kursi kok. Saya pikir masih bisa merekam dari kursi saya menuju jendela, tapi ternyata selama perjalanan anak itu menutup jendelanya..

Perjalanan ke Kuala Lumpur +-45 menit lebih lama dibanding ke Singapore. Dari estimate 2 jam 5 menit, tapi nyatanya sampai lebih lama kira-kira 2 jam 15 menit. Dan selama perjalanan ternyata seorang ibu di bagian tengah ini sedang pilek oh darn (again). Sebentar-sebentar dia menggosokkan minyak  balsem ke hidungnya. Spontan suasana serasa naik kereta malam karena bau balsem sepanjang jalan. Saya rasa ibu ini sudah puas menghukum saya (mengambil kursi dan pakai balsem) ternyata masih ada hukuman terkejam lain. Tiba-tiba dia bersin dan cipratannya mengenai lengan saya. WHAT?! Tanpa basa-basi minta maaf di cuma mengelap hidungnya dan pura-pura membaca majalah. Ok, ini udah agak keterlaluan, tapi saya ngga akan mempermalukan diri saya. Dengan sabar saya kembali ke toilet dan mencuci tangan saya. Padahal sepanjang pagi itu hidung saya juga sudah mulai mampet karena gejala flu dari 3 hari sebelum berangkat.

Penderitaan selama 2 jam itu akhirnya berakhir. Pesawat sudah landing dan saya segera bergegas mengambil tas saya dan pergi meninggalkan kursi saya. Begitu turun dari pesawat yang adem itu, panas menyengat langsung membuat saya mengernyit. Gila! kenapa panasnya sama seperti di Jakarta? Saya kira lebih sejuk karena secara geografis posisi KL lebih jauh dari garis equator jadi saya pikir setidaknya agak lebih sejuk seperti di Singapore. Panas terik matahari (karena sampai sana jam 11.45 MAL atau 10.45 WIB) dan udara pengap jalanan terminal di bandara membuat sambutannya kurang enak. Apalagi saya masih harus berjalan +-400 meter kedalam menuju imigrasi dan keluar dari bandara. Suasana airport yang agak redup dan maaf lebih terkesan seperti terminal bus. Setidaknya airport budget di Jakarta masih lebih bagus. Saat menuju jalan keluar saya sempat berpikir untuk membeli kartu gsm untuk saya pakai selama 3 hari, tapi saya urungkan karena saya ngga terlalu butuh. Karena sudah siang saya berpikir untuk mencari makan dulu sebelum sampai ke KL yang masih harus menempuh perjalanan selama 1 jam lagi. 

Ada hal yang ngga terduga terjadi. Saat saya mencari restoran yang akrab dengan selera saya, ada seseorang yang ngga asing. Sesekali saya melihat dia dan dia pun melihat ke saya. Dan dari saling liat-liatan itu (ciyeee, apa coba?) tiba-tiba kami langsung saling ingat, dia adalah salah satu teman baru saya yang ketemu di terminal Jakarta setahun lalu waktu mau traveling ke Singapore. Tanpa menghiraukan orang disekitar situ kami pun saling menghampiri dan berteriak memanggil nama kami sambil tertawa lepas. Saya bertanya bagaimana bisa ketemu lagi disini? Ternyata dia pernah melihat tulisan saya di salah satu website backpacker yang mana saya mencari teman untuk bepergian bareng. Tapi dia mengira saya baru datang esoknya dan berharap bisa bertemu saya di KL.Tanpa berpikir lagi kamipun langsung mengobrol panjang lebar. Saya hampir lupa kalo harus makan dulu karena sudah siang. Dia naik pesawat Air Asia Indonesia dan 1 jam lebih dulu sampai. Karena sudah lebih dulu keliling airport jadi dia sudah tau dimana saja restoran yang enak dan yang ngga, loket tiket bus, dan tempat mengambil peta. Sungguh berguna dia datang duluan haha.

KFC pakai Nasi Lemak
Sambil menemani saya makan dia menceritakan rencananya di KL. Ya, 11-12 dengan saya isi itinerary nya. Karena bingung cari makan siang akhirnya saya putuskan makan di KFC. Ada yang aneh di menunya, karena saya memesan nasi (ya, menu nasi ada kok) tapi begitu datang kok pake cup? Begitu cup nya saya buka ternyata nasi lemak. Dan ada cup kecil yang saya kira puding, ternyata kentang tumbuk, what the..? Tanpa bisa menikmati saya hanya memasukkan ke mulut supaya cepat kenyang dan bisa pergi dari situ. Dan FYI harga 1 paket KFC yang saya makan ngga pake nafsu itu harus saya bayar seharga RM 14,75.

Tiket 2 ways Aerobus RM 14
Tiket bus ke KL Sentral yang saya beli adalah 2 ways karena lebih murah. Kalau 1 way harganya RM 8, kalau 2 ways jadi RM 14. Lumayan lah untuk backpacker kere seperti saya. Apalagi saya cuma punya budget RM 385. RM 350 hasil saya beli sendiri (RM 1 = Rp.3.530) dan yang RM 35 hasil pemberian boss saya yang kebetulan baru pulang dari KL juga. Nah, dengan budget segitu setidaknya saya harus bisa bertahan hidup selama 3 hari 2 malam + beli oleh-oleh. Selama disini setidaknya untuk orang Indonesia ngga akan direpotkan soal bahasa, karena ngga tau darimana mereka bisa tau kalo kita orang Indonesia dan akan pakai bahasa Melayu untuk komunikasi. Pernah saya menanyakan arah di airport pada security yang ras India dengan bahasa Inggris tapi dia hanya melongo dan bilang "Awak nak kemane?" lah... bilang dari tadi kek pak ga bisa bahasa Inggris kan ga usah belepotan pake bahasa Inggris. 

Koin Rapid KL & Kartu Touch 'n Go
Pas 1 jam kami sampai di KL Sentral naik Aerobus, dan ngga terlalu terkesan dengan yang kami lihat. Suasananya masih 11-12 dengan Jakarta. Kami seperti ngga terasa keluar negeri. FYI juga, KL Sentral ini adalah terminal pusatnya di KL. Ya seperti terminal Blok M di Jakarta deh. Tempatnya juga sama-sama terintegrasi dengan mall. Jadi mau kemanapun semua berpusatnya di KL Sentral. Ada 4 moda transportasi murah yang bisa ditemukan di KL Sentral, yaitu LRT, Monorel, Komuter dan Bus. Untungnya saya sudah membeli kartu Touch 'n Go di airport. Harga kartunya RM 5 untuk 5 tahun. Saya cuma top up RM 10 untuk percobaan. Waktu membeli kartunya di sodorkan 2 design, yaitu gambar bendera Malaysia dan Doraemon. Spontan saya memilih Doraemon! Duh, saking excited saya menunjuk ke kartunya, begitupun teman saya. Mudah-mudahan makcik ga tersinggung ya design bendera Malaysia nya ngga kepilih hihi..

Menuju Hostel
Meja resepsionis Sunshinebedz KL
Seperti biasa sebelum traveling saya selalu mempersiapkan segalanya mulai dari tiket, akomodasi, uang, sampai pengetahuan dasar lokasi tujuan saya. Saya sempat mencari-cari tempat menginap yang dekat lokasi yang akan dituju, bersih, nyaman tapi harganya masih masuk akal. Dan akhirnya pilihan jatuh ke Sunshinebedz KL. Dengan harga RM 30 permalam saya sudah mendapatkan kamar dorm kapasitas 4 orang. Walaupun waktu menemukan lokasinya saya agak underestimate. Lokasi hostel ada di lantai 2, dan untuk masuk ke atas cuma ada pintu tangga kecil yang terjepit antara ruko-ruko di bawahnya. Lokasinya yang strategis berada di Bukit Bintang dan bertebaran resto cepat saji dan minimarket membuat tempat ini diserbu backpacker. Untunglah saya masih sempat dapat 2 tempat. Begitu ada tempat lowong saya langsung memesan untuk 2 orang melalui www.hostels.com dan hebatnya lagi cuma dikenakan booking fee 10% dari total malam yang dipesan dan bebas biaya administrasi YEAH!. Jadinya saya cuma membayar booking fee sebesar  RM 6 alias kurang dari Rp.22ribu. Fasilitas yang saya dapat antara lain kasur yang nyaman, hostel bersih, kamar mandi yang rapih dan yang paling penting ada wifi YEAH! Sesampai disana kami disambut resepsionis yang ramah (walaupun bahasa Ingrisnya agak susah diteima kuping saya atau kuping saya yang norak?) tapi dia sabar sekali. Karena sudah agak siang jadi kami hanya menaruh bawaan kami di loker dan langsung cuss menuju tujuan pertama kami.

Mesjid Jamek dan Dataran Merdeka
Stasiun Monorel

Tujuan pertama kami menuju Dataran Merdeka lewat stasiun Masjid Jamek. Karena bangunan disana unik dan lebih menggambarkan Malaysia yang sebenarnya, supaya waktu update status di Path jadi percaya saya diluar negeri haha. Begitu jalan menuju Masjid Jamek sudah ada tetesan air hujan, jadinya kami menambah kecepatan jalan kami. Setelah berjalan +-300 meter akhirnya ketemu juga bangunan-bangunan itu. Serasa di luar negeri sekarang haha. Sebelum menyeberang ke Dataran Merdeka kami sempat berfoto sebentar di gedung Kementrian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia. Entah karena hujan, karena sudah siang atau memang sedang sepi turis lokasi ini kok sepi ya? Di lokasi ini kami cuma berfoto-foto dan numpang ngadem sebentar di KL City Gallery. Begitu mau keluar baru ngeh kalo ada tulisan FREE WIFI segede gaban di pintu depan. Ga mau rugi kami masuk lagi untuk sekedar update status haha. Biar ga malu saya juga sekalian beli air minum seharga RM 1,5.

Foto pahlawan
Gedung Sultan Abdul Samad


Icon I Love KL
Miniatur Meajid Jamek












Jalan Kasturi, KL Tower dan KLCC
Es Teler 77 di Kasturi
Ga jauh dari Dataran Merdeka kami berjalan menuju Central Market. Melewati sungai kecil saya melihat aktifitas warga sekitar sana. Ngga beda jauh seperti di Jakarta. Orang jualan di pinggir jalan, tempat parkir motor yang selalu penuh dan sekumpulan anak muda ngegosip di pinggir jalan. Kami hanya cekikikan saja melihat itu semua, sambil sesekali saling bertanya : "Ini di luar negeri kan ya?" haha.. Sesampai di jalan kasturi kami melihat keadaan supaya waktu saat nanti belanja oleh-oleh sudah tau mau kemana saja. Tapi, loh kok begini amat ya? Barangnya ngga beda jauh yang ada di Blok M. Ngga ada ciri khas Malaysia nya sama sekali. Malah kebanyakan jualan barang elektronik, tas, sepatu KW. 

KL tower dari jauh
Tanya supir taksi

Kami melanjutkan sampai ke Petaling, memang lebih rame tapi ya sama aja. Sesampai di ujung jalan dan ngga menemukan yang kami cari akhirnya kami memutuskan menuju ke KL tower lewat stasiun terdekat. Kami turun di stasiun Dang Wangi dan meneruskan jalan sampai ke KL tower. Tapi bodohnya kami, seharusnya kami turun di stasiun Bukit Nanas supaya ngga jalan kejauhan. Tapi ya sudahlah, namanya juga baru pertama kali. Sudah setengah jalan tapi kami kebingungan, menaranya sudah kelihatan jelas tap ngga tau dimana pintu masuknya. Sambil beristirahat sebentar kami duduk di kursi jalan sambil menikmati pemandangan jalan macet KL di sore hari. Ada seorang bapak supir taksi di sebelah kami, karena masih bingung kamipun bertanya kepada beliau. Dia bilang masih harus berjalan 2 blok lagi lalu belok kanan. Karena bahasa kami
KL sore hari
masih sama beliau pun bertanya : "Adik dari mana?" kami jawab "Dari Jakarta" dan dengan mengejutkan dia bilang "Wah, jauh banget!" dengan logat yang aneh. Sontak kami berdua tertawa. Dia juga bercerita kalau dia juga pernah ke Jakarta. Dia suka makanan nya, murah dan enak tapi nnga suka traffic nya yang macetnya dari pagi sampai pagi lagi. Sayang kami lupa bertanya nama beliau karena beliau langsung pergi setelah taksinya di carter orang. 


Kami pun melanjutkan perjalanan ke KL tower yang ternyata masih +-800 meter lagi. Sesampainya di pintu masuk security menanyai kami. "Hey you two! Where were you going?" saya hanya menjawab "KL Tower!" dia balas "Get in the car!". Ia menunjuk ke mobil yang ada didekatnya untuk segera naik. Karena naluri "backpacker kere" kami sedang "on" langsung terpikir "nah loh, harus naik itu ya? berapa duit lagi? ngga jadi deh" akhirnya kami sepakat untuk membatalkan naik ke atas "No thanks!" kami pun berbalik badan dan melanjutkan jalan kami. Karena teman saya sudah kelaparan akhirnya kami melipir sebentar ke resto terdekat, dan lagi-lagi nyangkutnya di KFC. Ngga mau mengulan makanan tadi siang, saya cuma memesan burger dan Milo yang harganya memang mahal RM 16. Sudah kenyang mengganjal perut, kami lanjutkan perjalanan kami menuju KLCC. Langit makin gelap tapi dari kejauhan menara kembar ini sudah berkilauan. Makin dekat kami ke menara kembar itu makin tinggi pula kelihatannya. Kami sampai mendongak tinggi sekali dan mengagumi kecantikan bangunan ini. Terasa sekali kemegahan bangunan ini. Setelah mendapat posisi yang bagus kami langsung mencari angle yang bagus untuk memotret diri kami di depan petronas tower ini. Karena terlalu tinggi susah sekali kami mencari angle yang bagus karena serendah apapun angle kami pasti selalu terpotong. Akhirnya saya berinisiatif berjalan ke seberang jalan dan, that's it! ini baru pas. Saya langsung memasang tripod kecil dari tas saya ke kamera SLR saya. tripod saya pasang sampai mentok ke jalan baru bisa dapat angle yang bagus. Dan ngga lama kami dapat beberapa foto, turis lain mulai berdatangan dan langsung menempati posisi kami. Ah, coba kami ngga berisik, pasti posisi ini aman buat kami haha.

Petronas tower
Gedungnya bercahaya










Posisi andalan










Mencoba Bukit Bintang Walkway
Mungkin belum banyak yang tau jembatan ini. Jembatan ini baru dibangun awal 2012 lalu. Kami pun sempat bertanya ke security ras India disana (yang mayoritas ngga bisa bahasa Inggris duh!) dan selalu dapat jawaban yang ngga meyakinkan. Kami dibuat berputar-putar gedung ga jelas. Akhirnya di pertanyaan terakhir ada security agak bule, dan syukurlah dia berbahasa Inggris ternyata dia tau lokasi Bukit Bintang Walkway. FYI, Bukit Bintang Walkway ada di pintu keluar dari Aquaria KLCC. Jadi kalo kita dari dalam KLCC tinggal turun sampai lantai dasar, lalu cari atm Maybank, terus ikuti jalan dan cari petunjuk jalan menuju Aquaria. Begitu ketemu Aquaria, kita tinggal cari pintu keluar dan nengok ke kanan. Voila! jembatan besi dengan eskalator sudah nunggu disana. Jarak tempuh dari KLCC menuju Bukit Bintang kira-kira 1,5km lebih. Kalo masih kuat sih sekali-sekali boleh coba.

Sesampai diBukit Bintang sudah jam 21.30 MAL.Karena sudah lelah kami putuskan kembali ke hostel. Banyak pelajaran yang saya dapat di hari pertama disini antara lain : Selalu ada berkah setelah menderita, ternyata ngga selalu rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, dan yang perlu diingat papan petunjuk di KL ngga semudah dan sejelas di Singapore jadi jangan ragu untuk sering bertanya (walaupun saya selalu pakai GPS).

Sambil beristirahat dan menghubungi orang rumah via skype, saya mengakhiri hari pertama. Semoga di hari kedua bisa punya pengalaman lebih mengejutkan lagi. Baca terus lanjutannya ya...

Minggu, 04 Mei 2014

The Amazing Spider-Man 2 : The Rise of Electro (2014)

Akhirnya sequel dari Spider-man "versi baru" sudah rilis. Kenapa saya bilang "versi baru"? Karena saya sudah menonton filmnya sampai seri ke 3, dan sejak tahun lalu kembali ke seri pertama dengan tambahan "The Amazing" di awal judulnya. Memang sejak versi "The Amazing" ini filmnya terkesan lebih berat dan megah dalam penggambaran. Jujur saja, saya agak skeptis sejak melihat posternya yang terkesan "komik banget" ini. Jangan-jangan sepanjang film akan disuguhi animasi CG seperti film Avatar, tapi saya salah.

Yah memang sekali lagi, jangan mudah menilai hanya dari tampilan saja. Saya akui agak terkejut karena ternyata filmnya melebihi ekspektasi saya. Saya menilai begitu karena saya sudah melihat seri 1 nya, dan saya masih lebih suka versi lamanya yang dimainkan Tobey McGuire. Tapi untunglah seri keduanya ngga sekelam seri pertamanya yang saya bilang agak mirip dengan film Batman.
Di seri keduanya tetap berbobot (ngga seringan versi Tobey) karena ada beberapa twist dan penggambaran imajinasi yang harus perlahan dipahami, tapi sejauh ini masih bisa ditangkap penonton yang mau berpikir. 

Animasi visual efek yang menawan, tapi masih terlalu komik (menurut saya) ini yang saya khawatirkan dari awal. Kalau terlalu banyak akan serasa menonton Avatar, tapi kalau terlalu sedikit akan mengurangi keseruan filmnya. Dan menurut saya masih OK walau ada yang agak lebay di beberapa bagian. Permainan para artisnya juga sudah lebih baik. Ada hal yang membingungkan disini dimana Harry baru bertemu lagi dengan Peter setelah 10 tahun ngga ketemu, tapi di versi Tobey, mereka adalah teman sekolahnya, mana yang menurut komik paling autentik? Sayangnya saya bukan penggemar komik Spider-Man, jadinya agak bingung mau menangkap versi yang mana.

Actionnya sudah lebih "penuh" dan menegangkan ditambah sound fx yang bikin jantung deg-degan sepanjang film. Ngga ada lagi buang-buang waktu "becanda" seperti di versi Tobey. Untuk bagian drama rasanya kurang digali sedikit lagi, jadinya untuk dibagian akhir (saya ngga akan spoiler disini) klimaksnya belum terlalu terasa. Apakah tim skenarionya yang kurang jeli atau kah kekurangan durasi? Coba Anda simpulkan sendiri.

Dan dari semua kelebihan dan kekurangannya saya memberikan nilai : 7.3/10 (Cocok Untuk Koleksi)

Review: The Old Man and The Sea (Novel Ernest Hemingway)

The Old Man and The Sea - lelaki tua dan laut - ernest hemingway
Judul: The Old Man and The Sea
Penulis: Ernest Hemingway
Penerbit: Selasar Publishing
Tahun: 2009
Tebal: 132 halaman

Ketika mendengar nama Ernest Hemingway, yang pertama terlintas pastilah The Old Man and The Sea yang merupakan karya masterpiece penulis ledendaris yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri tersebut.
The Old Man and The Sea berkisah tentang seorang tua bernama Santiago yang selama 84 hari tidak pernah mendapatkan ikan. Sebelumnya ia dibantu seorang bocah bernama Manolin, namun setelah 40 hari mereka tak juga mendapatkan ikan, orangtua si bocah menyuruh anaknya ikut dengan nelayan lain yang lebih beruntung. Namun meski tidak lagi membantu di laut, si bocah tetap membantu Santiago menyiapkan dan membereskan peralatan, juga memberinya makanan. Mereka berdua biasa berbincang soal pertandingan bisbol.
Santiago selalu berpikir bahwa setiap hari adalah hari baru. Ia yakin, 85 adalah angka keberuntungan. Di hari ke-85, ia mencari ikan lebih ke tengah dengan hanya berbekal sebotol air karena ia yakin akan pulang saat matahari tenggelam, dan optimis akan mendapatkan ikan besar. Sambil berbicara dengan dirinya sendiri, tiba-tiba seekor ikan besar mematuk umpan dan kailnya, membuktikan keyakinannya akan keberuntungan di hari ke-85. Karena cukup dalam, ia tidak tahu sebesar apa ikan itu, yang pasti, ikan itu mampu menyeret perahunya semakin jauh dari daratan selama berhari-hari setelahnya. Di hari kedua, saat ikan itu melompat ke udara untuk menghirup oksigen, barulah Santiago tahu ukuran sebenarnya ikan itu: dua kali lipat lebih besar dari perahunya! Seekor ikan marlin yang belum pernah ia lihat dengan ukuran sebesar itu, bahkan tak akan ada yang pernah membayangkannya. Santiago hanya bisa berharap ikan itu lengah dan ia bisa membunuhnya. Bahkan, saat ia akhirnya mampu menaklukkan ikan marlin raksasa itu, ia masih harus berjuang melawan kawanan hiu yang menggerogoti tangkapan besarnya itu.
Cerita selama berhari-hari penaklukan ikan marlin raksasa itulah, serta dialog-dialognya dengan diri sendiri selama di laut yang menjadi inti cerita ini.
Kebersahajaan, kesabaran, kekuatan hati, serta semangat yang tak pantang menyerah pada keadaan. Itulah yang bisa saya ambil dari novel yang memenangkan Pulitzer Prize tahun 1953 dan membawa Ernest Hemingway menjadi peraih nobel sastra tahun 1954 ini.
Novel ini, tentu saja, masuk dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die. []

Sabtu, 03 Mei 2014

Memang Tidak Pintar (Catatan tentang Ujian Tengah Semester)

Senin
Aku pulang ke rumah. Ibu bertanya apakah hari ini tidak ada kuliah. Kujelaskan bahwa mulai hari ini hingga empat hari ke depan adalah minggu tenang, sebelum Ujian Tengah Semester.
Sebenarnya bukan itu penyebab aku pulang ke rumah, melainkan kondisi keuanganku yang habis, bahkan minus, gara-gara beberapa hari sebelumnya jalan-jalan ke Teluk Tamiang. Tapi aku tak perlu menjelaskan itu pada Ibu, Ibu sudah tahu tanpa aku harus mengatakannya.
“Jangan lagi jalan-jalan! Menghabiskan uang! Belajar, nanti tidak bisa menjawab soal ujian! Jangan jalan-jalan lagi, ya! Jangan jalan-jalan!”
Inggih, Ma,” jawabku.

Selasa
Seperti setiap kali pulang ke rumah, aku mengambil sebuah novel tipis yang mungkin untuk diselesaikan dalam satu hari dan membacanya. Kali ini aku membaca The Old Man and The Sea karya masterpiece Ernest Hemingway yang, tentu saja, masuk dalam 1001 Books You Must Read Before You Die. Aku membacanya dari pagi, dan selesai sore.
Karena sepanjang hari kuhabiskan hanya membaca novel, Ibu kembali berang. “Kalau mau ulangan itu belajar, jangan baca ‘buku cerita’ terus!”
“Catatannya di kontrakan, Ma. Ulun mau ke Banjarmasin, tapi tidak ada uang.” Sebenarnya, kalau aku memang ingin belajar, bisa saja mencari bahannya dengan mencolok modem.
Lalu Ibu kembali memulai ceramahnya, soal gajian, soal bagaimana cara beliau berhemat, soal pentingnya hemat, dan soal jangan jalan-jalan.

Rabu
Rencana aku ke Banjarmasin siang, atau sore. Menunggu waktu itu, aku kembali membaca novel, kali ini Women at Point Zero (Perempuan di Titik Nol) karya penulis hebat Mesir, Nawaal El Saadawi yang juga masuk list 1001 Books You Must Read Before You Die, berkisah tentang pelacur yang akan dihukum gantung.
Lalu siangnya, sebelum novel itu selesai kubaca, Ayah memberiku uang untuk beberapa hari (bukan untuk sebulan karena belum tanggal gajian) dan Ibu menyiapkan sekantung beras dan beberapa butir telur bebek untuk makanku di kontrakan nanti.
Sore hari, aku kembali ke kontrakan. Hujan. Berteduh di Handil Bakti di rumah saudaraku, dan malamnya barulah aku tiba di kontrakan. Aku tahu, Ibu memintaku cepat kembali ke kontrakan agar aku bisa belajar, tapi karena UTS masih dua hari lagi, aku bersantai saja malam ini.

Kamis
Dari pagi hingga sore, aku masih belum belajar. Malas, itu saja. Baru sehabis shalat ashar aku ke kontrakan temanku, Rizky, untuk melengkapi materi yang harus dipelajari. Di kontrakan Rizky, aku justru main catur, hingga hampir magrib. Baru pada malam harinya aku sedikit membaca-baca materi. Tidak terlalu banyak, karena kemudian aku tertidur.

Jumat
Ini adalah hari yang berat, hari pertama dari dua hari Ujian Tengah Semester. Tapi aku tetap tersenyum sebelum ujian berlangsung meskipun aku tidak begitu siap.
“Aku memang tidak pintar,” kataku pada Rizky, “tetapi selalu beruntung.”
Ada dua mata kuliah yang diujikan hari ini, Keperawatan Gawat Darurat, dan Disaster Nursing. Hal yang tak terduga terjadi pada soal mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Ada dua dosen yang mengajar pada mata kuliah tersebut, Pak Zaenal dan Pak Imanuddin. Karena Pak Imanuddin jarang masuk, dan beliau tidak memberikan materi (beberapa hari perkuliahan beliau hanya berupa diskusi), kami tentu hanya mempelajari bahan Pak Zaenal. Ternyata, soal yang diujikan hanya soal Pak Imanuddin. Aku tertawa, karena merasa beruntung dengan tidak menghabiskan banyak waktu membolak-balik materi Pak Zaenal.
***
Sehabis shalat Jumat, aku ke rumah saudaraku, meminjam uang untuk membayar uang setor buku pada Bang Harie yang sudah habis kubelanjakan. Menggali lobang untuk menutup lobang lain. Siang ini aku memang berencana ke Banjarbaru meskipun besok masih ada ujian. Selain untuk menyetor uang buku dan mengembalikan buku-buku titipan Bang Harie yang tersisa (aku dulu jualan buku, banyak kawan yang menitip bukunya padaku untuk dijualkan, Bang Harie adalah salah satu yang paling banyak menitip, karena ia ‘pernah’ punya penerbitan, pernah punya toko buku, dan punya banyak buku-buku yang juga titipan), aku akan menghadiri acara lounching novel Kak Nanda, Kebisingan Hati, di halaman PUSTARDA Banjarbaru jam empat sore. Yang kedua inilah tujuan utamanya, karena saat Kak Nanda mengundang, aku sudah berjanji akan datang.
Saat akan berangkat, suara Ibu kembali terdengar di telingaku, “Jangan lagi jalan-jalan! Belajar!”
Lalu hujan turun, lebat, seolah alam juga berada di pihak Ibu. Aku bisa saja menerobos hujan, aku biasa melakukannya. Tapi itu akan membuat basah sekardus buku-buku titipan Bang Harie.
Lewat jam empat sore, barulah hujan mereda. Aku tetap berangkat. Masih sempat. Ini soal janji. Dan memang benar, begitu aku tiba di Kopi Kepo di halaman PUSTARDA Banjarbaru, acara baru memasuki sesi bincang-bincang dengan peserta. Bang Hari berada di samping Kak Nanda sebagai moderator. Tentu saja, karena Bang Harie-lah manajer para novelis yang berada di bawah naungan On-Off Solutindo.
Usai acara, aku mengobrol dengan Bang Harie soal buku titipan dan uang setoran. “Tapi karena uang ulun tidak banyak, sekarang ulun baru bisa setor separuhnya, Bang.”
Bang Harie bilang tak apa.
“Gimana novelmu?” tanyanya.
Aku hanya bisa tertawa getir menanggapinya.
Bang Harie juga memintaku membantunya malam ini mengangkut rak buku bekas taman bacaan beserta komik-komiknya yang baru saja ia borong.
Aku seharusnya pulang secepatnya, tapi tak mungkin menolak permintaan Bang Harie. Jadilah malam ini aku layaknya kuli kasar.
Pelajaran moral nomor 1: melanggar larangan orangtua bisa mengakibatkan kau menjadi pekerja kasar yang bahkan tidak digaji.
Perlu dua kali balik untuk mengangkut semua komik dan 5 raknya dengan mobil pick-up. Tiga rak bisa diangkat oleh dua orang, namun dua sisanya, 4 orang saja kewalahan. Dan kami hanya mengangkatnya 3 orang, aku, sopir pick-up, dan Bang Harie yang bertubuh mungil. Bukan hal aneh jika rak itu tidak stabil di tangan kami saat menaikkannya ke dalam pick-up. Sialnya, Gendhis, anak Bang Harie yang ikut menonton, berada tepat di lokasi rak itu akan jatuh. Gendhis hanya tertawa-tawa. Bang Harie sebagai seorang Ayah tentu memarahi anaknya karena Gendhis tak mau ketika disuruh menjauh. Beruntung, rak itu tidak roboh. Secara fisik, Gendhis selamat, namun entah dengan psikologisnya setelah Bang Harie marah sedemikian rupa. Sekali lagi, ini hari yang berat, sungguh-sungguh berat, juga dalam makna yang sebenarnya.
Pekerjaan itu baru selesai menjelang jam 11 malam. Meski kebanyakan komik, ada juga beberapa novel dari dua pick-up buku tersebut. Aku meminta dua novel, Nemesis karya Agatha Christie, dan Omera karya Mario Puzo. Dari wajahnya, kulihat Bang Harie tidak ikhlas. Tapi dua novel tersebut tetap kubawa. Bahkan dua novel tersebut tidak akan lunas membayar tenagaku malam ini.
Lewat dini hari barulah aku tiba di kontrakan. Aku belajar sebentar, sebagai ucapan maafku pada Ibu karena melanggar pesannya, kemudian tertidur sampai pukul 3 pagi. Aku tak bisa tidur lagi kemudian karena efek kopi yang kuminum saat di rumah Bang Harie tadi. Aku mandi, shalat isya, kemudian belajar.
Aku membuat semacam kerpean tentang Keperawatan Kritis, karena menurutku materi pelajaran akan lebih meresap jika ditulis, tidak hanya dibaca. Beruntung bila catatan tersebut nantinya bisa dijadikan contekan.
Catatan tersebut selesai ketika sampai waktu subuh. Aku shalat subuh, mencharge ponsel di colokan di luar kamar, lalu tidur, dengan damai...

Sabtu
Saat aku terbangun, cahaya matahari yang menerobos lewat jendela telah memenuhi kamarku. Aku gelagapan. Aku segera keluar kamar untuk meraih ponsel. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan dua sms dari Tri, menanyakan di mana aku, dan memberitahukan bahwa ibu pengawas ujian sudah masuk. Namun yang penting ialah jam di ponselku: sudah pukul 10!
Aku cepat mencuci muka, mengganti baju, mengeluarkan motor dari gudang, lalu memacunya sekencang mungkin. Ada dua mata kuliah yang diujikan hari ini, yang pertama Keperawatan Kritis, pukul 8.30, dan yang kedua Keperawatan Transkultural, pukul 10.00. Aku jelas tak bisa mengikuti yang pertama, dan hanya bisa berharap tidak terlambat untuk yang kedua.
Kontrakanku yang sekarang cukup jauh dengan kampus, paling cepat 20 menit baru bisa sampai. Sepanjang jalan, aku mengutuki diriku sendiri. Andai ada Ibu di dekatku, aku akan berlutut memohon maaf padanya.
Pelajaran moral nomor 2: jangan tidur di subuh menjelang ujian.
Aku tiba di ruang ujian. Beruntung Ibu Isna, dosen yang mengawas ujian di ruanganku masih mau memberikan soal ujian. Ia dosen baru, dan sangat baik. Saat aku duduk, ia memanggil lagi. “Kenapa jam pertama tadi tidak masuk?” tanyanya.
“Ketiduran, Bu,” jawabku.
“Ini, kerjakan sekalian.” Ia menyerahkan soal ujian jam pertama: Keperawatan Kritis.
Aku senang sekali. Kuucapkan terimakasih padanya. Masalahku teratasi dengan kebaikannya yang luar biasa!
Kedua soal mata kuliah itu berupa soal essai, aku tidak yakin mampukah aku menyelesaikan keduanya dengan waktu yang hanya tersisa sedikit ini. Dengan dosen pengawas sebaik itu, tanpa pikir panjang kukeluarkan kerpean yang telah kubuat, dan mulai menyalin.
Ibu Isna duduk jauh di belakang, tak akan melihat apa yang kulakukan. Saat Ibu Isna mulai berjalan-jalan untuk mengambil lembar jawaban yang telah selesai, aku menutup kerpeanku, dan mengerjakan soal Keperawatan Transkultural. Aku tak punya catatan tentang mata kuliah ini, dan soal memang berupa hasil pemikiran, bukan hapalan atau ingatan. Dengan waktu yang hampir habis, aku menjawab seadanya. Lalu ketika Ibu Isna di belakang, aku kembali melanjutkan menjawab soal-soal Keperawatan Kritis. Saat itulah, tahu-tahu Ibu Isna sudah ada di belakangku untuk meminta kartu ujian dan menyerahkan absen untuk ditandatangani. Aku cepat menutup kerpean itu di balik kertas-kertas yang lain. Namun terlambat, Ibu Isna sudah melihatnya.
Ia mengambil semua kertas-kertas di mejaku, mengambil kertas contekanku dan mengembalikan yang lain setelah kartu ujianku ia tandatangani.
“Kerjakan sendiri sisanya, ini Ibu ambil,” katanya tanpa ekspresi. Kebaikannya yang luar biasa padaku justru kunodai, siapa yang tidak marah?
Keperawatan Keritis apa 4 soal. Aku sudah nyaris menyelesaikan 3 soal padahal, tapi itu tidak akan ada artinya lagi. Dengan pelanggaran yang kulakukan, tidak akan ada nilai untukku. Lalu kujawablah yang sisanya dengan seadanya.
Pelajaran moral nomor 3: berhati-hatilah saat membuka contekan di ujian, meskipun pengawasnya baik.
Ketika mengumpulkannya ke meja Ibu Isna, aku hanya bisa tertunduk.
“Ini tidak Ibu kembalikan,” katanya padaku sambil memegangi kertas catatanku tadi, wajahnya masih tanpa ekspresi. Kemudian, ia tersenyum. “Tenang, tidak akan Ibu laporkan...”
Aku terlonjak, tenggorokanku seperti tercekat. Aku terdiam dan tak bisa berkata-kata.
“Terimakasih bu, terimakasih..., terimakasih banyak...,” kataku akhirnya. Hanya itu yang bisa kukatakan.
Aku berjalan keluar ruangan. Teman-temanku yang sudah lebih dulu keluar asyik berbincang-bincang di bangku.
“Aku tadi berencana mau ke kontrakanmu setelah ini, kukira kamu kenapa-kenapa, ternyata ketiduran!” sungut Tri, ia memang teman yang bisa diandalkan.
Aku tidak memberitahunya bahwa aku ketiduran, tapi rambut dan wajahku yang berantakanlah yang mengatakannya.
“Aku sudah berpikir yang macam-macam...” kali ini Reno.
Lalu kuceritakan tentang soal Keperawatan Kritis yang tetap diberikan Ibu Isna. Mereka tidak berkomentar karena sudah tahu soal itu. Lalu kuceritakan lagi soal catatanku yang kedapatan namun tidak dilaporkan. Mereka langsung menyumpah-nyumpah! Aku hanya bisa tertawa.
“Terbukti kata-katamu, Zian...,” kata Rizky, saat sumpah-serapah itu mereda. “Memang tidak pintar, tetapi selalu beruntung!” []

Selasa, 29 April 2014

Review: The Virgin Suicides (Novel Jeffrey Eugenides)

The Virgin Suicides by Jeffrey Eugenides

Judul: The Virgin Suicides
Penulis: Jeffrey Eugenides
Penerbit: Dastan Books
ISBN: 978-979-3972-32-9
Cetakan: 5 (Februari 2010)
Tebal: 250 halaman

Novel The Virgin Suicides diceritakan lewat sudut pandang orang pertama jamak (kami). Kami adalah tetangga sekaligus teman sekolah gadis-gadis keluarga Lisbon yang tergila-gila dengan gadis-gadis tersebut.
"Kami" menceritakan bagaimana masa lalu mereka bersama gadis-gadis Lisbon tersebut baik sebelum bunuh diri, saat bunuh diri, dan sesudah bunuh diri. "Kami" menceritakan apa saja yang mereka tahu, atau duga, mengenai kehidupan keluarga Lisbon.
Satu demi satu lima gadis bersaudara keluarga Lisbon yaitu Cecilia (13), Lux (14), Bonnie (15), Mary (16), dan Therese (17) melakukan bunuh diri. Karena kehidupan mereka yang tertutup, tidak ada yang tahu alasan mereka mengakhiri hidup lewat bunuh diri. Padahal mereka adalah keluarga religius.
Rentetan bunuh diri gadis-gadis keluarga Lisbon diawali oleh Cecilia yang menyayat pergelangan tangannya sambil berendam di bak mandi dengan kedua tangan mendekap gambar Perawan Suci. Beruntung usaha bunuh diri ini gagal karena saat itu Paul Baldino, teman "kami", sedang melaksanakan ambisinya untuk menyelinap ke rumah keluarga Lisbon dan mengintip isinya. Paul Baldino segera menelepon polisi, seperti yang diajarkan ayahnya.
Cecilia memang anak yang aneh, hal tersebut juga diakui saudara-saudaranya. Seminggu setelah usaha bunuh diri itu, Mr. Lisbon dan Mrs. Lisbon mengadakan pesta untuk pertama kalinya guna menghibur Cecilia. Ironisnya, justru saat pesta itulah Cecilia kembali melakukan bunuh dirinya yang sempat gagal dengan melompat dari lantai atas. Tubuhnya tertancap di pagar.
Satu tahun kemudian, tepat dengan tanggal Cecilia mencoba bunuh diri, keempat saudaranya menyusul secara bersamaan pada suatu malam. Bonnie menggantungkan dirinya di lantai bawah, Mary memasukkan kepala ke dalam oven, Therese dengan meminum begitu banyak pil tidur, Lux mengurung diri dalam mobil yang telah kehabisan oksigen karena dipenuhi asap rokoknya. "Kami"-lah yang pertama mengetahui hal tersebut karena saat itu kami ingin mengajak mereka kabur dari rumah, dari kekangan ibu mereka.
Hanya Mary yang kemudian berhasil diselamatkan. Mary, secara teknis, bertahan hidup sekitar satu bulan kemudian, untuk kemudian menenggak begitu banyak pil tidur seperti yang dilakukan Therese.
Novel debutan Jeffrey Eugenides ini ditulis layaknya sebuah liputan, dengan jalinan cerita yang kuat, humor yang "kelam", detail yang rapi, yang disertai dengan barang-barang bukti yang seolah-olah memang ada. Fiksi yang meyakinkan yang hanya bisa ditulis oleh seorang jenius.
"Menunjukkan kebrilianan penulisnya," demikian puji Boston Globe. Dan "Begitu menggoda... Sebuah debut memikat dari seorang penulis berbakat yang imajinatif," puji Publishers Weekly.
Tidak salah jika novel ini masuk dalam list 1001 Books You Must Read Before You Die.