Kejarlah di sana
kertas bertulis angka-angka
karena angka-angka akan membuatmu bahagia
karena angka-angka akan membawakanmu surga
menarilah bersama mereka
karena setelah November datang Desember
karena setelah Januari datang Februari
lalu kertas bertulis angka-angka akan datang lagi
mengajakmu menari
mengajakmu berlari
kertas bertulis angka-angka
kejarlah di sana...
Sabtu, 12 Desember 2015
Kertas Bertulis Angka-angka
Kamis, 10 Desember 2015
Malam Hujan
Ibu, semoga hujan deras ini membuatmu tidur nyenyak
Semoga bunyi hujan di atap rumah kita membuat pusingmu berkurang barang malam ini
Semoga dingin hujan bisa melemaskan pegal-pegalmu
Karena esok pagi kau harus berpikir lagi tentang makan dan jajan anak-anakmu
Sabtu, 05 Desember 2015
Backpackeran Keliling Jawa (5)
Sabtu, 3 Oktober 2015
Aktivitas pagi dimulai dengan menemani Mas Jamal mengirim pesanan buku, dilanjutkan sarapan nasi pecel di warung, kemudian menuju tugu paling legendaris di Surabaya, patung pertarungan ikan sura dan buaya.
Setelah itu meluncur ke Jembatan Suramadu dengan bantuan Google Map, maklum, si Om Buku hanya tahu rute-rute yang ada hubungannya dengan buku. (^_^)v
Saat menaiki jembatan, saya benar-benar senang karena akhirnya tiba di atas jembatan terpanjang di Indonesia ini. Sementara saya kesenangan, Mas Jamal ketakutan setengah mati karena phobia ketinggian, ditambah laut yang bergelombang jauh di bawah kami.
Turun dari Jembatan Suramadu, kami mampir di warung es kelapa di pinggir jalan. Si pemilik warung jelas orang Madura asli. "Pokoknya rugi, kalau ke Madura tidak makan bebek Sinjay!" demikian kata si pemilik warung.
Perjalanan pun dilanjutkan. Dan kami sampai di Rumah Makan Bebek Goreng Sinjay!
Bebek goreng Sinjay terkenal memang bukan tanpa alasan. Rasa daging bebeknya, ditambah bumbu-bumbu rahasianya, benar-benar membuat lidah dimanjakan. Ini makan siang yang luar biasa.
Usai menyantap bebek goreng paling enak se-Indonesia, saya dan Mas Jamal melanjutkan petualangan ke ibu kota Madura, Bangkalan. Bukan untuk apa-apa, sekadar main Ingress, haha..
Tidak lama kemudian kami balik ke Surabaya. Mampir sebentar di Monumen Kapal Selam.
Mampir lagi di Gedung Balai Pemuda Surabaya karena saat itu kebetulan ada event Surabaya Book Fair 2015. Selesai melihat semua stand, saya dan Mas Jamal sepakat: nyaris tidak ada buku-buku "bagus" (sebenarnya semua buku adalah bagus, hanya saja tidak ada yang sesuai selera kami). Di samping itu, pengunjung dan peserta pameran tidak seramai dan sebanyak pameran buku di Banjarmasin ataupun Banjarbaru.
Selanjutnya saya diantar Mas Jamal ke Taman Bungkul. Katanya, taman ini dinobatkan sebagai taman terbaik se-Asia. Entahlah... Di sini kami keliling-keliling dan menikmati segelas jus segar.
Karena waktu keberangkatan pesawat pukul 5.50 PM, Taman Bungkul adalah tempat terakhir yang saya singgahi di Surabaya sebelum ke Bandara Juanda. Di depan Bandara Juanda, saya pamitan dengan Mas Jamal.
Terimakasih banyak Mas, atas waktunya menemani saya selama di Surabaya, atas tenaga dan bensinnya untuk menjemput dan mengantar saya jalan-jalan, untuk nginapnya, untuk makan dan minumnya, untuk buku dan kaos yang sampean kasihkan cuma-cuma buat saya, serta atas obrolan-obrolan mengasyikkannya. Semoga nanti ketemu lagi ya...
Pesawat delay. Nyaris pukul setengah 10 malam barulah saya tiba kembali di Kalimantan, Bandara Syamsudin Noor. Duan datang menjemput dan mengantar saya ke rumahnya. Di rumahnyalah saya sebelumnya menitipkan motor karena tidak jauh dengan bandara. Di rumah Duan saya disuguhkan makan malam, dan ia juga bilang bahwa kerusakan di motor saya (rusaknya sudah lama) sudah ia perbaiki dengan bantuan temannya. Saya sangat berterimakasih. Semoga kamu tidak jera membantu saya, Duan.
Malam itu juga saya pulang ke rumah dengan badan yang, anehnya, terasa tidak lelah...
(Selesai)
Aktivitas pagi dimulai dengan menemani Mas Jamal mengirim pesanan buku, dilanjutkan sarapan nasi pecel di warung, kemudian menuju tugu paling legendaris di Surabaya, patung pertarungan ikan sura dan buaya.
Setelah itu meluncur ke Jembatan Suramadu dengan bantuan Google Map, maklum, si Om Buku hanya tahu rute-rute yang ada hubungannya dengan buku. (^_^)v
Saat menaiki jembatan, saya benar-benar senang karena akhirnya tiba di atas jembatan terpanjang di Indonesia ini. Sementara saya kesenangan, Mas Jamal ketakutan setengah mati karena phobia ketinggian, ditambah laut yang bergelombang jauh di bawah kami.
Turun dari Jembatan Suramadu, kami mampir di warung es kelapa di pinggir jalan. Si pemilik warung jelas orang Madura asli. "Pokoknya rugi, kalau ke Madura tidak makan bebek Sinjay!" demikian kata si pemilik warung.
Perjalanan pun dilanjutkan. Dan kami sampai di Rumah Makan Bebek Goreng Sinjay!
Bebek goreng Sinjay terkenal memang bukan tanpa alasan. Rasa daging bebeknya, ditambah bumbu-bumbu rahasianya, benar-benar membuat lidah dimanjakan. Ini makan siang yang luar biasa.
Usai menyantap bebek goreng paling enak se-Indonesia, saya dan Mas Jamal melanjutkan petualangan ke ibu kota Madura, Bangkalan. Bukan untuk apa-apa, sekadar main Ingress, haha..
Tidak lama kemudian kami balik ke Surabaya. Mampir sebentar di Monumen Kapal Selam.
Mampir lagi di Gedung Balai Pemuda Surabaya karena saat itu kebetulan ada event Surabaya Book Fair 2015. Selesai melihat semua stand, saya dan Mas Jamal sepakat: nyaris tidak ada buku-buku "bagus" (sebenarnya semua buku adalah bagus, hanya saja tidak ada yang sesuai selera kami). Di samping itu, pengunjung dan peserta pameran tidak seramai dan sebanyak pameran buku di Banjarmasin ataupun Banjarbaru.
Selanjutnya saya diantar Mas Jamal ke Taman Bungkul. Katanya, taman ini dinobatkan sebagai taman terbaik se-Asia. Entahlah... Di sini kami keliling-keliling dan menikmati segelas jus segar.
Karena waktu keberangkatan pesawat pukul 5.50 PM, Taman Bungkul adalah tempat terakhir yang saya singgahi di Surabaya sebelum ke Bandara Juanda. Di depan Bandara Juanda, saya pamitan dengan Mas Jamal.
Terimakasih banyak Mas, atas waktunya menemani saya selama di Surabaya, atas tenaga dan bensinnya untuk menjemput dan mengantar saya jalan-jalan, untuk nginapnya, untuk makan dan minumnya, untuk buku dan kaos yang sampean kasihkan cuma-cuma buat saya, serta atas obrolan-obrolan mengasyikkannya. Semoga nanti ketemu lagi ya...
Pesawat delay. Nyaris pukul setengah 10 malam barulah saya tiba kembali di Kalimantan, Bandara Syamsudin Noor. Duan datang menjemput dan mengantar saya ke rumahnya. Di rumahnyalah saya sebelumnya menitipkan motor karena tidak jauh dengan bandara. Di rumah Duan saya disuguhkan makan malam, dan ia juga bilang bahwa kerusakan di motor saya (rusaknya sudah lama) sudah ia perbaiki dengan bantuan temannya. Saya sangat berterimakasih. Semoga kamu tidak jera membantu saya, Duan.
Malam itu juga saya pulang ke rumah dengan badan yang, anehnya, terasa tidak lelah...
(Selesai)
Backpackeran Keliling Jawa (4)
Jumat, 2 Oktober 2015
Pagi ini Dhea mengantar saya ke salah satu halte Trans Semarang. Kami berpisah. Terimakasih banyak dik Dhea, saya tahu kamu rela membolos kuliah demi menemani kakak... Sampaikan juga terimakasih Kakak ke Nenek karena bersedia menampung dan menemani ngobrol.
Saya naik Trans Semarang menuju Stasiun Tawang. Bus bergerak. Penumpang baru diminta bayar. Saya mengeluarkan uang 100 ribuan karena memang hanya lembaran itu yang tersisa di dompet. Petugas bis meminta uang kecil saja, karena tidak ada kembaliannya. Saya bilang tidak ada, dan bertanya lalu bagaimana. Si petugas menjawab terpaksa saya harus turun di halte berikutnya. Oh, ya sudah, tidak apa, jawab saya.
Saat inilah saya kembali bertemu orang baik. Seorang ibu-ibu tua (namun masih belum cukup tua untuk dipanggil nenek-nenek) mengeluarkan uang 5000an.
"Ini, masnya saya aja yang bayarin. Nanti lain kali bawa uang kecil ya.."
Saya berterimakasih banyak, dan menjelaskan bahwa ini pertama kalinya saya naik Trans Semarang sehingga belum tahu.
"Emang masnya dari mana?"
"Dari Kalimantan, Bu. Banjarmasin."
Saya mungkin tidak bisa membalas kebaikan ibu itu, tapi semoga saja saya diberi Tuhan kemudahan untuk memudahkan orang-orang seperti yang ibu itu lakukan.
Saat inilah saya kembali bertemu orang baik. Seorang ibu-ibu tua (namun masih belum cukup tua untuk dipanggil nenek-nenek) mengeluarkan uang 5000an.
"Ini, masnya saya aja yang bayarin. Nanti lain kali bawa uang kecil ya.."
Saya berterimakasih banyak, dan menjelaskan bahwa ini pertama kalinya saya naik Trans Semarang sehingga belum tahu.
"Emang masnya dari mana?"
"Dari Kalimantan, Bu. Banjarmasin."
Saya mungkin tidak bisa membalas kebaikan ibu itu, tapi semoga saja saya diberi Tuhan kemudahan untuk memudahkan orang-orang seperti yang ibu itu lakukan.
Saya sampai di Stasiun Tawang. Jadwal kereta jam 12 siang. Masih ada banyak waktu. Saya jalan-jalan ke kawasan kota lama yang letaknya tak jauh dari stasiun. Di sana ada pasar barang-barang antik. Sayangnya, saya ke sini bukan untuk belanja, melainkan murni jalan-jalan. Jadi tak ada satu pun benda yang saya beli. Haha...
Satu jam sebelum waktunya berangkat, saya ditemui mas Cahyo, agen Resist Semarang yang dengan baik hati memberi saya banyak PK anchor.
Juga memberi banyak kenang-kenangan lain: gantungan kunci logo resist yang dibuat dengan printer 3D dan stiker-stiker keren. Kami berbagi kisah tentang pengalaman bermain Ingress di daerah masing-masing. Kemudian Mas Cahyo mengantar saya ke stasiun. Hatur nuwun, Mas Cahyo... Semoga lain waktu bisa ketemu lagi.
Tidak seperti pesawat yang sering delay, kereta selalu berangkat tepat waktu. Sehingga tanpa menunggu lama, saya sudah berada dalam kereta yang melesat melintasi batas provinsi. Sore hari, saya telah tiba di Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Seperti kata Mas Jamal, dekat stasiun ini terdapat pasar buku bekas (banyak juga sih buku baru, dan banyak juga buku bajakan). Sembari menunggu Mas Jamal menjemput, saya jalan-jalan ke pasar buku untuk melihat-lihat (kali ini iman saya jebol karena ketemu buku Agatha Christie dengan harga hanya 5.000,-).
Ketika Mas Jamal tiba, saya diajak ke Kampung Ilmu yang tak jauh dari sana. Kampung Ilmu juga merupakan pasar buku dengan komoditi yang variatif. Inilah tempat wisata-nya Mas Jamal, penggila buku itu. Ia tidak tahu tempat-tempat wisata di Surabaya, tidak tertarik, dan minta antar dia ke sana mungkin akan tersesat. Tapi coba saja tanya di mana tempat buku-buku bagus dan langka bisa diperoleh, ia akan dengan lancar menyebutkannya satu demi satu.
Ia salah satu makhluk spesies langka yang saat ini mulai punah keberadaannya.
Setelah menandaskan segelas es teh di warung yang berada tepat di tengah-tengah Kampung Ilmu, Mas Jamal mengantar saya ke rumahnya. Di rumah Mas Jamal, saya dijamu makan malam dan, tentunya, disuguhi pemandangan tumpukan buku hampir di setiap sudut yang jumlahnya ribuan. Kesemuanya adalah buku-buku bermutu yang sebagian besar sudah sangat sulit ditemukan. Hebat... hebat...
Backpackeran Keliling Jawa (3)
Kamis, 1 Oktober 2015
Berdasar usulan Dhea, pagi ini perjalanan dimulai dengan tujuan Candi Gedong Songo di daerah Bandungan. Sekitar 40 menit kami sampai di tujuan setelah melewati jalan yang terus menanjak.
Candi Gedong Songo adalah sembilan candi hindu yang letaknya menyebar di sebuah gunung. Sehingga untuk bisa melihat dari dekat kesemua candi pengunjung harus mendaki dan mengitari gunung tersebut. Namun sayangnya candi yang masih berdiri hanya tersisa lima. Untuk masuk ke wilayah Candi Gedong Songo pengunjung hanya perlu membayar 15.000,-
Ada dua alternatif untuk sampai ke semua candi, yaitu dengan jalan kaki atau menunggang kuda. Kami memilih yang pertama supaya lebih sehat, bukan, maksudnya supaya lebih hemat.
Sampai di candi kedua, napas kami sudah tersengal-sengal, mungkin karena jarang olahraga. Beruntungnya, sepanjang pendakian mata terus disuguhi pemandangan bukit indah. Dan saya tidak akan menyerah sampai semua candi sudah didatangi.
Sampai siang terik, selesai juga akhirnya pendakian itu. Kami kembali ke rumah nenek Dhea untuk makan dan istirahat.
Menjelang sore hari, kami ke Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong sekadar untuk foto-foto (bukan untuk sembahyang).
Berdasar usulan Dhea, pagi ini perjalanan dimulai dengan tujuan Candi Gedong Songo di daerah Bandungan. Sekitar 40 menit kami sampai di tujuan setelah melewati jalan yang terus menanjak.
Candi Gedong Songo adalah sembilan candi hindu yang letaknya menyebar di sebuah gunung. Sehingga untuk bisa melihat dari dekat kesemua candi pengunjung harus mendaki dan mengitari gunung tersebut. Namun sayangnya candi yang masih berdiri hanya tersisa lima. Untuk masuk ke wilayah Candi Gedong Songo pengunjung hanya perlu membayar 15.000,-
Ada dua alternatif untuk sampai ke semua candi, yaitu dengan jalan kaki atau menunggang kuda. Kami memilih yang pertama supaya lebih sehat, bukan, maksudnya supaya lebih hemat.
Sampai di candi kedua, napas kami sudah tersengal-sengal, mungkin karena jarang olahraga. Beruntungnya, sepanjang pendakian mata terus disuguhi pemandangan bukit indah. Dan saya tidak akan menyerah sampai semua candi sudah didatangi.
Sampai siang terik, selesai juga akhirnya pendakian itu. Kami kembali ke rumah nenek Dhea untuk makan dan istirahat.
Menjelang sore hari, kami ke Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong sekadar untuk foto-foto (bukan untuk sembahyang).
Selesai foto-foto di Pagoda Watugong, perjalanan dilanjutkan ke Lawang Sewu. Katanya, ini tempat wajib yang harus didatangi bila ke Semarang. Merupakan bangunan tua dengan pintu (lawang) yang jumlahnya tak terhitung karena saking banyaknya, sehingga dinamakan Lawang Sewu (begitulah barangkali). Sayangnya, beberapa ruangan ditutup karena ada renovasi, termasuk gedung yang ada ruang bawah tanah yang katanya angker karena dulu digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan. Saat ini Lawang Sewu lebih sebagai museum kereta api.
Puas foto-foto, kami ke stasiun membeli tiket kereta untuk keesokan harinya menuju Surabaya, lalu balik ke rumah nenek Dhea. Numpang makan dan numpang tidur. Hari ini cukup melelahkan...
Puas foto-foto, kami ke stasiun membeli tiket kereta untuk keesokan harinya menuju Surabaya, lalu balik ke rumah nenek Dhea. Numpang makan dan numpang tidur. Hari ini cukup melelahkan...
Langganan:
Postingan (Atom)















